Di Bali, ‘kerauhan’ (trance) sudah menjadi bagian yang terpisahkan dalam kehidupan sehari2 khususnya yang berkaitan dengan upacara adat maupun upacara agama. Lalu apa sebenarnya ‘kerauhan’ itu? Bisakah dimatematiskan bahwa kerauhan sama dengan kesurupan? Di Wiki yang ada hanya definisi kesurupan (bukan kerauhan) yaitu sebuah fenomena dimana seseorang berada diluar kendali pikirannya karena kemasukan kekuatan gaib.

Dalam konteks masyarakat Bali, saya berpendapat bahwa kerauhan sebagian besar berkaitan erat dengan adat istiadat dan agama, yg saya asumsikan sbb: suatu keadaan dimana seseorang berada diluar kesadaran pikiran atau berada dalam keadaan setengah sadar yang dipicu oleh suatu sugesti yang berlebihan terhadap suatu object baik itu yang material (tempat2 suci, benda2 yang disakralkan dll) dan juga object spiritual (Tuhan, dewa2 dll).

Disini, saya menemukan sebuah definisi yang menarik ttg kerauhan/trance. Kenapa menarik? Karena ada aspek ‘teknik’ dalam definisi tersebut dan juga ada kaitannya dengan ritual. Adanya aspek teknik, berarti adanya semacam metode/cara2 yang bisa diterapkan orang kebanyakan untuk bisa mencapai keadaan ‘trance’ ini. Dan saya punya pengalaman ttg teknik buatan untuk bisa kerauhan. Percaya atau tidak :)

———————————–

Trance is an altered state of consciousness which individuals can enter through a variety of techniques, including hypnotism, drugs, sound (particularly music, percussive drumming etc.), sensory deprivation, physical hardships (eg. flagellation, starvation, exhaustion) and vigorous exercise (particularly dance). People can also use trance, particularly in the context of ‘ritual’ events.

————————————————-

Di Bali, mendengar orang dalam keadaan kerauhan otomatis kita akan berpikir bahwa dia sedang dimasuki kekuatan supernatural dari Tuhan ataupun dewa2 sehingga kerauhan juga dikenal dengan istilah ‘kelinggihan’. Berasal dari kata ‘linggih’ yang artinya tempat. Berarti sedang ‘ditempati’, sedang dipinjam raganya untuk sementara oleh kekuatan gaib. Fenomena ini banyak ditemukan misalnya pada saat upacara2 baik yang agama maupun adat.

Benarkah begitu mudahnya Tuhan ‘masuk’ ke dalam raga seseorang? Benarkah setiap fenomena kerauhan selalu identik dengan kekuatan2 gaib atau supernatural? Sepertinya tidak selalu begitu. Kerauhan/trance seringkali dipengaruhi dua faktor penting dalam sisi psikologis seseorang yaitu obsesi dan sugesti. Dalam masyarakat Hindu di Bali, dua faktor ini cenderung lebih besar ke kehidupan beragama mereka.

Bagaimana kita mengetahui bahwa kerauhan seseorang itu ‘asli’ atau ‘palsu’? (baca: sugesti dan obsesi). Saya tidak tahu tapi untuk tipe trance yang kedua bisa dicapai dengan cara2 tertentu yang tentunya masih berkaitan erat dengan agama (Hindu). Berikut ini saya ceritakan sedikit ttg cara2 yang pernah saya terapkan.

Niat untuk bisa trance diawali karena seringnya melihat orang2 kerauhan di Nusa Penida, bukan saja ditempat2 suci juga di acara2 adat lainnya. Orang2nyapun tidak selalu yang rohaninya tinggi tapi teman2 sebaya yang kalau diukur dosa2 dan sisi gelapnya mungkin akan membuat Tuhan berfikir 1000 kali untuk meminjam tubuhnya sehingga dia bisa kerauhan. Ada lagi fenomena dimana seseorang (katanya) bisa berkomunikasi dengan manisfestasi tertentu dari Tuhan. Maka sayapun terobsesi dan menerapkan cara2 saya sendiri untuk bisa trance.

Penting diingat, tingkat keberhasilan cara sederhana ini lebih tinggi jika ‘kundalini’ anda sudah dibuka juga diperlukan konsentrasi luar biasa pada satu object entah yang physical atau yang tidak nyata. Dalam hal ini saya memusatkan pikiran pada sebuah pura dan Beliau yang berstana di sana. Selama tiga bulan berturut-turut saya melakukan sembahyang penuh. Tiga kali dalam sehari, panca sembah dan Puja TriSandya. Satu fokus penuh selama 3 bulan itu pada satu object. Taadaa. Saya bisa trance dalam waktu 3 bulan. Pertama2 yang dirasakan dalam trance buatan ini adalah merinding (goose bump) yang luar biasa di sekitar daerah leher belakang, tubuh juga terasa ‘gining’ (apa ya Bahasa Indonesianya?) dan ringan. Sebenarnya kesadaran masih ada tapi tidak bisa dikendalikan dengan mudah. Artinya bisa dikendalikan tapi memerlukan usaha yang luar biasa. Lalu apa yang terjadi? Trance buatan ini ternyata sangat mengganggu linkungan sekitar setiap saya sembahyang karena selalu ribut (teriak2), jangankan sembahyang, lihat dupa saja sudah ‘gining’ luar biasa. Betapa hebatnya kekuatan sugesti pikiran yang difokuskan secara terus menerus. Teriak2nya agak sombong sedikit karena ‘ngaku2′ bahwa ini kekuatan anu yang datang, bahwa saya dimasuki dewa ini dan itu.

Ada juga positifnya dalam masa2 trance ini, rasa tenang dan tentram karena merasa Tuhan super dekat dengan saya. Jadi PD. Wah ga apa-apa, toh juga juga Tuhan gampang ‘dipanggil’ dan bisa dengan mudah masuk ke dalam tubuh saya, begitu kira2 yang ada dalam pikiran waktu itu. Juga mengarah malah menuju kesombongan. Panggil Tuhan? Iya dalam hal ini manisfestasi khususnya yang saya puja pada waktu 3 bulan itu. Bagaimana memanggilnya? Sederhana, saya konsentrasi saja dengan penuh dan sayapun kembali dalam keadaan trance. Tidak takut apapun, termasuk ketika hampir dikeroyok waktu ‘nganggur’ ke Kintamani :). Betul, mirip sinetron jin dan jun :).

Lama kelamaan saya sadar sendiri bahwa trance hasil karya saya itu ternyata tidak ‘asli’ karena pengaruh dua faktor tadi sugesti dan obsesi. Takutnya menjadi gila. Akhirnya kundalinipun ditutup dan melakukan kegiatan sembahyang secara ‘normal’ dan selalu berusaha positif, tidak membiarkan sugesti dan obsesi merajalela dalam pikiran saya.

Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa mendekatkan diri kepada Tuhan harus benar2 dilandasi dengan pikiran jernih dan pure. Ego, sugesti dan obsesi hanya menjadi kabut2 yang bisa menghalangi hubungan yang hakiki dengan Tuhan.

Popularity: 12% [?]

Artikel yang Lain

16 Responses to “‘Kerauhan’, Sugesti dalam Balutan Religi”

  1. aRya INDONESIA Says:

    sekarang2 ney masi banyk yg mengatas namakan tuhan sebagai kedok
    ngaku2 kesurupn …….

    ada lagi
    hal yang masi tiang inget pada saat bapak tiang kesurupan malah di jailin ma orang yang sirik…
    huh benci ma tu orang (kok jadi curhat yaw)

  2. devari UNITED STATES Says:

    @arya, iya terkadang kesurupan dijadikan excuse untuk membenarkan pendapat pribadi/golongan.
    dijailin? wah perlu dikasi ‘pelajaran’ tuh :)

  3. Nyoman Ajus INDONESIA Says:

    Teman tyang yang stress karena masalah ekonomi kalo sembahyang sering kerauhan, kadang dirumah pun sering kerauhan dan menyebut dewa dari pura ini atau pura itu yang datang. Setelah diajak ketempat meditasi untuk menanangkan pikirannya sekian kali, sekarang sudah biasa lagi.
    menurut tyang, orang kerauhan karena kondisi pikirannya. biasanya kalo dipura yang kerauhan orangnya yang itu2 saja.
    masalah apa yang dikatakan oleh orang yang kerauhan memang tidak semua harus di ikuti , kalo baik ya dituruti,

  4. Nyoman Ajus INDONESIA Says:

    eh kok dawe sajan

  5. Ina INDONESIA Says:

    Budaya dimasing2 daerah unik2 yach. di Makassar ada juga tuch yg namanya kesurupan kl udah acara2 adat. Hiii…seram abis, bermain2 dgn hal2 macam itu,bhkn dijadikan tontonan.

  6. trishna NETHERLANDS Says:

    yah pernah sih sekali liat bapak kerauhan(waktu kecil)blm ngerti,wkt upacara adat trus makin lama jd sering kalo gak kakak2 aku yah ibu atau bapak,denger sih ada yg sirik(sama kaya kejadian ama ARYA)…yaahh.krn sering kejadian pd mrk(herannya kok gak pernah kejadian ama aku yah..he..he..)gak deh ngeliatnya aja uda ngeri.akhirnya nanya ke orang pinter(balian)disitu keliatan kalo bpk sama kaka aku yg pertama mesti jd pemangku(kesenengan)wkt itu bpk blm mau jd pemangku krn berat tanggung jawabnya n ada beberapa yg sirik jd blm mau tp setelah bpk pensiun,mulai belajar buat jd pemangku(eh..tau gak?denger dr ibuku,sekarang ada cursus buat jd pemangku,hebat kan..bpk dan ibu baru aja tamat cuma skrng prakteknya)semenjak itu gak kerauhan lg..aneh ya..:)

  7. devari UNITED STATES Says:

    @nyoman ajus,yap beban pikiran yang berlebihan juga bisa menjadi pemicu kerauhan buatan ini. beh untung dah diajak meditasi dan jadi tenang :) Ye aje nok, orangnya ya itu2 saja
    LOL LOL ttg ‘dawe sajan’

    @ina, waa ada juga ya? pake senjata tajam juga ada? lalu ditusuk2 ke badannya?

    @trishna
    waaaaa kok bisa persis banget seh. bpk tyang juga begitu..buaaanyak sekali kerauhannya baik yang benar2 maupun yang bhutakala, juga banyak yang karena dijailin (terutama pada saat masa2 ‘ujian’ jadi pemangku. sekarang dah jadi pemangku..
    agh, kursus pemangku? kursus apa ‘kursus’?

  8. Dek Didi INDONESIA Says:

    Ngapelnya ke Kintamani ya Bli? Sebelah mana rumah tiang ya?
    Jangan sampai kerauhan disana. Nanti tuan rumah kerepotan. Hehehehe…
    Ada satu pertanyaan, lebih percaya mana, orang yang ngaku2 pintar (misal: balian) kerauhan, apa orang yang biasa2 saja kerauhan?
    BTW, saya ada tanggapan komentar bli di Blog saya.
    Suksma sudah berkunjung.

  9. devari UNITED STATES Says:

    @dekdidi, Kitamaninya masuk ke dalam euuy :) LOL bisa diusir klo kerauhan di sana.
    hmmm. lebih percaya mana? tergantung sikon kali ya cuman mungkin saya lebih sreg dengan orang yg biasa2 saja tp punya ‘bibit’ rohani yg terpendam (apapula ini..heheh). thanks

  10. widi INDONESIA Says:

    Wah dipura keluarga saya ada 2 kubu tukang banten klo kita make tukang banten a terus tukang banten rivalnya pasti kerauhan bilang banyak sarana yang belum lengkap begitu pula sebaliknya (cape deh) akhirnya panitia punya inisiatif untuk bikin api dari sabut kelapa pas medatengan jadi klo memang Beliau yang turun pasti ngelebarnya pake api, semenjak itu ga ada yang berani pura2 kesurupan :)

  11. Yanuar INDONESIA Says:

    seumur-umur pernah ngalamin kerauhan hanya sekali.
    itupun yang masuk minta izin dulu (boleh nggak pake badannya).

    kalau diukur dosa2 dan sisi gelapnya mungkin akan membuat Tuhan berfikir 1000 kali untuk meminjam tubuhnya sehingga dia bisa kerauhan

    prinsipku ida yang bakal turunpun pasti pilih-pilih.
    nggak mungkin yang suci masuk ke kekotor.
    dan sampai sekarang masih mencari format yang pas biar ketahuan itu kerauhan bohongan atau betulan. ada yang tahu selain contoh tukang banten diatas.??

    bli devari..
    mau dong dibukain kundalininya.. :)

  12. balibuddy INDONESIA Says:

    bukannya kalo Tuhan atau dewa turun ke dunia namanya awatara seperti Krisna, bukan dipinjamnya tubuh si anu, bapa anu, Nang ajoes dst…..

  13. devari UNITED STATES Says:

    @widi, wakakak istilah dua kubu tukang banten keren abis, serasa sepakbola :) waa metodenya mantap juga tuh pake api, jadi kebayang klo yang pura2 itu main2 api..hahah jadi puun semua mereka

    @yanuar, hohoho wah saya ga bisa buka2an apalagi buka2 kundalini..biasanya bisa dilakukan saat kita ikut inisiasi olahraga2 rohani tertentu misalnya Satria Nusantara, Merpati Putih dll :)
    @balibuddy, wah klo awatara sih dah beda banget levelnya hehhe..ga nyampe bro :) kita bicarakan yg ringan2 aja ya misalnya kerauhan di pura, Ida anu yg rauh, pesannya bantennya kurang ini, atau saat nunas baos, kakek A yg rauh..pesannya : cucu2ku…kok ga pernah ke dalem puri tangkil…kakiang lek ditu nyah2 kakine sing ade nengok..hehehehe :)

  14. uwie INDONESIA Says:

    Kerauhan = kesurupan, ya? Cuman pernah dibikin repot ama teman yang kesurupan doang :). Btw, salam kenal.

  15. devari UNITED STATES Says:

    @uwie, ya sejenislah cuman kerauhan di Bali lebih cenderung ke agama-related things. Kenal balik bro :)

  16. Gek Dyah INDONESIA Windows XP Mozilla Firefox 2.0.0.14 Says:

    Pernah punya pengalaman sewaktu meaturan di Pura Batukaru. pada saat sembahyang bersama, saya lihat dibelakang saya ada Bapak2 yang kerauhan. Ga tahu kenapa setelah saya memperhatikan Bapak itu tiba2 saya jd ikutan merinding di leher, dan sekejap seperti badan saya merasa ringan dan hampir ga sadar diri. namun berusaha dengan sangat untuk mengontrol pikiran saya agar tetap fokus. kesurupan itu bisa nular ga sie….?? thanks sebelumnya…

Leave a Reply