<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Ada Diskriminasi Dibalik Tradisi</title>
	<atom:link href="http://www.devari.org/2008/01/25/diskriminasi-berbungkus-tradisi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.devari.org/2008/01/25/diskriminasi-berbungkus-tradisi/</link>
	<description>a place where ideas flow</description>
	<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 18:49:44 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.3</generator>
		<item>
		<title>By: pandebaik</title>
		<link>http://www.devari.org/2008/01/25/diskriminasi-berbungkus-tradisi/#comment-2823</link>
		<dc:creator>pandebaik</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2008 22:42:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.devari.org/?p=71#comment-2823</guid>
		<description>wah wah wah... rame banget ya, Bli? saya tergelitik, lantaran bbrp cerita rekan yang menelantarkan anaknya saat tahu lahir perempuan, sampe2 gak mau nengokin kelahiran anaknya sendiri. Damn.

&lt;em&gt;pandebaik's last blog post..&lt;a href='http://pandeividuality.net/2008/06/28/emangya-anak-cewek-itu-lebih-hina-ya/' rel="nofollow"&gt;emangya Anak Cewek itu lebih hina ya ?&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah wah wah&#8230; rame banget ya, Bli? saya tergelitik, lantaran bbrp cerita rekan yang menelantarkan anaknya saat tahu lahir perempuan, sampe2 gak mau nengokin kelahiran anaknya sendiri. Damn.</p>
<p><em>pandebaik&#8217;s last blog post..<a href='http://pandeividuality.net/2008/06/28/emangya-anak-cewek-itu-lebih-hina-ya/' rel="nofollow">emangya Anak Cewek itu lebih hina ya ?</a></em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: devari bali</title>
		<link>http://www.devari.org/2008/01/25/diskriminasi-berbungkus-tradisi/#comment-595</link>
		<dc:creator>devari bali</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 19:53:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.devari.org/?p=71#comment-595</guid>
		<description>@primajyoti,
thanks atas pencerahannya. opini yang saya sampaikan diatas adalah dalam konteks 'aplikasi' tradisi pada masyarakat kekinian , jelas tersirat pada awal postingan. Menyinggung ttg tradisi, tidak harus otomatis diasosiasikan dengan hal2 tempo dulu (baca:leluhur). apapun dasar yg mereka letakkan itu mungkin yg terbaik, paling tidak untuk konteks pada saat itu, yg ditekankan pada postingan ini adalah kita2 ini sebagai pelaksana tradisi itu di zaman kini, yg tentunya ada berbagai benturan/adaptasi terhadap masa sekarang</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@primajyoti,<br />
thanks atas pencerahannya. opini yang saya sampaikan diatas adalah dalam konteks &#8216;aplikasi&#8217; tradisi pada masyarakat kekinian , jelas tersirat pada awal postingan. Menyinggung ttg tradisi, tidak harus otomatis diasosiasikan dengan hal2 tempo dulu (baca:leluhur). apapun dasar yg mereka letakkan itu mungkin yg terbaik, paling tidak untuk konteks pada saat itu, yg ditekankan pada postingan ini adalah kita2 ini sebagai pelaksana tradisi itu di zaman kini, yg tentunya ada berbagai benturan/adaptasi terhadap masa sekarang</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: premajyoti</title>
		<link>http://www.devari.org/2008/01/25/diskriminasi-berbungkus-tradisi/#comment-594</link>
		<dc:creator>premajyoti</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Feb 2008 18:20:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.devari.org/?p=71#comment-594</guid>
		<description>Leluhur kita bukan lah orang kolot yang tidak memilkiki nurani dalam meletakkan landasan tradisi budaya, mungkin generasi nyalah yang melaksanakan tradisi dan budaya secara tidak benar, kalau kita mau berpikir jernih, siapa sebenarnya yang menciptakan Diskriminasi....jangan-jangan kitalah yang memasukkan Diskriminasi  kedalam tradisi dan budaya Bali yang telah ada....
Kita sebut saja traidisi atau adat atau budaya adalah sebuah bentuk manajemen untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat. Leluhur kita amat bijaksana contoh nyata dalam manajemen perkawinan. Yang pertama leluhur kita telah berpikir dan memilihkan salah satu dari dua sistem perkawinan yang ada yaitu Patrilinier atau Matrilinier, dan berdasarkan pertimbangan yang bijak mereka memilihkan Patriliner yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat di Bali. Sesuai dengan ajaran Agama hindu Laki-laki sebagai purusha dan wanita sebagai Predana, Laki-laki sebagai Kepala rumah tangga memikul dan memimpin kehidupan dalam kelaurga.
Kemudian bagi keluarga yang tidak memiliki penerus laki-laki, leluhur kita juga membuat suatu aturan yang dibenarkan, jika tidak dibenarkan mengapa aturan dibuat. Jadi ini boleh dan sah atau wajar dilakukan yaitu suatu adat perkawinan nyentana. Dimana suatu kondisi sebuah keluarga tidak memiliki anak laki-laki, maka anak perempuan dari keluarga itu boleh menjadi penerus atau ahli waris dari keluarga tersebut dengan cara mencari sentana atau melamar anak laki-laki. Begitu bijaksananya mereka memikirkan masyarakatnya tanpa adanya diskriminatif terhadap purusaha dan predana.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Leluhur kita bukan lah orang kolot yang tidak memilkiki nurani dalam meletakkan landasan tradisi budaya, mungkin generasi nyalah yang melaksanakan tradisi dan budaya secara tidak benar, kalau kita mau berpikir jernih, siapa sebenarnya yang menciptakan Diskriminasi&#8230;.jangan-jangan kitalah yang memasukkan Diskriminasi  kedalam tradisi dan budaya Bali yang telah ada&#8230;.<br />
Kita sebut saja traidisi atau adat atau budaya adalah sebuah bentuk manajemen untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat. Leluhur kita amat bijaksana contoh nyata dalam manajemen perkawinan. Yang pertama leluhur kita telah berpikir dan memilihkan salah satu dari dua sistem perkawinan yang ada yaitu Patrilinier atau Matrilinier, dan berdasarkan pertimbangan yang bijak mereka memilihkan Patriliner yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat di Bali. Sesuai dengan ajaran Agama hindu Laki-laki sebagai purusha dan wanita sebagai Predana, Laki-laki sebagai Kepala rumah tangga memikul dan memimpin kehidupan dalam kelaurga.<br />
Kemudian bagi keluarga yang tidak memiliki penerus laki-laki, leluhur kita juga membuat suatu aturan yang dibenarkan, jika tidak dibenarkan mengapa aturan dibuat. Jadi ini boleh dan sah atau wajar dilakukan yaitu suatu adat perkawinan nyentana. Dimana suatu kondisi sebuah keluarga tidak memiliki anak laki-laki, maka anak perempuan dari keluarga itu boleh menjadi penerus atau ahli waris dari keluarga tersebut dengan cara mencari sentana atau melamar anak laki-laki. Begitu bijaksananya mereka memikirkan masyarakatnya tanpa adanya diskriminatif terhadap purusaha dan predana.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: devari</title>
		<link>http://www.devari.org/2008/01/25/diskriminasi-berbungkus-tradisi/#comment-593</link>
		<dc:creator>devari</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2008 02:40:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.devari.org/?p=71#comment-593</guid>
		<description>@trishna, di Indonesia juga sekarang ada undang2 Kekerasan Dalam Rumah Tangga ;)
di negra maju memang lebih bisa menghargai equalitas gender

@widi, saya salut dengan anda, ini yang saya sebut sebagai contoh 'wanita ajeg Bali'
saya fikir orang2 disekitar anda adalah 'team' yang luar biasa sehingga itu juga ikut andil dalam membentuk pribadi dan cara pandang anda.
keep it up mbak Widi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@trishna, di Indonesia juga sekarang ada undang2 Kekerasan Dalam Rumah Tangga <img src='http://www.devari.org/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> di negra maju memang lebih bisa menghargai equalitas gender</p>
<p>@widi, saya salut dengan anda, ini yang saya sebut sebagai contoh &#8216;wanita ajeg Bali&#8217;<br />
saya fikir orang2 disekitar anda adalah &#8216;team&#8217; yang luar biasa sehingga itu juga ikut andil dalam membentuk pribadi dan cara pandang anda.<br />
keep it up mbak Widi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: widi</title>
		<link>http://www.devari.org/2008/01/25/diskriminasi-berbungkus-tradisi/#comment-592</link>
		<dc:creator>widi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2008 02:15:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.devari.org/?p=71#comment-592</guid>
		<description>(masih lanjutan yang diatas)dan kebiasaan itu saya bawa hingga sekarang setelah saya menikah, meskipun saya turut bekerja utk kelangsungan ekonomi keluarga tapi saya juga masih tetap menjalankan apa yang menjadi kewajiban saya sebagai "nak luh bali" dan ini membuat orang disekeliling saya menaruh respek yang tinggi terhadap saya termasuk mertua dan ipar2 saya, kebetulan juga suami saya merupakan team work yang solid.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>(masih lanjutan yang diatas)dan kebiasaan itu saya bawa hingga sekarang setelah saya menikah, meskipun saya turut bekerja utk kelangsungan ekonomi keluarga tapi saya juga masih tetap menjalankan apa yang menjadi kewajiban saya sebagai &#8220;nak luh bali&#8221; dan ini membuat orang disekeliling saya menaruh respek yang tinggi terhadap saya termasuk mertua dan ipar2 saya, kebetulan juga suami saya merupakan team work yang solid.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: widi</title>
		<link>http://www.devari.org/2008/01/25/diskriminasi-berbungkus-tradisi/#comment-591</link>
		<dc:creator>widi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2008 02:08:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.devari.org/?p=71#comment-591</guid>
		<description>yah..kita ga bisa tutup mata tentang realita bahwa masih banyak putri2 yang lain yang mengalami nasib yang sama, paling ga untuk merubah itu kita mulai dari diri kita sendiri, karena sebenernya masih banyak hal yang harus kita kita benahi paling ga biar kita "bermutu" sebagai perempuan, sedikit bagi pengalaman aja saya dibesarkan didesa terpencil dan punya orang tua yang hanya tamatan sd, bagi ortu saya lahir sebagai anak perempuan memang harus tau " sesana dadi anak luh" Termasuk mejejahitan dll, namun juga tidak melupakan segi intelektual salah satunya dari jenjang pendidikan dan cara yang berpikir yang lebih moderat, karena  sejatinya sangat mulia sebagai perempuan bali yang bisa mengambil peran yang sangat besar terutama dalam bidang upakara dalam yadnya dan hal ini ga pernah saya lupakan walo saya lama diluar bali untuk selesain pendidikan saya hingga strata 2 namun tidak membuat saya melupakan tradisi terutam a dalam hal membuat banten</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>yah..kita ga bisa tutup mata tentang realita bahwa masih banyak putri2 yang lain yang mengalami nasib yang sama, paling ga untuk merubah itu kita mulai dari diri kita sendiri, karena sebenernya masih banyak hal yang harus kita kita benahi paling ga biar kita &#8220;bermutu&#8221; sebagai perempuan, sedikit bagi pengalaman aja saya dibesarkan didesa terpencil dan punya orang tua yang hanya tamatan sd, bagi ortu saya lahir sebagai anak perempuan memang harus tau &#8221; sesana dadi anak luh&#8221; Termasuk mejejahitan dll, namun juga tidak melupakan segi intelektual salah satunya dari jenjang pendidikan dan cara yang berpikir yang lebih moderat, karena  sejatinya sangat mulia sebagai perempuan bali yang bisa mengambil peran yang sangat besar terutama dalam bidang upakara dalam yadnya dan hal ini ga pernah saya lupakan walo saya lama diluar bali untuk selesain pendidikan saya hingga strata 2 namun tidak membuat saya melupakan tradisi terutam a dalam hal membuat banten</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: trishna</title>
		<link>http://www.devari.org/2008/01/25/diskriminasi-berbungkus-tradisi/#comment-590</link>
		<dc:creator>trishna</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Feb 2008 20:35:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.devari.org/?p=71#comment-590</guid>
		<description>hah!!!kasian..banget..apalagai yg sy gak suka dan anti kalo laki2 sah2 aja mukul perempuan!!(gak itu istrinya,anaknya,ato pacarnya)kalo adat western pria ngejunjung banget harkat wanita, disini laki2 jg ngeladenin perempuan saling ngebantu lah(team work)malahan pria disini lebih banyak TUGAS drpd wanita,kalo sy belanja yg bawa belanjaan pasti suami biarpun itu gak berat...tp yah emang budaya darimana aja ada positif dan negatifnya juga..
Buat PUTRI be strong n don't worry about other people,stay positif ,,my husband always said "THERE'S SUNSHINE AFTER THE RAIN"</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hah!!!kasian..banget..apalagai yg sy gak suka dan anti kalo laki2 sah2 aja mukul perempuan!!(gak itu istrinya,anaknya,ato pacarnya)kalo adat western pria ngejunjung banget harkat wanita, disini laki2 jg ngeladenin perempuan saling ngebantu lah(team work)malahan pria disini lebih banyak TUGAS drpd wanita,kalo sy belanja yg bawa belanjaan pasti suami biarpun itu gak berat&#8230;tp yah emang budaya darimana aja ada positif dan negatifnya juga..<br />
Buat PUTRI be strong n don&#8217;t worry about other people,stay positif ,,my husband always said &#8220;THERE&#8217;S SUNSHINE AFTER THE RAIN&#8221;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: devari</title>
		<link>http://www.devari.org/2008/01/25/diskriminasi-berbungkus-tradisi/#comment-589</link>
		<dc:creator>devari</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Feb 2008 15:12:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.devari.org/?p=71#comment-589</guid>
		<description>ini comment dari artikel ini yg dimuat di balebengong
Pengirim atas nama Putri (IP address dan email ada pada author)
---------------------------------------------

   saya kecewa ama budaya bali. di saat kami kaum perempuan sibuk mejejahitan karena bentar lagi kuningan, eh adik sepupu laki-laki malah tenang2 tidur trus bangun langsung jalan2 keluar.
    belum lg di keseharian. anak perempuan wajib mebanten lah ini lah itulah, nyapu natah lah, etc.
    tapi anak laki2 gak pernah disuruh nyapu n kalo saya gak sempet nyapu krn nyari data buat tgs di kampus, pastilah kena omelan! belum lagi sindiran yg enggak2.
    anak laki2 di keluarga saya sangat dimanja, udah 19 thn tp apa2 msh diladeni, bahkan adik sepupu sy yg kelas 6 SD msh dimandiin ibunya.
    sedangkan saya sejak kelas 2 SD udah biasa nyuci n nyetrika baju sendiri.

    adanya diskriminasi juga bisa dilihat dari pemberian ijin keluar malam. anak cowok pulang pagi aja gpp, tp anak cewek pulang malam udah di cap perek lah perempuan rusak lah dsb.

    apa krn kelamin n payudara mengembang ini kita kaum perempuan dinistakan? jika demikian ayo kita tuntut saja tuhan!

    saya sering punya keinginan operasi kelamin setiap kali pukulan ayah mendera tubuh saya!

    dunia serasa terkungkung, tanpa celah n nyaris membuat saya hampir mampus!

    tapi apa saya diam? tidak! saya berontak! meskipun berulang kali terjadi hal2 yg tdk mengenakan tp saya terjang terus! hingga kini saya benar2 merasa bebas berekspresi! saya tidak peduli apa kata orang tentang saya!

    saya begitu emosional dengan budaya sampah ini!!!
    there can be no love without justice!
    gak akan pernah ada cinta tanpa keadilan!!
    lebih baik buang saja itu cinta ke tong sampah jika tanpa keadilan!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ini comment dari artikel ini yg dimuat di balebengong<br />
Pengirim atas nama Putri (IP address dan email ada pada author)<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>   saya kecewa ama budaya bali. di saat kami kaum perempuan sibuk mejejahitan karena bentar lagi kuningan, eh adik sepupu laki-laki malah tenang2 tidur trus bangun langsung jalan2 keluar.<br />
    belum lg di keseharian. anak perempuan wajib mebanten lah ini lah itulah, nyapu natah lah, etc.<br />
    tapi anak laki2 gak pernah disuruh nyapu n kalo saya gak sempet nyapu krn nyari data buat tgs di kampus, pastilah kena omelan! belum lagi sindiran yg enggak2.<br />
    anak laki2 di keluarga saya sangat dimanja, udah 19 thn tp apa2 msh diladeni, bahkan adik sepupu sy yg kelas 6 SD msh dimandiin ibunya.<br />
    sedangkan saya sejak kelas 2 SD udah biasa nyuci n nyetrika baju sendiri.</p>
<p>    adanya diskriminasi juga bisa dilihat dari pemberian ijin keluar malam. anak cowok pulang pagi aja gpp, tp anak cewek pulang malam udah di cap perek lah perempuan rusak lah dsb.</p>
<p>    apa krn kelamin n payudara mengembang ini kita kaum perempuan dinistakan? jika demikian ayo kita tuntut saja tuhan!</p>
<p>    saya sering punya keinginan operasi kelamin setiap kali pukulan ayah mendera tubuh saya!</p>
<p>    dunia serasa terkungkung, tanpa celah n nyaris membuat saya hampir mampus!</p>
<p>    tapi apa saya diam? tidak! saya berontak! meskipun berulang kali terjadi hal2 yg tdk mengenakan tp saya terjang terus! hingga kini saya benar2 merasa bebas berekspresi! saya tidak peduli apa kata orang tentang saya!</p>
<p>    saya begitu emosional dengan budaya sampah ini!!!<br />
    there can be no love without justice!<br />
    gak akan pernah ada cinta tanpa keadilan!!<br />
    lebih baik buang saja itu cinta ke tong sampah jika tanpa keadilan!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: devari</title>
		<link>http://www.devari.org/2008/01/25/diskriminasi-berbungkus-tradisi/#comment-588</link>
		<dc:creator>devari</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2008 02:43:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.devari.org/?p=71#comment-588</guid>
		<description>@niluh suarsih, suksma nggih atas appresiasinya. dengan senang hati untuk diskusinya, tp mohon dimaklumi saya bukanlah ahli budaya atau sejenisnya, saya hanya menuangkan ide2 dan pandangan pribadi thp fenomena2 seperti ini. silahkan kontak saya via email. atau blog ini :)
suksma sekali lagi, salam

@trishna, sama2 :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@niluh suarsih, suksma nggih atas appresiasinya. dengan senang hati untuk diskusinya, tp mohon dimaklumi saya bukanlah ahli budaya atau sejenisnya, saya hanya menuangkan ide2 dan pandangan pribadi thp fenomena2 seperti ini. silahkan kontak saya via email. atau blog ini <img src='http://www.devari.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> suksma sekali lagi, salam</p>
<p>@trishna, sama2 <img src='http://www.devari.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: trishna</title>
		<link>http://www.devari.org/2008/01/25/diskriminasi-berbungkus-tradisi/#comment-587</link>
		<dc:creator>trishna</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2008 00:56:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.devari.org/?p=71#comment-587</guid>
		<description>:) thanks yah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p> <img src='http://www.devari.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> thanks yah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Niluh Suarsih</title>
		<link>http://www.devari.org/2008/01/25/diskriminasi-berbungkus-tradisi/#comment-586</link>
		<dc:creator>Niluh Suarsih</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2008 00:49:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.devari.org/?p=71#comment-586</guid>
		<description>Saya sangat terkesan membaca pendapat Bapak /Saudara Made Suardana mengenai Diskriminasi dibalik Tradisi.
Sebagai perempuan yang dilahirkan dan dibesarkan diBali saya ingin sekali diskusi dg anda tentang hal ini.
Saya tinggal di Europa bersama suami dan anak dan karena Orang tua selalu memperlakukan saya dan adik laki saya satu-satunya dg sangat berbeda,maka saya mengalah dan tak pernah lagi pulang ke Bali meskipun saya sangat sedih dan kasihan sama orangtua.
Tolong kalau bisa, saya akan sangat besyukur kalau Bapak/saudara ada niat/waktu untuk diskusi masalah ini dg saya melalui e-mail:niluhh@yahoo.de
Terimakasih sebelumnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sangat terkesan membaca pendapat Bapak /Saudara Made Suardana mengenai Diskriminasi dibalik Tradisi.<br />
Sebagai perempuan yang dilahirkan dan dibesarkan diBali saya ingin sekali diskusi dg anda tentang hal ini.<br />
Saya tinggal di Europa bersama suami dan anak dan karena Orang tua selalu memperlakukan saya dan adik laki saya satu-satunya dg sangat berbeda,maka saya mengalah dan tak pernah lagi pulang ke Bali meskipun saya sangat sedih dan kasihan sama orangtua.<br />
Tolong kalau bisa, saya akan sangat besyukur kalau Bapak/saudara ada niat/waktu untuk diskusi masalah ini dg saya melalui e-mail:niluhh@yahoo.de<br />
Terimakasih sebelumnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
