Ada Diskriminasi Dibalik Tradisi

Friday, January 25th, 2008

Satu moment yang bagi saya sangat menganggu adalah ketika orang-orang terdekat dan juga sanak famili mengajukan satu pertanyaan klasik “kapan buat anak laki2?”. Sebuah pertanyaan yang seakan-akan menjadi permintaan yang mengharuskan, juga sekaligus menjadi sebuah harapan bagi mereka yang benar-benar mesti diwujudkan, bagaimanapun caranya. Bisakah dengan mudah ‘memesan’ biar yang lahir adalah bayi laki-laki? Apakah adakah mesin cetak yang khusus untuk membuat anak laki-laki? Munculnya pertanyaan tersebut secara tidak langsung menyiratkan bahwa betapa pentingnya kehadiran anak laki-laki dalam sebuah keluarga Hindu di Bali. Ada ‘hukum alam’ di Bali bahwa sebuah keluarga belum lengkap secara sosio cultural tanpa adanya anak laki-laki. Adakah ini bisa disebut diskriminasi gender terselubung di Bali? Adakah ini merupakan diskriminasi gender berbungkus budaya adi luhung? Saya pribadi akan menjawab YA, paling tidak diskriminasi secara psikologi.

Adat istiadat (sekali lagi) menjadi tameng untuk menjadi dasar adanya ‘hukum alam’ ini. Dari kacamata biologi, seorang anak lahir dari sebuah proses biologis yang panjang, pertemuan antara sel sperma dan sel telur. Tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk menentukan jenis kelamin bayi yang akan lahir. Buku2 dan jurnal2 ttg cara/metode menetukan jenis kelamin tidak bisa 100% menjamin keberhasilan dalam menentukan jenis kelamin tertentu. Dari kacamata agama (Hindu), seorang bayi adalah titipan Tuhan kepada si orang tua dan adalah hak mutlak Tuhan untuk menentukan jenis kelamin sang bayi, seorang bayi adalah lahirnya kembali seseorang dari roh kerabat terdahulu yang sudah meninggal yang lahir ke dunia dan ‘ngidih nasi’ kepada keluarga sang bayi. Dari kacamata adat istiadat di Bali, seorang anak laki2 adalah penerus keturunan keluarga yang akan bertugas melanjutkan eksistensi keluarganya dalam tatanan social masyarakat Hindu di Bali. Anak laki-lakilah yang akan malanjutkan ‘nyungsung’ sanggah, anak laki-lakilah nantinya yang akan bertanggung jawab melakukan segala upacara adat dan upacara agama, juga sebagai pewaris harta benda. Sedangkan anak perempuan dianggap nantinya akan ‘megedi’ alias menikah sehingga secara otomatis akan keluar dari garis keturunan keluarga. Berangkat dari mindset budaya inilah yang melahirkan adanya diskriminasi gender terselubung di Bali.

Budaya dan tradisi memang bagian integral dari kehidupan masyarrakat Bali (Hindu). Karena budaya yang unik itulah Bali menjadi eksis. Namun saya pribadi beranggapan bahwa produk budaya dan tradisi mestinya tidak mempersulit hidup, budaya dan tradisi tidak mesti diterapkan semena-mena, tidak lantas dijadikan sebuah excuse untuk adanya sebuah diskriminasi gender di Bali. Adalah menjadi hal lumrah di Bali ketika seseorang bertanya “Apakah jenis kelamin bayinya?”. Ketika dijawab laki-laki, ada semacam kesan relief (sesuai yang mereka harapkan) bagi mereka. Kalau diverbalkan mungkin kira2 sbb “Oh syukurlah, kamu sudah punya penerus”. Dan ketika jawabannya perempuan, ada kesan datar tertangkap, kesan yang berarti kita ‘belum berhasil”.

Apa dampak dari diskriminasi berbungkus tradisi ini? Secara psikologis sudah menimbulkan pengkotak-kotakan gender dalam masyarakat Bali. Anak perempuan menjadi nomor dua. Tidak secara nyata dan terang-terangan memang. Adanya fenomena dimana sebuah keluarga akan terus berusaha ‘mencetak’ anak laki-laki adalah bukti nyata, walau sudah misalnya punya anak perempuan empat orang tapi karena ‘tuntutan’ budaya, maka akan terus berusaha, bahkan sampai menempuh jalan-jalan spiritual, ‘nunas’ misalnya. Kesan memandang ‘sebelah mata’ terhadap kehadiran bayi perempuan di sebuah keluarga Hindu di Bali, menurut saya, adalah sebuah pelecehan psikologi. Budaya dan tradisi adalah dibuat manusia yang tidak mengandung kebenaran mutlak/hakiki sedangkan anak adalah titipan Tuhan. Sudah sepatutnya mereka diperlakukan dan dipikirkan secara sama, tidak perduli perempuan atau laki-laki.


Artikel Lain

Posted in social life Follow responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

35 Responses to “Ada Diskriminasi Dibalik Tradisi”

  1. anima INDONESIA Says:

    setuju poinnya, tidak seharusnya laki-laki dan perempuan dibedakan. di beberapa keluarga sekitar saya terlihat sekali seperti itu..

  2. devari UNITED STATES Says:

    @anima, sepertinya stigma ini sudah begitu meresapnya di masy. kita. saya bukan anti budaya, ato anti anak laki-laki krn sebenarnya saya juga anak laki2 tunggal :), produk dari stigma itu juga
    cuman semuanya mesti proporsional lah. hari gini… :)

  3. Nike INDONESIA Says:

    Saya setuju, ga cuma di Bali kok.
    Di daerah laen yang patrilineal juga pasti gitu.
    Katanya sih untuk menerus keturunan gitu, padahal anak cewek kan sama seharusnya.

    Emang anaknya udah berapa Made? Perempuan semua ya?
    Tapi, saya juga pengen anak laki2 sih :D

  4. devari UNITED STATES Says:

    @nike, baru satu she is such a wonderful 3 years old daughter :)

  5. Yanuar INDONESIA Says:

    ini adalah salah satu hal kenapa perempuan bali selalu merasa dinomor limakan oleh para pria,tradisi dan lingkungan.
    dan hal ini berlangsung secara turun temurun yang menyebabkan proporsi rasa keakuan sebagai anak lama kelamaan akan semakin luntur yang dikarenakan stigma bli made paparkan tadi.

    joke yang sering saya ucapkan kalau udah ngomongin hal spt ini adalah.
    “karena di bali atau indonesia jarang banget nyebutin ibu / perempuan. pasti duluan bapak-bapak dan ibu-ibu ….
    beda dgn tradisi barat ‘ladies and gentlement ….’
    itulah mengapa ibu dan perempuan selalu nomor lima setelah tuak,tajen,dll.. :)”

    padahal ada pepatah sorga ada ditelapak kaki ibu “perempuan”
    he.he.he.

  6. Ina INDONESIA Says:

    memiliki keturunan laki-laki dianggap sebagai penerus garis keturunan dan kelangsungan sebuah keluarga. tradisi itu nga bisa dihindari walaupun sdh berada di dunia modern.

    seandainya saja nga harus ada diskriminasi. :( *angan-angan

  7. antonemus INDONESIA Says:

    mari kita mulai, bli made. dengan, misalnya, meneruskan tradisi dan adat keluarga pd anak perempuan bli made saja. jadi, meski nanti punya anak laki2, biar yg perempuan saja yg meneruskan.

    kalo trnyata tidak diterima sama orang2 banjar, bikin banjar sendiri saja. banjar anti-muani. hehehe..

    dan, aku pun nyolong lagi artikel bli made utk balebengong. :))

  8. mankarya INDONESIA Says:

    kadang emk seperti ini tapi tidak semua pikir saia kayak breginian memang kebanyakan ank laki2 lebi wah….ketimbang ank cew

  9. Artana INDONESIA Says:

    Hidup di lingkungan tradisi patrilineal memang seperti ini bli…tapi nggak usah berkecil hati, nanti waktu yang akan menjawab, bagaimana seorang anak perempuan juga bisa membanggakan orang tuanya, tidak berbeda dengan laki-laki…….

  10. devari UNITED STATES Says:

    @yanuar, ….setelah tuak,tajen,dll…… LOL.
    Betul bli, bisa terkikis habis lama2. hanya ada satu kata: lawan :) untung ga ada hari Bapak ya di Indo :)
    @Ina, memang ga bisa dihindari tuh, diharapkan paling tidak dikurangi :) mungkin ga ya?

    @anton, wakakak..banjar antimuani….
    saya bukan anti muani bli, masak saya anti diri saya sendiri heheh. cuman baiknya mindset ini tidak menjadi pembenaran/justifikasi thd diskriminasi

    @mankarya, produk mindset ini juga ya? hehehe, itulah sebabnya ga dikasi ke luar negeri?
    saya juga begitu bro, jangan jauh2 nak kamu kan anak laki satu2nya..tp yah namanya juga mencari sesuap nasi (dan segenggam berlian) :)
    @artana, hati sih tetep besar bli :), saya juga pengin nanti punya anak laki kok, hanya merasa pertanyaan klasik itu seperti sebuah insult thd eksistensi anak perempuan :

  11. imcw UNITED STATES Says:

    Terus terang saya prihatin dengan perilaku para anak laki laki Bali akhir akhir ini, kebut kebutan, judi, mabuk mabukan, petantang petenteng di jalan tanpa tujuan, seks bebas, narkoba. Asa para orang tua dipertaruhkan dalam hal ini.

  12. devari UNITED STATES Says:

    @imcw, keprihatinan pak dok juga jadi keprihatinan banyak kalangan akhir2 ini. Menguatkan bukti bahwa mindset tsb (anak laki2 serba…) kurang relevan lagi.

  13. budarsa INDONESIA Says:

    setidaknya ada alasan pembenaran bagi si pria untuk berpoligami karena belum mempunyai anak laki -laki dengan istri pertama,

  14. devari UNITED STATES Says:

    @budarsa, dan namanya menjadi AA Gymdarsa heheheh :)

  15. S a k t i INDONESIA Says:

    Sepertinya bukan hanya di Bali ataupun keluarga hindu , mungkin hampir diseluruh belahan dunia lebih mengidam2kan anak laki2.

    Apakah kedudukan laki2 lebih tinggi? belum tentu. Yang jelas dari dulu laki-laki memang dikutuk untuk bisa jadi ‘pemimpin’ (keluarga), sebagai menerus keluarga. Mulai dari masalah nama keluarga, hak waris, dsb dll.

    Sedangkan perempuan, akan selalu ‘ikut’ dengan suaminya, harus menurut kepada suaminya dan pada umumnya akan ‘menggunakan’ nama keluarga suaminya. saya rasa setuap kultur, agama dan keyakinan mempunyai kisah cerita masing2 tentang ini.

    Entahlah apa ini diskriminasi atau bukan, yang pasti anak-anak itu, baik perempuan maupun laki-laki, adalah ujian buat orangtuanya. Dan kita sebagai orangtua akan menjadi ujian buat mereka.

  16. baliazura INDONESIA Says:

    sepertinya diskriminasi gender bukan hanya di bali saja tapi secara budaya dunia dari jadul udah didiskriminasikan.

  17. baladika INDONESIA Says:

    ada di mana memang laki-laki harus diatas kaum hawa. dan ini malah untuk menghormati wanita. tapi kadang orang banyak terjebak dalam tradisi. sehingga segala-galanya wanita harus di bawah.

    padahal enak lo kalo wanita diatas.. maksudnya??? ngeres deh….

  18. baladika INDONESIA Says:

    :) :P

  19. wira INDONESIA Says:

    saya rasa ini hanyalah “kelainan” pada tradisi kita, laki2 vs perempuan tidaklah sama dengan purusa dan pradana, seorang wanita bisa saja berkedudukan sebagai purusa, seperti contoh “nyentana”. Dan saya yakin leluhur kita telah memberi alternatif bagi yg tidak memiliki anak laki-laki dengan cara mencari “sentana”, pada perkembangannya mencari “sentana” inilah yg sulit, apa sebabnya? saya sendiri tidak tahu.. :-)

  20. devari UNITED STATES Says:

    @sakti, di Bali sebenarnya tidak mengenal istilah nama keluarga tp akhir2 ini ada kecenderungan keluarga Bali modern menerapkan ‘nama keluarga’. Hmmm sepertinya anak2 menjadi ujian ortu lebih banyak daripada ortu menjadi ujian anak2.

    @baliazura, satu lagi pengakuan bahwa ada diskriminasi gender di Bali :)
    @baladika, ini pasti gara2 gambar dewi persik itu ya? wakakak

    @wira,sama dengan fakta bahwa kasta tidak sama dengan ‘wangsa’?

  21. widi INDONESIA Says:

    Ha..ha..rasanya saya bangga sebagai anak perempuan yang punya ortu yang mempunyai pandangan maju walo mereka hanya tamat sd tapi mereka sangat tidak sreg dgn konsep tersebut, jenjang pendidikan saya diberi jauh diatas sodara saya yang co (kebetulan kita hanya sodara ce,co ) karena utk tunjukin ke orang2 walo anak ce ato co sama aja dan dengan memberi pendidikan yang lebih membuat anak ce nya kelak ga dilecehkan di keluarga suaminya (setidaknya masih jauh diatas tuak dan tajen bahkan mungkin bisa menjadi decision maker )

  22. devari UNITED STATES Says:

    @widi, itu baru namanya ortu balance :) jadi teringat waktu SMA, saat merengek-rengek minta motor, ibu nyeletuk, belikan saja toh kadek (saya) anak laki satu2nya. bapak jawab “biar dia anak laki setengah2nya, tidak akan dibelikan sebelum kelas 2″ :)
    jadi bangga niy dg cara pikir mbak widi

  23. trishna NETHERLANDS Says:

    iya waktu saya pisah sama ex,otomatis anak jadi hak milik dia krn alasannya anak laki dan cucu pertama penerus keluarga.sebenernya anak biar co/ce yg paling behak kan ibunya..(perempuan yg mengandung dan melahirkan)kasih sayang ibu lebih dr bpk(biarpun bpk jg sayang)maksudnya contak bathin.hikss..hiks..jd sedih.baru setaun kemaren sy bisa nrima..krn liat anak gak kekurangan dan semua sayang dia.
    kalo dinl biar anak ce/co menjadi hak ibu.dan soal mengurus ortu,warisan dll semua anak berhak.untunglah ortu sy menyamaratakan anak.waktu sy ketiban susah,mereka ngebantu 100% sampai sy bisa idup lg..kok..jd curhat yah..udah deh ntar nangis lg..

  24. devari UNITED STATES Says:

    @trishna, syukurlah udah bisa nrima sekarang. ya dilihat positifnya saja. susah memang melawan arus klo sendirian. dont worry be happy, karena sang anak juga dah happy :)

  25. Niluh Suarsih UNITED STATES Says:

    Saya sangat terkesan membaca pendapat Bapak /Saudara Made Suardana mengenai Diskriminasi dibalik Tradisi.
    Sebagai perempuan yang dilahirkan dan dibesarkan diBali saya ingin sekali diskusi dg anda tentang hal ini.
    Saya tinggal di Europa bersama suami dan anak dan karena Orang tua selalu memperlakukan saya dan adik laki saya satu-satunya dg sangat berbeda,maka saya mengalah dan tak pernah lagi pulang ke Bali meskipun saya sangat sedih dan kasihan sama orangtua.
    Tolong kalau bisa, saya akan sangat besyukur kalau Bapak/saudara ada niat/waktu untuk diskusi masalah ini dg saya melalui e-mail:niluhh@yahoo.de
    Terimakasih sebelumnya.

  26. trishna NETHERLANDS Says:

    :) thanks yah

  27. devari UNITED STATES Says:

    @niluh suarsih, suksma nggih atas appresiasinya. dengan senang hati untuk diskusinya, tp mohon dimaklumi saya bukanlah ahli budaya atau sejenisnya, saya hanya menuangkan ide2 dan pandangan pribadi thp fenomena2 seperti ini. silahkan kontak saya via email. atau blog ini :) suksma sekali lagi, salam

    @trishna, sama2 :)

  28. devari UNITED STATES Says:

    ini comment dari artikel ini yg dimuat di balebengong
    Pengirim atas nama Putri (IP address dan email ada pada author)
    ———————————————

    saya kecewa ama budaya bali. di saat kami kaum perempuan sibuk mejejahitan karena bentar lagi kuningan, eh adik sepupu laki-laki malah tenang2 tidur trus bangun langsung jalan2 keluar.
    belum lg di keseharian. anak perempuan wajib mebanten lah ini lah itulah, nyapu natah lah, etc.
    tapi anak laki2 gak pernah disuruh nyapu n kalo saya gak sempet nyapu krn nyari data buat tgs di kampus, pastilah kena omelan! belum lagi sindiran yg enggak2.
    anak laki2 di keluarga saya sangat dimanja, udah 19 thn tp apa2 msh diladeni, bahkan adik sepupu sy yg kelas 6 SD msh dimandiin ibunya.
    sedangkan saya sejak kelas 2 SD udah biasa nyuci n nyetrika baju sendiri.

    adanya diskriminasi juga bisa dilihat dari pemberian ijin keluar malam. anak cowok pulang pagi aja gpp, tp anak cewek pulang malam udah di cap perek lah perempuan rusak lah dsb.

    apa krn kelamin n payudara mengembang ini kita kaum perempuan dinistakan? jika demikian ayo kita tuntut saja tuhan!

    saya sering punya keinginan operasi kelamin setiap kali pukulan ayah mendera tubuh saya!

    dunia serasa terkungkung, tanpa celah n nyaris membuat saya hampir mampus!

    tapi apa saya diam? tidak! saya berontak! meskipun berulang kali terjadi hal2 yg tdk mengenakan tp saya terjang terus! hingga kini saya benar2 merasa bebas berekspresi! saya tidak peduli apa kata orang tentang saya!

    saya begitu emosional dengan budaya sampah ini!!!
    there can be no love without justice!
    gak akan pernah ada cinta tanpa keadilan!!
    lebih baik buang saja itu cinta ke tong sampah jika tanpa keadilan!!

  29. trishna NETHERLANDS Says:

    hah!!!kasian..banget..apalagai yg sy gak suka dan anti kalo laki2 sah2 aja mukul perempuan!!(gak itu istrinya,anaknya,ato pacarnya)kalo adat western pria ngejunjung banget harkat wanita, disini laki2 jg ngeladenin perempuan saling ngebantu lah(team work)malahan pria disini lebih banyak TUGAS drpd wanita,kalo sy belanja yg bawa belanjaan pasti suami biarpun itu gak berat…tp yah emang budaya darimana aja ada positif dan negatifnya juga..
    Buat PUTRI be strong n don’t worry about other people,stay positif ,,my husband always said “THERE’S SUNSHINE AFTER THE RAIN”

  30. widi INDONESIA Says:

    yah..kita ga bisa tutup mata tentang realita bahwa masih banyak putri2 yang lain yang mengalami nasib yang sama, paling ga untuk merubah itu kita mulai dari diri kita sendiri, karena sebenernya masih banyak hal yang harus kita kita benahi paling ga biar kita “bermutu” sebagai perempuan, sedikit bagi pengalaman aja saya dibesarkan didesa terpencil dan punya orang tua yang hanya tamatan sd, bagi ortu saya lahir sebagai anak perempuan memang harus tau ” sesana dadi anak luh” Termasuk mejejahitan dll, namun juga tidak melupakan segi intelektual salah satunya dari jenjang pendidikan dan cara yang berpikir yang lebih moderat, karena sejatinya sangat mulia sebagai perempuan bali yang bisa mengambil peran yang sangat besar terutama dalam bidang upakara dalam yadnya dan hal ini ga pernah saya lupakan walo saya lama diluar bali untuk selesain pendidikan saya hingga strata 2 namun tidak membuat saya melupakan tradisi terutam a dalam hal membuat banten

  31. widi INDONESIA Says:

    (masih lanjutan yang diatas)dan kebiasaan itu saya bawa hingga sekarang setelah saya menikah, meskipun saya turut bekerja utk kelangsungan ekonomi keluarga tapi saya juga masih tetap menjalankan apa yang menjadi kewajiban saya sebagai “nak luh bali” dan ini membuat orang disekeliling saya menaruh respek yang tinggi terhadap saya termasuk mertua dan ipar2 saya, kebetulan juga suami saya merupakan team work yang solid.

  32. devari UNITED STATES Says:

    @trishna, di Indonesia juga sekarang ada undang2 Kekerasan Dalam Rumah Tangga ;) di negra maju memang lebih bisa menghargai equalitas gender

    @widi, saya salut dengan anda, ini yang saya sebut sebagai contoh ‘wanita ajeg Bali’
    saya fikir orang2 disekitar anda adalah ‘team’ yang luar biasa sehingga itu juga ikut andil dalam membentuk pribadi dan cara pandang anda.
    keep it up mbak Widi.

  33. premajyoti INDONESIA Says:

    Leluhur kita bukan lah orang kolot yang tidak memilkiki nurani dalam meletakkan landasan tradisi budaya, mungkin generasi nyalah yang melaksanakan tradisi dan budaya secara tidak benar, kalau kita mau berpikir jernih, siapa sebenarnya yang menciptakan Diskriminasi….jangan-jangan kitalah yang memasukkan Diskriminasi kedalam tradisi dan budaya Bali yang telah ada….
    Kita sebut saja traidisi atau adat atau budaya adalah sebuah bentuk manajemen untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat. Leluhur kita amat bijaksana contoh nyata dalam manajemen perkawinan. Yang pertama leluhur kita telah berpikir dan memilihkan salah satu dari dua sistem perkawinan yang ada yaitu Patrilinier atau Matrilinier, dan berdasarkan pertimbangan yang bijak mereka memilihkan Patriliner yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat di Bali. Sesuai dengan ajaran Agama hindu Laki-laki sebagai purusha dan wanita sebagai Predana, Laki-laki sebagai Kepala rumah tangga memikul dan memimpin kehidupan dalam kelaurga.
    Kemudian bagi keluarga yang tidak memiliki penerus laki-laki, leluhur kita juga membuat suatu aturan yang dibenarkan, jika tidak dibenarkan mengapa aturan dibuat. Jadi ini boleh dan sah atau wajar dilakukan yaitu suatu adat perkawinan nyentana. Dimana suatu kondisi sebuah keluarga tidak memiliki anak laki-laki, maka anak perempuan dari keluarga itu boleh menjadi penerus atau ahli waris dari keluarga tersebut dengan cara mencari sentana atau melamar anak laki-laki. Begitu bijaksananya mereka memikirkan masyarakatnya tanpa adanya diskriminatif terhadap purusaha dan predana.

  34. devari bali UNITED STATES Says:

    @primajyoti,
    thanks atas pencerahannya. opini yang saya sampaikan diatas adalah dalam konteks ‘aplikasi’ tradisi pada masyarakat kekinian , jelas tersirat pada awal postingan. Menyinggung ttg tradisi, tidak harus otomatis diasosiasikan dengan hal2 tempo dulu (baca:leluhur). apapun dasar yg mereka letakkan itu mungkin yg terbaik, paling tidak untuk konteks pada saat itu, yg ditekankan pada postingan ini adalah kita2 ini sebagai pelaksana tradisi itu di zaman kini, yg tentunya ada berbagai benturan/adaptasi terhadap masa sekarang

  35. pandebaik INDONESIA Windows XP Internet Explorer 6.0 Says:

    wah wah wah… rame banget ya, Bli? saya tergelitik, lantaran bbrp cerita rekan yang menelantarkan anaknya saat tahu lahir perempuan, sampe2 gak mau nengokin kelahiran anaknya sendiri. Damn.

    pandebaik’s last blog post..emangya Anak Cewek itu lebih hina ya ?

Leave a Reply

(required)
(required)


XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>