Note: Nunas ampura dan tabik pekulun mantuk ring leluhur yg kebetulan baca postingan ini dan tidak berkenan, tidak ada maksud untuk langgana, hanya sebuah proses untuk menuju pencerahan. Sekali lagi, ampurayang!
Kata bapak dan ibu guru kita dulu di sekolah, katanya secara umum ada dua makna kata/kalimat dalam bahasa Indonesia yaitu makna denotasi (yang sebenarnya/literal) dan makna konotasi (makna kiasan). Pun dengan judul postingan kali ini, ada mengandung makna konotasi khususnya pada frasa leluhurku preman. Leluhur dan preman tentu tidak bisa dijadikan analogi secara horizontal, dunianya saja sudah beda: dunia nyata dan dunia sana (dimana ya?). Di samping itu, sebagai seorang pribadi Bali Hindu maka bagi saya, menghormati dan memuja leluhur merupakan satu harga mati yang tidak bisa ditawar lagi.
Postingan ini masih berkaitan dengan artikel nunas baos terdahulu. Jika diperhatikan hasil hasil dari nunas baos tersebut terutama yang berkaitan dengan leluhur, maka sebagian besar hasilnya adalah selalu mempunyai benang merah yang sama: leluhur itu menerapkan sistem pukul dulu urusan belakangan (tipikal preman). Dalam artian, menghukum dulu dan alasan belakangan. Iya kalau hukumannya ringan, kalau sampai masalah hidup mati? Berikut ini beberapa contoh kejadian yang mungkin saja pernah anda/orang2 disekitar anda alami.
1. Kejadian satu: Orangtua si A pergi nunas baos ke beberapa orang pintar karena anak semata wayangnya sakit keras yang menyebabkan si A menjadi hampir lumpuh. Sudah berobat medis kesana kemari tidak sembuh juga. Hasil semua nunas baos sama: dikatakan leluhur marah karena ada yang salah dalam tata letak sanggah rong dua dan rong tiga, harus diubah dan atau menambah sanggah baru. Hasil nunas baos dilaksanakan, si A sembuh total.
2. Kejadian dua: Keluarga si B pergi nunas baos karena merasa selalu tertimpa musibah yang besar (kecelakaan, kehilangan etc dan keluarga tidak pernah akur. Hasil dari beberapa juragan baos: leluhur tidak berkenan karena dulu pada saat melakukan upacara ngaben ada suatu prosesi/banten yang kurang sehingga beliau ngrebeda. Hasil nunas baos dilaksanakan. Keadaan keluarga itu membaik walaupun yang hilang itu tidak ditemukan lagi.
Dari dua contoh di atas, mengapa para leluhur yang kita hormati itu tidak bisa ‘membicarakan’ secara baik-baik tentang apa2 yang menjadi kekurangan2 ataupun kesalahan2 kita? Bisa dengan cara mimpi, kerauhan (trance) ataupun petunjuk2 gaib lainnya. Mengapa harus main pukul duluan? Untuk kejadian satu: jika memang terjadi kesalahan tata ruang sanggah, beritahukan secara baik2 dengan cara2 gaib. Saya yakin, jangankan diminta membangun satu lagi sanggah, 5 atau 10 sanggahpun akan dibangun jika memang itu diperlukan. Lalu kejadian dua: jika memang kurang prosesi/banten upacara, pasti kita akan lakukan prosesi itu, biarpun misalnya nambah satu truk banten lagi.
Iseng saya tanyakan pada pemangku di desa tentang hal ini. Ada beberapa jawaban dari mereka diantaranya adalah:
1. Leluhur itu sangat sayang terhadap keturunannya sehingga masih untung diperingatkan (walau dengan jalan keras), daripada langsung dicabut nyawanya. Rasanya jawaban ini kurang memuaskan, kok masih untung? sudah jelas2 hampir buntung
2. Luluhur itu malu dan gengsi untuk ‘membicarakan’ hal2 itu secara baik2 sehingga ditempuhlah cara2 pukul duluan itu. Loh, masak di dunia sana masih malu dan gengsi sih. Itu kan sifat2 manusia. Kurang puas juga dengan jawaban ini
3. Leluhur itu ekspektasinya tinggi (perfeksionis) terhadap kewajiban2 yang harus dilaksanakan oleh para keturunannya sehingga penyimpangan2/kesalahan2 (sengaja atau tidak) dianggap sebagai sebuah dis-respect thd leluhur dan patut mendapat hukuman. Jawaban ini masuk akal tapi ada sedikit keegoisan disini. Manusia kan tidak sempurna, pasti ada kesalahan2, saya misalnya, bagaimana mungkin saya tahu ttg peraturan2 tata letak sanggah? Lagian leluhur kan sudah dekat tuh dengan dunia Tuhan jadi harusnya punya sifat2 pemaaf dan pembimbing.
Setengah bercanda setengah serious, sering saya bilang/berpesan kepada ortu saya. Bapak, Ibu, kalau nanti sudah meninggal dan jadi leluhur dan melinggih di rong dua, tolong kalau ada apa2 komunikasikan secara baik2 ya dengan saya. Kalian tahu I love you so much jadi apapun itu semasih bisa, pasti akan saya lakukan. Jangan main pukul duluan. Jangan gengsi dan jangan malu. Juga, kalian tahu sendiri saya sangat bodoh tentang dunia2 spiritual. So do not expect sesuatunya berjalan sempurna.
Popularity: 42% [?]





May 23rd, 2008 at 8:37 pm
bukannya leluhur suka main pukul duluan alias preman bli… tapi pasti sebelum itu terjadi sudah banyak petunjuk2 yang diberikan, cuma orang awam seperti kita tidak mampu menafsirkannya secara langsung makanya kita perlu orang “pintar” yang memang tugasnya ngurusi hal2 seperti itu. walaupun demikian memang kita sebagai generasi penerus wajib melaksanakan semua yang diinginkan oleh leluhur.
ghozan’s last blog post..Mutt Williams
May 24th, 2008 at 12:43 am
Wah bahaya nih,,kalau yang senang koropsi,jual lahan pura tempat suci entar matinya pasti dia nyakitan keturunannya yah bli! soalnya semasih hidup enngak habis2nya main tipu orang,,,,,wakakk dan bagi generasi sekarang jangan suka nipu orang entar matinya suka nyakitin keturunan,,,kebiasaan sampai mati.
May 24th, 2008 at 2:55 am
#ghozan, ini rasanya paling pas jawabannya.sudah banyak petunjuk tapi manusia yang terlalu bodoh, sehingga mungkin dianggap ’sing rungu’ oleh beliau2 itu.
hmmm
May 24th, 2008 at 9:16 am
itu semuanya denotasi kah bli ??
okta sihotang’s last blog post..BBM Naik?
May 25th, 2008 at 9:25 pm
masih nggak percaya untuk hal beginian.
dan masih menggumpulkan jawaban.
he.he.
Yanuar’s last blog post..Bike 2 Work Chapter Bali goes to Luwus
May 26th, 2008 at 1:02 am
masih mending daripada dapet jawaban kayak gini bli
“nak mule keto yan…”
hwahuahua
*saya nggak tahu gimana merespon postingan ini, ketawa, lucu, menusuk hati, bingung, dll… hehehe
wira’s last blog post..Menentukan Bilangan Prima
May 27th, 2008 at 4:24 am
Om Swastiastu..
Salam Kenal bli..
Mm.. Kalo menurut saya lebih dari pemberdayaan profesi aja.. Kasian atuh Balian kalo gada yang ‘nunas baos’.. Bisa/ada saja para leluhur kita yang memberikan petunjuk ato teguran2 secara lsg yg biasa na suka ada yang kerauhan ato semacamnya. Tp selayaknya kita manusia yang hidupnya selalu tolong menolong, maka diperbantukanlah balian2 tersebut sebagai ‘penyambung lidah’ dari para leluhur2. Tapi itu hanya sebuah opini saya.. Hanya Tuhan yg tw..
May 27th, 2008 at 6:51 am
Mmm…….saya agak kurang setuju dengan istilah ‘Leluhur Preman’. Karena setau tiang, leluhur itu sangat sayang pada keturunannya. Malah ada yang me-myasa untuk keturunannya, agar oleh Ida Sang Hyang Widhi senantiasa diberikan kebaikan dan kebenaran.
. Pas ‘lengeh’ menangkap maksud dan tujuan dari para leluhur qeqeqeeq…… Sampai sekarang mungkin masih dianggap ‘cucu’ yang paling bandel n bengal qeqeqeeq…..
. Cara lembut masih nga sadar2…cara setengah keras nu masih ngelen2, sing ngerunguang, akhirnya dengan cara keras, baru panic hehehhehe…….
Hanya saja kadang keturunannya ‘tidak memedulikan’ atau mungkin ‘tidak tau mengartikan’ maksud dari suatu PETUNJUK dll dsb dst. Kalau tiang dibilang ‘lengeh’ malahan qeqeqeeq…….sampe nangis karena dimarahin, sakit hati dan kecewa. Itu dulu
Intinya : Leluhur itu amat sayang terhadap keturunannya. Mereka dengan caranya tersendiri mengingatkan kita para keturunan untuk selalu berbuat kebajikan dan kebenaran
Kania’s last blog post..Outbound Pertama
May 27th, 2008 at 1:41 pm
cara mereka mendidik yang berbeda … tapi malah terbukti kebanyakan berhasil ketimbang cara pendidikan jaman sekarang yang lebih manusiawi namun rentan pelanggaran …
May 28th, 2008 at 1:01 am
Sebenarnya bli apa yang terjadi pada kita sekarang adalah karma dari apa yang leluhur/numadi kita dulu perbuat.
Pengalaman ini juga saya rasakan di keluarga besar saya yang baru 5 tahunan punya sanggah gede, sebelumnya kami keluarga besar tidak punya sanggah gede karena warisan dari leluhur hanya pura ibu yang juga disungsung warga luar keluarga besar dimana dalam pura tersebut sudah ada pelinggih kepada leluhur saya. Setelah banyak kejadian aneh di keluarga besar selama bertahun-tahun seperti: ada beberapa yang sakit ingatan hingga meninggal, janda, mati aneh (gantung diri, tidak diketemukan jasad, dan mendadak, akhirnya generasi bapak saya nunas bawos selain mangku pura yang sering didatangi para leluhur. Pada intinya setelah ditanya secara gaib mendapat jawaban bahwa kami harus membuat sanggah gede karena pelinggih satu di dalam pura utk para leluhur dianggap sudah tidak memenuhi syarat.
Jadi kesimpulannya adalah leluhur kita berbuat kesalahan yang tidak diperbaiki dari waktu ke waktu akan berdampak suatu bencana terhadap keturunannya (sentana-nya)
dede uli sanur’s last blog post..Peringatan: Anda Memakai Barang Terlarang !!
May 28th, 2008 at 8:18 am
Pertanyaan saya hampir sama dengan apa yang diungkapkan bli Made, kita tidak akan bisa menarik jawaban dengan cara menaruh sifat-sifat manusia ke dalam diri Bliau. Semuanya diluar logika pemikiran manusia. Nunas Baos mungkin hanya sebagai pengingat saja, kita harus berterima kasih untuk itu.
Putu Adi’s last blog post..Workshop PARI Pusat Anyer
May 28th, 2008 at 8:52 am
ternyata bli made sane medue postingan niki, jeg dimilis rame membahas topik puniki.
mun tiang ten uning jagi berkomentar napi, sinampura.. nggih rarisang lanjut…
dipoetraz’s last blog post..Sudahkah Kita Menyelamatkannya?
May 28th, 2008 at 8:56 am
okta, selain judul iya
wira, hehe sama Wir, nu gamang ni, mari sama2 cari pencerahan dari yg lain
sukma hapsari, saya setuju tp yg ditekan/dipertanyakan dalam postingan diatas bukanlan otentikasi dari balian dg nunas baosnya, tetapi kaitan hasil nunas baos dengan leluhhur. dari sudut pandang artikel diatas, dalam hal ini, hasil nunas baos sudah dianggap ‘benar’.
thanks ya dah singgah
Kania, iya leluhur sangat sayang pada sentananya. tentunya dengan ‘cara; mereka sendiri. apakah yakin sudah ada cara lembut? apa yakin sudah ada cara setengah keras? jikapun iya, adalah tanggung jawab moral para leluhur untuk mencari cara lain agar kita ngerti (di luar cara kekerasan). manusia juga punya tanggung jawab moral untuk mengartikannya. jika tetap tidak bisa bukannya kita ga mau tapi kan tidak ngerti. saya pikir ada perbedaan yg dalam antara sing ngrunguang dengan sing nawang.
chazzuka, ape ne bro? ga ngerti
dede, tepat sekali bro. inilah yang saya maksud. coba dari dulu kasi pawisik secara gaib. pasti dibuatkan pelinggih. apapun itu dalam batas kemampuan.
Putu Adi, lha secara kita masih manusia Bli, pastilah kalo kita mencoba mencari pencerahan ada sifat2 manusia yang masuk. dan agama khan (termasuk leluhur related) untuk manusia
atau mungkin paradigma lama masih berlaku. adalah taboo untuk mempertanyakan hal2 begini, dianggap langgana lah, diannggap tidak respek dll.
kapan kita ngertinya kalao semuanya ’serba serem’ untuk dipertanyakan?
diputras, rame gimana bro? sing ngerti
July 13th, 2008 at 10:33 pm
bli memang benar kata teman-teman semuanya bahwa leluhur itu sayang kita semuanya mengenai nunas baos menurut ku sih dari keyakinan saja kalau kita yakin yah kita jalani saja kalau g yakin ya sudah ga usah dipikirkan tapi tolong jangan bilang leluhur itu preman,sadis baget kata-kata itu ku dengar