Dalam masyarakat Bali ada satu tradisi yang bernama nunas baos. Secara harfiah nunas baos berasal dari dua kata Bahasa Bali yaitu nunas yang berarti minta/memohon dan baos yang berarti suara (gaib). Jadi nunas baos kurang lebih artinya momohon suara gaib atau pawisik biasanya dari roh leluhur. Tradisi ini sudah lumrah dilakukan dalam masyarakat Bali dimana memang ada pemangku/balian (orang pintar) yang khusus melayani warga yang mau melakukan ritual nunas baos. Ritual ini secara harfiah bisa juga diartikan sebagai satu kegiatan untuk memohon petunjuk/bertanya kepada leluhur, roh leluhur kemudian meminjam badan kasar sang pemangku untuk memberikan wejangan atau petunjuk. Tentu saja sang pemangku tersebut dalam keadaan trance.

Ada beberapa hal yang menyebabkan orang Bali melakukan ritual nunas baos ini. Biasanya karena di timpa musibah. Jarang sekali (tidak ada?) orang Bali yang nunas baos karena sedang dapat rejeki misalnya. Mungkin sudah sifat dasar manusia yang kalau dalam keadaan senang, suka lupa dan acuh terhadap spiritual related things. Secara umum ada tiga penyebab mengapa orang Bali melakukan ritual nunas baos:

1. Kematian. Ini biasanya kematian yang tidak wajar semisal meninggalnya dianggap aneh karena tidak sakit juga masih usia produktif. Keluarga yang ditinggalkan ingin bertanya kepada leluhur hal2 misalnya sebab2 kenapa dia meninggal, apakah karena ada salah terhadap leluhur (jika benar, kejam amat ya leluhur main matiin aja), apakah ada kurang upacara, atau adakah orang lain yang meyebabkan kematiannya (santet) dll.

2. Sakit. Selain secara medis, orang Bali juga akan melakukan ritual nunas baos jika ada keluarga yang sakit keras dan obat2/tindakan medis tidak mampu berbuat banyak.

3. Kehilangan. Daripada lapor polisi, sebagian orang Bali lebih suka melakukan ritual nunas baos jika kehilangan sesuatu yang bernilai ekonomi besar semisal perhiasan, mobil ataupun benda2 pusakan warisan nenek moyang. Mereka akan bertanya kepada leluhur, kenapa hilang, siapa yang ambil, ada salah apa kami kok hilang dll.

Kronologi ritual itu biasanya sebagai berikut (sesuai pengalaman saya), pertama2 adalah persiapan banten (sesajen) yang terdiri dari canang selikur dan juga banten pejati. Sebelum berangkat ke rumah pemangku yang melayani ritual tersebut terlebih dahulu kita harus matur piuning (minta ijin/permakluman) kepada Ida Bhatara Hyang Guru (Tuhan) yang berstana di sanggah kita masing2 (pura kecil di rumah). Intinya bilang “Tuhan, saya mau pergi nih melakukan ritual, mohon direstui”.

Seringkali wejangan leluhur atau roh yang meninggal itu terlalu banyak untuk diingat sehingga kita perlu membawa tape recorder kecil, nantinya bisa diputar di rumah untuk didiskusikan dengan anggota keluarga yang lain. Pertanyaannya sekarang adalah seringkali hasil nunas baos berbeda antara tampat yang satu dengan yang lainnya, padahal yang ‘bicara’ adalah roh yang sama, prosesi yang sama dan juga sesajen yang sama. Hanya pemangkunya ya berbeda. Bagaimana menjelaskan ini? Akhirnya saya pribadi berkesimpulan bahwa nunas baos tidak bisa dijadikan kebenaran mutlak. Namanya juga nunas alias minta, bisa dikasi atau tidak. Berdoa dan mohon pencerahan dari Tuhan tetap yang utama.

Popularity: 36% [?]