Catatan Kecil dari Hongkong
Wednesday, March 5th, 2008
Beberapa waktu yang lalu saya sempat singgah di Hongkong (Kow Loon City). Betul, jelas bukan dalam rangka liburan tapi lebih karena memanfaatkan waktu jeda sehari sebelum melanjutkan perjalanan pulang kampung ke Bali, setelah sebelumnya datang dari Heathrow, UK. Memang begitulah nasib menjadi TKI dimana tiket pesawat sebisa mungkin yang termurah. Konsekuensinya adalah rute yang panjang kesana kemari dan jeda antara flight yang satu dan lainnya lumayan lama antara 8 jam sampai 24 jam. Tapi tidak apa2 juga lihat sisi positifnya saja, manfaatkan waktu extra untuk jalan2.
Pemandangan pertama yang saya perhatikan adalah bahwa tidak adanya unit2 rumah penduduk di seluruh pelosok kota. Tidak saya temukan adanya rumah2 stand alone yang berdiri. Yang ada hanya gedung2 tinggi skycraper. Saya tidak habis pikir, penduduknya pada tinggal dimana? Saya pikir gedung2 pencakar langit itu adalah tempat2 komersil atau perkantoran. Ternyata sebagian besar itu merupakan flat2/apartement penduduk kota. Dari informasi yang saya dapat, sangat sulit untuk bisa memiliki/membeli/membangun rumah biasa di Hongkong. Ada pembatasan yg ketat dari pemerintah. Hampir impossible, karena satu alasan: keterbatasan lahan. Bahkan pemerintah setempat terus berusaha melakukan reklamasi laut untuk membuat lahan baru. Saya jadinya bersyukur punya rumah dikampung lengkap dengan halaman dan benar2 berada di atas tanah (ground) dan bukan hidup di langit2 yg tinggi seperti penduduk Hongkong. Saya tidak bisa membayangkan hidup bertahun2 didalam flat ukuran 5 x 5 meter misalnya, dan berada di lantai 118. Selain tinggi2, juga berhimpitan antara gedung satu dengan yang lainnya.
Pemandangan aneh lainnya yang saya lihat adalah gaya fashion penduduk kota Hongkong. Tidak perduli tua atau muda. Tidak perduli mau ke mall atau hanya sekedar beli soto. Mereka selalu dan selalu berdandan super serious, dalam artian berpakaian yang maksimum. Yang muda2 heboh dengan mode terkini lengkap dengan gaya rambut aneh2 dan di cat warna warni sedangkan yg tua pada rapi persis seperti akan berangkat kerja. Saya merasakan ruwet dalam menjalani kehidupan seperti itu. Saat2 jalan2 di tengah kota, saya dan beberapa teman terlihat paling ‘aneh’ karena memang tidak blend dengan gaya berpakaian mereka. Satu lagi, cara jalan mereka sangat cepat dan selalu seperti terburu2.
Ada satu lagi yang membuat saya iri dan berhayal jika bisa diterapkan di Bali. Mereka selalu menggunakan huruf2/tulisan China pada setiap segi kehidupan baik itu informasi2 di tempat umum, nama2 gedung, jalan2, kantor2 dan semuanya, selalu pakai huruf2 asli mereka dan ditambah bahasa Inggris. Bahkan beberapa tempat umum seperti restoran memakai huruf2 itu semua sehingga saya sempat juga bingung mau pesan apa karena semua menu tertulis dengan huruf China. Di Bali saya rasakan masih belum maksimal, hanya pada tempat2 tertentu misalnya nama jalan dan tugu batas daerah. Agh, apa yang terjadi seandainya misalnya ada rumah makan di Bali yang menu2nya huruf2 aksara Bali semua? Bangkrut? ![]()
- Negara Tanpa Traffic Light
- Insiden SIM Indonesia di Karibia
- Ketika Nama Orang Bali Di-Inggris-kan
- eBlogari: Ngeblog untuk Kebebasan Informasi
- Kain Sarung Milik Siapa?
- 5 Jenis Investasi Bajak Laut
- Tuhanku Ada di Celanamu
Posted in Intermezzo, Kabar-kabari Follow responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



March 5th, 2008 at 9:21 pm
hongkong adalah cerminan budaya timur yang telah ter-blended dengan budaya barat. sangat berbeda dengan identitas aslinya warga taiwan. eh, knapa yah hongkong seringkali jadi jargon, semisal.. “mrauh dari hongkong?!?!”, emang di hongkong murah2 yah bli?!
dewi’s last blog post..tentang kopi dan kekhawatiran
iya dew, jeg benar2 dah mix banget. waaaaa hongkong adalah sorganya para shopper (apparel) terutama yg dari Asia. murah2 dew dan kualitasnya ok
March 5th, 2008 at 9:23 pm
wih bli made jeg milehang maan mlali puk,
sama bli bersyukur juga masih punya rumah di kampung di atas tanah yang benar-benar berdiri langsung dari ibu pertiwi, trus moga-moga bisa dikembangkan to bli biar mencantumkan aksara bali setiap tempat komersil seperti restoran. masa sih bisa bangkrut bli ?
dipoetraz’s last blog post..Ikut Pindahan?
wakakak sing je meilehan bli, pas gen transit2 gitu
betul bli bersyukur sajan nok bisa ke tanah pertiwi langsung, hehehe restaurantnya sih iya kan drastis banget tuh. mungkin pake dua bahasa yg paling bagus
March 5th, 2008 at 9:29 pm
yeh, gurun tiange (gurunya saya) sudah ngasi comment di blog ne bli devari. tulisan bli devari benar - benar enak dibaca nok
udah keliling dunia bli made ne nok
semangat bli dengan kapal perompak ne
Nyoman Ribeka’s last blog post..Gray Code
keliling dunia? wakakak mimpi kali yeee. lebih enak dadi cowboy amrik
March 5th, 2008 at 9:39 pm
capek juga ya mau beli soto aja harus berdandan komplit hehehhe
eh bali ada hurufnya ya ? kayak gimana, bli ? aksara hindu gitu ? wah parah aku nih baru tau. usul donk ama pemerintahnya, nama jalannya pake aksara bali. kayak di jogja gitu. dua tulisan
dian’s last blog post..bian

heheh iya huruf Bali bukan huruf HIndu
namanya aksara Bali, mirip2 dikit ama tulisan jawa kuno itu dian, ada a na ca ra ka da ta dst
March 5th, 2008 at 10:33 pm
maaf bli cuma mao test plug-in nya bendera/browser/operating system, ini post comment saya menggunakan ip asl, lokasi terdeteksi di indonesia.
John’s last blog post..How To Choose a Tennis Racquet Equipment
March 5th, 2008 at 10:39 pm
maaf bli cuma mao test plug-in nya bendera/browser/operating system, ini post comment saya menggunakan IP Greece,tepat nya kota Athens
john’s last blog post..How To Choose a Tennis Racquet Equipment
thanks
March 5th, 2008 at 11:08 pm
wah wah
beda ma di indonesia yaw
ckckckckc
aRya’s last blog post..Kampusku “berhantu …???”
heheh beda2 dikit
March 5th, 2008 at 11:27 pm
wah klo di bali diterapin huruf bali, berarti harus ada privat les aksara bali bli’
mungkin orang tua modern sekarang binggung saat ditannya tentang aksara bali.
baliazura’s last blog post..taste of silence
waaa private aksara bali? susah euuy cari gurunya
March 6th, 2008 at 12:27 am
[OOT] ooo..plugin yg ini bli..
selamat dah sukses masangnya..
hehehe thanks to Sakti prapanca.net
March 6th, 2008 at 12:31 am
[OOT] eh satu lg..kok commentluv gak bs baca post terakhir saya ya..pdhl kayaknya gak saya proteksi apa2..
waaa kurang tahu nih Da, saya apalagi. jeg gelap
March 6th, 2008 at 12:48 am
beh…manstab sajan, ketemu sama andy lau disana ( bli-n saya) btw plug-innya lucu dan rame ….
wakakak andy lau? wah jadi teringat condor heroes
March 6th, 2008 at 1:35 am
Saya SETUJU banget niy kalau semua2nya pakai aksara Bali. Keren dah. Demi AJEG BALI
Kania’s last blog post..Katanya……
tp jgn drastis penerapannya
March 6th, 2008 at 3:33 am
sempet bandingin suasana di Kow Loon City sama HongKong side ndak? hehehe
Hongkong itu kota fashion sob, hampir semua buyer garment punya HK office atau perwakilan disana.
Kalo mengenai aksara… harusnya di Indonesia tetap di lestarikan. Kalau tidak salah penulisan aksara lain selain bahasa indonesia itu dilarang waktu jaman orba. termasuk aksara cina. Saat pemerintahan GusDur diperbolehkan lagi. CMIIW
Wew.. NetNewsWire ke bacanya sebagai browser Navigator nih… heuheuheu memang itu engine yang dipakenya
S a k t i’s last blog post..apple.switch.er
iya fashion abis.
egh masak aksara daerah dilarang? waa baru tau saya
March 6th, 2008 at 6:08 am
asyik banget ya bisa jalan2 ke banyak tempat di luar negeri…
ajak-ajak donk..
ayo kita come on
March 6th, 2008 at 9:10 am
wah, saya belum pernah ke hk. kayaknya hk enak buat holiday aja ya…makan enak, belanja murah(?). kalau utk tinggal pasti lumayan mumet krn tingginya densitas penduduk, mungkin malah melebihi jkt
Nita’s last blog post..REST IN PEACE, MY TAMAGOTCHI
tempat yg bagus buat shopping mbak
March 6th, 2008 at 10:11 am
Trus, secara kasat mata, apa bedanya kehidupan
di Heathrow, UK, dengan Kow Loon City,
Hongkong?
Apa di Heathrow penduduk nggak tinggal di
flat juga?
mohammad’s last blog post..Dine Out at the Panoramic Floating Lounge
heheh di Heatrow mah ga bisa keluar area bandara Mas, ga punya visa
March 6th, 2008 at 12:27 pm
Yah,,kalau di bali semua nama ditulis dalam hurup bali,Indonesia,n dibawahnya di Ingriskan kayaknya mantap,,yah kayak pengalaman devari itu,,di hongkong itu yahh,thailand,Korea,Jepang,India,,ini negara semua punya tulisan aksara sendiri,,,kan!kalau ini di tiru,,Bali sama Jawa,,,atau daerah lain yg punya aksara sendiri,,,mantap.dan kalau di nusa tolis base nose malu mare lenan kan bangga jadinya.
waaa good idea to bli yan, bahasa Nosa huehue
March 6th, 2008 at 8:43 pm
malah bagus bli kalau rumah makan dibali dibuat huruf aksara bali semua..kan akhirnya semua turis harus belajar bahasa bali. Waktunya bagi mereka menerapkan pepatah ‘ dimana kaki berpijak disana langit dijunjung’ hehehe
Febra’s last blog post..KANGEN
March 7th, 2008 at 9:42 am
@febra, wakakak bisa pusing semua turisnya
devari’s last blog post..Nyepi, Maafkan Aku!
March 8th, 2008 at 4:56 pm
wah jangan sampe punah donk aksara bali
dian’s last blog post..tea, anyone ?
perlu badan konservasi huruf niy
March 9th, 2008 at 9:05 am
sebenarnya penerapan pemakaian aksara bali sudah lama diterapkan di bali,cuma penerapannya ga maksimal.paling yang memakai aksara bali cuma nama jalan dan nama2 kantor pemerintah.dan itupun paling banter di tingkat desa..
ady gondronk’s last blog post..Lelaki Bangsat….!!!
betul bro, tempat2 komersil kayaknya masih ga ada, apa perlu ada blog yang memakai aksara Bali ya
March 10th, 2008 at 10:20 am
kalau di Bali semua memakai aksara Bali.. huuumm Pemandu wisata pasti akan sangat dibutuhkan (yang mengerti aksara Bali tentunya)
Aprilia Gayatri’s last blog post..Sepatu CROCS Berbahaya?
March 10th, 2008 at 12:21 pm
@aprilia, hehehe pada kursus aksara bali semua euuy
January 15th, 2009 at 10:33 pm
Mbak mau nanya lowongan kerja di tempat kerja mbak, ada gak ya..??
kasih info dong…????
mau jadi tki gitu8….
October 12th, 2009 at 9:28 am
bagi saya di hk itu benar2 kota modern.bener2 enak di hk fasilitas umum itu benar2 di utamakan..kota yg bebas berkreasi..saya selama sebulan tinggal di hk,,,,bener2 kota modern..indonesia jauh ketinggalan