Dilema Pohon Tua
Monday, February 11th, 2008
Selain sebutan ‘pulau seribu pura’, Bali mungkin perlu mendapat sebutan baru, ‘pulau seribu pohon tua’. Hampir sebagian besar pura2 di Bali yang jumlahnya ribuan mempunyai pohon tua di areal pura tersebut baik yang berada di dalam pekarangan utama maupun di luar area pura. Jenis pohon tua yang adapun beragam tapi pada umumnya pohon beringin dan pohon ‘gepah’ atau ‘celagi’ (mohon maaf tidak tahu bahasa Indonesianya). Ada yang berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Menurut kepercayaan orang Bali (Hindu), pohon tua yang berada di pura dipercaya sebagai tempat tinggal ‘duen ida’ atau penunggu pura tersebut, jadi terkadang pohon tersebut dibuatkan tempat sesajen/canang sari dan juga diberikan saput poleng (kain dengan motif hitam putih seperti papan catur).
Keberadaan pohon tua di pura terkadang bisa juga menimbulkan bencana. Karena umur yang sudah puluhan tahun maka batang dan cabang2 pohon tersebut biasanya rapuh dan bisa roboh kapan saja. Saya tidak bisa membayangkan misalnya saat kita sedang sembahyang tiba2 pohon tua itu roboh dan menimpa para ‘pemedek’. Dan ini bukan isapan jempol semata. Koran2 di Bali pernah memberitakan beberapa kali tentang kejadian pohon tua yang roboh di pura dan menimbulkan korban jiwa.
Adalah wajar jika terjadi resistensi di masyarakat lokal untuk menebang pohon tua di pura karena berkaitan dengan masalah kepercayaan. Bahkan kejadian robohnya pohon tua di pura hanya akan ‘ditunasbaoskan’ (minta petunjuk paranormal) dan hasilnyapun bisa ditebak yaitu sekitar wilayah agama dan ritual2nya misalnya kurang upacara ini dan itu. Mohon maaf saya bukanlah anti dengan ritual2 agama, tapi kalau menyangkut masalah pohon tua yang hanya tinggal menunggu waktu untuk roboh, rasanya perlu sedikit akal sehat untuk mencegahnya. Jika memang pohon tua ada penunggunya, dalam ritual agama Hindu juga ada cara khusus untuk ‘meminta’ biar pohon itu bisa ditebang. Ada semacam upacara khusus (mecaru) untuk meminta ijin kepada ’sang penunggu’. Jadi mengapa masih ada resistensi yang tinggi? Musibah pohon tua tidak selalu masalah ‘takdir’ belaka, musibah pohon tua tidak melulu karena Tuhan ‘marah’ dan memberi peringatan kepada kita umatnya. Jika dibiarkan bukankah itu sama saja dengan ‘pembunuhan berencana’?
Artikel Lain- Satu Banjar Seratus ‘Setra’
- Ngaben ‘Nyeleneh’, Letupan Ego Manusia Bali
- Nunas Baos, Kebenaran Mutlak?
- Perayaan Nyepi di Karibia
- Tua Di Depan Komputer
- Sembahyang Purnama dan Perayaan Natal di Karibia
- Pura Lempuyang Luhur, Stairway to Heaven
Posted in Intermezzo Follow responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.


February 11th, 2008 at 6:17 pm
jadi ingat di kampungku dulu. pohon beringin tua disebelah kuburan. gak berani dtebang, akhirnya roboh and nimpa rumah ibadah
February 11th, 2008 at 7:12 pm
kalo pohon tua bonsai gpp ya bos
kan unik 
February 11th, 2008 at 7:51 pm
@mercury falling, waaaa, ada korban?
@baladika, LOL, klo bonsai kasi saya aja
February 11th, 2008 at 10:34 pm
hehehe….
kan bisa minta kepada penunggu pohon tersebut untuk pindah tempat ke yang lebih nyaman.
daripada nanti roboh sendiri pindah keman hayoh..?
February 12th, 2008 at 1:17 am
kalau pohon tersebut terletak diareal pura atau kalau roboh bisa membahayakan, memang semestinya ditebang atau minimal dipotong cabangnya saja.
kebetulan saya tinggal di sebelah hutan dimana setiap kayu yang produktif sudah habis dicuri untuk dijual, yang tersisa hanya pohon yang diyakini penunggunya atauberisi saput poleng dan yang tidak layak dijual, seperti pohon beringin.
Mungkin itulah cara orang tua Bali jaman dulu untuk menyelamatkan hutan kita.
February 12th, 2008 at 2:16 am
Yah kalau di semua hutan pohonnya pohon tua kayak di pura2 mungkin enggak jadi Global warmingnya,dan di pekarangan rumahku juga ada pohon tua yaitu pohon pule,
yah ini pohon suciku.
February 12th, 2008 at 2:56 am
@eep, heheh, penunggunya banyak yang ogah keluar dari ‘comfort zone’ nih, jadi repot


@budarsa, mungkin sekarang semua pohon perlu disaput polengi biar ga ada yang nebang
@yanstone, pohon pule memang kebanyakan disucikan apalagi lokasi dan suasana mendukung
February 12th, 2008 at 4:40 am
@budarsa : hehehe…. kalo semua pohon di “saput polengkan” berapa banyak canang yang harus dihabiskan setiap harinya?
February 12th, 2008 at 4:56 am
** Di rumah ga ada Pohon Gede *** hehehe…
@dipoetraz: oiiii… kerja2..!! Blogwalking gen gaene! wkwkkw…
February 12th, 2008 at 5:10 am
pohon tua terkadang menimbulkan perasaan antara kasihan dan was was.
*pencinta lingkungan*
February 12th, 2008 at 7:50 am
gimana klo di operasi biar lebih muda..?
dipotong dahan nya biar ga terlalu tinggi.
tapi masih mending intensitas angin ga terlalu kencang di bali.
jangan kan pohon tua pohon muda aja klo ada ujan sedikit angin pasti di denpasar banyak pohon tumbang.
February 12th, 2008 at 8:49 am
pohon bisa dilema juga yach..? aku pikir cuman manusia aja.. lha dia dilema apa yach..? warna daun atau buah???? tau deh nyambung apa kagak… he..he..e
February 12th, 2008 at 2:16 pm
@dipoetraz, saput poleng akan laku keras….al gore akan merubah judul presentasinya…Poleng Warming
@suryawan, temen sekantorkah?
@ina, green peace kah?
dioperasi heheh kirain….
@baliazura, betul bli
@franya, heheh capek denger dilema manusia aja, sesekali pohon lah
February 21st, 2008 at 3:10 am
benar juga, pasti ada cara (”nunas baos”) dan upacara agar pohon tua seperti bisa “diamankan”, kalau bukan ditebang ya dipangkas pada bagian yang berbahaya, ga mungkinlah “ida” membiarkan umatnya dalam bahaya.
February 21st, 2008 at 3:42 pm
@wira, saya juga rada2 prihatin, masih banyak yg seakan2 ‘pasrah’ lalu klo udah kejadian bawaanya melulu sudah takdir lah, yg disini minta tumbal lah bla bla
December 18th, 2009 at 10:53 am
Devari,
ingin saya bertanya mengenai ‘pokok celagi’ itu.
apakah ia adalah ‘pokok asam jawa’, atau dalam bahasa inggerisnya dipanggil ‘tamarind’ ?
sekadar ingin bertanya.
Adi, dari Malaysia