70 juta, Biaya Nikah Orang Bali
Setengah kaget saya kemarin ketika bercakap2 dengan teman2 di Karibia. Bagaimana tidak, mereka bilang biaya nikah temannya mencapai 70 juta. “Beh cang oraine nyiapang biaya minimal 60 juta nok jak rerama (saya disuruh nyiapin 60 juta oleh ortu) karena mau nikah nanti pas pulang ke Bali”, lanjutnya bercerita. Besar kecilnya biaya tersebut memang relatif dan berbeda2 untuk masing2 individu. Untuk ukuran saya yang ekonomi lemah begini, biaya nikah 60 jt - 70 jt itu rasanya lumayan menohok ekonomi keluarga alias masuk kategori mahal yang membabibuta.
Kenapa begitu mahalnya biaya nikah orang Bali? Rasanya lebih banyak disebabkan oleh faktor sosial yang non-esensial. Dalam melaksanakan upacara, di Bali ada istilah nista, madya dan utama (sederhana, sedang2 dan wah). Pilihannya terserah yang melaksanakan dan tergantung juga kemampuan finansial. Sederhana tidak apa2, yang penting secara sekala dan niskala sudah diterima dan sah. Sedang2 juga tidak apa2, apalagi wah, tentu boleh2 saja.
Yang menjadi ironi adalah sebagian orang Bali ‘memaksakan’ diri untuk melaksanakan yang wah. Ekonomi pas-pasan tidak menjadi halangan, ngutang dan jual hartapun terkadang ditempuh. Tanya kenapa, karena gengsi sosial. Jika hanya menyangkut esensi seperti biaya banten/offering dan biaya konsumsi sewajarnya, maka biaya nikah orang Bali rasanya akan normal2 saja. Tidak akan pusing dan malah bangkrut setelah upacara nikah selesai. Dari ngobrol2 tersebut, ada beberapa hal yang membuat biaya nikah orang Bali meroket: biaya pra-wedding termasuk biaya professional photo shooting, biaya kartu undangan super lux, biaya professional video shooting selama acara, biaya MC/event organizer, biaya sewa mobil super mewah/limosin/mercy saat lawatan ke rumah mempelai, biaya beli/sewa pakaian kebesaran seperti raja2 di Bali zaman dulu dan biaya2 sejenis yang sama sekali jauh dari esensi upacara itu sendiri.
Popularity: 65% [?]







wah kalau saya 70 juta sih mendingan buat modal bisnis..
#pak eep, hehe klo saya 70 juta sih saya beli Macbook Pro dulu yg 17″ sekalian, sisanya buat usaha
duh jadi ngayal
Ada juga dengan “banten atempeh” (sederhana) …benar, tergantung individunya!
artana’s last blog post..Trend Minimalis Dan Structural Engineer
sekarang satuannya sudah pick up (mobil) bli.
kudang pick up bantene
hi bli devari..
kayakne bukan cuma biaya nikah aja yang mahal dibali.. tapi semua..
Nikah, tiga bulanan, ngotonin, ngaben, potong gigi, melaspas, mecaru,..
tapi itulah Bali..kata Orang tua sih “gede aturane, gede pikolihne”..:-)
waaaa masak sih mbok, gede aturane gede pikolihne?
iya mungkin klo yg ke dewa yadnya atau pitra yadnya. lah klo manusia yadnya?
ini merupan letupan ego
yang malah bersifat jor-joran
tanpa tau arti penting sebuah pernikahan
rugi dunk nikah ngabisin duit banyak
tapi toh bakalan cerei juga
huh
wakakak makanya jgn cerai keke
beh men kene kan konyang nak tiwas care tiang sing bs nganten?
para orang tua di bali masih banyak yang berpikiran sempit, masih lebih mementingkan “PRIDE” ketimbang ini/tujuan dari upacara, statement “Lek ati ken pisaga yen sing bise meriah care si A, si B” sudah biasa, meski harus ngutang kiri kanan atau memberatkan si anak yang oenting kebanggan diri dimata pisaga
waa nanti yen bek ngelah utang, mamangne si A dan si B nyak nulungin? kekekeke
saya tiwas tp bisa nganten kekeke. kanggoang sederhana euuy
Fenomena menikah dengan jor-joran sbenernya dah lama ada Bli. Saya jadi inget kata Wayang Ceng Blong:
Lakar nganten apang magelung care naga, masunggi care raje, Ngundang camat tur bupati, nanging pisagane sing maundang.
Nah, ini juga menunjukkan menikah tersebut dijadikan ajang mencari prestige.
Kalo gag meriah dengan acara plus-plus…. nantinya si anten gag akan direken.
Gitu kali ya maksudnya……..
AVC’s last blog post..Cari webmaster yang bisa Joomla, PHP, MySQL, Flash, Photoshop.
prestige dan show of force. di reken tidak mesti dengan wah kali ya, tergantung pandai2nya kita sosialisasi
salam kenal bli…
hai say…
artikel ini mengingatkan saya pada upacara yg baru dilaksanain, pas acara jor2an.. sekarang anam2 nampetin utang
persis spt yg dibilang chazzuka
waa ga cool tuh.. jor2an tp ngutang
duh jd salah ketik… anam = anak,red.
yang ini sih gak cuma terjadi waktu nikah aja… pas ngaben juga gto… biasanya sih ada yg ngomporin masak mo ngaben yang biasa2 aja… kan ini untuk leluhur mesti yang wah… padahal kan intinya sama saja untuk memberikan jalan yang baik kepada leluhur terlepas dari wahnya acara… pis bli!!!
ghozan’s last blog post..Congratulations, UBER!
gpp sih asal leluhur ikut urunan juga
btw, sekarang ikutan paid review yah bli?
ghozan’s last blog post..Congratulations, UBER!
hehe why not bro
Sebenernya kalo ga jor-joran, ga bakahan ada bea sampe sgitu….
Coba terapkan dengan bener prinsip menyama braya dengan baik, pasti biaya dapat ditekan. Asal jangan harus ada kesan wah dalam melakukan upacara aja.
Mending duit sgitu dipake modal usaha… Kaya Bli Devari, buat usaha bengkel mobil….
Nanti saya mampir ke bengkel bli deh kalo ke denpasar….
ayo bli ngurah service disana, ntar ta kasi diskon heheh
Kalo tetangga gak diundang memang bisa jadi membengkak biayanya. Karenanya lantas berpikiran simple, enakan pake simplyorganizer.com. Waduh, jadi ngeri nih. Gaji setahun bisa abis nih! Mundur lagi dah rencana nganten…
hehe wah jgn mundur dek, hajar teruss
dan lagi alasannya: ini kan once in a lifetime! wkwkkw…
imsuryawan’s last blog post..Saya Kok Ga Setuju Sama UN (2)

alias masih acepok gen
acepok bangkrutnya keke
iya kalau punya uang sih ndak pa2 bli….
lha tiyang? mending pake modal…
*ntar nikah cateringnya pake nasi jinggo aja ah…biar simple
ick’s last blog post..Cerita Lalu?.
lol nasi jinggo, bisa2 masuk MURI
padahal dari ajaran agama dulu ada tingkatan upacara: nista, madya, utama. Bahkan yang nistapun ada tiga yaitu nistaning nista, nistaning madya dan nistaning utama. Begit upula yang madya dan utama. Tapi yang berkembang kok cuman utamaning utama?? Sapa yang salah nih????
made eka’s last blog post..BBM Naik, Minyak Tanah Langka dan Gas Menghilang
salahkan zaman eka
Saya sangat menyesali keberadaan PHDI. Untuk apa lembaga ini? yang bertahun-tahun tidak mampu memberikan penerangan kepada umat Hindu, malah menyebabkan aspek ritual semakin menjadi-jadi padahal dunia perekonomian sudah jauh berubah yang sifatnya sangat induvidual ( ini tak terhindari ) karena orang hanya tahu satu bidang, tidak lagi self efficiency seperti sebelum 1970an
saya sendiri merasa ‘asing’ dengan PHDI, hanya tau singkatannya doang. apa kurang publikasi ya kegiatan2 organisasi itu.
Pak Terima, jangankan masyarkat umum, tengoklah mereka yang mempunyai 2 tiga gelar misalnya Drs. I Wayan Kristian, MM,MBA, Msi. Saya pernah bicara tentang pemaknaan sorga dengan orang dengan gelar seperti ini ( nama di atas bukan nama sebenarnya, jika kebetulan sama, bukan maksud kami ). Apa yang mereka mengerti? Yang mereka mengerti sama seperti nenek moyangnya — M I T O S — sehingga saya yang hanya pendidikan SLTA ini menyuruhnya membaca beberapa buku seperti karangan Friedrich Nietz, Agustinus, Immanuel Khan, Sigmund Freud, dan sebagainya. Dan ternyata orang-orang dengan gelar banyak ini ternyata tidak tahu bahasa Inggris, ha ha ha ha….., saya saja sudah hanya tamat SLTA fasih baca tulis dalam bahasa Inggris
betul bli, gelar2 yang mentereng itu tidak berbanding lurus dengan pengetahuan sang penyandang gelar. apalagi zaman sekarang bisa didapat gelar2 itu dengan cara2 yang ‘tidak konvensional’ lagi
Yah, mungkin kita ditakdirkan akan lenyap dari muka bumi ini atau ditakdirkan menjadi kuli selamanya. Mungkin Tuhan telah menyiapkan setrateginya dalam segala hal yang sejalan dengan teori natural selection-nya Darwin. Jangan disesali!! Berapa tahun sudah merdeka, dan berapa tahun Bali sejahtra dengan pariwisata, apa ada yang memakai uangnya sedikit saja untuk membeli buku? Inilah gejalanya ” Pralaya ”
kita tunggu awatara berikutnya bli
wah, jadi pada takut nih ntar ngelamar gadis bali hikhik…banyak perayaan soale. muahal. kalo pasang tenda biru doank ama nasi padang, 10 juta cukup ?
hihi
dian’s last blog post..hoaaaaaaaggh *ngantuk
heheh klo di Washington nikah, berapa duit tuh
Biaya segitu nggak bisa ditekan lagi? Tapi kalau memang gengsi sosial, ya nggak tahu lagi. Di Surabaya pun juga ada yang seperti ini, padahal ekonominya menengah ke bawah. Tapi tidak semuanya sih.
Edi Psw’s last blog post..FOSS Untuk Kemandirian Bangsa
waduh saya menikah nanti dengan calon istri tercinta gimana ya bli? haruskan menjual carik (sawah) warisan nenek moyang?
Bukan Winardi’s last blog post..Kok Bisa Maju
@edi psw, wah disurabaya palagi ya mas, kota metropolitan soalnya
@win, dont worry, pake aja hasil paid review nya kekeke.di tunggu undangannya win
di washington ke court doank, gak pesta hwehhehe $60 doank.
trus ke Mcdonald kwkekeke
dian’s last blog post..slow drivers
Utk bli devari, biaya nikah segitu bukan apa2, gaji 1/2 bulan kerja di amrik cukup…………
Yang buat biaya nikah besar adalah keinginan mempelai berdua dan keluarga apalagi yang mampu, tapi kalau kita telusuri sebenarnya bukan sebesar itu sepertinya sebagian besar biaya diluar upacara seperti; resepsi di hotel dengan undangan sampai ribuan, dll seperti dalam postingan bli devari ini, sekarang kembali ke masalah gengsi individu setiap orang jangan dikaitkan dengan adat budaya bali sehingga banyak orang beranggapan melakukan upacara hindu bali adalah pemborosan padahal tidak demikian adanya…
dede’s last blog post..Naik?naik?’semuanya
Yah itu kembali ke individu masing2. Siapa tau keluarganya besaaaarrr banget, khan musti diundang. Banjarannya juga diundang. Belum teman2nya. Yah yang namanya sekali seumur hidup itu kalau misalnya mau diadakan besar/kecil siy nga masalah. Yang penting itu niat iklas/tulus. Mau dia ngutang/bangkrut yang tanggung jawab individu tersebut. Yang penting mereka2 yang nikah hepi hehhehe……..
Kania’s last blog post..Usah Kau Lara Sendiri
Itu smua tergantung prosesnya juga Bli. Tempo nikah, saya gak make foto PreWedding. wong kartu undangan didesain dan diprint sendiri, pake kertas bertekstur trus di pylox bening. Nikah tanpa souvenir. kndaraan buat ngejemput Istri, ya pake Kijang 88 milik sendiri. untuk katering, baju penganten dan bantennya didiscount, karena saya sering nolongin yang punya. jadi ngabisinnya sekitar 25jutaan. Acaranya pun cuman sampe sore, karena kasihan pada sodara2 yang dipinjem tenaganya sedari pagi.
pande’s last blog post..Ujian Pasca masih pake nyontek sembunyi2 ?
sebanyak itu ya bli?
aduh, kalo gitu kayaknya saya bakalan nikah di umur 80 nih
wira’s last blog post..MU Juara Liga Champions
kembali lagi ke individunya masing².. besar kecil ga masalah yg penting sakral.
dyatmika’s last blog post..Nokia to Use Linux on Cellphones