Semenjak adanya sarana penyeberangan kapal ferry roro Nusa Penida - Padang Bai, perekonomian di pulau tersebut mulai menggeliat. Walaupun masih kurang maksimal (sekali per hari) tapi paling tidak ferry tersebut bisa menjadi tonggak akan adanya sarana transportasi yang representatif menuju Nusa Penida sehingga ke depannya bisa membuka isolasinya terhadap dunia luar.
Waktu mudik kemarin, ada beberapa catatan2 kecil yang saya rekam ttg geliat pulau yang dikenal dengan sebutan pulau gersang itu (versi koran lokal). Beberapa proyek besar sedang di bangun. Tampaknya proyek2 tersebut begitu prestisius sehingga Presiden SBYpun akan berkunjung pertengahan Desember 2007, bersama dengan para investor dari berbagai belahan dunia. Berarti itu menjadi kunjungan Presiden yang kedua setelah sebelumnya sempat berkunjung saat meresmikan dermaga dan pengoperasian ferry roro itu. Proyek yang paling menonjol adalah pengembangan pembangkit tenaga listrik tenaga bayu (angin) dan tenaga batubara. Saya sendiri sempat melihat sekilas PL tenaga bayu itu di daerah sebelum ke Pura Puncak Mundi (maaf, tidak tahu nama desanya). Dikabarkan, jika complete nanti, pembangkit itu bisa mensuplai listrik di Bali dan Lombok. Proyek mata air Peguyangan yang seakan tersendat beberapa tahun terakhir ini, juga dimulai lagi. Disamping itu, ada proyek pendirian tiga buah SPBU sekaligus di Nusa Penida yang berlokasi di Desa Batununggul, Desa Sental dan Toyapakeh.
Ada juga dampak2 negatif dari pesatnya pembangunan itu. Sebagian besar para pekerja proyek tersebut bukan orang lokal yang jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu. Mereka malah tidak pulang setelah proyek selesai malah membuat pemukiman2 darurat. Ini tentu bisa menimbulkan masalah kependudukan di kemudian hari. Disamping itu dari segi mental, penduduk setempat belum sepenuhnya siap. Budaya jual tanah warisan berkembang pesat apalagi harga tanah langsung meroket yang bisa mencapai Rp. 100 jt/are (pinggir jalan kecamatan). Parahnya lagi, di daerah dataran tinggi, ada yang menjual tanahnya bukan lagi dengan satuan are tapi bukit (1 bukit, 2 bukit etc). Lama2 orang lokal bisa menjadi orang asing di daerahnya sendiri. Banyaknya orang kaya baru juga bisa dilihat dari perubahan gaya hidup. Dulu, paling untung bisa lihat mobil kijang kotak plat merah milik pak camat, sekarang Avanza sudah bukan barang mewah lagi. Beberapa mobil mewahpun (vioz, Camri etc) bersliweran tak jelas, wong jalan ‘protokol’ nya cuman beberapa km kok :). Ironis memang, tapi mudah2an Nusa Penida tetap bersemi.
Popularity: 9% [?]





December 5th, 2007 at 11:29 am
Weleeeeeh wleeehhh, ini berbahaya. Sebenarnya akan lebih bagus membiarkan daerah itu apa adanya. Untuk beberapa tempat mungkin harus dibangun sarana, prasarana dan fasilitas u/ masyarakat. tapi kalau semuanya, ampe tanah juga dijual, mmmm……Mari kita berdoa u/ ‘Ajeg Bali’
December 5th, 2007 at 1:54 pm
iya nih…rata2 investor Jakarta semuanya…satu sisi seneng ada kemajuan, satu sisi serem banget liat banyak ‘orang asing’ gentayangan di Nusa
December 9th, 2007 at 10:29 am
bener bgt bli,di banjar tiang ja udah pada adep kanan,adep kiri,jadi dikit tempat buat melayangan karang.
December 9th, 2007 at 12:47 pm
Huahauahauah…….serem euyyy…semoga kita bisa mempertahankan aeg Bali
December 9th, 2007 at 4:22 pm
wah gile, arya ga ikutan jual2 nih:)
December 10th, 2007 at 3:00 am
sink bozz
ape kal baang panak mani
whehehe
kanguang dadi penonton malu
December 22nd, 2007 at 12:39 am
aduh..jadi takut membayangkannya, semoga nusa penida bisa maju tapi ga dengan menjual tanah. Kalo semua tanah dijual, penduduk asli bisa2 terusir dari sana, kan gawat. Jadi kayak Betawi kedua deh, eh tapi ga cuma di Nusa lho, di Denpasar juga banyak kan kejadian kayak gitu. Ini emang masalah yang agak kompleks bli dan sedikit menyangkut hak pribadi seseorang. Kalo dilarang lha wong itu tanahnya mereka, tapi kalo dibiarkan nanti kan mereka juga yang bakal menderita
December 22nd, 2007 at 1:59 am
@adek, iya loh seakan jadi dilema. maklum banyak yg ga tahan ketika sudah melihat uang bertumpuk2
January 26th, 2008 at 6:11 am
Masalahnya adalah orangtua frustasi melihat anaknya minta ini itu sedangkan orangtuanya “sing ngelah apa ne kal adep” Nah mau ga mau tanh leluhur pilihan terakhir. Saya sebagai pemuda Nusa Penida merasa sedih cuma bisa berpikir tanpa beraksi apa2
January 26th, 2008 at 2:17 pm
@Gd Suta, frustrasi bukan alasan tepat untuk adep ini itu Gd, tp klo memang penggunaannya bisa dipertanggungjawabkan, ya mungkin bolehlah misalnya sakit, biaya pendidikan dll sejenisnya. Takutnya nanti kita mulih ke Nusa, malah kita yang ngekos di pulau sendiri