Ada pandangan umum yang menganggap bawa asuransi jiwa hanyalah untuk orang-orang tua dan orang-orang yang sudah cukup umur dan mapan secara ekonomi. Benarkah selalu demikian? Salah satu definisi di Wiki menjelaskan bahwa asuransi jiwa atau life insurance adalah sebuah kontrak antara pemegang polis (orang yang ikut asuransi) dengan perusahaan asuransi dimana perusahaan asuransi setuju untuk membayarkan sejumlah uang kepada pemegang polis saat meninggal dunia atau kena sakit kritis. Dan pemegang polis diwajibkan membayar sejumlah premi pada tiap waktu tertentu.

Melihat dari definisi diatas, rasanya kurang pas anggapan yang cenderung mengatakan bahwa asuransi jiwa hanya untuk orang2 tua. Mungkin pandangan itu dipengaruhi oleh kebiasaan dulu yang melihat bapak-bapak kita, terutama yang PNS, ikut asuransi jiwa yang wajib itu. Asuransi jiwa layak dimiliki terutama bagi yang sudah berkeluarga untuk menjamin keadaan financial keluarga tersebut seandainya terjadi kematian atau sakit kritis yang menimpa orang yang menjadi tulang punggung ekonomi. Mempunyai asuransi jiwa berarti memberikan sedikit jaminan akan kestabilan keuangan sebuah keluarga jika terjadi hal2 yang tidak diinginkan. Besar kecilnyanya jumlah tanggungan adalah relative. Intinya tidak terletak pada jumlah, walaupun makin besar makin baik, intinya terletak pada kelangsungan financial sebuah keluarga harus tetap terjaga jika musibah itu datang. Keluarga si A mungkin cukup dengan 50 juta rupiah sedangkan si B baru cukup dengan uang pertanggungan 100 juta rupiah misalnya. Semuanya relative.

Dengan pemikiran seperti itulah akhirnya sayappun memutuskan untuk memiliki sebuah polis asuransi jiwa dua tahun yang lalu. Proses memilih perusahaan asuransi juga perlu ketelitian dan kecermatan dalam memahami pasal2 yang tertera dalam polis. Yang perlu digarisbawahi adalah jangan sampai milih asuransi karena hasutan atau ajakan teman dan tetangga. Ini yang lebih parah, ikut asuransi jiwa hanya berdasarkan rasa malu karena yang menawarkan/agen asuransinya adalah teman dekat. Ini abad 21 bung, teman sih teman, keputusan harus tetap dibuat dengan kepala dingin bukan dengan rasa malu karena nanti yang repot kita sendiri. Asuransi jiwa adalah masalah jangka panjang jadi usahakan melakukannyapun secara profesional.

Saya pernah punya pengalaman pahit, ikut asuransi jiwa dari perusahaan P. Ikutnya terpaksa karena rasa malu itu habis agennya terus menyerang dengan sengit. Untunglah saya bisa lolos. Faktor yang penting perlu diperhatikan juga adalah sekarang ini jarang sekali asuransi jiwa yang benar2 murni asuransi jiwa, ada saja embel2 investasinya sehingga premipun menjadi membengkak. Yang makmur ya agen asuransinya, kita yang jadi tambah miskin. Carilah asuransi jiwa yang benar2 murni asuransi jiwa, biasanya preminya dalam batas wajar. Kalau mau investasi, cari bidang lain, jangan di asuransi.

Sebagai contoh perbandingan. Saya ikut asuransi jiwa di perusahaan A. Preminya 4 juta per tahun selama 10 tahun. Uang pertanggungan (UP) jika meninggal 150 juta. UP Kecelakaan 50 juta, UP Sakit Kritis 30 juta. Bebas premi jika kena sakit kritis (36 macam penyakit). Jika meninggal karena sakit kritis maka mendapat UP sakit + UP meninggal + uang yg telah disetor & bunga keluar. begitu juga meninggal akibat kecelakaan. Bila tidak terjadi apa2 alias dana tidak ditarik maka di umur 55 UPnya menjadi 396 juta. Umur 65 UPnya menjadi 1.522.000.000 (1,5 milyar lebih). Iya, yang enak anak cucu kita.

Popularity: 33% [?]