Archive for March, 2008
Thursday, March 6th, 2008
Nyepi, Maafkan Aku!
Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi bagi teman2 yang merayakannya. Sayang sekali karena situasi dan kondisi, maka saya tidak bisa melaksanakan salah satu pantangan/puasa dalam Hari Raya Nyepi tersebut yaitu tidak boleh bekerja. Saya tetap harus bekerja karena berada di negeri orang. Ijinkanlah saya mohon maaf pada Tuhan, Hari Nyepi itu sendiri, dewa dewi, Ida Bhatara2 dan semua yg tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Again, I am sorry ya Tuhan. Semoga maklum. Lalu langitpun mendung, gemuruh menggelegar, kilat menyambar2 dan sayup2 terdengar suara Tuhan “Baiklah anak-Ku, it’s alright”. Saya lalu bertanya lagi. Tuhan, apakah boleh ngeblog di hari raya Nyepi? ![]()
Posted in Kabar-kabari | 26 Comments
Wednesday, March 5th, 2008
Catatan Kecil dari Hongkong
Beberapa waktu yang lalu saya sempat singgah di Hongkong (Kow Loon City). Betul, jelas bukan dalam rangka liburan tapi lebih karena memanfaatkan waktu jeda sehari sebelum melanjutkan perjalanan pulang kampung ke Bali, setelah sebelumnya datang dari Heathrow, UK. Memang begitulah nasib menjadi TKI dimana tiket pesawat sebisa mungkin yang termurah. Konsekuensinya adalah rute yang panjang kesana kemari dan jeda antara flight yang satu dan lainnya lumayan lama antara 8 jam sampai 24 jam. Tapi tidak apa2 juga lihat sisi positifnya saja, manfaatkan waktu extra untuk jalan2.
Pemandangan pertama yang saya perhatikan adalah bahwa tidak adanya unit2 rumah penduduk di seluruh pelosok kota. Tidak saya temukan adanya rumah2 stand alone yang berdiri. Yang ada hanya gedung2 tinggi skycraper. Saya tidak habis pikir, penduduknya pada tinggal dimana? Saya pikir gedung2 pencakar langit itu adalah tempat2 komersil atau perkantoran. Ternyata sebagian besar itu merupakan flat2/apartement penduduk kota. Dari informasi yang saya dapat, sangat sulit untuk bisa memiliki/membeli/membangun rumah biasa di Hongkong. Ada pembatasan yg ketat dari pemerintah. Hampir impossible, karena satu alasan: keterbatasan lahan. Bahkan pemerintah setempat terus berusaha melakukan reklamasi laut untuk membuat lahan baru. Saya jadinya bersyukur punya rumah dikampung lengkap dengan halaman dan benar2 berada di atas tanah (ground) dan bukan hidup di langit2 yg tinggi seperti penduduk Hongkong. Saya tidak bisa membayangkan hidup bertahun2 didalam flat ukuran 5 x 5 meter misalnya, dan berada di lantai 118. Selain tinggi2, juga berhimpitan antara gedung satu dengan yang lainnya.
Pemandangan aneh lainnya yang saya lihat adalah gaya fashion penduduk kota Hongkong. Tidak perduli tua atau muda. Tidak perduli mau ke mall atau hanya sekedar beli soto. Mereka selalu dan selalu berdandan super serious, dalam artian berpakaian yang maksimum. Yang muda2 heboh dengan mode terkini lengkap dengan gaya rambut aneh2 dan di cat warna warni sedangkan yg tua pada rapi persis seperti akan berangkat kerja. Saya merasakan ruwet dalam menjalani kehidupan seperti itu. Saat2 jalan2 di tengah kota, saya dan beberapa teman terlihat paling ‘aneh’ karena memang tidak blend dengan gaya berpakaian mereka. Satu lagi, cara jalan mereka sangat cepat dan selalu seperti terburu2.
Ada satu lagi yang membuat saya iri dan berhayal jika bisa diterapkan di Bali. Mereka selalu menggunakan huruf2/tulisan China pada setiap segi kehidupan baik itu informasi2 di tempat umum, nama2 gedung, jalan2, kantor2 dan semuanya, selalu pakai huruf2 asli mereka dan ditambah bahasa Inggris. Bahkan beberapa tempat umum seperti restoran memakai huruf2 itu semua sehingga saya sempat juga bingung mau pesan apa karena semua menu tertulis dengan huruf China. Di Bali saya rasakan masih belum maksimal, hanya pada tempat2 tertentu misalnya nama jalan dan tugu batas daerah. Agh, apa yang terjadi seandainya misalnya ada rumah makan di Bali yang menu2nya huruf2 aksara Bali semua? Bangkrut? ![]()
Posted in Intermezzo, Kabar-kabari | 23 Comments
Monday, March 3rd, 2008
Negara Tanpa Traffic Light
Ada satu fenomena menarik yang saya temukan di Turks Caicos Island (TCI), negara tempat saya bekerja sekarang, yaitu pada sistem transportasi mereka khususnya dalam hal peraturan berlalu lintas di jalan raya. Bisa jadi TCI mungkin merupakan satu2nya negara di kawasan Karibia bahkan di dunia, yang sama sekali tidak menerapkan sistem traffic light baik itu jalan utama (highway) maupun jalan2 biasa. Tidak ada satupun traffic light di seluruh jalan2 di negeri ini. Sekedar informasi, TCI masih merupakan koloni Inggris akan tetapi seluruh kegiatan perekonomiannya berkiblat ke USA termasuk digunakannya US dollar sebagai mata uang resmi. Penduduk aslinya terkenal dengan sebutan ‘belonger’ namun pendatangnya juga banyak yang berasal dari Haiti, Bahamas, Dominican dan sekitarnya.
Bagaimanakah mereka mengatur lalu lintas tanpa traffic light? Disetiap bundaran/perempatan/perlimaan/simpang enam, diterapkanlah peraturan yang disebut ‘give way’ (terjemahan kasarnya: berikan jalan) atau sering juga disebut ’roundabout’. Intinya setiap kendaraan yang tiba di persimpangan/bundaran harus memberikan jalan kepada kendaraan yang datang dari sebelah kanannya untuk lewat terlebih dahulu. Tidak perduli bagaimana ramainya sebuah bundaran, kita hanya konsentrasi pada kendaraan yang datang dari arah kanan kita karena yg ada disebelah kiri sudah pasti akan diam dan memberikan kita jalan terlebih dahulu. Disiplin mereka sangat jauh lebih bagus dibandingkan lalu lintas kita di Indonesia/Bali sehingga arus kendaraanpun lancar. Selain disiplin yang bagus, mungkin juga disebabkan karena tidak adanya sepeda motor seperti di Indonesia yang jumlahnya sudah kayak semut.
Lalu sayapun jadinya berandai2, bisakah sistem ‘give away’ ini diterapkan di Bali/Indonesia? Bagaimanakah wajah lalulintas kita seandainya tidak ada lampu merah di jalan2 kita? Berikut ini beberapa skenario seandainya sistem itu kita terapkan:
1. Setiap bundaran/perempatan/simpang enam dll akan menjadi tempat ajang kekuatan klakson2 mobil dan motor. Mereka akan berlomba2 saling memperbesar klakson karena pasti akan berguna untuk ‘menghalau’ kendaraan lainnya.
2. Setiap persimpangan/bundaran dll akan menjadi ajang tawuran umum bagi pengendara karena sudah pasti tidak akan yang mau mengalah, dan perang mulutpun akan terjadi. Pasti? Karena sekarang saja dengan adanya lampu merah masih saja dilanggar dan susahnya lewat di tempat2 seperti simpang siur, perempatan matahari dll.
3. Tanda lalu lintas ‘give way’ akan diganti menjadi ‘take way’ karena semua pengendara pasti maunya akan mengambil jalan dan bukan memberi jalan.
4. Omzet pengemis, pedagang acung dan dagang koran eceran meningkat karena dapat dipastikan macetnya kelamaan sehingga waktu belanja dan baca koran menjadi bertambah di tiap2 perempatan
5. Angka kematian bertambah karena akan sering terjadi ‘palu jangkrik’ di tiap2 perempatan.
Ada yang mau menambahkan?
Posted in Kabar-kabari, Karibia | 34 Comments
Sunday, March 2nd, 2008
Tuhanku Ada di Celanamu
Saya bukanlah Hindu garis keras (memang ada ya?) juga bukan Hindu sayap kiri, atau Hindu Protestant. Saya hanya penganut Hindu biasa2 saja. Bagi saya agama hanya adalah cara hidup yang diyakini seseorang dalam hubungannya dengan Tuhan, tidak perduli apakah agama itu merupakan suatu pilihan atau karena memang sudah dipilihkan oleh orang tua kita, as long as it works dalam hidup saya, ya sudah. Namun akhir2 ini saya sedikit merasa terusik tergelitik melihat trend yang berkembang dikalangan bule2 di dunia barat. Trend yang berkembang adalah penggunaan sablon2 huruf suci agama Hindu AUM/OM pada fashion mereka entah itu baju, celana dan bahkan sandal. Rasanya aneh juga dan merasa tidak karuan melihat pemandangan seperti itu.
Saya yakin mereka tidak ada maksud sedikitpun untuk melecehkan suatu agama. Bahkan mereka sendiri tidak tahu bahwa simbol yang ada di celana mereka adalah aum/om yaitu aksara suci dalam Hindu yang melambangkan manifestasi tiga dewa: Brahma, Wisnu dan Siwa. Bagi mereka itu hanyalah sebuah simbol atau lambang biasa seperti halnya simbol2 komersil lainnya semacam D&G, Armani dll. Pernah saya iseng ngobrol dan bertanya sama bule, “Tuhanku ada dicelanamu loh”, dan benar saja, mereka surprised dan sama sekali tidak tahu itu adalah aksara suci dalam Hindu.
Biasanya simbol aum/om itu ada pada pakaian2 yang khusus mereka gunakan untuk mengikuti kelas2 yoga. Yoga disini bukanlah maksudnya yang berhubungan dengan bertapa2 begitu tapi lebih seperti senam2 biasa/gerakan tubuh tertentu untuk mencapai keharmonisan jiwa dan raga, katanya. Kelas2 yoga biasanya juga menyertakan sedikit teori2 yang berhubungan dengan yoga itu sendiri termasuk aum/om tersebut dan sama sekali tidak menyinggung sangkut paut dengan agama Hindu. Bahkan ketika mereka memakai istilah Ayur Vedic (Ayur Weda), juga jauh dari kesan bahwa Ayur Vedic itu ‘milik’ Hindu.
Lalu bisakah trend ini disebut sebagai sebuah pelecehan agama? Entahlah. Sejauh ini saya bawa ke positifnya saja, anggap saja sebagai sebuah peringatan pribadi. Sebagai pengingat saya secara tidak langsung. Dengan melihat bule2 yang lalu lalang pakai celana dan kaos aum/om, secara tidak langsung sebuah peringatan terhadap saya untuk lebih rajin sembahyang.
Posted in Kabar-kabari, Karibia | 37 Comments






New Comments