Archive for November, 2011

Saturday, November 12th, 2011

Mendarat Darurat di Iceland

Penerbangan berikutnya ke New York sungguh tragis dan terasa berbanding terbalik dengan penerbangan dari Singapura ke London. Penderitaan dimulai ketika keluar dari pesawat di Heathrow airport. Suhu udara yang mencapai 5 derajat Celcius sungguh sangat tidak bersahabat bagi saya. Tubuh menggigil seperti orang sakit.  Saat reconfirm tempat duduk ke counter American Airlines, mereka tanya macam-macam. Semua penumpang tujuan US memang menjalani extra interview apalagi ditambah dengan passport Indonesia. Saat menunggu boarding, 2 polisi tinggi besar mendatangi saya dan bertanya “are you OK?” I “Yes Sir, any problem?” I “No, you look not well”. Buseet, ternyata tampang kedinginan saya dikira sakit sehingga ada kemungkinan untuk tidak diijinkan terbang.

Penerbangan ke New York menempuh waktu kurang lebih 6,5 jam. Nasib sial dapat kursi ditengah2. Mau kencing jadi rada2 malas karena mesti membangunkan yang duduk sebelah. Mau ngapa2in juga agak kikuk, tidak senyaman jika duduk di aisle seat. Mau bangun swaktu-waktu tidak masalah. Setelah mengeluarkan jurus pamungkas (vodca + tonic) barulah bisa tidur. Ribut2 dan heboh di sekitar kabin membuat saya terbangun tapi masih belum tahu apa yang terjadi. Ternyata seorang penumpang paruh baya yang duduk dua deret dibelakang saya kena serangan jantung. Para flight attendantpun sibuk menolong sembari memanggil2 jika ada perawat atau dokter on board. Pasang iPod dan penutup mata, sayapun mecoba kembali memejamkan mata. Tiba2 suara pilot nyaring terdengar bahwa berdasarkan pasal bla bla tentang keselamatan penumpang maka mohon maaf kita harus mendarat darurat untuk mendapatkan pertolongan medis. Airport terdekat adalah Reykjavík Airport di Iceland, berjarak satu jam dari posisi saat itu. Akhirnya terdamparlah saya di negeri antah berantah selama kurang lebih 3 jam lamanya, tanpa boleh keluar dari dalam pesawat. (Maaf ya buat Bobby dan Icha yang mesti bolak balik Queens-JFK karena delay)

Posted in Kabar-kabari | 4 Comments

Tuesday, November 8th, 2011

Penerbangan Terbaik dan Terburuk

Ada yang istimewa dalam penerbangan saya awal November kemaren. Sudah 6 tahun lamanya bolak balik menempuh long flight dari Denpasar menuju Providenciales Turks Caicos Island tapi baru kali ini terasa ada sesuatu yang istimewa baik dalam artian positif (best flight I ever flown) maupun yang terburuk. Sekedar informasi, para TKI yang bekerja di Turks Caicos Island pada umumnya menempuh jalur jalur flight sebagai berikut: Denpasar - Singapura - London - Bahamas - Providenciales atau Denpasar - Singapura - London - JFK/Miami - Providenciales atau Denpasar - Hongkong - JFK - Providenciales bahkan ada juga yang Denpasar - Singapura - London - Vancouver - Miami - Providenciales. Beberapa temen ada yang mesti terdampar ke Narita (Jepang) dulu. Kemanapun rutenya yang pasti itu kelas ekonomi, waktu transit di airport yang berjam -jam dan dengan carrier yang umum biasanya Garuda, Singapore Airlines, Cathay, British Airways, Qantas, dan American Airlines.

Rute yang saya tempuh kemarin adalah Denpasar - Singapore - London - JFK New York - Providenciales. Selasa 1 Nopember 2011 jam 11.30pm waktu Singapura, seperti biasa saya sudah lunglai duluan ketika akan boarding pesawat Qantas menuju London. Lama penerbangan yang 14 jam 30 menit terasa sangat mengerikan di kelas ekonomi. Kursi yang sempit, berdesakan dengan bule bule segede gajah dan AC yang membekukan darah merupakan dua momok menakutkan bagi saya. Namun begitu saya memasuki pesawat, saya agak kaget. Biasanya pesawatnya Boeing yang ukuran medium, saya kurang hafal typenya mungkin 747 atau 737. Yang jelas deretan kursi di kelas ekonominya adalah 3-4-3. Namun kali ini pesawatnya sangat berbeda, lebih besar dan kursi2nya lebih banyak (4-5-4) dan besar (seperti kursi kelas bisnis di pesawat lain). Yang paling membuat saya excited adalah ukuran layar TVnya jauh lebih besar dan wait a minute, kok cuman 5 orang penumpang di satu section badan pesawat ini (kurang lebih 150 kursi)? Terburu-buru saya ambil brosurnya dan pesawat ini berlantai dua, jenis Airbus A380-800. Iseng tanya ke flight attendant kenapa sepi, ternyata itu disebabkan oleh banyaknya penumpang yang cancel akibat mogok massal pegawai Qantas seluruh dunia sehari sebelumnya. Hanya beberapa penumpang yang masih dan mereka harus tetap terbang biarpun isi pesawat sedikit.

Setelah pesawat airbone tanpa menunggu lebih lama, saya membuat ‘bed’ yang nyaman. Empat kursi sekaligus dilipat hand restnya, beberapa selimut dan bantal. Jadilah tempat tidur yang sangat nyaman. Kelemahan saya jika long flight adalah sering kencing makanya pas check in pasti yang dicari aisle seat dan dekat dengan toilet. Ukuran toilet di Airbus A380-800 juga besar, hampir 2×2 meter. Last but not least, makanan dan pelayanan juga extra superb untuk kelas ekonomi. Tumben terbang lama bisa tidur nyenyak hingga tiba di London. Penerbangan berikutnya ke JFK New York sungguh berbanding terbalik. Biar tidak kepanjangan, nanti saya ceritakan di posting selanjutnya.

Posted in Kabar-kabari | 2 Comments