Archive for the ‘Kabar-kabari’ Category

Wednesday, July 23rd, 2008

Arsitek Bali di Karibia

Satu lagi kiprah orang Bali di luar negeri yang membuat saya bangga sebagai orang Bali. Adalah tayangan di Travel Channel yang berjudul Owned Islands, sebuah acara TV yang berisi listing pulau-pulau terkenal yang dimiliki secara pribadi di seluruh belahan dunia termasuk Karibia yang ternyata mendominasi kepimilikan pulau2 pribadi. Kenapa Karibia? Selain faktor keindahan pantai dan mudahnya birokrasi pembelian pulau, faktor pentingnya adalah karena jaraknya yang dekat pusat kapitalis Amerika. Negara2 yang masuk kawasan Karibia bisa dilihat disini.

Salah satu pulau yang masuk dalam daftar tersebut adalah Necker Island yang  terletak di British Virgin Island. Luas pulau tersebut hanyalah 74 acre dengan sebuah resort pribadi yang berdiri diatasnya. Pemilik pulau pribadi tersebut adalah Sir Richard Branson, yang punya Virgin Airlines dan juga raksasa industri Virgin Music di US sana. Yang cukup mengesankan adalah resort pribadi tersebut bergaya 80% nuansa Bali yang tentu saja diarsiteki oleh orang Bali. Sayang dalam narasinya tidak disebutkan nama, hanya disebut Balinese architect. Memang dalam tayangan itu jelas sekali terlihat gaya Balinya baik dari segi bentuk bangunan, atap maupun dari segi landscaping, plus tentunya patung2 batu yang banyak dijumpai di daerah Gianyar. Bahan2pun langsung didatangkan dari Bali.

Mau liburan ke sana? Harganya ‘hanya’ $56.000 sehari (akomodasi tok, excluding makan dll). Bookingnya yang susah. Pulau tersebut sudah fully booked untuk 10 tahun ke depan. Jadi kalau mau liburan ke sana tahun 2018, harus booking dari sekarang. Saya hanya wonder, dengan level seperti itu, kira2 bagaimana bayaran arsitek dari Bali itu?

Posted in Kabar-kabari, Karibia | 18 Comments

Sunday, June 1st, 2008

Nama BALI dibajak Pakaian Dalam

Setelah kemaren2 sempet terusik dengan penggunaan simbol2 Hindu di pakaian2 yoga para bule, akhir2 ini saya kembali merasa terganggu dengan sebuah iklan pakaian dalam termasuk bra, underwear dan sejenisnya. Adalah channel2 TV barat yang lagi gencar2nya menayangkan iklan tersebut semisal ABC, FOX News, National Geographic, MTV dan lain lain. Iklan pakaian dalam itu mengambil nama BALI sebagai trade mark mereka. Lihat saja slogan mereka: BALI: Bali Bra, Panties and Shapewear. Situs perusahaan pakaian dalam ini bisa dilihat di www.balicompany.com

balibra.JPG

Nama BALI juga sudah dikasi tanda copy right yang berarti sudah dipatenkan. Bagaimana perasaan Anda misalnya jika melihat iklan seperti itu di TV? BALI, pakaian dalam yang hebat atau misalnya INDONESIA, obat kuat bagi pria jantan.

Lalu nama Bali milik siapa? Kita yang nyontek dari mereka atau mereka yang terinspirasi dari nama Pulau Bali (yang notabene sudah terkenal mancanegara)? Atau hanya kebetulan saja? Atau mereka nebeng biar cepat familiar dan terkenal? Saya sendiri tidak tahu pasti bagaimana sejarah nama Pulau Bali, yang pasti Pulau Bali sudah ada sejak dulu kala dan kecil kemungkinan kita yang nyontek dari mereka. Apakah ini bisa dimasukkan kategori pelecehan psikologi dan pencemaran nama BALI?

Mari kita boikot produk mereka!

Posted in Kabar-kabari | 25 Comments

Saturday, May 31st, 2008

BeritaBali.com Kena Deface

BeritaBali.com, salah satu situs berita favorit saya, kena deface oleh seorang/sekelompok cracker yang bernama Crackers_Child. Pesan yang ditampilkan tidak bisa dimengerti karena bahasa yang dipakai juga aneh, tidak jelas bahasa apa. Hingga posting ini dipublish May 31, 2008 GMT-5 @ 4 pm, situs BeritaBali.com masih belum bisa diakses. Ini skrinsyutnya (klik gambar to enlarge):deface.JPG

Posted in Kabar-kabari | 15 Comments

Friday, May 2nd, 2008

Insiden SIM Indonesia di Karibia

Mau nyetir mobil di luar negeri? Sangat dianjurkan untuk memastikan terlebih dahulu dengan polisi setempat apakah SIM A Indonesia berlaku disana. Jika anda nekat maka siap-siap saja berurusan dengan polisi disana yang kayaknya sama sekali tidak bisa di sogok. Masing-masing negara mempunyai aturan yang berbeda-beda regarding bisa atau tidaknya SIM Indonesia digunakan di negara tersebut.

Selama di Karibia (Turks Caicos Island) saya tidak mengetahui bahwa sebenarnya SIM Indonesia hanya berlaku selama enam bulan, setelah itu kita harus nyari SIM lokal dengan biaya sebesar USD 150. Kabar burung yang saya dengar selama tiga tahun terakhir ini adalah bahwa SIM Indonesia berlaku terus selama SIM itu tidak mati tanggalnya makanya sayapun dulunya dengan PD selalu nyewa mobil pas jalan2 ke kota (downtown). Asyiknya lagi perusahaan rent carnya tidak tahu mana SIM C atau SIM A. Mungkin juga mereka tidak perduli as long as as dagangan mereka laku.

Sampai pada insiden beberapa waktu lalu saat berkendara bersama beberapa teman di kota. Beberapa polisi menghentikan mobil kami dan menanyakan surat2 dan tentu saja SIM. Sang teman yg kebetulan nyetir mengeluarkan SIM Indonesia dan dikatakan NO WAY. Mereka galak sekali karena mengetahui bahwa kami sudah beberapa tahun di sana tapi tidak mengetahui peraturan bahwa SIM Indonesia hanya berlaku enam bulan saja sejak kedatangan pertama. Lalu kamipun ditanya work permit dan bisa ditebak, tidak ada yang bawa alias memang selalu tersimpan di kamar. Mereka tambah marah dan siap2 untuk menyita mobil dan interogasi lebih lanjut. Believe me, berurusan dengan polisi di negeri orang jauh lebih mengerikan daripada di Indonesia. Akhirnya sebuah keajaiban kecil menolong kami, ketika kami tunjukkan ID Card tempat kami kerja, para polisi itu tiba2 cooling down dan berkata “Oh Parrot Cay hah, OK you free to go”.

Jika dipikir2 sebenarnya insiden itu tidak perlu terjadi jika saja kami:
1. Mengetahui dan memahami tanda2 lalu lintas di parkiran, mana keluar mana masuk, mana one way mana dua arah.
2. Mengemudi dengan ‘normal’ dan tidak bermental ‘kampungan’. Pada umumnya orang Indonesia itu akan keluar gayanya jika sudah bawa mobil: musik keras2 lalu buka jendela lagi, bikin ribut suasana parkiran.

Posted in Kabar-kabari, Karibia, Personal Stories | 1 Comment

Wednesday, March 26th, 2008

And the Winners are:

1. Arya (mankarya.co.nr)
2. Febra (lintaskata.wordpress.com)
3. Widi (gexindi.blogspot.com)
4. Ribeka (winardi.wordpress.com)
5. Paramarta (thinkrecorder.wordpress.com)

Pemenang diharapkan mengirim email kepada saya ke sini dengan subject ‘pemenang quis Devari’ dan tuliskan nama domain yang diinginkan. Email pengirim haruslah sama dengan dengan email yang dipakai pada waktu ikutan quiz DevaRi. Ditunggu paling lambat tgl 28 maret 2008 waktu karibia GMT-5. Jika terlambat hadiah akan diberikan kepada peserta lainnya.

Terima kasih. Tunggu upcoming DevaRi quiz next time :)


Posted in Kabar-kabari, blogging | 22 Comments

Tuesday, March 25th, 2008

Kilas Balik Quiz DevaRi

Akhirnya tiba juga saat yang ditunggu2 oleh para peserta quis DevaRi kemarin. Terus terang saya agak kebingungan untuk menentukan pemenang siapa yang beruntung kali ini. Walau sudah saya tekankan bahwa ini hanya sekedar fun tapi kawatir juga nanti ada persepsi bahwa saya pilih kasih atau gimana dalam menentukan lima orang yang beruntung itu. Makanya saya mohon maaf jika ada yang merasakan atmosfer itu, maksud hati sama sekali tidak demikian. Memang unsur subyektifitas tidak bisa saya lepaskan karena memang ini acara personal saya dan bukan dari organisasi sosial. Jadi tidak ada juri2an yang serious semua semata2 my own decision yang secara umum dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya ‘chemistry’ yang saya rasakan dari komentnya, belum mempunyai domain sendiri, readership terhadap blog ini (halah) dll.

Tengkyu beraaat juga atas partisipasi teman2, asyik juga membaca kesan pesannya terhadap blog saya. Ada yang bikin saya senyum dan ada juga yang membuat dahi saya berkerut memikirnya. Pokoknya seru, had a lot of fun reading it. Maaf, tidak bisa saya komentari satu persatu, beberapa misalnya :

Dari Kania :

“karena tiang sangat sayang ma devari.org, makanya tiang nulis ini wkakakkaka…… kalau bisa seimbang mengangkat tema budaya, adat istiadat Bali, dan sisi lain kehidupan-nya. Mungkin budaya Bali yang tersohor ke seluruh penjuru Dunia punya sisi negatif tapi toh juga nga bisa dipungkiri banyak sekali nilai2 positifnya. Jadi karena tiang belum lihat tulisan bli yang mengangkat nilai positif-nya, itu menjadi kritikan utama”

Hah sempat GR juga membaca ‘karena tiang sayang ma devari..”.Hehe, kirain ga ada .org nya, kirain sayang sama saya huahua. Kayaknya benar juga ya selama ini porsi postingan saya cenderung lebih banyak yang negatif. Bukan bermaksud ngangkat2 negatif gitu sebenarnya, tetapi lebih kepada sebuah usaha untuk mengangkat ini ke permukaan sehingga paling tidak kita orang2 Bali sadar secara seimbang bahwa ditengah gelimang adi luhung budaya ini masih ada kerikil2 yang perlu kita singkirkan karena bisa natuin. Kritik dari orang Bali sendiri (saya) rasanya cukup fair untuk memulainya dibandingkan jika orang lain yang duluan mengkritik. Di samping itu, untuk yang condong positif, sudah ribuan jumlahnya di internet, buku2 dll. Tengok saja web2 komersil yang bertopengkan artikel2 budaya Bali. Saya hanya ingin mengemukakan sesuatu yang opposite sehingga saya harapkan bisa memberi nilai tambah, tentunya dengan keterbatasan dan subyektifitas seorang devari.

Dari Widi :

“banyakin posting tentang keluarga, yah..pengen tau dong gimana memen devari dan perkembangan devari sapa tau jadi tempat shering perkembangan anak.”

Dari Lode :

“blog ini sangat egois karena make trade mark devari tanpa pernah mengapresiasi yang punya nama. masuk kategori bullying”

Duh, agak sedih juga karena jadi terus teringat putri tercinta yang sekarang ada di Bali bersama nenek/kakeknya. Memen devari baek2 saja di karibia sini tapi karena kesibukannya sebagai ibu pirates sehingga kurang begitu tertarik dengan dunia blogging. Tapi dia termasuk salah satu pembaca paling loyal blog ini dan beberapa blog teman2 saya. Thanks Widi atas atensinya mungkin kita bisa share di Bali nanti setelah kami pensiun dari dunia pirates.

Lode, penggunaan nama devari untuk domain sebenarnya adalah appresiasi yang eternal dari kami kepada putri saya Devina Ananda Perdari a.k.a Devari. Sayangnya saya tidak mempunyai cerita2 drama keseharian sebagai orangtua ttg Devari karena kami di Karibia dan dia di Bali. Bertemu setahun sekali selama 5 mingguan. Ingin rasanya juga bisa berbagi tentang gimana dunia parenting itu, apa daya belum bisa karena sebuah pilihan hidup untuk saat ini. Ada harga yang teramat sangat mahal yg harus kami bayar dengan pilihan ini, yaitu kehilangan beberapa moment penting dengan anak. Kami hanya mencoba menghibur diri dan menemukan sebuah excuse, untuk dia juga.

Dari Arya:

“satu saran dari saia bli, jangan takabur dan jangan lupa asal kita huhuhuh.dan tetep jadi blogger yang mau komen di blog kacangan seperti saia (karena blogger yang udah high level udah males ma macam blogger kacangan)segitu saja bli”

Ini dia buddy yang terus ‘menemani’ saya dari zaman blogpsot, wp sampai sekarang. Saya pribadi sama sekali tidak pernah mengganggap bahwa ada blog kacang, jagung dan biji2an lainnya. Semua ada proses belajarnya. Jikapun saya tidak bisa berkunjung balik ke semua blog, ada beberapa hal yg menyebabkan misalnya karena kesibukan kerja, punya dua blog dan juga karena saya menganut prinsip equalitas dalam dunia blogging. Bagi saya blogger itu mestinya menerapkan sistem menulis dan membaca. Ngeblog tidak semata2 hanya sekedar menulis dan take care blog sendiri tapi juga harus berani menyisihkan waktu untuk membaca blog orang lain sehingga tercipta jaringan pertemanan dan prinsip keseimbangan. Kira2 bahasa literalnya ‘kamu baca tulisanku, aku baca tulisanmu’. Seperti yang dibilang blog ini :

“If you want others to know about your site, read their works and try to comment if you can. Remember, if it only took you a couple of seconds to drop by on a blog, expect that they will also do the same on yours. Try to pitch in the extra effort and those bloggers would see that you are a person worth visiting

Dari Paramarta :

“trus sarannnya tiyang menyukai topik yang diangkat ttg bali. menampilkan kebudayaan, prilaku, sentuhan bahasa dari orang bali sendiri. tapi kalo berubah tiyang nggak mendukung lo”

Terima kasih atas appresiasinya, sebenarnya saya tidak ada target2an untuk focus pada satu hal tertentu. Namanya juga blog personal, seperti pada disclaimer saya, jadi isinya bisa macam2 tergantung apa yg terjadi disekitar saya. Jadi jangan terlalu expect sesuatu yg sempurna pada blog ini. Blog orang2 terkenal bahkan berani memproklamasikan kemerdekaan blog mereka karena banyaknya pembaca yang ingin dia posting topik tertentu.

Dari si dokter berselendang :

“tulisan2 bli made ngga kalah ama karya para sastrawan, jurnalis ato seleb blog lainnya..kl tdk mau dikatakan lebih baik (jujur niki bli..), mudah dicerna, lugas, tegas.”

Wakakak, ini asli komentar scam tp membuat saya tertawa habis. Sastrawan euuyy! LOL.

Sedangkan Sakti, BlogDokter dan juga Febra mempunyai kesan2 yg hampir serupa, keep your style, your color dan katanya ini sudah menggambarkan siapa devari itu.

Maaf tidak bisa disebutkan satu persatu nanti terlalu panjang. Sekali lagi terima kasih atas segala appresiasinya. Pengumuman pemenang akan diadakan besok tgl 26 Maret 2008 waktu Karibia GMT-5.


Posted in Kabar-kabari, blogging | 21 Comments

Saturday, March 22nd, 2008

Welcome to the Club!

Turut berbahagia dan selamat menempuh hidup baru buat sahabat tercinta, Ms. Liliani. Semoga kebahagiaan selalu menyertai di setiap langkah kalian berdua. Welcome to the Club!

undangan-wira-lili1.gif

undangan-wira-lili2.gif

Posted in Kabar-kabari | 21 Comments

Thursday, March 6th, 2008

Nyepi, Maafkan Aku!

nyepi.jpg

Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Nyepi bagi teman2 yang merayakannya. Sayang sekali karena situasi dan kondisi, maka saya tidak bisa melaksanakan salah satu pantangan/puasa dalam Hari Raya Nyepi tersebut yaitu tidak boleh bekerja. Saya tetap harus bekerja karena berada di negeri orang. Ijinkanlah saya mohon maaf pada Tuhan, Hari Nyepi itu sendiri, dewa dewi, Ida Bhatara2 dan semua yg tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Again, I am sorry ya Tuhan. Semoga maklum. Lalu langitpun mendung, gemuruh menggelegar, kilat menyambar2 dan sayup2 terdengar suara Tuhan “Baiklah anak-Ku, it’s alright”. Saya lalu bertanya lagi. Tuhan, apakah boleh ngeblog di hari raya Nyepi? :)

Posted in Kabar-kabari | 26 Comments

Wednesday, March 5th, 2008

Catatan Kecil dari Hongkong

Beberapa waktu yang lalu saya sempat singgah di Hongkong (Kow Loon City). Betul, jelas bukan dalam rangka liburan tapi lebih karena memanfaatkan waktu jeda sehari sebelum melanjutkan perjalanan pulang kampung ke Bali, setelah sebelumnya datang dari Heathrow, UK. Memang begitulah nasib menjadi TKI dimana tiket pesawat sebisa mungkin yang termurah. Konsekuensinya adalah rute yang panjang kesana kemari dan jeda antara flight yang satu dan lainnya lumayan lama antara 8 jam sampai 24 jam. Tapi tidak apa2 juga lihat sisi positifnya saja, manfaatkan waktu extra untuk jalan2.

Pemandangan pertama yang saya perhatikan adalah bahwa tidak adanya unit2 rumah penduduk di seluruh pelosok kota. Tidak saya temukan adanya rumah2 stand alone yang berdiri. Yang ada hanya gedung2 tinggi skycraper. Saya tidak habis pikir, penduduknya pada tinggal dimana? Saya pikir gedung2 pencakar langit itu adalah tempat2 komersil atau perkantoran. Ternyata sebagian besar itu merupakan flat2/apartement penduduk kota. Dari informasi yang saya dapat, sangat sulit untuk bisa memiliki/membeli/membangun rumah biasa di Hongkong. Ada pembatasan yg ketat dari pemerintah. Hampir impossible, karena satu alasan: keterbatasan lahan. Bahkan pemerintah setempat terus berusaha melakukan reklamasi laut untuk membuat lahan baru. Saya jadinya bersyukur punya rumah dikampung lengkap dengan halaman dan benar2 berada di atas tanah (ground) dan bukan hidup di langit2 yg tinggi seperti penduduk Hongkong. Saya tidak bisa membayangkan hidup bertahun2 didalam flat ukuran 5 x 5 meter misalnya, dan berada di lantai 118. Selain tinggi2, juga berhimpitan antara gedung satu dengan yang lainnya.

hongkong1.jpg

Pemandangan aneh lainnya yang saya lihat adalah gaya fashion penduduk kota Hongkong. Tidak perduli tua atau muda. Tidak perduli mau ke mall atau hanya sekedar beli soto. Mereka selalu dan selalu berdandan super serious, dalam artian berpakaian yang maksimum. Yang muda2 heboh dengan mode terkini lengkap dengan gaya rambut aneh2 dan di cat warna warni sedangkan yg tua pada rapi persis seperti akan berangkat kerja. Saya merasakan ruwet dalam menjalani kehidupan seperti itu. Saat2 jalan2 di tengah kota, saya dan beberapa teman terlihat paling ‘aneh’ karena memang tidak blend dengan gaya berpakaian mereka. Satu lagi, cara jalan mereka sangat cepat dan selalu seperti terburu2.

Ada satu lagi yang membuat saya iri dan berhayal jika bisa diterapkan di Bali. Mereka selalu menggunakan huruf2/tulisan China pada setiap segi kehidupan baik itu informasi2 di tempat umum, nama2 gedung, jalan2, kantor2 dan semuanya, selalu pakai huruf2 asli mereka dan ditambah bahasa Inggris. Bahkan beberapa tempat umum seperti restoran memakai huruf2 itu semua sehingga saya sempat juga bingung mau pesan apa karena semua menu tertulis dengan huruf China. Di Bali saya rasakan masih belum maksimal, hanya pada tempat2 tertentu misalnya nama jalan dan tugu batas daerah. Agh, apa yang terjadi seandainya misalnya ada rumah makan di Bali yang menu2nya huruf2 aksara Bali semua? Bangkrut? :)

Posted in Intermezzo, Kabar-kabari | 25 Comments

Monday, March 3rd, 2008

Negara Tanpa Traffic Light

bundaran.JPG

Ada satu fenomena menarik yang saya temukan di Turks Caicos Island (TCI), negara tempat saya bekerja sekarang, yaitu pada sistem transportasi mereka khususnya dalam hal peraturan berlalu lintas di jalan raya. Bisa jadi TCI mungkin merupakan satu2nya negara di kawasan Karibia bahkan di dunia, yang sama sekali tidak menerapkan sistem traffic light baik itu jalan utama (highway) maupun jalan2 biasa. Tidak ada satupun traffic light di seluruh jalan2 di negeri ini. Sekedar informasi, TCI masih merupakan koloni Inggris akan tetapi seluruh kegiatan perekonomiannya berkiblat ke USA termasuk digunakannya US dollar sebagai mata uang resmi. Penduduk aslinya terkenal dengan sebutan ‘belonger’ namun pendatangnya juga banyak yang berasal dari Haiti, Bahamas, Dominican dan sekitarnya.

Bagaimanakah mereka mengatur lalu lintas tanpa traffic light? Disetiap bundaran/perempatan/perlimaan/simpang enam, diterapkanlah peraturan yang disebut ‘give way’ (terjemahan kasarnya: berikan jalan) atau sering juga disebut ’roundabout’. Intinya setiap kendaraan yang tiba di persimpangan/bundaran harus memberikan jalan kepada kendaraan yang datang dari sebelah kanannya untuk lewat terlebih dahulu. Tidak perduli bagaimana ramainya sebuah bundaran, kita hanya konsentrasi pada kendaraan yang datang dari arah kanan kita karena yg ada disebelah kiri sudah pasti akan diam dan memberikan kita jalan terlebih dahulu. Disiplin mereka sangat jauh lebih bagus dibandingkan lalu lintas kita di Indonesia/Bali sehingga arus kendaraanpun lancar. Selain disiplin yang bagus, mungkin juga disebabkan karena tidak adanya sepeda motor seperti di Indonesia yang jumlahnya sudah kayak semut.

Lalu sayapun jadinya berandai2, bisakah sistem ‘give away’ ini diterapkan di Bali/Indonesia? Bagaimanakah wajah lalulintas kita seandainya tidak ada lampu merah di jalan2 kita? Berikut ini beberapa skenario seandainya sistem itu kita terapkan:

1. Setiap bundaran/perempatan/simpang enam dll akan menjadi tempat ajang kekuatan klakson2 mobil dan motor. Mereka akan berlomba2 saling memperbesar klakson karena pasti akan berguna untuk ‘menghalau’ kendaraan lainnya.

2. Setiap persimpangan/bundaran dll akan menjadi ajang tawuran umum bagi pengendara karena sudah pasti tidak akan yang mau mengalah, dan perang mulutpun akan terjadi. Pasti? Karena sekarang saja dengan adanya lampu merah masih saja dilanggar dan susahnya lewat di tempat2 seperti simpang siur, perempatan matahari dll.

3. Tanda lalu lintas ‘give way’ akan diganti menjadi ‘take way’ karena semua pengendara pasti maunya akan mengambil jalan dan bukan memberi jalan.

4. Omzet pengemis, pedagang acung dan dagang koran eceran meningkat karena dapat dipastikan macetnya kelamaan sehingga waktu belanja dan baca koran menjadi bertambah di tiap2 perempatan

5. Angka kematian bertambah karena akan sering terjadi ‘palu jangkrik’ di tiap2 perempatan.

Ada yang mau menambahkan? :)


Posted in Kabar-kabari, Karibia | 35 Comments

Sunday, March 2nd, 2008

Tuhanku Ada di Celanamu

aumpant.jpg

Saya bukanlah Hindu garis keras (memang ada ya?) juga bukan Hindu sayap kiri, atau Hindu Protestant. Saya hanya penganut Hindu biasa2 saja. Bagi saya agama hanya adalah cara hidup yang diyakini seseorang dalam hubungannya dengan Tuhan, tidak perduli apakah agama itu merupakan suatu pilihan atau karena memang sudah dipilihkan oleh orang tua kita, as long as it works dalam hidup saya, ya sudah. Namun akhir2 ini saya sedikit merasa terusik tergelitik melihat trend yang berkembang dikalangan bule2 di dunia barat. Trend yang berkembang adalah penggunaan sablon2 huruf suci agama Hindu AUM/OM pada fashion mereka entah itu baju, celana dan bahkan sandal. Rasanya aneh juga dan merasa tidak karuan melihat pemandangan seperti itu.

Saya yakin mereka tidak ada maksud sedikitpun untuk melecehkan suatu agama. Bahkan mereka sendiri tidak tahu bahwa simbol yang ada di celana mereka adalah aum/om yaitu aksara suci dalam Hindu yang melambangkan manifestasi tiga dewa: Brahma, Wisnu dan Siwa. Bagi mereka itu hanyalah sebuah simbol atau lambang biasa seperti halnya simbol2 komersil lainnya semacam D&G, Armani dll. Pernah saya iseng ngobrol dan bertanya sama bule, “Tuhanku ada dicelanamu loh”, dan benar saja, mereka surprised dan sama sekali tidak tahu itu adalah aksara suci dalam Hindu.

Biasanya simbol aum/om itu ada pada pakaian2 yang khusus mereka gunakan untuk mengikuti kelas2 yoga. Yoga disini bukanlah maksudnya yang berhubungan dengan bertapa2 begitu tapi lebih seperti senam2 biasa/gerakan tubuh tertentu untuk mencapai keharmonisan jiwa dan raga, katanya. Kelas2 yoga biasanya juga menyertakan sedikit teori2 yang berhubungan dengan yoga itu sendiri termasuk aum/om tersebut dan sama sekali tidak menyinggung sangkut paut dengan agama Hindu. Bahkan ketika mereka memakai istilah Ayur Vedic (Ayur Weda), juga jauh dari kesan bahwa Ayur Vedic itu ‘milik’ Hindu.

Lalu bisakah trend ini disebut sebagai sebuah pelecehan agama? Entahlah. Sejauh ini saya bawa ke positifnya saja, anggap saja sebagai sebuah peringatan pribadi. Sebagai pengingat saya secara tidak langsung. Dengan melihat bule2 yang lalu lalang pakai celana dan kaos aum/om, secara tidak langsung sebuah peringatan terhadap saya untuk lebih rajin sembahyang.

Posted in Kabar-kabari, Karibia | 38 Comments

« Older Entries