Caution!  Some people may find this post is disturbing. This is a personal open question not a judgment.

Ada apa dengan Sarasamuccaya? Demikian fikiran pertama yang terlintas di benak saya ketika kemarin membaca beberapa halamannya. Buku suci yang merupakan bagian dari kitab suci agama Hindu itu sebenarnya selalu saya bawa bahkan sampai di Karibia. Makna sloka2 (ayat2) yang terkandung didalamnya cukup ampuh bagi saya pribadi sebagai sebuah rem mental. Kebiasaan saya adalah membaca sloka2 tersebut secara random sehingga sesuai kebutuhan (situasi saat itu) dan tidak cepat bosan. Kemarin sampailah saya pada sloka2 yang membahas masalah hawa nafsu dan wanita yaitu dari sloka 424 sampai dengan sloka 442. Alangkah kagetnya saya karena sloka2 tersebut terasa sangat ekstrem dan cenderung mendiskriminasikan wanita. Saya termasuk golongan newbie dan gaptek dalam hal mengartikan makna2 dalam sloka tersebut dan sangat menyadari bahwa mungkin otak saya yang belum punya kemampuan untuk mencerna makna yang terkandung, karena itulah postingan ini sekaligus sebagai media untuk bertukar ide dan media pencerahan bagi saya pribadi.

Sarasamuccaya yang saya punya adalah terbitan Yayasan Dharma Sarathi Jakarta tahun 1991, karangan I Njoman Kadjeng dkk, berwarna hitam ukuran pocket. Sloka2nya dijelaskan dalam tiga bahasa yaitu Bahasa Sansekerta, Bahasa Jawa Kuna dan Bahasa Indonesia. Berikut ini saya kutip beberapa sloka yang belum saya mengerti dan terasa begitu radikal.

Sloka 424: Diantara sekian banyak yang dirindukan, tidak ada yang menyamai wanita dalam hal membuat kesengsaraan; apalagi memperolehnya dengan cara yang jahat; karenanyalah singkirilah wanita itu, meskipun hanya diangan-angan, hendaklah ditinggalkan saja.

Sloka 429: Kesimpulannya, wanita itu umumnya bertingkah laku buruk, tidak dapat dibatasi, meskipun telah dibatasi dan kepadanya telah diberikan ajaran2 yang benar; namun sebab ia bukan karena patuh waktu dinasehati, hanya tampaknya tunduk terhadap suaminya; sebab yang sesungguhnya ia berbuat demikian, agar dia jangan digarap (disakiti) lagi; mungkin karena takut disiksa maka ia berlaku demikian (terhadap suaminya)

Sloka 432: Tidak akan henti2nya jika dosa wanita itu diceritakan, bilamana ada orang yang berlidah seribu dan berusia 100 tahun serta tidak melakukan pekerjaan lainnya, melainkan hanya dosa wanita itu saja yang diceritakannya, pasti tidak akan berakhir ceritanya sampai jangkanya datang dicaplok maut.

Demikian beberapa contoh sloka tersebut. Walaupun terjemahan Bahasa Indonesianya agak ‘patah-patah’ namun arti harfiahnya cukup jelas bagi saya begitu pula sloka2 yang lain cukup bisa saya ikuti. Menyimak sloka-sloka diatas, saya menjadi bingung sendiri. Darimana kita harus memulai konsep berfikir dalam memaknai arti sloka tersebut. Apakah cukup fair memposisikan wanita seperti dalam sloka2 tersebut? Jika titik tolaknya adalah dari segi pandita point of view (baca: orang suci), bukankah para pinandita kita di Bali juga ada konsep laki wanita? Makanya kita punya Ida Peranda (male) dan juga Ida Peranda Istri (female). Dalam konsep ketuhanan Hindu juga ada male female, ada Dewa ada dewi. Bagaimana dengan konsep Grehasta yang mana kita harus melaksanakan tahap berumah tangga? Bagaimana dengan konsep ibu pertiwi? Bukankah ibu pertiwi itu diasosiasikan ‘wanita’? Apakah kitab suci Sarasamuccaya itu khusus untuk orang2 nyukla Brahmacari (tidak menikah seumur hidup) saja?

Dengan pikiran yang bodoh ini sungguh saya tidak terima dengan sloka2 tersebut. Bagaimana dengan konsep sorga ada di bawah telapak kaki ibu? Semoga kebenaran datang dari segala arah. Any pencerahan is welcomed.

Popularity: 45% [?]