Archive for April, 2008
Friday, April 11th, 2008
Hati-hati Penipuan TKI Kapal Pesiar
Klik disini untuk melihat semua tulisan ttg kapal pesiar
Pak kemarin saya memasukkan lamaran ke PT. (censored) tapi saya takut kalau kena tipu, karena itu saya mohon bantuan dan saranya. Soalnya saya di harapkan membayar uang Rp.10.000.000.
Demikian komentar seorang pembaca blog ini pada artikel saya terdahulu tentang lowongan kerja di kapal pesiar bidang retail dan spa Harding Brothers Ltd, London. Nampaknya minat bekerja ke luar negeri (kapal pesiar maupun darat) masih sangat tinggi di kalangan generasi muda pencari kerja di Indonesia. Bukan saja disebabkan karena makin sempitnya lapangan pekerjaan di dalam negeri tapi juga (mostly) disebabkan karena gaji yang lebih tinggi. Gaji sebulan di luar negeri bisa sama dengan gaji setahun di Indonesia, misalnya.
Membludaknya minat pencari kerja di luar negeri baik di kapal pesiar maupun di darat menyebabkan menjamurnya sekolah2 kapal pesiar dadakan. Di Bali misalnya, ada puluhan sekolah2 kapal pesiar dengan embel2 yang menggiurkan dan terkadang bombastis semisal, menjamin penyaluran kerja setelah tamat, bekerja sama dengan cruise liner tertentu di luar negeri dll. Saya sendiri termasuk ‘korban’ salah satu sekolah kapal pesiar di Bali. Di samping itu, juga banyak bermunculan agen2 kapal pesiar dengan embel2 yang sama yaitu bekerja sama (baca: mencatut) nama sebuah cruise liner terkenal untuk menarik minat calon pelamar. Memang ujung2nya duit juga. Seringkali karena minat yang terlalu tinggi sehingga kurang hati2 dalam berurusan dengan agen, uang sekian puluh juta sudah disetor tapi janji berangkat tidak pernah terjadi.
Komentar/pertanyaan di awal tadi bisa jadi mewakili sebagian besar pencari kerja ke kapal pesiar yang masih bingung dan ragu2 dalam menentukan apakah berani bayar duluan atau tidak. Di Bali contohnya juga banyak sekali terjadi penipuan berkedok agen kapal pesiar bahkan sudah pernah dilaporkan ke polisi. Berikut ini beberapa tips agar tidak tertipu:
1. Janji sekolah kapal pesiar. Saya tidak mengatakan sekolah2 kapal pesiar itu jelek tapi jangan sekali2 mempercayai 100% janji2 sekolah itu yang katanya menjamin penyaluran dan janji2 sejenisnya. Fokuskan diri pada menimba ilmu sebanyak2nya pada sekolah tersebut karena itu akan lebih berguna daripada menghabiskan energi untuk menghayal cara instant untuk bisa berangkat setelah tamat.
2. Kredibilitas sebuah agen. Banyak sekali bertebaran agen2 penyaluran TKI kapal pesiar dewasa ini. Pastikan dulu kredibilitas agen tersebut apakah resmi atau scam. Cara konvensionalnya mungkin adalah dengan cara mengecek di Depnaker setempat apakah sudah ada ijinnya dan apakah sudah termasuk PJTKI atau tidak. Juga perlu diperhatikan reputasi agent itu selama ini, track recordnya bagaimana beberapa tahun terakhir ini. Agent baru? Awas lampu kuning!
3. Jangan bayar duluan. Penyebab seringnya calon TKI kapal pesiar kena tipu adalah karena belum apa2 sudah membayar duluan. Agen yang qualified dan resmi biasanya tidak menarik bayaran sedikitpun sebelum ada dokumen2 resmi dari pihak cruise liner itu sendiri semisal offer letter dll. Sangat tidak masuk akal jika belum ada offer letter tapi harus membayar 50an juta misalnya. Untuk apa? Jadi pastikan dulu ada offer letter dan dokumen2 pendukung lainnya.
Good luck!
Posted in kapal pesiar | 20 Comments
Wednesday, April 9th, 2008
Saya Blogger Penakut?
After two years of deliberation, the House of Representatives passed the Electronic Information and Transaction Law last month, which prohibits citizens from distributing slander in any electronic format. Perpetrators can get a maximum of six years in prison or a fine of Rp 1 billion (US$107,526)
Itulah kutipan headline news dari Jakarta Post (4//7/2008) yang saya kutip dari milis Bali Blogger Community. Rada kawatir juga membaca kutipan berita tersebut. Bagaimana tidak, enam tahun penjara atau denda satu milyar rupiah. Beberapa hari lalu saya dapat copian lengkap tentang UU-ITE dari Sakti di Semarang dan memang isinya banyak yang tidak saya mengerti. Takutnya nanti adalah adanya banyak celah yang dipakai menjerat karena kebanyakan pasal2 tersebut mengandung makna ambigu alias pasal2pasal karet (meminjam istilahnya Sakti), terutama yang berkaitan dengan definisi mencemarkan nama baik dan mengemukakan berita2 yang tidak benar. Lah bagaimana dengan opini pribadi? Berita yang benar menurut versi siapa?
Adanya UU-ITE honestly membuat rada keder juga, bukan2 apa wong saya bukan aktivist dunia maya kok, saya juga bukan cracker dan hacker. Tapi pas liat2 posting2 lama, ada juga posting2 ttg opini pribadi (mainly ttg Bali) yg siapa tahu bisa dikategorikan melanggar UU itu. Haruskah posting2 saya delete? Mungkin saatnya sekarang pilih2 tema yg sekiranya aman2 saja? Saya blogger penakut?
Dari pengalaman beberapa tahun lalu saat2 aktif sebagai ‘aktivist’ tingkat banjar, bahwa bagaimanapun kuatnya kita adu argumen, berapapun banyaknya kita berbekal UU yang kita tahu yang sekiranya bisa melindungi kita, seberapapun kerasnya kita berteriak2 unjuk rasa atas nama kebebasan berpendapat, saya JAMIN tetap tidak bisa mengalahkan sistem (baca: pemerintah). Dulu padahal kejadiannya cuman simpel saja. Saya menulis sesuatu ttg protes sosial pembangunan di tingkat desa (di BaliPost) dan bisa ditebak beberapa perangkat tingkat desa tidak terima dan malah melaporkan saya ke polisi. Alhasil sayapun pernah merasakan pengapnya ruang interogasi. Kenapa tidak memakai hak jawab saja dan menulis balik di media yang sama? Jadi pesan moralnya adalah know your limit, sistem versus kita? Ya jelas 1-0!
Posted in blogging, opini | 30 Comments
Monday, April 7th, 2008
Gaji Dollar, Mental Rupiah
Sekian lama menjadi bajak laut ada satu hal yang masih tidak berubah pada diri saya (belum?) yakni dalam hal pengelolaan uang. Hasil merompak tentu saja dalam bentuk US dollar yang jika dikonversikan ke mata uang rupiah nilainya akan jauh berbeda. Ternyata mental rupiah masih begitu kental melekat di otak. Akibatnya bisa ditebak, spending dollar dalam keseharian selalu saja dikait2kan dengan mata uang rupiah. Otak secara otomatis akan membandingkan, beli t-shirt misalnya seharga $ 70, langsung berfikir wah ini kalau di rumah 600 ribuan nih, bisa beli beras lima karung, misalnya.
Satu sisi, mental rupiah mungkin terkesan kurang gaul dan kurang mengglobal. Apalagi jika dikaitkan dengan pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, jadi jika gajinya dollar mental spending harus dollar juga, begitu nasehat beberapa teman. Bahkan ada yang menyebutkan jika bermental rupiah di luar negeri bisa dipastikan orang itu adalah fans beratnya Tukul alias katro. Saya jadi teringat pengalaman beberapa tahun lalu saat pertama kali ke luar negeri dan singgah di Heathrow London dimana selama beberapa jam di bandara saya tidak ikhlas untuk membeli sebotol air mineral kecil seharga 6 pounds. Saya langsung berfikir kalau di Bali, uang sebesar itu bisa membeli 5 galon besar air mineral. Parah memang, tapi itulah pengalaman pertama kali yang syukurlah tidak terulang lagi.
Begitu negatifkah jika bermental rupiah di luar negeri? Kurang global sih mungkin iya tapi saya pribadi mencoba membawanya ke dampak positif saja, sekalian untuk nyaruang (menyembunyikan) mental wong ndesonya. Mental rupiah membuat saya:
1. Menghargai nilai uang. Dengan selalu berfikir rupiah saya lebih bisa menghargai nilai uang pada sebuah barang atau jasa. Sebuah CD musik misalnya seharga $ 26 rasanya terlalu tinggi nilai uang (dollar) yang harus dibayarkan dibandingkan dengan beli CD musik di Bali.
2. Belajar Hemat. Mental rupiah ternyata sangat ampuh untuk menjadi sebuah rem sehingga penggunaannyapun bisa dikontrol dan tidak kebablasan. Dengan membandingkan dan otomatis berfikir ke rupiah, mau tidak mau saya menjadi berfikir beberapa kali sebelum memutuskan membeli sebuah barang/jasa.
3. Tidak termakan pepatah. Di Bali ada sebuah pepatah yg bilang (kalau tidak salah) gede ombak gede angin yang artinya kurang lebih income lebih besar maka spendingpun otomatis lebih besar pula. Memang benar, jika tidak hati2 gaji dollar seringkali membuat orang lupa diri sehingga bisa keluar jalur dan tidak ingat tujuan bekerja jauh2 di negeri orang.
Yang mengkawatirkan adalah jika sampai terjadi sebaliknya, gaji rupiah tapi mental dollar. Agh!
Posted in Intermezzo, Karibia, opini | 27 Comments
Saturday, April 5th, 2008
eBlogari: Dokter Melek IT
Di dunia perblogan tanah air khususnya Bali, blogger yang juga seorang dokter ini lebih dikenal dengan sebutan imcw. Sebutan yang populer tersebut adalah kependekan dari nama aslinya yaitu dr. I Made Cock Wirawan, S.Ked, pemilik sebuah blog yang bisa dikategorikan blog seleb blogdokter.net dan juga seorang dokter alumni Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Angkatan 1995. Lahir di Denpasar 29 Juli 1976, dokter yang baik hati dan suka menolong ini sudah dikaruniai dua orang putri. Kesibukannya sebagai seorang dokter dan ayah dari dua putri, tidak menghalanginya untuk aktif sebagai seorang blogger sejati. Ini bisa dilihat dari blogdokter.net yang selalu update dengan postingan2 yang ttg dunia kesehatan dan dunia teknologi informasi. Sebuah kombinasi konten yang sinergi. Praktek2 di rumah sakitpun kadang beliau terapkan dalam dunia blog, misalnya beberapa blog teman pernah masuk UGD-nya blogdokter untuk dipasangi berbagai infus set up dan plugin. Berikut kutipan wawancara dengan beliau:
Tepatnya kapan sih mulai ngeblog?
Saya mulai ngeblog sejak tahun 2004. Pada waktu itu saya masih ngeblog di blogspot.com.
Awalnya gimana bisa tertarik dengan dunia blog?
Saat mulai ngeblog dulu saya hanya sekedar iseng dan karena ingin mengikuti perkembangan zaman. Tidak ada tujuan khusus. Ternyata lama2 seru juga karena media blog bisa saya gunakan untuk bergaul dan menambah teman. Yang tak kalah pentingnya adalah media blog ini saya gunakan untuk berbuat sesuatu (lewat tulisan2 saya) yang sekiranya bisa berguna bagi orang lain.
Bagaimana reaksi keluarga ketika Anda tenggelam di dunia blog dan bagaimana Anda mengatasinya?
Istri kadang2 cemberut juga tapi perlahan-lahan saya berikan penjelasan sehingga akhirnya dia mengerti juga. Bagi saya keluarga dan pekerjaan tetap nomer satu karena itulah saya biasanya ngeblog malam2 diatas jam 10 ketika semua anggota keluarga sudah tertidur.
Asal muasal nama blogdokter? Kenapa tidak pakai namasendiri.com misalnya?
Saya terinspirasi nama blogdokter setelah membaca tulisan2 Dani Iswara ttg blog dokter di blogline kesehatan. Ternyata nama itu sangat bagus menurut saya dan punya nilai jual yang tinggi, akhirnya sayapun kecantol. Saya tidak memakai personal name untuk alamat blog karena nama saya ada unsur pornografinya (cock) dan juga nama blogdokter saya fikir akan sangat ‘bersahabat’ dengan mesin pencari.
Mengingat domain blogdokter.net punya nilai jual yang tinggi, ada niatan untuk menjualnya barangkali?
Agh tidak. Nama itu sudah terlalu melekat pada diri saya. Mungkin nanti saya akan hibahkan atau jual setelah saya pensiun dari dunia blog.
Isi blogdokter.net umumnya ttg dunia kesehatan dan dunia teknologi informasi. Memang dikondisikan seperti itu?
Walaupun saya seorang dokter tapi isi blogdokter.net tidaklah 100% ttg dunia kesehatan saja. Tujuan saya biar tidak membosankan sehingga saya selipkan konten2 ttg dunia komputer dan juga topik2 teknologi informasi yang ringan2. Lagian saya hobi di dunia ICT, jadi saya tulis apa yang saya alami saja. Untuk yang lebih berat saya nggak sanggup karena bukan bidang saya.
Tulisan ttg kesehatan tentu karena Anda seorang dokter, kalau tulisan ttg dunia komputer? Pernah sekolah komputer?
Sebenarnya saya tidak pernah belajar komputer secara resmi. Otodidak saja. Dulu sempat kursus DOS dan Wordstar, selebihnya belajar dari milis, dan tabloid komputer. Satu kunci saya belajar komputer adalah keberanian. Berani komputer rusak dan bolak balik Sanur - Panjer untuk memperbaiki. Itu dulu sekarang saya sudah bisamemperbaiki sendiri
Sumber tulisan blogdokter.net biasanya darimana?
Buku, mailing list, pengalaman pribadi, google.com. Semua bahan yang saya tulis sebenarnya sudah ada, saya hanya mengumpulkan dan menuliskan kembali dalam versi saya.
Punya jadwal posting khusus?
Tidak ada, begitu ada ide langsung saya tulis. Kadang idenya yang sulit datang sehingga agak lama jeda nulisnya
Idealnya seorang blogger menurut Anda?
Jujur dan bertanggung jawab. Tulislah apa yang anda tahu dan bertanggung jawab atas apa yang anda tulis.
Ngeblog dan blogwalking, menurut Anda?
Ngeblog adalah ekspresi personal berbentuk tulisan, sedangkan blogwalking adalah ekspresi personal berbentuk tindakan. Kedua duanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.
Posted in eBlogari | 27 Comments
Thursday, April 3rd, 2008
Lupakan saja Grammar itu!
Sudah menjadi hal yang lumrah bahwa salah satu yang menjadi momok (terutama di kalangan pelajar/pemula) dalam mempelajari bahasa Inggris adalah masalah grammar. Entah memang karena grammarnya yang susah atau karena memang sudah termakan stereotype seperti itu atau bisa jadi dua-duanya. Bahkan di bangku kuliahpun grammar ternyata mengambil porsi SKS yang lumayan besar. Berguna memang tapi dalam sehari2 (baca: dunia kerja di pariwisata) rasanya kok jarang bergrammar ria karena kalau kelamaan mikir grammar, bisa2 malah tidak jadi keluar sepatah kata.
Hari ini saya merasa sedikit ‘terganggu’ tentang masalah grammar yang sangat super basic sekali. Adalah sebuah kuis di TV yang ditayangkan Fox Channel yang bertajuk Are you Smarter than 5th Grader?. Pesertanya dari kalangan umum dengan pertanyaan2 yang setara atau lebih rendah dari 5th grader (kelas 5 SD-kah?, rekan2 di Amrik tolong koreksi). Pesertapun didampingi oleh 5 orang 5th grader yang bisa dimintai bantuan. Kali ini pesertanya adalah seorang tamatan University of Arizona. Tibalah pada pertanyaan grammar untuk third grader yaitu What is the helping verb of the sentence below : Nathan is searching treasure in Mrs. Anu’s backyard.
Anak SD di Indonesiapun rasanya bisa jawab dengan mudah bahwa kata kerja bantu dari kalimat itu adalah is. Sungguh ajaib si peserta tamatan universitas amrik ini tidak bisa menjawab alias no idea at all dan malah menggunakan bantuan dari anak2 SD itu dan mereka tentu menjawab dengan benar. Saya hanya menghela nafas, come on, ini native speaker dan tamatan University of Arizona lagi dan itu pertanyaan untuk third grader. Tidak habis fikir saya, apa itu maen2 ya, sekedar drama? Agh mari kita lupakan grammar saja
Posted in Intermezzo | 34 Comments
Tuesday, April 1st, 2008
Budaya Jual Warisan
Apakah Anda pernah menjual warisan? Sedang memikirkan untuk menjual warisan? Atau masih ragu2 menjual warisan? Atau tidak berani/malu2 menjual warisan? Atau sama sekali belum memikirkan warisan? Saya sendiri tidak termasuk dalam lima golongan diatas karena memang tidak mempunyai warisan. Seandainya punya, mungkin sudah termasuk ke dalam salah satu golongan tersebut. Budaya jual warisan sudah menjadi fenomena umum di kalangan masyarakat Bali, khususnya tanah warisan. Tidak jarang masalah jual tanah warisan ini menimbulkan konflik di dalam keluarga misalnya, perang saudara dll. Bahkan saya menemukan satu kasus dimana orangtuanya masih segar bugar menggarap tanah tersebut tapi sudah dipaksa oleh anak2nya untuk menandatangani surat penghibahan. Tragis.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online, warisan adalah sesuatu yg diwariskan, spt harta, nama baik; harta pusaka, sedangkan pewaris adalah orang yg mewariskan dan penerima warisan yg sah berdasarkan hukum (agama, adat) disebut dengan waris sah. Ternyata selama ini saya sudah salah kaprah, pewaris dulunya saya artikan sebagai orang yang menerima warisan, ternyata artinya terbalik 180 derajat dan saya belum familiar dengan istilah waris sah. Jadi bagi yang terlibat dalam surat2 hibah warisan, istilah2 tersebut perlu dipahami sehingga tidak menimbulkan salah arti dikemudian hari.
Lalu salahkah jika menjual tanah warisan? Secara hukum positif dan hukum adat, tidak ada yang salah kalau menjual tanah warisan asal memang terbukti sebagai waris sah dari tanah tersebut. Saya pribadi (jika punya warisan), berdasarkan etika dan hati nurani, akan menjadikan jual tanah warisan sebagai pilihan terakhir. Lebih baik didayagunakan dulu daripada dijual. Sudah jelas2 tanah warisan adalah bukan hasil jerih payah kita walau secara administrasi menjadi pemilik sah tapi jika masih bisa berusaha, rasanya lebih baik nden malu (nanti dulu). Terlebih lagi jika proses jual tanah warisan itu membuat dua bersaudara misalnya, harus mengangkat pedang satu sama lain karena mempunyai persepsi yang berbeda dan merasa mendapat bagian yang lebih sedikit.
Ada berbagai motivasi yang melatarbelakangi orang untuk menjual tanah warisan, pada dasarnya untuk mengejar taraf hidup yang lebih baik entah itu diartikan secara mentah2 (kesenangan sesaat) ataupun bermakna dalam (ada tujuan jangka panjang). Berbagai motif itu antara lain :
1. Kesehatan. Yang termasuk kategori ini misalnya untuk biaya keluarga yang sakit keras yg memerlukan biaya banyak. Motif ini rupanya menjadi excuse yang paling bisa ‘diterima’ secara umum.
2. Paksaan pihak ketiga. Yang termasuk kategori ini misalnya karena tanah warisan tersebut ‘diminta’ oleh pemerintah untuk membangun fasilitas umum atau ‘diminta’ oleh desa adat untuk keperluan desa. Jadi terasa seperti tidak ada pilihan.
3. Usaha. Ada juga yg mempunyai motivasi menjual tanah warisan karena what so called membuka usaha sendiri alias bisnis. Tujuan yang mulia sebenarnya asal masih bisa tetap dalam tujuan semula dan modal dari jual tanah warisan itu harus tetap ‘dikondisikan’ sebagai modal panas sehingga kita menjadi terpacu seperti meminjam modal dari bank.
4. Pindah lokasi. Ini juga salah satu motif ekonomi, menjual tanah warisan untuk dibelikan tanah lagi di lokasi yang sekiranya lebih menjanjikan secara ekonomi.
5. Mengejar gaya hidup. Yang ini nampaknya paling parah, hanya semata2 untuk mengejar tujuan gaya hidup/kesenangan sesaat. Jual tanah warisan lalu mendirikan gedong tingkat 10, pintu rumah disulap menjadi kori agung, membeli mobil dan kesenangan2 lain khas orang2 yg hidup di negara2 dunia ketiga.
6. Biaya Sogok. Dalam hal ini sogok yang dimaksud adalah suap untuk mencari pekerjaan (PNS?), biaya suap untuk nyalon jadi kepala desa (desanya ‘basah’) dll.
Anda termasuk motivasi yang mana?
Posted in opini, social life | 46 Comments





Recent Comments