Liputan Majalah Sarad Bali (1)
Lawar Galungan Rasa Sayur Miami
Berikut ini adalah berita yang dimuat di majalah Sarad Bali pada Juni 2006, hasil wawancara redaktur Sarad Bali Pak Wayan Sucipta dengan saya via email. Masih menarik rasanya untuk mengabarkan denyut kehidupan beragama temen2 Bali yang lagi di perantauan (Karibia) dalam satu wadah yang bernama Br. CengBlonk. Namun perlu digarishbawahi bahwa ada sedikit kesalahan penyebutan nama daerah oleh pihak redaksi. Nama negaranya adalah Turks Caicos Island, British West Indies (koloni Inggris) disingkat TCI, BWI tapi sering disebutkan Miami, USA. Secara administratif, TCI/BWI tidak ada hubungannya sama sekali dengan US tapi secara geografis memang sangat dekat dengan Miami which is cuman 30 minutes flight, juga secara sosio-kultural dan ekonomi cenderung lebih condong ke US misalnya mata uang dan dialek bahasa.
———————————–
Sembahyang bersama, membikin lawar, dan membuat banten saat Galungan bukan hanya ada di Bali. Warga Bali di Miami, AS, juga melakonkan hal serupa.
Galungan tidak hanya menggema di Bali dan sentra-sentra penganut Hindu di Tanah Air. Hari raya terbesar dalam sistem kalender pawukon Nusantara ini juga berdenyut di luar negeri, yang berjarak ribuan mil dari tanah Bali. Di Turk and Caicos Island, contohnya.
Di kawasan yang masih termasuk kekuasaan Inggris, sekitar 30 menit naik pesawat dari Miami, Amerika Serikat, ini sameton Bali umumnya berprofesi sebagai karyawan di berbagai industri, terutama industri perhotelan, seperti waiter, bartender, dan housekeeper. Ketika Galungan tiba, sehari sebelumnya mereka berkumpul mempersiapkan aneka sesaji yang dipergunakan saat Galungan. “Kami di sini juga membikin lawar sebagai sarana sesaji,” tutur Made Suardana, warga Bali asal Nusa Penida, Klungkung, lewat surat elektronik. Tinggal di negeri orang dengan kondisi alam berbeda, tentu tak bisa membikin perlengkapan sesaji sama persis layaknya di Bali. Sampian dan perhiasan penjor menggunakan bahan semacam daun rontal. Mirip janur, cuma tak berasal dari pohon kelapa. Lebih awet dan tak bisa layu. Sementara buah-buahan dan kue yang dihaturkan juga menyesuaikan dengan yang tersedia di negeri jauh itu.
Bahan lawar juga menyesuaikan dengan yang tersedia di Miami. Daging bisa dari ayam, kalkun, atau babi. Sedangkan sayur dominan jenis kacang-kacangan. “Di sini sulit sekali mendapatkan kelapa untuk bahan lawar,” sebut sameton lain, Dewa Oka. Khusus untuk tempat suci, masyarakat Bali di Miami tak memiliki palinggih permanen. Tiap kali hendak menggelar upacara, mereka kerap meminjam tempat lapangan volley yang ada di kota ini. Di lapangan itulah palinggih darurat berupa plangkiran yang cukup besar ditancapkan sebagai tempat menaruh banten. Bila segala sesuatu sudah siap, nyama braya yang bertugas mengantarkan bakti—kebetulan di sini ada orang Bali mengetahui cara nganteb banten dan hafal mantra pancasembah mau ditunjuk sebagai pamangku—menjalankan tugas. Bagi yang bisa mawirama dan makidung, saat ini juga sibuk ngayah. Begitu juga dengan yang bisa menari, mereka mempertontonkan kepiawaian—walaupun hanya diiringi gamelan lewat tape.
Usai melakukan persembahyangan, plangkiran dicabut kembali dan disimpan dalam kamar seorang sameton. Bila ada upacara dan persembahyangan lain, plangkiran yang sama dipasang kembali. “Tradisi ini bukan hanya dilakukan saat Galungan, juga saat menyambut hari besar Hindu lain, seperti Purnama atau menjelang Nyepi,” tunjuk Suardana. Segala biaya upacara diambil dari dana yang terkumpul lewat iuran anggota krama Bali yang tergabung dalam satu wadah bernama Banjar Ceng Blong—meniru nama sekaa wayang yang kini sedang populer di Bali. Anggota banjar ini saban bulan berkewajiban membayar iuran $5 US. Dana itu khusus diperuntukkan buat biaya upacara. Bila kurang, tak sedikit pula yang menyumbang spontan.
Banjar Ceng Blong sendiri mulai berdiri pada pertengahan tahun 2003. Saat itu warga Bali di Miami, tepatnya yang berdiam di Turk and Caicos Island, sepakat menyatukan diri dalam satu organisasi suka duka bernama Banjar Ceng Blong. Nama Ceng Blong muncul, karena ada warga Bali membawa VCD wayang Cenk Blonk yang sedang tenar di Bali kini. Semua orang Bali suka menonton seni pertunjukan tersebut, hingga muncul ide mempergunakan nama banjar seperti nama sakaa wayang ini. Kini jumlah warga Banjar Ceng Blong sekitar 40 orang. Sedangkan di seluruh Miami diperkirakan ada sebanyak 150 orang
Begitulah sameton Bali di Miami memaknai hari besar keagamaan. Keterbatasan ruang, sarana, dan prasarana tak hendak mengendorkan semangat menjalankan kewajiban sebagai orang Hindu. Tetap tekun menghaturkan bakti kepada Hyang Widhi. Bila di Bali saat merayakan Galungan mereka bisa sembahyang bersama keluarga besar, maka di Miami pun mereka menerapkan tradisi sembahyang bersama, yakni bersama keluarga besar Banjar Ceng Blong. Di mata warga asli Miami maupun orang luar Miami yang kebetulan tinggal di negeri ini, berbagai aktivitas adat, budaya, dan agama yang dilakoni orang-orang Bali menjadi keunikan tersendiri. Tak jarang orang non-Bali ikut bergabung, nimbrung sambil meniru aktivitas orang Bali. Mereka ikut sembahyang bersama, kemudian bersama-sama pula menikmati lawar.
Daya meniru mereka, tambah warga Banjar Ceng Blong lainya, Kadek Wardika, cukup tinggi. Warga Miami yang biasa makan mempergunakan sendok dan garpu, saat menikmati lawar malah makan memakai tangan, lazimnya orang Bali. Bukan hanya dengan orang-orang Miami, hubungan dengan warga lain agama pun terjalin rukun. Masih bertalian dengan tradisi nglawar, nyama Islam dan Kristen—begitu orang Bali biasa menyebut warga dari kepercayaan lain—juga ikut bergabung membantu meracik masakan khas Bali, kemudian menikmati bersama-sama. “Di sini kami merasakan nyata, betapa nikmat rasa persatuan di antara berbagai perbedaan yang ada. Perbedaan itu indah,” tutur Kadek. I Wayan Sucipta.
Popularity: 7% [?]







Tuhan memang ada dimana-mana. Btw, galungan udah deket nih. Brarti disana siap-siap ngelawar donk?
@wira, iya tunggu aja postingannya
Lawar tuh yang dari kelelawar tho?