Pajamas is mandatory, demikian isi sebuah undangan pesta farewell di tempat saya bekerja. Sebuah kalimat yang menegaskan bahwa dress code dari pesta tersebut adalah piyama dan guess what, mandatory alias wajib hukumnya. Mungkin bagi sebagian besar orang ini kedengaran konyol, tapi begitu mengetahui dress codenya pajamas terus terang saya jadi bingung sendiri karena memang tidak mempunyai piyama alias ‘uniform’ resmi untuk tidur. Kebetulan yang punya party adalah salah satu manager bule yang baik hati dan suka menolong, jadi pengin sekali hadir pada pesta farewell itu. Satu sisi, saya tidak ingin membeli piyama hanya untuk dipakai pada pesta tersebut karena memang selama ini tidak mengenal budaya piyama dalam dunia tidur saya.

Ketika ngobrol2 dengan teman2 lokal Caribbean dan juga beberapa coworker dari Asia lainnya, mereka malah seriously tertawa ketika saya bilang maaf saya tak punya piyama. How the hell you go to sleep?, tanya mereka keheranan. Piyama memang sudah menjadi ‘pakain wajib’ untuk tidur bagi sebagian besar orang, namun saya pribadi dan kebanyakan teman2 dari Bali yang kerja di sini juga tidak mempunyai piyama. Manager saya langsung bahkan menggeneralisasi, apakah orang Bali semua tidak punya piyama? Untuk pakaian tidur, biasanya saya pakai celana pendek (color ijo) yang loose dan t-shirt ringan atau pakai sarung.

Pakai piyama atau tidak, itu adalah sebuah pilihan dan kebiasaan. Mungkin juga karena saya anak ini produk budaya katrok sehingga tidak mengenal budaya piyama sejak kecil. Dulu saya malah sering pakai celana jeans untuk tidur. Yang membuat sedikit sedih adalah kenapa yang bikin undangan pesta itu harus membuat dress code yang mandatory pajamas. Itu kan namanya diskriminasi fashion. Akhirnya sayapun tak jadi menghadiri party farewell tersebut, hanya gara2 sebuah budaya piyama sialan itu.

Popularity: 49% [?]