“…turut mengundang, keluarga kedua mempelai…”
NB. Maaf tidak menerima kado!
———————————–

Begitulah kira2 tulisan yang sering saya baca di kartu2 undangan pernikahan di Bali akhir2 ini. Adakah yang aneh dari tulisan tersebut? Saya pribadi merasa kurang sreg dengan kalimat yang ada setelah NB itu. Secara belog (bodoh) menurut saya tujuan mengundang orang lain dalam upacara pernikahan adalah untuk berbagi kebahagiaan, berharap mereka ikut menyaksikan dan mendoakan semoga pernikahan tersebut berlangsung lancar baik secara sekala dan niskala. Jika memang yang diundang terpaksa membawa buah tangan, itu merupakan hak mutlak mereka terserah mau membawa apa (sewajarnya).

Ada sedikit perbedaan tradisi menghadiri upacara pernikahan di desa dengan di kota. Umumnya yang didesa masih kental dengan oleh2/bawaan yang konvensional misalnya beras, gula dan sejenisnya sedangkan di kota lebih cenderung ke barang2 yang praktis misalnya dalam bentuk kado atau uang (amplop). Lalu, apakah artinya pesan ‘maaf tidak menerima kado’?

Pesan tersebut bisa diasumsikan beragam. Yang jelas sudah menimbulkan kesan yang tidak bagus, setidaknya menurut saya pribadi. Bisa jadi itu berarti ada pesan tersembunyi bahwa dilarang membawa barang2 (kado) selain amplop (uang). Kasarnya mungkin yang mengundang ingin berkata ‘maaf hanya menerima uang’. Ini benar2 suatu pongah dan juari yang luar biasa. Tidak tahu malu. Lebih ekstrem lagi, itu bisa dikatakan sebagai sebuah ‘penodongan’ terselubung. Pesan itu memaksa kita membawa hanya amplop saja karena tidak mungkin datang hanya dengan tangan kosong. Pesan tersebut sama saja dengan mengemis secara intelektual :)

Salah satu alasan mengapa dibuat pesan seperti itu adalah katanya biar praktis. Saya kok ragu, biar praktis apa biar balik modal? :) Praktis tidak cukup dijadikan alasan untuk membuat pesan tersebut karena efek sosialnya bisa jauh lebih buruk. It is not worth it.

*mohon maaf jika tidak berkenan, postingan ini bersifat subyektif :)


Popularity: 54% [?]