Archive for the ‘ekonomi’ Category

Monday, June 9th, 2008

Perlukah Punya Asuransi Jiwa?

Ada pandangan umum yang menganggap bawa asuransi jiwa hanyalah untuk orang-orang tua dan orang-orang yang sudah cukup umur dan mapan secara ekonomi. Benarkah selalu demikian? Salah satu definisi di Wiki menjelaskan bahwa asuransi jiwa atau life insurance adalah sebuah kontrak antara pemegang polis (orang yang ikut asuransi) dengan perusahaan asuransi dimana perusahaan asuransi setuju untuk membayarkan sejumlah uang kepada pemegang polis saat meninggal dunia atau kena sakit kritis. Dan pemegang polis diwajibkan membayar sejumlah premi pada tiap waktu tertentu.

Melihat dari definisi diatas, rasanya kurang pas anggapan yang cenderung mengatakan bahwa asuransi jiwa hanya untuk orang2 tua. Mungkin pandangan itu dipengaruhi oleh kebiasaan dulu yang melihat bapak-bapak kita, terutama yang PNS, ikut asuransi jiwa yang wajib itu. Asuransi jiwa layak dimiliki terutama bagi yang sudah berkeluarga untuk menjamin keadaan financial keluarga tersebut seandainya terjadi kematian atau sakit kritis yang menimpa orang yang menjadi tulang punggung ekonomi. Mempunyai asuransi jiwa berarti memberikan sedikit jaminan akan kestabilan keuangan sebuah keluarga jika terjadi hal2 yang tidak diinginkan. Besar kecilnyanya jumlah tanggungan adalah relative. Intinya tidak terletak pada jumlah, walaupun makin besar makin baik, intinya terletak pada kelangsungan financial sebuah keluarga harus tetap terjaga jika musibah itu datang. Keluarga si A mungkin cukup dengan 50 juta rupiah sedangkan si B baru cukup dengan uang pertanggungan 100 juta rupiah misalnya. Semuanya relative.

Dengan pemikiran seperti itulah akhirnya sayappun memutuskan untuk memiliki sebuah polis asuransi jiwa dua tahun yang lalu. Proses memilih perusahaan asuransi juga perlu ketelitian dan kecermatan dalam memahami pasal2 yang tertera dalam polis. Yang perlu digarisbawahi adalah jangan sampai milih asuransi karena hasutan atau ajakan teman dan tetangga. Ini yang lebih parah, ikut asuransi jiwa hanya berdasarkan rasa malu karena yang menawarkan/agen asuransinya adalah teman dekat. Ini abad 21 bung, teman sih teman, keputusan harus tetap dibuat dengan kepala dingin bukan dengan rasa malu karena nanti yang repot kita sendiri. Asuransi jiwa adalah masalah jangka panjang jadi usahakan melakukannyapun secara profesional.

Saya pernah punya pengalaman pahit, ikut asuransi jiwa dari perusahaan P. Ikutnya terpaksa karena rasa malu itu habis agennya terus menyerang dengan sengit. Untunglah saya bisa lolos. Faktor yang penting perlu diperhatikan juga adalah sekarang ini jarang sekali asuransi jiwa yang benar2 murni asuransi jiwa, ada saja embel2 investasinya sehingga premipun menjadi membengkak. Yang makmur ya agen asuransinya, kita yang jadi tambah miskin. Carilah asuransi jiwa yang benar2 murni asuransi jiwa, biasanya preminya dalam batas wajar. Kalau mau investasi, cari bidang lain, jangan di asuransi.

Sebagai contoh perbandingan. Saya ikut asuransi jiwa di perusahaan A. Preminya 4 juta per tahun selama 10 tahun. Uang pertanggungan (UP) jika meninggal 150 juta. UP Kecelakaan 50 juta, UP Sakit Kritis 30 juta. Bebas premi jika kena sakit kritis (36 macam penyakit). Jika meninggal karena sakit kritis maka mendapat UP sakit + UP meninggal + uang yg telah disetor & bunga keluar. begitu juga meninggal akibat kecelakaan. Bila tidak terjadi apa2 alias dana tidak ditarik maka di umur 55 UPnya menjadi 396 juta. Umur 65 UPnya menjadi 1.522.000.000 (1,5 milyar lebih). Iya, yang enak anak cucu kita.

Posted in ekonomi | 18 Comments

Sunday, September 9th, 2007

How to Get Your KPR Approved?

Wouldn’t be nice to have our own house? Yeah HOme sweet home baby. Thinking to buy it in cash? Good for you, thanks to your parents then or thanks to you parents in law :). But if you dont have that much cash (just like me) then getting a mortgage is the option.

Warning!!! Getting your mortgage alias KPR to be approved by the bank can be a bit pain in the *ss. There is a complicated procedure you need to go through. Believe me, getting a mortgage will make you back and forth to the bank, almost everyday. You will getting to know all the staff at the bank. Yeah a lot of energy but at the end, it is worth it. Here is some tips I’d like to share when I was struggling to get my mortgage approved by Bank Mand***. This is just my personal experience, there is no guarantee yours will be approved. It is worth a reading though ;), I guess. Noted, I bought my house individually to the developer not, a mass KPR.
1. How much?
Yes, determine first how much your house worth? This will help you in deciding how much money you want to borrow. Do a little research. Make sure that you will borrow 30% or even 50% below your house price. For example, my house is worth Rp. 280 millions. The bank said that I can apply for maximun Rp. 190 millions or even less.

2. Certificate of the Ownership (lets call it CO, ok?)/Sertifikat Hak Milik
Is your house bodong? Hehe. Make sure that you have the CO, no matter if its on your name already or still the first owner. The CO will become a warrant of the mortgage and will be kept at the bank, if yours is approved.

3. IMB
Check if your house got an IMB already, Ijin Mendirikan Bangunan. If not, you need to prepare first what is called Surat Penyanding from your direct neighbours (west, east, nort, south), signed by Village Head then go to Dinas Tata Kota. The cost is around Rp. 3 millions including sogok-menyogok, I dont know what is the cost if we apply directly but you know lah. The time is not worth it.
4. The Tax/SPPT
Yeah, surat pemberitahuan pajak terhutang, whatever thats mean. Pay it, if there is due tax of the house, you will not be considered. YOu can go to Dinas Pendapatan Kota.

5. Work Related Documents
This document including the pay/salary slip ,work contract/job letter, you also need a reference letter from the ’sister company’ in Indonesia/Bali if you work abroad (in my case I go to Pak Yusdi, matur nuhun Pak)

6. Family related Documents
This document including Kartu Keluarga, KTP, Birth CErtificate, Wedding certificate (if you’re married)

7. Let’s get it on.

When all the documents are ready, its time to decide which bank you will apply for. DOnt just shoot one bank, at least 3 banks, national bank of course. Go to their loan department. Caution!!! Make sure you get a contact person there, it will be easier next time you come.
8. Wait and See and Pray
After submitting the application, then wait and see. usually couple days later, the bank surveyor will come to your house to survey it. How much is it worth based on bank evaluation.

9. PPAT

You will need to prepare a budget for a PPAT, who will be appointed by the bank. He/she will take care the akta jual beli.

10. Invitation
If your application is approved, you will be invited by the bank to discuss about the terms and conditions of the loan including but not limited to how much, timing (5,10,15 years), the interest etc. Read carefully the contracts.

11. NPWP
If your loan more than Rp. 50 millions, you will need an NPWP.

12. Personal TouchPersonal touch is never a bad idea, bring something to your loan advisor, fruit and perfume ;)

Happy Mortgaging!

Posted in ekonomi | No Comments