‘Nyama Pat’ sebagai Pengawal Pribadi
Wednesday, December 19th, 2007
Kehadiran pengawal pribadi bagi kalangan tertentu (artis, pejabat, pengusaha) sudah menjadi sebuah keharusan dimana fungsi utamanya adalah untuk proteksi diri terhadap potensi2 yang bisa membahayakan jiwa si empunya bodyguard tersebut. Kitapun sebenarnya punya pengawal pribadi. Baru2 ini saya ngobrol2 dengan yang ‘berkompeten’ dibidangnya, ternyata kita (Hindu - Bali) mempunyai bodyguard yang built-in dalam tubuh kita sendiri yang tentunya bisa kita mintai tolong untuk menjaga diri kita dan tidak perlu bayar, cukup nasi wong-wongan dua warna hitam dan putih. Nasi wong-wongan (mungkin disebut berbeda di daerah lain di Bali) adalah nasi putih biasa yg dikukus dan di bentuk seperti bentuk tubuh manusia. Tidak perlu setiap hari cukup di hari2 tertentu saja misalnya, kajeng kliwon, purnama dll. Logikanya semakin sering ‘dibayar’ semakin rajinlah si bodyguard tersebut.
Sumber aslinya adalah Kanda Pat, dimana disebutkan bahwa pengawal tersebut adalah nyama pat (4 saudara) yang menyertai kita saat lahir. Sebenarnya 4 saudara itu sudah terbentuk sejak umur kandungan 6 bulan, merekalah yang ‘menjaga’ kita semasih dalam kandungan dan saat kita lahir saudara empat itu bernama Sang Anta (ari-ari) berada di timur dan bergelar Anggapati, Sang Preta (tali pusar) di selatan bergelar Mrajapati, Sang Kala (darah) di barat bergelar BAnaspati dan Sang Dengen (air ketuban/yeh nyom) di utara bergelar Banaspati Raja.
Empat saudara ini bisa difungsikan sebagai pengawal pribadi kita, saat2 kita berada pada keadaan sulit misalnya lewat di tempat2 wong samar yang suka ganggu bahkan menangkis serangan black magic. Caranya cukup dengan ‘memanggil’ mereka dengan latihan pemusatan pikiran dan ucapkan yaitu (tabik pekulun) “Adi Anggapati, Mrajapati, Banaspati, Banaspati Raja. Ngiring Adi masemadi. Ratu Sang Hyang Agama, tidak subakti ring cokor Iratu, titiang nunas mangda ….(diisi keperluannya apa)”. Tentu saja semuanya tidak instan seperti Doraemon di tv, tergantung keyakinan, keteguhan hati dan kemampuan memusatkan pikiran.
Lalu sayapun iseng search di internet, ternyata masyarakat Jawa tradisionalpun mengenal istilah saudara empat ini tapi dengan nama lain yaitu sedulur papat (saudara empat ) yang mereka percaya selalu menyertai seseorang dimana saja dan kapan saja, selama orang itu hidup didunia yaitu kakang kawah/saudara tua kawah di timur, adi ari-ari/adik ari-ari, getih/darah, dan puser/pusar. Tapi mereka ada satu tambahan lagi yaitu Pancer/badan jasmani.
Artikel Lain- Ada Diskriminasi Dibalik Tradisi
- Ketika Nama Orang Bali Di-Inggris-kan
- Nothing Works in this Country!
- Menjadi IT Assistant
- Tips Hidup di Pulau Pribadi
- Nasi ‘Be Guling’ Milik Siapa?
- Ironi Kartu Undangan Nikah (1)
Posted in Personal Stories, social life Follow responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.


December 19th, 2007 at 11:02 pm
Ane mampir nih maen- maen,
Tapi OOT dulu nih pren,
Ngga semua komen masuk di lis Recent Comments?
Ato priben?
December 20th, 2007 at 12:50 am
@rumahkayu, masuk koq semua, ga ada ben2an kok
December 21st, 2007 at 12:49 am
wkwkwkw… Istilah built-in nya keren, Bli.
Kalo misal istilah plug-in, extension, add-on cocoknya buat apa ya? wkwkwkwkw… Sory ngaco nih! 
December 21st, 2007 at 6:09 pm
@suryawan, LOL
December 22nd, 2007 at 1:31 am
oh, di jawa ada juga ya. kok aku ga pernah diajarin gitu2 ya. dasar aku memang jawa murtad. he.he. :p
December 22nd, 2007 at 1:57 am
@anton, kan situ tidak termasuk yang tradisional kekeke
December 22nd, 2007 at 2:21 am
Wah, ajik dirumah sering cerita ini. Beliau dapet sebuah buku kekawin.
Nambahin dikit, konon ketika kita meninggal, dalam perjalanan “kesana” kita akan bertemu dengan “nyama pat” ini satu persatu, yang berbentuk singa, ular, dll. Kalau kita baik thd mereka, tentu kita akan dibantu menuju tempat yang dituju, jika tidak, akan sebaliknya.
December 22nd, 2007 at 2:31 am
@wira, wah seru ya, lengkapin dong ceritanya. betewe napi antuk linggihe?
December 24th, 2007 at 6:54 am
bedewe, cuman nambahin, ini juga oleh oleh kakek dulu, tips kalo mau bangun pagi bisa minta tolong jasa saudara pat kita itu juga koq …
caranya: Ketika hendak tidur, tepuklah bantal 3 kali dengan affirmasi “wahai saudara empat, saya hendak tidur, tolong bangunkan saya jam (waktu yang diinginkan), terimakasih ”
oh ya tentu saja, itu semua dilakukan dengan penuh keyakinan.
Apakah pasti berhasil ?, kalo pada saya kasusnya tidak pernah gagal, cuma satu kuncinya, kalo anda sudah dibangunkan oleh saudara empat atau terjaga, anda harus segera bangun dari tempat tidur, karena kalau anda malas dan tertidur lagi, , pasti gagal dan ya itu karena memang anda malas .. hehehe
Kanda pat itu keluar dari tubuh ketika kita tidur…teorinya Kanda pat tidaklah tidur seperti fisik kita
boleh percaya boleh tidak, ini bukan klenik .. lam kenal bli
December 24th, 2007 at 4:08 pm
@wandira, wah mantep ni tambahannya. thanks ya..salam kenal
June 13th, 2008 at 4:29 am
Wah salut dengan tulisannya bro…
Cuman beberapa hal ingin sy diskusikan sedikit, maaf kalo salah ya…
Betul, Kanda Pat atau sodara empat kita akan selalu membantu dan mendampingi kita dari sejak dalam kandungan. Dan nantinya bahkan beliau lah yang menjadi para pengadil segala karma kita setelah meninggal.
Ada beberapa buku tentang Kanda pat yang pernah saya baca dan diskusikan. Saya rasa tidak bisa semudah itu untuk bisa mohon pertolongan sodara empat.
Perlu niat, keyakinan dan proses untuk bisa benar-benar mendalaminya.
Maaf kalo ada yang salah… Suksma.
June 10th, 2009 at 4:02 pm
Bli, saya jadi bingung sendiri dengan kanda pat ini.. silahkan liat2 di internet ada yang bilang Sang Anggapati di utara dan ada yang bilang Sang Banaspatiraja yg di utara..
Tahu ngga yg mana yang benar?
Thanks
klo bisa tolong balas ke email juga ya