Ngeblog, Idealist atau Realist?
Sunday, February 3rd, 2008
“Just because you are paranoid does not mean they are not after you”, hanya karena kamu paranoid bukan berarti mereka tidak mengejar (menangkap) kamu. Sebuah ungkapan yang rasanya cukup mewakili perasaan di saat2 dilema ngeblog melanda. Saya percaya bahwa setiap blogger mempunyai idealisme sendiri2 tentang apa yang mau tulis, entah itu bidang yang ditekuni, cerita2 pribadi atau masalah-masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dilema itu menyerang manakala adanya keraguan yang luar biasa ketika berusaha mengungkap keganjilan2 sosial, keraguan yang pada akhirnya bisa jadi bermuara pada sebuah ketakutan. Menulis pandangan pribadi ttg fenomena sosial terkadang dihalangi oleh berbagai macam pertimbangan karena menyangkut pihak ketiga. Salah2 bisa masuk penjara.
Ada satu benang merah persamaan antara blog dan dunia pers yaitu sama2 mengungkapkan berita/ide/opini dalam bentuk tulisan (dan gambar). Walau belum sepenuhnya paham detail2nya, tapi dalam dunia pers ada UU Pers yang mencantumkan kode etik dan pasal2 yang melindungi hak2 seorang jurnalis. Bagaimana dengan blogger? Rasanya belum ada peraturan formal yang ttg hal ini. Lalu bagaimana jika terjadi tuntutan2 pihak ketiga yang merasa terpojok dengan postingan di blog? Ah rasanya memang saya terlalu melebih2kan. Paranoid?
Adalah kejadian beberapa tahun yang lalu yang terkadang menghantui jika sudah menyangkut hal tulis menulis. Adanya berbagai ketimpangan tentang pembangunan di desa saya membuat saya tergerak untuk menulis sebuah surat pembaca di harian lokal di Bali. Isinya lumayan menohok pihak2 yang berkepentingan tentang berbagai proyek yang tidak jelas sehingga di banjar saya waktu itu tidak mendapat jatah pengaspalan jalan, tangki air dan juga listrik. Asumsi saya sederhana saja, jika ada pihak2 yang merasa tersinggung dan tidak puas dengan apa2 yang saya ungkap di surat pembaca, maka tentulah mereka akan menggunakan hak jawabnya di media juga. Sederhana dan bisa mengungkap fakta di masyarakat.
Namun rupanya perkiraan saya meleset. Tidak semua orang memahami apa itu hak jawab dan sejenisnya. Apalagi di daerah terpencil seperti Nusa Penida. Yang ada hanyalah hukum rimba dan ewuh pakewuh. Sayapun mendapat surat panggilan dari kepolisian disuruh datang ke kantor dengan sangkaan menfitnah dan mencemarkan nama baik. WTF. Tentu saya masih bisa berargumentasi biar tidak sampai nginap di hotel prodeo. Pengapnya ruang introgasipun pernah saya alami. Tidak sampai disitu, yang membuat lebih ngeri adalah adanya berbagai macam ancaman dan teror dari ‘pasukan’ sang tergugat dari penyerbuanlah, pembunuhan dan teror sejenisnya. Hati siapa yang tidak miris, apalagi melihat orangtua yang merasa sangat tertekan. Bagaimana tidak, rumah selalu disambangi oleh petugas2 baik yang berpakaian dinas maupun pakaian preman.
Setiap orang sekali lagi punya idealisme sendiri2. Untuk hal2 tertentu saya juga seorang idealis. Tapi secara keseluruhan, mungkin menjadi seorang realist akan lebih baik. Lebih nyaman karena berbagi intrik tersebut tidak saja melibatkan diri sendiri tapi juga orang2 disekitar kita. Jadi pilihannya, mau idealist atau realist? Pilihan ada ditangan kita masing2 ![]()
- Saya Blogger Penakut?
- ‘Paid Bangkung’ No, ‘Paid Kijang’ Yes
- Surat Pembaca Bali Post
- Manusia Palsu
- eBlogari: Ngeblog untuk Kebebasan Informasi
- Selamat Datang di Devari.org
- Budaya Jual Warisan
Posted in Intermezzo Follow responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.


February 3rd, 2008 at 5:37 pm
Kayaknya komentar pertama ni???
Menyamakan persepsi memang sulit . Selalu saja ada ide atau pandangan yang berbeda dari apa yang kita anggap benar.
Setiap apa yang kita ungkapkan dalam blog kita, sebenarnya kita punya tanggung jawab moral. Jadi hadapi saja, entah konsekuensinya buruk atau baik bagi kita. Bukannya koh ngomong juga salah??
Hidup BLOGGER!!!
February 4th, 2008 at 1:29 am
Justru disitu tantangannya, kita terlatih untuk mikir dan gimana cara main api secara aman… Seperti pada dunia kartun, kartun2 politik yang cerdas kebanyakan lahir dari negara2 yg penuh tekanan dibandingkan negara bebas… Kata kunci ’sex’ di google http://asn.tourdebali.com/2007/04/10/sex-curiosity/
lebih banyak datang dari daerah yang melarang. Memberi komentar juga harus mikir pula… ‘duh’
February 4th, 2008 at 1:49 am
be idealist or realist, just keep blogging Bli
February 4th, 2008 at 2:49 am
@dekdidi,yoi koh ngomong rasanya kurang bijaksana. klo sebatas tanggung jawab moral konsekuensinya masih bisa ditolerir, repotnya klo udah diluar itu
thanks bli ebo. wakakak kaget juga liat artikel sex curiosity itu ternyata no 1-nya sama sekali diluar prakiraan saya pribadi. nah lo!
@ebo, got your point: main api secara aman
@wandira, yoi bro, rajin2 mlali mai ya hehehe
February 4th, 2008 at 7:05 am
orang bebas mau bicara apa saja dengan cara apa saja… tetapi dalam kehidupan bersosial (didunia nyata maupun internet) kita punya etika, norma dan peraturan/undang-undang.
Salah satu wartawan senior pernah bilang.. saat membicarakan kenyaataan misalkan si A memiliki hidung yang jelek sekali bentuknya sehingga tidak enak dipandang dalam mengungkapkan jangan menggunakan redaksi “si A hidungnya pesek, jelek dan pengen muntah saya melihatnya”, tetapi bisa dengan pilihan tulisan “andaikan si A memiliki hidung yang lebih sempurna…”
Jujur saja tidak mudah kita berbicara (dalam blog ataupun media berita) mengenai opini terutama terhadap seseorang, politik, atau yang berhubungan dengan oranglain dan negara (pemerintahan, politik, sosial). Karena secara tidak langung norma, etika dan peraturan tetap mengikat kita sebagai warga negara.
Mengutarakan sindiran, kritik pada dasarnya tidak mungkin tidak menyinggung perasaan orang yang dituju. Tapi bila kita ‘pintar’ mengungkapkan akan jadi ‘bantuan’ yang sangat berarti buat orang yang dikritik.
Kembali ke Blogger, nah jurnalis itu sendiri apa sih? apakah semua yang bisa nulis di blog (juga surat pribadi kale yee) bisa langsung disebut jurnalis? bukankah wartawan dan penulis artikel/berita itu harus diakui oleh organisasi atau instansi (perusahaan) media berita? kalo semua bloger bisa disebut jurnalis buat apa dong ada sekolah jurnalis (yang berhubungan dengan jurnalisme, fikom?) bahkan sebagai ‘koresponden’ atau freelance jurnalis tetap harus ada yang mengakui.
IMHO, Blogger masih jauh dengan jurnalis. maap bukan maksud promosi, tapi bandingkan dengan blog.liputan6.com.
ya balik lagi. kita bikin blog pribadi, jangan mimpi dengan uu jurnalis, batasan kita sementara ini cukup dengan etika, norma dan peraturan yang berlaku di masyarakat Indonesa. Kalo semua blog sama dengan jurnalis… hehehehe Jangan sampe deh jadi demokrasi yang kebablasan.
Yang teriak belum ngerti apa itu demokrasi yang terima teriakan juga gak ngeh apa itu demokrasi.
Tidak ada negara yang maju karena demokrasi.. tapi negara bisa maju karena seluruh komponen negara (pemeritahaan dan rakyat) bersatu. Setelah Negara maju dan makmur, system hukum dan pemerintahan sudah berjalan dan dipatuhi, baru demokrasi bisa berkembang baik. Menurut aku loh.
Loh kok gue jadi nge-blog di blog dirimu yah dev?
February 4th, 2008 at 7:25 am
kagak ngerti dah
yang penting ngeblog
whheheh
February 4th, 2008 at 9:40 am
diplomatis saja, bagemana?
saya sih berusaha mencari cara teraman untuk menyuarakan kebejatan sosial yang ada, hohoho!
February 4th, 2008 at 9:41 am
anu, atau mau coba cara sebagai blogger anonim?
February 4th, 2008 at 1:38 pm
@sakti, wakakak iya neh kok sakti jadi ngeblog di tempat saya. tp its cool thanks atas pencerahannya.
jika kembali ke postingan, saya lebih menekankan persamaan dasar dari blogger dengan jurnalis. persamaan dalam arti konotasi atau dalam tanda kutip, yaitu menulis ide/opini. dalam hal ini saya fokus ke hal yg menyangkut masalah sosial. tentu saja tidak sama blogger dan jurnalis.
betul sekali sekali jurnalis ada medianya yg jelas dan juga ada organisasi yang jelas dimana dia bernaung. tapi sekarang juga ada citizen journalism loh. tapi tetep juga blogger ga sama dengan wartawan.
maksud saya diatas mungkin kurang jelas ,dimana hanya menjadikan kedua benda itu, blogger dan jurnalis, menjadi sebuah analogi yang relevan karena sama2 mengusung prinsip yang ’sama’. dalam konteks ini, contohnya adalah blog yang mengupas fenomena sosial.
etika, moral dan norma2 sudah barang tentu menjadi batasa kita, tidak perlu diungkapkan rasanya lagi, harus sudah built in saya sadari saat menulis. masalahnya jika masih berada dalam batasan dan norma dan tetap saja tidak direspond dengan tindakan yang bernorma dan bermoral. bagaimana kita bereaksi?
mungkin kembali seperti yang ebo bilang, bermain api dengan aman
thanks sakti ulasannya mantap abis 
@arya, pilih yg aman2 saja 
@dek sugi, yoi
February 4th, 2008 at 4:01 pm
nyumbang pemikiran, bli.
aku pernah baca sebuah ungkapan yg menarik. kurang lebih begini, “kalau kau melihat ketidakadilan, kau harus melawannya. jika tidak bisa dengan perbuatan, lawanlah dengan perkataan. jika tidak bisa dengan perbuatan, lawanlah dengan pikiran.”
menulis, bagiku, adalah salah satu upaya utk mengatakan sikap atas sesuatu: entah setuju, melawan sesuatu, atau hanya ragu2. jadi, entah wartawan entah blogger entah leak nusa penida -hahaha- semua berhak menulis apa pun itu.
bedanya mungkin pd status. wartawan dilindungi undang2 dan terikat pula dg kode etik dan UU itu sendiri. blogger? sampe sekarang aku belum tau adanya aturan khusus. mungkin aturan umum aja kayak etika dst kayak yg ditulis sakti.
posisi ini mmg dilema jg. enaknya sih krn belum ada aturan soal menulis blog, dan menurutku itu tdak perlu, kita tulis saja suka2. kalo memang ga bs terbuka ya jd wong samar saja. blog kan udah bs ngasih pilihan.
enaknya jg, blogger tdk terikat dg tetek bengek aturan jurnalisme. jd memang bener2 bebas. selama kita nulis sesuatu yg benar2 FAKTA, menurutku sih sah2 saja. tp ya memang ini jg urusan kita masing2. kayak aku yg sampe sekarang pun tidak berani nulis, meski di blog, soal preman2 bali. hehe..
tp paling penting skr adalah: mai ngeblog apang sing belog. *nyambung ga sih?*
February 4th, 2008 at 7:07 pm
se7….. dengan diatasku.
tapi pemikiran yang di tulis itu kalo gak salah hadist deh..
February 4th, 2008 at 7:08 pm
ralat
maksudnya ungkapan yg di tulis mas antonemus, bukan pemikirannya mas antonemus
February 4th, 2008 at 7:59 pm
@antonemus, LOL leak nusa
thanks bli anton, ayo dong tulis ttg premanisme di Bali, siap2 dibawain pedang 
@baladika, wakss hadist? heheh
February 4th, 2008 at 11:42 pm
hikhik jadi teringat momon..diciduk polisi gara2x pic mayangsari ama SBY
kalo aku susah eh mau berdiplomasi. nyablak aja. ini udah dihalus halusin hikhik
February 4th, 2008 at 11:52 pm
@devari, ini premanisme apa nih?

btw, saya punya bukti ‘pungli’ orang Beacukai yang secara tidak langsung ‘meres’ pabrik-pabrik industri di kawasan berikat. Udah saya scan, mau saya publish di blog tapi masih ragu (gemana cara ngungkapin biar aman). Ada yang bilang gak usah di publish di blog tapi kirim ke dirjen beacukai aja atau sekalian ke SBY
Nah kalo kayak gini bukan pedang lagi yang harus disiapin yah? hihihihi…..
February 5th, 2008 at 12:55 am
Wah, berat juga nih topiknya..
Buat saya, sementara ini untuk have fun aja bli, hehehe..
February 5th, 2008 at 1:45 am
mungkin karena itu kita memilih blog, setidaknya ranahnya masih berupa ranah pribadi, yang membedakan dnegan media. meskipun penulisan subyektif, tapi tetep bertanggungjawab. mengenai hukum rimba di nusa penida, sepertinya itu bisa terjadi dimana saja, sejauh penduduk masih sempit penglihatannya. yah, semoga hal2 kek gini nantinya bisa membuka mata mereka.
February 5th, 2008 at 3:31 am
@mercury, hah? pic mayangsari ama SBY? saya pasti berada di gua akhir2 ini, kok ga denger ya..
@sakti, ow, saya juga mikir 1000x mo upload itu…wah levelnya kelas kakap…tapi bolehlah kirimin saya aja hehehe
@wira, hehe lebih berat postingan rumus2 program di blognya wira khan?
@dewi,yoi betul, makanya saya kasi disclaimer pada blog saya. yah in case aja.
February 5th, 2008 at 5:37 am
Di Nusa Penida memang lagi membara. Perawat saya yang berasal dari Klumpu juga mengatakan kalau proyek kincir angin sedang bermasalah bahkan sampai menurunkan seorang kepala desa yang diduga korupsi.
February 5th, 2008 at 6:16 am
ngeblog seperti punya media sendiri untuk menulis apapun yang dirasa,dan syukur-syukur klo kejaring mesin searching dan punya pengemar.selebihnya mungkin tidak lebih dari berapa orang yang mampir.
mengenai isi dari tulisan tergantung dari penulis sejauh apa memahami batasan menulis untuk media public.setahun lalu ada blog yang memojokkan pihak tertentu namun hilang sendirinya dari dunia kabel.
*biar go-blog asal nge-blog
*
February 5th, 2008 at 1:55 pm
@blogdokter, waaa ada detailnya dok ttg proyek kincir angin itu? tanya2 dong ke perawatnya hehehe
@baliazura, dunia kabel?
February 6th, 2008 at 5:33 am
tetep idealis dong
tinggal diatur gimana kemasannya
August 6th, 2008 at 9:31 pm
..Jadilah seorang idealis yang realist..
September 3rd, 2008 at 10:19 am
[...] http://www.devari.org/2008/02/03/ngeblog-idealist-atau-realist/ [...]