Archive for the ‘Intermezzo’ Category
Wednesday, May 27th, 2009
Layanan TV Prabayar dari yesTV
Layanan TV berbayar di Bali semakin variatif. Nampaknya dominasi Indovision selama ini akan berangsur-angsur berkurang dengan kehadiran layanan TV berbayar lainnya yaitu yesTV.
Adalah Telkom yang mempunyai gebrakan ini. Layanan yesTV ini mempunyai fitur special yang tidak dimiliki oleh TV berbayar lainnya. Layaknya perusahaan telepon seluler, yesTV menawarkan layanan prabayar dan pascabayar. Jadi bagi yang tidak mau terikat kontrak langganan bisa memilih paket prabayar. Jenis layanan ini tentu saja lebih simple alias pay as you watch. Misalnya jika sedang musim bola, kita bisa beli voucher Dunia Arena saja dan nonton sepuasnya. Jika voucher habis (masa berlaku sebulan) kita bisa pilih beli lagi atau tunggu season selanjutnya.
Bagi yang suka nonton film bisa membeli voucher Dunia Sinema dan lain sebagainya, tergantung kebutuhan. Hanya ada syaratnya untuk paket prabayar ini yaitu kita mesti beli dish dan receiver sendiri. Jadi semua alat menjadi milik kita. Mirip dengan hp. Ada pulsa kita nelpon, tidak ada pulsa tidak nelpon. Kalau yesTV, ada voucher kita nonton, klo tidak ada voucher ya tetap nonton siaran TV lokal. Jadi bagi yang sayang keluarga dan ingin terhindar dari racun-racun sinetron di TV lokal, mungkin layanan ini layak dipertimbangkan. Info lengkap di www.yestv.co.id
Posted in Intermezzo | 5 Comments
Friday, April 17th, 2009
Benarkah Life Expectancy Orang IT itu Pendek?
Banyak sekali beredar stereotype tentang orang-orang yang berkecimpung dalam dunia IT. Yang paling sering saya dengar adalah tentang orang-orang IT yang jarang kaya dan juga katanya life expectancy orang-orang IT itu pendek dibandingkan dengan rata-rata harapan hidup orang-orang kebanyakan. Benarkah demikian? Saya sendiri bukanlah orang IT tulen, hanya beberapa bulan terakhir ini kebetulan menjadi pegawai honda alias ‘honor daerah’ di resort tempat saya bekerja di Caribbean.
Munculnya anggapan bahwa harapan hidup orang IT pendek mungkin disebabkan oleh tingginya tingkat stress yang dialami orang-orang IT di kantor yang berhubungan dengan pekerjaan. Stress tinggi, tiap hari tegang menghadapi problem-problem IT sehingga kans untuk terserang stroke lebih besar. Begitu pula dengan apa yang saya alami.
Dengan latar belakang pendidikan sastra, saya harus berjuang extra keras untuk bisa survive menjadi staff IT-Support. Mesin pencari merupakan teman yang paling baik. Sebenarnya menurut saya, bekerja di IT itu sangat fun dan challenging, dengan catatan kita tahu what we are doing dan step-step dalam mengatasi masalah sudah kita kuasai. Justru memang yang kadang-kadang bikin saya nyumpah-nyumpah sendiri adalah ketika ada user yang melaporkan bahwa ada masalah IT tapi sebenarnya masalah itu bisa diatasi sendiri hanya dengan memakai sedikit common sense. Tantangan berat lainnya adalah bahwa semua user expect kita tahu segalanya, no matter what.
Suatu hari saya berada di ruangan server. Mumet dan boring tingkat tinggi karena harus membantu nyetting router dan menginstal 60an access point di semua kamar hotel. Bawa kamera untuk jepret2 lokasi dan juga sekaligus ingat blog yang sudah jarang diupdate. Sekalian aja bergaya untuk posting.
Posted in Intermezzo, Karibia | 9 Comments
Friday, December 5th, 2008
Fengshui Kamar Mandi
Fengshui, antara percaya dan tidak, begitulah saya memaknainya. Percaya karena dalam tradisi dan budaya Bali juga mengenal fengshui, tentu dengan nama dan istilah yang berbeda apalagi jika dikait-kaitkan dengan ajaran agama (Hindu) misalnya Asta Kosala Kosali. Tidak percaya karena ada faktor2 yang berbenturan dengan akal logika dan perkembangan zaman. Contoh kecil misalnya, tentu sangat sukar menerapkan asta kosala kosali jika kita hanya mampu membeli perumahan type kecil. Jangankan menerapkan fengshui, bisa bikin kamar mandi yang layakpun sudah syukur.
Ngobrol2 dengan teman kemaren yang mungkin paham dengan dunia fengshui, katanya kamar mandi mengandung makna fengshui yang mendalam terutama bagi yang sudah berkeluarga. Menurutnya, jika sebuah kamar ada kamar mandi dalamnya maka dari kacamata fengshui itu tidak bagus sama sekali terutama jika kamar itu ditempati oleh pasangan suami istri. Saya menjadi kaget. Benarkah? Bukankah kamar mandi dalam membuat hidup lebih nyaman? Kita tidak perlu repot2 keluar kamar lagi. Logikanya menurut dia adalah sebagai berikut: kamar mandi adalah tempat dimana air berada. Unsur air ini (baca: dingin) katanya tidak bagus untuk pasangan suami istri karena bisa membuat pasangan itu dingin dalam hubungan intim. Bahasa kasarnya, kamar mandi dalam bisa ‘menurunkan’ gairah pasangan suami istri karena ada hawa dingin dari unsur air yang terpancar dari kamar mandi dalam itu. Pancaran hawa dingin ini tentunya tidak diartikan secara harfiah melainkan dari kacamata fengshui.
Jadi, masih menurut sang teman, bagi pasangan suami istri sebaiknya menempati kamar yang tidak ada kamar mandi dalamnya. Jikapun sudah terlanjur, kamar mandi sebaiknya ditutup all the time dan pasangin korden untuk ‘menghambat’ pancaran dingin dari unsur air tersebut.
Agh, ada-ada saja! Bagaimana menurut Anda?
Posted in Intermezzo | 15 Comments
Sunday, June 22nd, 2008
Caribbean English, Ya Man!
Berikut ini beberapa slang Bahasa Inggris yang dipergunakan sebagai lingua franca di Caribbean khususnya daerah Bahamas. Thanks to my friend Bobo atas pinjaman t-shirtnya from which ide postingan ini muncul:
Bahamian English Plain English
hey mon? how are you?
everything cool fine, thanks!
pliz please
tanks thanks
tank you too you are welcome
dred dude
feelin-i feeling high
kerpunkle up severely intoxicated
muddoh wow
mudda-sik! holly sh*t
bubbies boobs
peas n rice boongy large buttocks
jook jab
we dun reech we have arrived
free passes still costs 10 bucks to get in
sale today regular prices
mussy must be
tingum thing
fishenin fishing
Posted in Intermezzo, Karibia | 9 Comments
Tuesday, May 13th, 2008
Gelang Uli Karibia, Ada yang Mau?
Saya yakin sebagian besar orang Bali (semua?) sudah familiar dengan gelang uli, atau paling tidak pernah melihat/mendengar tentang gelang uli tersebut. Gelang Uli terbuat dari akar/batang pohon uli yang sangat lentur dan tidak mundah patah dan umumnya berwarna hitam. Yang saya tahu bahasa Indonesianya adalah akar bahar.
Di Bali, gelang uli ini sangat populer karena dipercaya mempunyai khasiat tertentu misalnya penolak bala, penolak black magic (leak) dan bahkan dipercaya bisa menyeimbangkan molekul2 dalam tubuh manusia sehingga bisa mengurangi beberapa penyakit medis semacam sakit otot/sakit pinggang. Dulu yang memakai gelang uli ini biasanya anak kecil/bayi sebagai perlindungan spiritual dan juga paranormal namun sekarang sudah sangat lumrah di Bali penggunaannya. Bahkan sekarang design gelang uli sudah dicampur dengan logam mulia semacam emas sehingga menjadi artistik.
Harga gelang uli/bahan uli sangat mahal di Bali. Pernah dulu di banjar saya ada yang mendapat akar uli saat mancing di laut. Akar ulinya sangat special karena berwarna hijau (dikenal dengan nama uli gadang) dan laku dijual seharga Rp. 18 juta. Di pasar2 tradisional Bali, akar uli gadang dihargai sampai 3 juta per 1 cm (untuk mata cincin).
Nah yang membuat saya takjub adalah ternyata di Karibia banyak sekali bertebaran akar2 uli di pantai dan sama sekali tidak ada nilainya bagi orang lokal. Akar2 uli itu benar2 asli, original dan belum tersentuh dunia luar. Akibatnya bisa ditebak, teman2 dari Bali yang bekerja disini pada asyik berburu dan koleksi akar uli untuk dibawa pulang ke Bali. Seorang teman saya bahkan sampai ngalih dewasa ayu (cari hari baik) dulu sebelum berburu akar2 uli di pantai Karibian. Jenisnya beragam, ada uli hitam, uli putih dan juga uli gadang. Ada yang berminat?
Posted in Intermezzo, Karibia | 41 Comments
Monday, May 12th, 2008
Kain Sarung Milik Siapa?
Cash Cab adalah salah satu acara televisi favorit saya. Sebuah quiz yang bersetting di sebuah taxi di kota New York. Ben Beley, sang pembawa acara yang juga sekaligus sebagai pengemudi taxi Cash Cab itu, akan berkeliling kota New York dan mengambil penumpang secara acak. Begitu penumpang masuk ke dalam taksi maka akan dibuat surprise karena ternyata mereka otomatis jadi peserta quiz dan masuk TV.
Acara quiz yang ditayangkan Discovery Channel ini memang sangat menarik, terutama karena ada unsur reality shownya ditambah juga pertanyaan2nya yang memang bagus untuk nambah wawasan. Acara ini tak pernah saya lewatkan.
Beberapa hari yang lalu ada satu pertanyaan dan jawaban dalam acara ini yang membuat saya tergelitik. Kepada peserta, sang supir sekaligus pembawa acara ini bertanya sarung (sarong) itu sebenarnya dari mana dan pakaian tradisional negara apa. Peserta quiz itupun menjawab Malaysia. Saya yang sedari tadi nonton bareng istri tentu saja berteriak2 Indonesia. Sarung itu (kamen) berasal dari Indonesia. Ternyata saya salah, dikatakan jawaban yang benar adalah bahwa sarung itu officially berasal dari Malaysia dan memang merupakan pakaian tradisional mereka.
Yang benar yang mana? Punya Indonesia atau punya Malaysia? Jangan2 …
Posted in Intermezzo | 22 Comments
Monday, April 7th, 2008
Gaji Dollar, Mental Rupiah
Sekian lama menjadi bajak laut ada satu hal yang masih tidak berubah pada diri saya (belum?) yakni dalam hal pengelolaan uang. Hasil merompak tentu saja dalam bentuk US dollar yang jika dikonversikan ke mata uang rupiah nilainya akan jauh berbeda. Ternyata mental rupiah masih begitu kental melekat di otak. Akibatnya bisa ditebak, spending dollar dalam keseharian selalu saja dikait2kan dengan mata uang rupiah. Otak secara otomatis akan membandingkan, beli t-shirt misalnya seharga $ 70, langsung berfikir wah ini kalau di rumah 600 ribuan nih, bisa beli beras lima karung, misalnya.
Satu sisi, mental rupiah mungkin terkesan kurang gaul dan kurang mengglobal. Apalagi jika dikaitkan dengan pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, jadi jika gajinya dollar mental spending harus dollar juga, begitu nasehat beberapa teman. Bahkan ada yang menyebutkan jika bermental rupiah di luar negeri bisa dipastikan orang itu adalah fans beratnya Tukul alias katro. Saya jadi teringat pengalaman beberapa tahun lalu saat pertama kali ke luar negeri dan singgah di Heathrow London dimana selama beberapa jam di bandara saya tidak ikhlas untuk membeli sebotol air mineral kecil seharga 6 pounds. Saya langsung berfikir kalau di Bali, uang sebesar itu bisa membeli 5 galon besar air mineral. Parah memang, tapi itulah pengalaman pertama kali yang syukurlah tidak terulang lagi.
Begitu negatifkah jika bermental rupiah di luar negeri? Kurang global sih mungkin iya tapi saya pribadi mencoba membawanya ke dampak positif saja, sekalian untuk nyaruang (menyembunyikan) mental wong ndesonya. Mental rupiah membuat saya:
1. Menghargai nilai uang. Dengan selalu berfikir rupiah saya lebih bisa menghargai nilai uang pada sebuah barang atau jasa. Sebuah CD musik misalnya seharga $ 26 rasanya terlalu tinggi nilai uang (dollar) yang harus dibayarkan dibandingkan dengan beli CD musik di Bali.
2. Belajar Hemat. Mental rupiah ternyata sangat ampuh untuk menjadi sebuah rem sehingga penggunaannyapun bisa dikontrol dan tidak kebablasan. Dengan membandingkan dan otomatis berfikir ke rupiah, mau tidak mau saya menjadi berfikir beberapa kali sebelum memutuskan membeli sebuah barang/jasa.
3. Tidak termakan pepatah. Di Bali ada sebuah pepatah yg bilang (kalau tidak salah) gede ombak gede angin yang artinya kurang lebih income lebih besar maka spendingpun otomatis lebih besar pula. Memang benar, jika tidak hati2 gaji dollar seringkali membuat orang lupa diri sehingga bisa keluar jalur dan tidak ingat tujuan bekerja jauh2 di negeri orang.
Yang mengkawatirkan adalah jika sampai terjadi sebaliknya, gaji rupiah tapi mental dollar. Agh!
Posted in Intermezzo, Karibia, opini | 27 Comments
Thursday, April 3rd, 2008
Lupakan saja Grammar itu!
Sudah menjadi hal yang lumrah bahwa salah satu yang menjadi momok (terutama di kalangan pelajar/pemula) dalam mempelajari bahasa Inggris adalah masalah grammar. Entah memang karena grammarnya yang susah atau karena memang sudah termakan stereotype seperti itu atau bisa jadi dua-duanya. Bahkan di bangku kuliahpun grammar ternyata mengambil porsi SKS yang lumayan besar. Berguna memang tapi dalam sehari2 (baca: dunia kerja di pariwisata) rasanya kok jarang bergrammar ria karena kalau kelamaan mikir grammar, bisa2 malah tidak jadi keluar sepatah kata.
Hari ini saya merasa sedikit ‘terganggu’ tentang masalah grammar yang sangat super basic sekali. Adalah sebuah kuis di TV yang ditayangkan Fox Channel yang bertajuk Are you Smarter than 5th Grader?. Pesertanya dari kalangan umum dengan pertanyaan2 yang setara atau lebih rendah dari 5th grader (kelas 5 SD-kah?, rekan2 di Amrik tolong koreksi). Pesertapun didampingi oleh 5 orang 5th grader yang bisa dimintai bantuan. Kali ini pesertanya adalah seorang tamatan University of Arizona. Tibalah pada pertanyaan grammar untuk third grader yaitu What is the helping verb of the sentence below : Nathan is searching treasure in Mrs. Anu’s backyard.
Anak SD di Indonesiapun rasanya bisa jawab dengan mudah bahwa kata kerja bantu dari kalimat itu adalah is. Sungguh ajaib si peserta tamatan universitas amrik ini tidak bisa menjawab alias no idea at all dan malah menggunakan bantuan dari anak2 SD itu dan mereka tentu menjawab dengan benar. Saya hanya menghela nafas, come on, ini native speaker dan tamatan University of Arizona lagi dan itu pertanyaan untuk third grader. Tidak habis fikir saya, apa itu maen2 ya, sekedar drama? Agh mari kita lupakan grammar saja
Posted in Intermezzo | 35 Comments
Wednesday, March 5th, 2008
Catatan Kecil dari Hongkong
Beberapa waktu yang lalu saya sempat singgah di Hongkong (Kow Loon City). Betul, jelas bukan dalam rangka liburan tapi lebih karena memanfaatkan waktu jeda sehari sebelum melanjutkan perjalanan pulang kampung ke Bali, setelah sebelumnya datang dari Heathrow, UK. Memang begitulah nasib menjadi TKI dimana tiket pesawat sebisa mungkin yang termurah. Konsekuensinya adalah rute yang panjang kesana kemari dan jeda antara flight yang satu dan lainnya lumayan lama antara 8 jam sampai 24 jam. Tapi tidak apa2 juga lihat sisi positifnya saja, manfaatkan waktu extra untuk jalan2.
Pemandangan pertama yang saya perhatikan adalah bahwa tidak adanya unit2 rumah penduduk di seluruh pelosok kota. Tidak saya temukan adanya rumah2 stand alone yang berdiri. Yang ada hanya gedung2 tinggi skycraper. Saya tidak habis pikir, penduduknya pada tinggal dimana? Saya pikir gedung2 pencakar langit itu adalah tempat2 komersil atau perkantoran. Ternyata sebagian besar itu merupakan flat2/apartement penduduk kota. Dari informasi yang saya dapat, sangat sulit untuk bisa memiliki/membeli/membangun rumah biasa di Hongkong. Ada pembatasan yg ketat dari pemerintah. Hampir impossible, karena satu alasan: keterbatasan lahan. Bahkan pemerintah setempat terus berusaha melakukan reklamasi laut untuk membuat lahan baru. Saya jadinya bersyukur punya rumah dikampung lengkap dengan halaman dan benar2 berada di atas tanah (ground) dan bukan hidup di langit2 yg tinggi seperti penduduk Hongkong. Saya tidak bisa membayangkan hidup bertahun2 didalam flat ukuran 5 x 5 meter misalnya, dan berada di lantai 118. Selain tinggi2, juga berhimpitan antara gedung satu dengan yang lainnya.
Pemandangan aneh lainnya yang saya lihat adalah gaya fashion penduduk kota Hongkong. Tidak perduli tua atau muda. Tidak perduli mau ke mall atau hanya sekedar beli soto. Mereka selalu dan selalu berdandan super serious, dalam artian berpakaian yang maksimum. Yang muda2 heboh dengan mode terkini lengkap dengan gaya rambut aneh2 dan di cat warna warni sedangkan yg tua pada rapi persis seperti akan berangkat kerja. Saya merasakan ruwet dalam menjalani kehidupan seperti itu. Saat2 jalan2 di tengah kota, saya dan beberapa teman terlihat paling ‘aneh’ karena memang tidak blend dengan gaya berpakaian mereka. Satu lagi, cara jalan mereka sangat cepat dan selalu seperti terburu2.
Ada satu lagi yang membuat saya iri dan berhayal jika bisa diterapkan di Bali. Mereka selalu menggunakan huruf2/tulisan China pada setiap segi kehidupan baik itu informasi2 di tempat umum, nama2 gedung, jalan2, kantor2 dan semuanya, selalu pakai huruf2 asli mereka dan ditambah bahasa Inggris. Bahkan beberapa tempat umum seperti restoran memakai huruf2 itu semua sehingga saya sempat juga bingung mau pesan apa karena semua menu tertulis dengan huruf China. Di Bali saya rasakan masih belum maksimal, hanya pada tempat2 tertentu misalnya nama jalan dan tugu batas daerah. Agh, apa yang terjadi seandainya misalnya ada rumah makan di Bali yang menu2nya huruf2 aksara Bali semua? Bangkrut? ![]()
Posted in Intermezzo, Kabar-kabari | 26 Comments
Wednesday, February 27th, 2008
Meat in my Eyes
Bekal ijazah S1 bahasa Inggris saya ternyata tidak cukup untuk mampu berbicara secara fasih dan native di Karibia, terutama pada hal2 practical dan situasi2 pragmatis apalagi yang menyangkut bidang2 tertentu semacam bahasa2 teknik, hukum dan juga kedokteran. Haruskah bergelar PhD dalam bidang grammar bahasa Inggris? Tidak juga karena para ‘belonger’ (sebutan untuk orang lokal Karibia) sering sekali bahasa Inggrisnya aneh bin ajaib. Grammar basicpun tidak dihiraukan. Misalnya mereka sering berbicara sebagai berikut:
1. You don’t know me. You don’t know who I is. (is harusnya am)
2. She don’t go to the store. It don’t matter. (don’t harusnya doesn’t)
Dua hari yang lalu saya mendapat pelajaran berharga ttg bagaimana gobloknya saya dalam berbahasa Inggris terutama pada term2 teknis bidang kesehatan. Ceritanya saat itu saya pergi ke dokter di Providenciales (ibu kota Turks Caicos Island) untuk memeriksa mata. Dokternya native American dengan dua orang assisten satu dari Filipina dan satunya dari Dominica (kalau tidak salah). Heran juga saya karena ini kali pertama ke dokter di Karibia. Periksa mata kok prosedurnya kompleks sekali. Kalau hanya sekedar cek tensi dan timbang berat badan itu sih masih wajar, ini pakai diambil darah segala, lalu periksa pulse (detak jantung) dan juga diperiksa air kencing.
Untungnya si filipino nurse yang cantik itu baik hati dan mencairkan suasana sehingga tak terasa semua sudah komplit dan sekarang siap menuju ke ruang dokternya (btw, bahasa Inggris si filipino ini baguse sekali, hampir seperti native speaker, kalah jauh rasanya dengan nurse2 di Indonesia. Dokterpun bertanya dan saya awalnya lancar2 saja menjelaskan keluhan2 di mata saya misalnya sering sekali perih dan kemerahan. Tibalah saya pada puncak keluhan yaitu ada sedikit gumpalan pada bagian putih mata saya. Saya mau bilang, ada seperti daging tumbuh pada mata saya. Tanpa fikir panjang sayapun berujar, “hmm anu doc, I feel that there is meat in my eyes”. Whatzz! Dokternya kaget dan bingung. Setengah bercanda dia kembali bertanya “What kind of meat? pork or beef?” Duh malunya! Si dokterpun menjelaskan lebih lanjut sambil memeriksa dan dibilang itu ada semacam tissue yang infeksi. Dalam hati saya bergumam, ni dokter scam juga , masak dibilang ada tissu dimata saya. Memangnya saya buang tissue di mata
Posted in Intermezzo, Karibia | 25 Comments
Friday, February 15th, 2008
T-Shirt ‘Husband Wife’
Design kaos ‘husband-wife’ ini terinspirasi pada saat saya dan istri transit di bandara Heathrow London. Sepasang suami istri yang nampaknya penganten baru nampak kompak dan cool habis mengenakan kaos tersebut. Ketika mereka berjalan di lorong2 bandara, tampak semua mata memandang sambil tersenyum
Akhirnya saya bikin juga kaos seperti itu di Bali tepatnya di Sidharta Konveksi. Bikinnya minimal 16 pcs katanya, seharga 700 perak. Saya buat dua warna favorit kami yaitu hitam putih. Mungkin ini bisa disebut narsis pernikahan ya tapi rasanya cool aja. Kaos2 inipun saya bawa sampai di Karibia. Foto diatas adalah foto kami berdua pada saat pesta Natal. Banyak co-worker yang tertarik dengan kaos itu, bahkan sampai2 saya dipanggil ‘husband’ dan istripun dipanggil wife
Bagi yang sudah berkeluarga, rasanya kaos ini layak dicoba
Bagi yang masih lajangpun bisa, mungkin sedikit dimodifikasi sablonannya, dijamin adem
Posted in Intermezzo | 31 Comments










New Comments