Seperti pengakuannya, figur eBlogari kita kali ini masih baru dalam dunia blogging. “Saya masih totally newbie, istilahnya New Kid on the Blog”, ujarnya merendah. Namun dari segi kontent dan dedikasi sosialnya, blogger yang juga seorang dokter ini patut diacungi jempol. Dr. Oka, begitu saya biasa memanggilnya, sangat aktif di berbagai organisasi sosial dan organisasi kesehatan. Semuanya dengan satu tujuan yang sama yaitu berbagi ilmu dan informasi serta mewujudkan misi sosial untuk membantu sesama.

Selain berprofesi sebagai dokter untuk Manuaba Health Clinic, beberapa organisasi tempat alumni FK Unud tahun 1999 ini mewujudkan misinya adalah KISARA PKBI Bali, Bali Community Cares, ODHA(Orang Dengan HIV/AIDS) plus kesehatan IDU(Injecting Drug User), KPA(Komisi Penanggulangan AIDS) Provinsi Bali, BNP(Badan Narkotika Provinsi) Bali, serta berafiliasi dengan Ford Foundation, WPF Belanda untuk program edukasi seks di sekolah, Mitra Inti untuk program dukungan Indonesia Sexuality Forum dll. Lebih lengkapnya bisa dilihat di blognya beliau.

okanegara-4.JPG

Sejak kapan mulai ngeblog dok dan gimana cerita awalnya kenal dengan dunia blog?
Resminya saya mulai ngeblog sejak Maret 2008. Tapi, pengalaman saya fall in love dan bercinta pertama kali dengan blog awalnya bersama Blogspot, sekitar tiga tahun lalu. Tujuan ngeblog waktu itu sekedar iseng saja. Seperti ABG yang mulai ciuman dengan pacarnya pertama kali kan karena ingin tahu rasanya dan mau coba-coba dulu. Waktu itu blog hanya buat apresiasi unek-unek di ruang-ruang hati dan musik. Saya ini penggila musik. I can’t live without it. Sempat posting dua kali saja. Itupun tentang band sesuhunan saya; The Smashing Pumpkins. Habis itu sudah, tidakberlanjut karena kesibukan yang padat.

Lalu saya bertemu dengan beberapa orang yang selalu memanas-manasi buat meminta saya bisa sharing untuk buka website atau yang sejenisnya. Dipikir-pikir, memang weblog sepertinya yang lebih tepat dipakai sebagai media berbagi buah pikiran dan tulisan. Pilihan pertama jatuh ke multiply karena hasutan Yos Kebe. Karena di multiply kurang interaktif sayapun pindah ke wordpress, itu juga hasil komporan dari Luh de Suryani dan Anton Muhajir.

Visi dan misi dalam ngeblog?
Buat berbagi informasi terutama di sisi edukasinya. Karena memang sejak lama saya berusaha untuk bisa sharing informasi tentang seksualitas, kesehatan seksual, kesehatan reproduksi dan remaja. Saya menyukai keragaman media untuk berekspresi, terutama dalam mengemas edukasi. Saya sempat mengkordinir penerbitan media profesi di Asosiasi Seksologi Indonesia yang namanya Kelopak. Ini buat kalangan seminat di seksologi. Jadi masih rada berat-berat bahasannya. Tetapi ini sama-sama perjuangan juga. Karena untuk permasalahan seksualitas saja, sering kali banyak mitos dan informasi yangsalah beredar di masyarakat dan sering kali karena kemasannya menarik jadinya malah itu yang diikuti. Bisa deh dibaca tulisan di blog saya tentang mitos seksual.

Saya berusaha memadukan unsur informasi yang benar dan sebisa saya membuatnya bisa diminati lebih banyak orang. Karenanya content pengalaman hidup juga saya insert di blog saya, terus ada beberapa joke juga…tapi masih amburadul ya. Jadi ini PR buat semuanya yang mau mampir di blog saya untuk memberikan masukan dan kritikannya. Ditunggu

Banyak dokter yang ngeblog. Komentar Anda?
Bagus banget. Kalau perlu; Harus! Ini bukan buat narsis-narsisan, bukan juga karena kurang kerjaan, tetapi memang penting buat bisa berinteraksi dengan masyarakat. Blog salah satu jalannya. Kan blog juga bisa jadi media untuk menerima masukan, saran dan kritikan. “Dokter juga manusia”. Banyak dokter-malah yang senior2- masih berparadigma lama. Paradigma yang bilang kalau dokter adalah segalanya. Sialnya, faktanya di lapangan menunjukkan pasien juga masih banyak yang belum teredukasi, yang menganggap dokter memang segalanya, dewa penolong, sebagai satu-satunya tempat bergantung akan keselamatan dan kesehatannya, sehingga akhirnya berpendapat kalau dokter jangan diganggu dalam bekerja dan jangan dikritik.

Tentu saja ini keliru dan tidak mendidik. Keluhan pasien dan komentar masyarakat adalah sumber pembelajaran dan guru juga bagi seorang dokter. Silakanlah beri saran, masukan dan kritik buat dokter. Terlebih di era informasi ini. Dengan blog, pasien dan masyarakat juga akan tahu siapa sebenarnya dokternya, bagaimana pemikirannya dan seberapa luas jaringannya. Seorang dokter yang ngeblog berarti tidak lagi mengelola sejumlah orang di kamar praktek saja, tetapi sudah melewati itu, sudah lintas kota, lintas pulau, lintas propinsi bahkan lintas negara. Atau lintas planet? (ada yang mau bikin jaringan internet di planet Mars?)

Imaginasi Anda, jika semua dokter ngeblog?
Jika semua dokter ngeblog maka Rumah Sakit dan Klinik praktek dokter jadi kosong karena nggak laku dong. Kalaupun masih bisa jalan Rumah Sakit dan Kliniknya, maka akan bisa terjadi 8 hal berikut:

1) Jam visite dokter atau jam kunjungan ke pasien berubah menjadi jam kopdar
2) Kalau biasanya: “Maaf dokter lagi ada pasien”, nanti jadinya “Maaf dokter lagi online”
3) Istilah ”posting” jadi sangat populer mengalahkan istilah anamnesis, pemeriksaan fisik dan diagnosis yang makin tidak keren
4) Kalau biasanya seorang dokter yang bingung dengan kasus penyakit pasiennya akan bilang gini: “Aku mau konsul dulu ke dokter senior!”, nanti berubah jadi; “Aku mau blogwalking dulu ke blog dokter senior!”
5) Problem darurat juga berubah. Dari: “Wah, USG rusak!”, jadi “Wah, koneksi lambat!”
6) Kalau tadinya bilang “Sialan, si Memet kok surat perpanjangan ijin praktekku belum diurusin!”, sekarang jadinya ”Sialan, si Akismet, ID ku kok masuk ke spam!”
7) Kalau biasanya pasien bilang ” Selamat malam dok, terima kasih, kapan saya kontrol?”, nanti jadinya “Salam kenal dok, tolong dibalas yach, boleh ngelink blognya kan?”
8) Kalau pasien terpesona dengan dokternya saat ketemu di jalan, biasanya nanya; “Prakteknya dimana dok? kapan saja praktek?’, nanti pertanyaannya berubah jadi: “Blognya apa dok? kapan saja online?”

Bisa benar begitu kan? Tetapi yang jelas, kalau dokter bisa meluangkan waktu buat ngeblog, sepanjang itu buat berbagi perihal profesi dan pengalaman hidup yang positif, saya pasti sangat setuju, apapun alasannya. Kan juga bisa nambah penghasilan kalau yang mau serius menjadikan blognya lahan iklan juga. Seorang dokter yang juga sekaligus menjadi seorang adsenser bagi saya bukan masalah.

Ideally seorang blogger menurut anda? (terlepas dari apapun
backgroundnya)
Giving something more than taking something, itu yang sebaiknya menjadi motivasi utama seorang blogger yang ideal. Kalau prioritas utamanya adalah berharap sesuatu yang lebih besar, misalnya berharap jadi populer, supaya banyak yang click iklan di blognya, supaya bisa diterima dan diakui di komunitas blogger, dll itu sah-sah saja, tetapi kalau akhirnya menjadikannya sekedar menulis sesuatu buat postingan yang ngawur, tidak edukatif, tidak informatif, bahkan mengajarkan kesesatan tentu jadinya tidak ideal lagi dong. Itu menurut saya lho. Karena memang apa pun bisa diinformasikan lewat blog ya. Jadi, seorang blogger harusnya punya komitmen untuk berkabar positif, menyampaikan informasi yang benar, bisa itu informasi yang mencerdaskan, bisa juga informasi yang menghibur, dengan konsep ”entertain to educate”, berusaha selalu jujur dan siap dikritik. Itu dulu.

Selebihnya adalah kalau bisa seorang blogger menampilkan postingan di blog yang merupakan ide atau gagasan dan informasi yang orisinil dan tentunya rajin diupdate. Dan secara visual juga bisa menarik dilihat blognya. Itu saja sudah cukup bagi saya untuk dibilang ideal. Nah, kalau sudah menjadi blogger yang ideal kemudian menjadi lebih dikenal, mendapat teman (katanya ada yang dapat pacar juga ya dari pergaulan blogger, hehe..pura-pura nggak tahu ah), mendapat tambahan finansial, dll,…ya itu adalah hadiah karena bisa tampil ideal.

Sejauh mana anda sudah merasa berbagi ttg dunia professi yg anda geluti lewat blog?
Lha blognya kan baru bikin, belum tiga bulan. Jadi belum bisa banyak berbagi ya. Tetapi saya cukup bersemangat, karena blog saya sudah mendapatkan respon positif di luar dari yang saya perkirakan. Ada beberapa diskusi juga di kalangan remaja yang menjadikan blog ini sebagai rujukan informasi. Ini menjadi motivasi buat saya untuk bisa lebih semangat ngeblog. Saya gembira karena sejumlah 3.300 pengunjung sudah mengakses blog ini sampai hari ke-80 sejak dipublikasikan. Berarti banyak juga yang sudah membaca tulisan-tulisan saya. Dan banyak komentar serta masukan berharga yang saya dapatkan di blog ini.

Sejauh ini topik seksualitas, kesehatan seksual dan remaja yang kalau dilihat dari statistik cukup banyak dibaca. Mungkin ini juga yang akan saya coba banyak tampilkan dalam posting berikutnya. Nanti saya coba tampilkan juga artikel-artikel lama saya yang pernah dimuat di beberapa media untuk bisa dibagi di blog ini. Uniknya, ternyata sejak bikin blog, baru tahu nih ternyata banyak teman-teman lama yang juga pada jadi blogger. Jadi, ketemuannya malah di blog. Ada imwc dari blogdokter, Dani Iswara yang sedang studi di Jogja, temen band saya–Ady Wirawan yang lagi di Melbourne, Tonny Trisnawan–temen SMP yang sekarang jago fotografi, Wahyu Prayasa juga, banyaklah. Pokoknya terimakasih atas dukungannya.

Cerita dong ttg kesibukan anda di KISARA, dan pengaruh/impact sosial di masyarakat (remaja) !
Ketertarikan saya dengan kegiatan sosial kemanusiaan sebenarnya bisa jadi terbentuk karena latar saya yang rada tidak biasa. Saya lahir dan dibesarkan di sebuah asrama brimob, khusus buat serdadu-serdadu berpangkat rendah. Asrama yang padat dan sumpek. Tapi penuh dinamika dan nuansa pluralisme. Tapi di sisi lain keragaman latar belakang justru tidak memunculkan permasalahan suku, agama dan ras di sana. Problem yang terjadi justru karena latar belakang ekonomi, kompetisi hidup dan permasalahan humanis lainnya. Disanalah mulai terbentuk jiwa untuk berbagi dalam diri saya.

Terlebih sejak puber, keingintahuan saya dengan problema seksualitas mulai muncul. Nonton bokep rame-rame saat SMP kelas 1 sampai bolos sekolah sudah biasa waktu itu. Stensilan Anny Arow dan Valentino sudah bukan hal yang aneh buat dibaca bergiliran. Ada teman nggak sekolah lagi karena hamil, ada juga teman kena sakit kelamin. Itu semua secara akumulatif menjadi motivasi pertama kalinya saya dan teman-teman membuat “seminar seksuologi’ (waktu itu nulisnya memang seperti itu, pakai “u”) pertama kali saat SMA, yang waktu itu malah dilarang Diknas, dan kami melawan untuk tetap lanjut.

Hingga akhirnya singkat cerita saya bisa menceburkan diri saat kuliah di semester 3 di tahun 1994 untuk menjadi relawan aktif di KISARA (www.remajabali.wordpress.com) dan (www.kisara.org) termasuk masih membantu program KISARA sampai sekarang. Tentu banyak suka dukanya menjadi relawan remaja dan bekerja bersama remaja. It’s not easy to work with young people. Believe me. Saya mengkoordinir kegiatan KISARA di tahun 2001-2006. Konseling, edukasi, pendampingan, penjangkauan, survey, kampanye, semua ditujukan buat remaja, dengan fokus di kesehatan reproduksi dan seksualitas. Saat ini saya cukup memfasilitasi dan memberi dukungan jaringan dan konsultatif saja buat KISARA. Karena rupanya KISARA sekarang sudah cukup bisa berperan dan berfungsi strategis di program remaja di Bali karena selalu dilibatkan dalam kegiatan edukasi remaja oleh Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, sekolah-sekolah, kelompok remaja, media, artis lokal, hingga jaringan nasional dan internasional.

Malah koneksi KISARA sekarang sudah bisa kemana-mana ya. Di kalangan blogger saja deh bisa dilihat; Anton Muhajir pernah ikut pelatihan KISARA, Lode sekarang tim advokasi KISARA, Widari malah jadi staf IYC KISARA, ( Saylow-pacarnya anak KISARA, Dek Didi-pacarnya juga anak KISARA, hehe). Dunia memang makin sempit. Saat ini cukup banyak remaja yang memanfaatkan KISARA buat pemberdayaan atau sekedar mendapatkan pelayanan konseling serta akses informasi. Dan ini masih bisa eksis sampai sekarang. Tahun ini saya memediasi beberapa lembaga donor, seperti Ford Foundation, WPF untuk mensupport program remaja di Bali. Berkat jaringan ini juga saya bisa dilibatkan di forum dan asosiasi strategis, seperti Asosiasi Seksologi Indonesia dan Indonesia Sexuality Forum.

Yah, mudah-mudahan saya masih bisa terus berkomitmen buat remaja, terutama problema kesehatan reproduksi dan seksualitas. Ingatkan saya untuk bisa selalu memberi, karena bagi saya; “seorang baru berarti bukan dari apa yang dia punya dan dapatkan, tetapi dari apa yang dia berikan”.

Popularity: 50% [?]