Archive for the ‘Karibia’ Category

Wednesday, August 6th, 2008

Mudahnya Cari Kartu Kredit di Karibia

Pernah mengalami susahnya apply kartu kredit di Indonesia? Susahnya terutama dalam hal birokrasi yang berbelit-belit dan tenggang waktu yang tidak jelas. Susahnya akan berlipat-lipat jika yang apply adalah kuli2 yang bekerja di luar negeri, kecuali punya orang dalam dan atau deposit mengendap. Bank-bank di Indonesia menganggap kita ‘pengangguran’ karena tidak punya surat kerja/slip gaji di dalam negeri. Demi keamanan, mereka tidak perduli walau sudah punya surat2 lengkap dari tempat kerja di luar negeri. Setiap mudik ke Bali saya selalu mencoba apply kartu kredit namun tidak pernah ada kabar berita dari bank sampai waktunya saya berangkat lagi (liburan kurang lebih 5 mingguan). Nasib-nasib!

mastercard-scotia.JPG

Ternyata cari kartu kredit di luar negeri itu jauh lebih gampang daripada di Indonesia. Tidak berbelit-belit dan super cepat. Kemarin saya mendapat kartu kredit Mastercard dari Scotiabank (scotiabank.com), sebuah bank internasional berpusat di Kanada yg juga merupakan bank kedua terbesar di Turks and Caicos Island. Syaratnya simple; passport, work permit, slip gaji plus surat keterangan dari Personalia. Hanya memakan waktu 8 hari, kartu kredit sayapun jadi dengan limit US $2000. Not bad!

Satu hal yang mendorong saya apply kartu kredit adalah biar bisa membuat acccount paypal. Tidak enak terus menerus nebeng dan merepotkan teman yang satu ini. Mudah-mudahan SR saya semakin lancar sehingga pundi2 dollar tetap mengalir ke account paypal saya. Di samping itu juga untuk gaya-gayaan, biasalah typical mental kuli2 Indonesia yang bekerja di luar negeri.

Posted in Karibia | 24 Comments

Wednesday, July 23rd, 2008

Arsitek Bali di Karibia

Satu lagi kiprah orang Bali di luar negeri yang membuat saya bangga sebagai orang Bali. Adalah tayangan di Travel Channel yang berjudul Owned Islands, sebuah acara TV yang berisi listing pulau-pulau terkenal yang dimiliki secara pribadi di seluruh belahan dunia termasuk Karibia yang ternyata mendominasi kepimilikan pulau2 pribadi. Kenapa Karibia? Selain faktor keindahan pantai dan mudahnya birokrasi pembelian pulau, faktor pentingnya adalah karena jaraknya yang dekat pusat kapitalis Amerika. Negara2 yang masuk kawasan Karibia bisa dilihat disini.

Salah satu pulau yang masuk dalam daftar tersebut adalah Necker Island yang  terletak di British Virgin Island. Luas pulau tersebut hanyalah 74 acre dengan sebuah resort pribadi yang berdiri diatasnya. Pemilik pulau pribadi tersebut adalah Sir Richard Branson, yang punya Virgin Airlines dan juga raksasa industri Virgin Music di US sana. Yang cukup mengesankan adalah resort pribadi tersebut bergaya 80% nuansa Bali yang tentu saja diarsiteki oleh orang Bali. Sayang dalam narasinya tidak disebutkan nama, hanya disebut Balinese architect. Memang dalam tayangan itu jelas sekali terlihat gaya Balinya baik dari segi bentuk bangunan, atap maupun dari segi landscaping, plus tentunya patung2 batu yang banyak dijumpai di daerah Gianyar. Bahan2pun langsung didatangkan dari Bali.

Mau liburan ke sana? Harganya ‘hanya’ $56.000 sehari (akomodasi tok, excluding makan dll). Bookingnya yang susah. Pulau tersebut sudah fully booked untuk 10 tahun ke depan. Jadi kalau mau liburan ke sana tahun 2018, harus booking dari sekarang. Saya hanya wonder, dengan level seperti itu, kira2 bagaimana bayaran arsitek dari Bali itu?

Posted in Kabar-kabari, Karibia | 21 Comments

Tuesday, June 24th, 2008

Emotional Bank Account

Dua hari ini saya mengikuti human resources development training di tempat bekerja. Sejujurnya, rada malas juga mengikuti motivational training karena pengalaman di Bali, training2 semacam itu biasanya membosankan dan membuat mata beratnya lima kilo. Tapi training kali ini membuat saya penasaran juga karena ini untuk pertama kali ikut dan juga dengan embel2 trainer internasional yang juga mantan penyiar stasiun TV abc. There must be something special about this person yang akan di-offer.

Ternyata metode2 trainingnya sangat membuat suasana menjadi hidup dan kocak habis. Waktu training dari jam 7 pagi sampai 3 sorepun tidak terasa. Satu hal yang menonjol saya rasakan adalah adanya atmosfir kebebasan dalam session training. Trainernya open minded habis dan selalu membuat suasana menjadi segar. Juga cara penyampaiannya yang penuh dengan kondisi horizontal, dalam artian dia memposisikan diri satu level dengan para peserta sehingga apa yang disampaikan mudah masuk. Tidak ada kesan vertical, apalagi menggurui dan sok tahu. Ada satu materi yang ingin saya bagi disini, yang mungkin bisa menjadi sumber inspirasi yaitu tentang emotional bank account. Katanya, kecerdasan emotional kita bisa diibaratkan sebagai sebuah rekening tabungan di bank. Ada sifat2 yang masuk kategori versi menabungnya/deposit (yang berarti rekening tabungan kecerdasan emosi kita bertambah) dan ada juga beberapa karakter yang bisa dimasukkan kategori withdrawal yang membuat tabungan kecerdasan emosi menjadi berkurang, bahkan habis jika kesalahan2 itu dilakukan terus menerus. Kedelepan faktor itu adalah sebagai berikut:

1. Deposit: always seek to understand first. Withdrawal: assume to understand. Yang manakah yang paling sering anda lakukan? deposit atau withrawal? Dalam interaksi sosial dengan sesama, biasanya kita cenderung selalu take for granted seseorang. Tidak benar2 memahami duduk masalah sebelum mengambil keputusan akan tetapi tinggal assume saja. Karena apa? Assume to understand lebih gampang dilakukan tidak memerlukan pertimbangan matang dan assume biasanya sering dipengaruhi oleh faktor feeling.

2. Deposit: Show kindness, respectful. Withdrawal: Show unkindness, disrespectful.

3. Deposit: Keeping promises. Withdrawal: Breaking promises. Hati2 mengucapkan ’saya berjanji..’. Tidak bisa memenuhi janji akan menguras tabungan kecerdasan kita yang nantinya bisa mengarah kepada hilangnya kepercayaan orang terhadap kita.

4. Deposit: Always Loyal to the absent. Withdrawal: bad mouth, gossiping. Katanya kita memang sudah ditakdirkan untuk selalu gampang membicarakan keburukan2 orang lain. Tapi ini seharusnya tidak menjadi justifikasi. Jangan suka menggosipkan orang apalagi memfitnah. Ada pepatah bagus untuk point 4 ini: Speak the truth or Nothing at All.

5. Deposit: Set Clear expectations. Withdrawal: unclear expectations. Dalam membangun sebuah relationship misalnya dalam lingkungan kerja atau rumah tangga, usahakan selalu men-set ekspektasi yang jelas akan output yang anda harapkan dari hubungan tersebut. Istilah Balinya mungkin saru gremeng aliass tidak jelas apa yang sebenarnya diharapkan dari relationship itu. Jika sudah dari awal tidak jelas, maka outcome yang dihasilkan juga tidak tepat persis seperti yang diharapkan. Tidak ada pedoman pasti yang mengarah pada goal yang ingin dicapai.

6. Deposit: apologize. Withdrawal: proud and arrogant. Sejauh mana keberanian anda untuk meminta maaf jika salah? Believe or not, sebagian besar dari kita masih mengalami kesulitan dalam mengakui kesalahan. Minta maaflah secara tulus tanpa mengharapakan orang itu juga minta maaf. Apalagi ada embel2 misalnya: maaf deh, kamu juga sih bla bla.

7. Deposit: Give feedback. Withdrawal: No Feedback. Dalam memberikan feedback usahakan selalu memakai I Messages dan bukan You Messages. I Message artinya kita menyampaikan feedback itu dalam mode concern dan feeling, karena kita care dan bukan You Message alias attack mode (yg bisa ditanggapi sebagai bentuk personal attack). Misalnya memberi feedback kepada rekan kerja yang membuat kesalahan, I Messages: My concern to you is that …., My perception to you …, My feeling etc. Sedangkan You Messages lebih bersifat menjudge seseorang: You are selfish, you are…, you are ….etc.

8. Deposit: Learn to forgive and forget. Withdrawal: let it hold ‘hostages’/seek revenge. Belajarlah memaafkan seseorang dan melupakan kesalahan itu. To forgive saja belum tentu artinya to forget. Bisa saja kita memaafkan tapi belum bisa melupakan alias masih mondar mandir di otak kita.

Dari delapan hal itu, lebih banyak yang manakah diri Anda, deposit atau withdrawal?

Posted in Karibia, opini | 17 Comments

Sunday, June 22nd, 2008

Caribbean English, Ya Man!

Berikut ini beberapa slang Bahasa Inggris yang dipergunakan sebagai lingua franca di Caribbean khususnya daerah Bahamas. Thanks to my friend Bobo atas pinjaman t-shirtnya from which ide postingan ini muncul:

Bahamian English                Plain English

hey mon?                                      how are you?

everything cool                           fine, thanks!

pliz                                                please

tanks                                             thanks

tank you too                                you are welcome

dred                                              dude

feelin-i                                          feeling high

kerpunkle up                               severely intoxicated

muddoh                                         wow

mudda-sik!                                   holly sh*t

bubbies                                         boobs

peas n rice boongy                      large buttocks

jook                                               jab

we dun reech                               we have arrived

free passes                                  still costs 10 bucks to get in

sale today                                    regular prices

mussy                                          must be

tingum                                         thing

fishenin                                       fishing

Posted in Intermezzo, Karibia | 9 Comments

Thursday, June 19th, 2008

In Bali We Call it Goak

Kemaren istri saya bercerita bagaimana dia mengalami blank bahasa Inggris ketika mengantar tamu di sekitar resort. Saya hanya tersenyum dan maklum mendengar ceritanya karena dulu juga saya pernah mengalami hal serupa dan bahkan menjadi bahan tertawaan di tempat praktek dokter itu. Kosakata bahasa Inggris memang sangat luas. Pendidikan formal bahasa Inggrispun terkadang tidak menjamin bahwa kita akan menjadi komunikator bahasa Inggris yang baik. Selain memang faktor bakat, ada kalanya memang kita tidak tahu sama sekali dan tidak pernah mencari padanan satu kata ke dalam bahasa Inggris.

Satu sore istri saya mengantar beberapa tamu dalam satu buggy (mobil golf) bersama seorang rekan kerja dari Philipina. Resort tempat kami ini berlokasi di sebuah pulau pribadi yang sebagian besar masih alami alias hutan bakau dan vegetasi2 kecil yang tidak tersentuh. Jadi berbagai macam gumatat-gumitit binatang kecil bisa ditemui semacam kadal, ular, burung2 dan lain2. Tibalah di suatu tempat di mana banyak terdapat burung gagak (goak: bahasa Bali) yang ributnya minta ampun. Seperti tipikal turis kebanyakan, mereka tentu saja bertanya burung apa itu namanya.

Istri saya gelagapan tidak bisa jawab karena memang tidak tahu bahasa Inggrisnya burung gagak. Keterlaluan memang, tapi begitulah, maklum hanya sempat kursus  tiga bulan bahasa Inggris jadi mungkin tidak sampai belajarnya ttg burung gagak. Istri sayapun jawab, oh in Bali we call it Goak. Tamupun agak keheranan, what? what? sambil mereka bergantian bilang goak, goak and goak. Mereka bertanya lagi, why do you call it Goak? Istri sayapun jawab, karena bunyinya goak goak (sambil menirukan suara burung gagak di Bali). Mereka bertanya lagi, loh itu kan suaranya tidak goak goak tapi crocatcetcotcatcrocat (sambil mereka menirukan suara goak yang ada di tempat itu). Istri saya jadi bingung lalu bertanya kepada teman kerja yang dari Philipina yang juga bekerja sambilan untuk mengajar bahasa Inggris kepada staf2 yg bahasa Inggrisnya kurang. Dengan innocent diapun jawab, in Philipina we call it apa gitu (bahasa Philipina). Ternyata tidak tahu juga dia bahwa goak is crow.

Eniwe, kenapa ya suara goak di Karibia tidak sama dengan yang di Bali? Beda jauh suaranya. Yang di Bali secara umum goak itu suaranya berirama, goak goak..goak.something like that. Ada tonenya. Tapi di Karibia suara goaknya seperi burung becica (maaf apa ya bahasa Indonesianya). Aneh!

Posted in Karibia, Personal Stories | 15 Comments

Tuesday, May 20th, 2008

Maaf Saya tak Punya Piyama

Pajamas is mandatory, demikian isi sebuah undangan pesta farewell di tempat saya bekerja. Sebuah kalimat yang menegaskan bahwa dress code dari pesta tersebut adalah piyama dan guess what, mandatory alias wajib hukumnya. Mungkin bagi sebagian besar orang ini kedengaran konyol, tapi begitu mengetahui dress codenya pajamas terus terang saya jadi bingung sendiri karena memang tidak mempunyai piyama alias ‘uniform’ resmi untuk tidur. Kebetulan yang punya party adalah salah satu manager bule yang baik hati dan suka menolong, jadi pengin sekali hadir pada pesta farewell itu. Satu sisi, saya tidak ingin membeli piyama hanya untuk dipakai pada pesta tersebut karena memang selama ini tidak mengenal budaya piyama dalam dunia tidur saya.

Ketika ngobrol2 dengan teman2 lokal Caribbean dan juga beberapa coworker dari Asia lainnya, mereka malah seriously tertawa ketika saya bilang maaf saya tak punya piyama. How the hell you go to sleep?, tanya mereka keheranan. Piyama memang sudah menjadi ‘pakain wajib’ untuk tidur bagi sebagian besar orang, namun saya pribadi dan kebanyakan teman2 dari Bali yang kerja di sini juga tidak mempunyai piyama. Manager saya langsung bahkan menggeneralisasi, apakah orang Bali semua tidak punya piyama? Untuk pakaian tidur, biasanya saya pakai celana pendek (color ijo) yang loose dan t-shirt ringan atau pakai sarung.

Pakai piyama atau tidak, itu adalah sebuah pilihan dan kebiasaan. Mungkin juga karena saya anak ini produk budaya katrok sehingga tidak mengenal budaya piyama sejak kecil. Dulu saya malah sering pakai celana jeans untuk tidur. Yang membuat sedikit sedih adalah kenapa yang bikin undangan pesta itu harus membuat dress code yang mandatory pajamas. Itu kan namanya diskriminasi fashion. Akhirnya sayapun tak jadi menghadiri party farewell tersebut, hanya gara2 sebuah budaya piyama sialan itu.

Posted in Karibia, Personal Stories | 17 Comments

Tuesday, May 13th, 2008

Gelang Uli Karibia, Ada yang Mau?

Saya yakin sebagian besar orang Bali (semua?) sudah familiar dengan gelang uli, atau paling tidak pernah melihat/mendengar tentang gelang uli tersebut. Gelang Uli terbuat dari akar/batang pohon uli yang sangat lentur dan tidak mundah patah dan umumnya berwarna hitam. Yang saya tahu bahasa Indonesianya adalah akar bahar.

Di Bali, gelang uli ini sangat populer karena dipercaya mempunyai khasiat tertentu misalnya penolak bala, penolak black magic (leak) dan bahkan dipercaya bisa menyeimbangkan molekul2 dalam tubuh manusia sehingga bisa mengurangi beberapa penyakit medis semacam sakit otot/sakit pinggang. Dulu yang memakai gelang uli ini biasanya anak kecil/bayi sebagai perlindungan spiritual dan juga paranormal namun sekarang sudah sangat lumrah di Bali penggunaannya. Bahkan sekarang design gelang uli sudah dicampur dengan logam mulia semacam emas sehingga menjadi artistik.

gelang-uli.jpg

Harga gelang uli/bahan uli sangat mahal di Bali. Pernah dulu di banjar saya ada yang mendapat akar uli saat mancing di laut. Akar ulinya sangat special karena berwarna hijau (dikenal dengan nama uli gadang) dan laku dijual seharga Rp. 18 juta. Di pasar2 tradisional Bali, akar uli gadang dihargai sampai 3 juta per 1 cm (untuk mata cincin).

Nah yang membuat saya takjub adalah ternyata di Karibia banyak sekali bertebaran akar2 uli di pantai dan sama sekali tidak ada nilainya bagi orang lokal. Akar2 uli itu benar2 asli, original dan belum tersentuh dunia luar. Akibatnya bisa ditebak, teman2 dari Bali yang bekerja disini pada asyik berburu dan koleksi akar uli untuk dibawa pulang ke Bali. Seorang teman saya bahkan sampai ngalih dewasa ayu (cari hari baik) dulu sebelum berburu akar2 uli di pantai Karibian. Jenisnya beragam, ada uli hitam, uli putih dan juga uli gadang. Ada yang berminat?

Posted in Intermezzo, Karibia | 41 Comments

Friday, May 2nd, 2008

Insiden SIM Indonesia di Karibia

Mau nyetir mobil di luar negeri? Sangat dianjurkan untuk memastikan terlebih dahulu dengan polisi setempat apakah SIM A Indonesia berlaku disana. Jika anda nekat maka siap-siap saja berurusan dengan polisi disana yang kayaknya sama sekali tidak bisa di sogok. Masing-masing negara mempunyai aturan yang berbeda-beda regarding bisa atau tidaknya SIM Indonesia digunakan di negara tersebut.

Selama di Karibia (Turks Caicos Island) saya tidak mengetahui bahwa sebenarnya SIM Indonesia hanya berlaku selama enam bulan, setelah itu kita harus nyari SIM lokal dengan biaya sebesar USD 150. Kabar burung yang saya dengar selama tiga tahun terakhir ini adalah bahwa SIM Indonesia berlaku terus selama SIM itu tidak mati tanggalnya makanya sayapun dulunya dengan PD selalu nyewa mobil pas jalan2 ke kota (downtown). Asyiknya lagi perusahaan rent carnya tidak tahu mana SIM C atau SIM A. Mungkin juga mereka tidak perduli as long as as dagangan mereka laku.

Sampai pada insiden beberapa waktu lalu saat berkendara bersama beberapa teman di kota. Beberapa polisi menghentikan mobil kami dan menanyakan surat2 dan tentu saja SIM. Sang teman yg kebetulan nyetir mengeluarkan SIM Indonesia dan dikatakan NO WAY. Mereka galak sekali karena mengetahui bahwa kami sudah beberapa tahun di sana tapi tidak mengetahui peraturan bahwa SIM Indonesia hanya berlaku enam bulan saja sejak kedatangan pertama. Lalu kamipun ditanya work permit dan bisa ditebak, tidak ada yang bawa alias memang selalu tersimpan di kamar. Mereka tambah marah dan siap2 untuk menyita mobil dan interogasi lebih lanjut. Believe me, berurusan dengan polisi di negeri orang jauh lebih mengerikan daripada di Indonesia. Akhirnya sebuah keajaiban kecil menolong kami, ketika kami tunjukkan ID Card tempat kami kerja, para polisi itu tiba2 cooling down dan berkata “Oh Parrot Cay hah, OK you free to go”.

Jika dipikir2 sebenarnya insiden itu tidak perlu terjadi jika saja kami:
1. Mengetahui dan memahami tanda2 lalu lintas di parkiran, mana keluar mana masuk, mana one way mana dua arah.
2. Mengemudi dengan ‘normal’ dan tidak bermental ‘kampungan’. Pada umumnya orang Indonesia itu akan keluar gayanya jika sudah bawa mobil: musik keras2 lalu buka jendela lagi, bikin ribut suasana parkiran.

Posted in Kabar-kabari, Karibia, Personal Stories | 1 Comment

Friday, May 2nd, 2008

Pecadang Kuang (lagi)

Dude, I’m going away on Friday morning for four days. Could you help me and cover the usual for me? What is your off day this week? Let me know if you can so we can do a handover.

Sebuah email datang dari Kepala Suku IT di resort tempat saya kerja. Iya, saya kembali menjadi pecadang kuang. Dalam Bahasa Bali itu artinya semacam ban serep yang kalau tidak diperlukan dicuekin tapi kalau saat diperlukan baru dibaik2in. Walau cuman empat hari tapi rasanya akan lama banget karena tanggung jawab yang sedemikian besar ditambah lagi belum menguasai betul2 seluk beluk networking, PABX system, Satellite TV system dan segela tetek bengek end-user support.

Saya memang susah kalau bilang tidak, makanya dibawa ke positif saja. Hitung2 belajar dan nyari pengalaman dan juga kesempatan untuk pasang gaya alias narsis. Walau pengetahuan IT masih hijau. Satu hal yang membuat saya PD adalah karena saya kerjanya volunteer jadi kalau tidak bisa pecahkan masalah tinggal bilang tunggu saja kepala ITnya.

Mohon maaf juga beberapa hari ke depan tidak bisa blogwalking karena sibuk pretending to be a geek :)

Posted in Karibia, Personal Stories | No Comments

Monday, April 7th, 2008

Gaji Dollar, Mental Rupiah

Sekian lama menjadi bajak laut ada satu hal yang masih tidak berubah pada diri saya (belum?) yakni dalam hal pengelolaan uang. Hasil merompak tentu saja dalam bentuk US dollar yang jika dikonversikan ke mata uang rupiah nilainya akan jauh berbeda. Ternyata mental rupiah masih begitu kental melekat di otak. Akibatnya bisa ditebak, spending dollar dalam keseharian selalu saja dikait2kan dengan mata uang rupiah. Otak secara otomatis akan membandingkan, beli t-shirt misalnya seharga $ 70, langsung berfikir wah ini kalau di rumah 600 ribuan nih, bisa beli beras lima karung, misalnya.

Satu sisi, mental rupiah mungkin terkesan kurang gaul dan kurang mengglobal. Apalagi jika dikaitkan dengan pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, jadi jika gajinya dollar mental spending harus dollar juga, begitu nasehat beberapa teman. Bahkan ada yang menyebutkan jika bermental rupiah di luar negeri bisa dipastikan orang itu adalah fans beratnya Tukul alias katro. Saya jadi teringat pengalaman beberapa tahun lalu saat pertama kali ke luar negeri dan singgah di Heathrow London dimana selama beberapa jam di bandara saya tidak ikhlas untuk membeli sebotol air mineral kecil seharga 6 pounds. Saya langsung berfikir kalau di Bali, uang sebesar itu bisa membeli 5 galon besar air mineral. Parah memang, tapi itulah pengalaman pertama kali yang syukurlah tidak terulang lagi.

Begitu negatifkah jika bermental rupiah di luar negeri? Kurang global sih mungkin iya tapi saya pribadi mencoba membawanya ke dampak positif saja, sekalian untuk nyaruang (menyembunyikan) mental wong ndesonya. Mental rupiah membuat saya:

1. Menghargai nilai uang. Dengan selalu berfikir rupiah saya lebih bisa menghargai nilai uang pada sebuah barang atau jasa. Sebuah CD musik misalnya seharga $ 26 rasanya terlalu tinggi nilai uang (dollar) yang harus dibayarkan dibandingkan dengan beli CD musik di Bali.

2. Belajar Hemat. Mental rupiah ternyata sangat ampuh untuk menjadi sebuah rem sehingga penggunaannyapun bisa dikontrol dan tidak kebablasan. Dengan membandingkan dan otomatis berfikir ke rupiah, mau tidak mau saya menjadi berfikir beberapa kali sebelum memutuskan membeli sebuah barang/jasa.

3. Tidak termakan pepatah. Di Bali ada sebuah pepatah yg bilang (kalau tidak salah) gede ombak gede angin yang artinya kurang lebih income lebih besar maka spendingpun otomatis lebih besar pula. Memang benar, jika tidak hati2 gaji dollar seringkali membuat orang lupa diri sehingga bisa keluar jalur dan tidak ingat tujuan bekerja jauh2 di negeri orang.

Yang mengkawatirkan adalah jika sampai terjadi sebaliknya, gaji rupiah tapi mental dollar. Agh!

Posted in Intermezzo, Karibia, opini | 27 Comments

Friday, March 14th, 2008

Virus ‘Sangut’ dalam Diri Manusia Bali

sangut_delem.jpg

Sangut adalah salah satu tokoh fiksi dalam dunia pewayangan di Bali. Nama Sangut menjadi berkibar karena sifatnya yang sering digunakan untuk menggambarkan orang Bali yang mempunyai tabiat opportunis, plin plan, suka mengadu domba, cari aman sendiri dan bahkan cenderung menfitnah dan merugikan orang lain. Bahasa Balinya mungkin ‘being happy on others grief’. Nyangut adalah istilah yang dipakai untuk menyebut orang Bali yang doyan mempraktekkan trik2 tokoh Sangut dalam kehidupan nyata sehari2 entah itu di lingkungan sosial (banjar) di Bali atau di tempat kerja bahkan jiwa Sangut sudah menyebar dan mewabah di luar negeri, tentunya pembawa virus Sangut ini adalah orang2 Bali sendiri.

Benar, jiwa Sangut ini mungkin tidak menjadi milik orang Bali saja. Orang2 dari daerah lainpun di Indonesia bahkan di dunia mempunyai sifat ini, tentunya dengan nama dan kemasan yang berbeda. Ada Sangut Jawa, Sangut Sumatra, Sangut Karibia, Sangut Amerika dan Sangut2 lainnya. Tetapi karena kebetulan saya orang Bali dan fenomena itu saya lihat pada lingkungan orang2 Bali, dan mungkin saja saya termasuk didalamnya, maka ‘manusia Bali’ pun saya masukkan sebagai bagian dari judul postingan kali ini. Tidak untuk menggeneralisasi tapi sebagai sarana untuk refleksi diri. “Sing keto Ngut?” (Bukankah begitu, Ngut?).

Tokoh Sangut sebenarnya termasuk lucu, paling tidak seperti apa yang digambarkan oleh dalang2 pada saat memainkannya. Tetapi ketika dimainkan dalam dunia nyata, Sangut-Sangut ini menjadi sangat tidak lucu dan cenderung provokatif dan destruktif. Sangut2 dalam dunia nyata menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya. Di tempat kerja misalnya. Seharusnya kondisi dan lingkungan kerja menjadi nyaman dan bisa menjadi ajang untuk mempererat tali persatuan orang2 Bali dirantauan tetapi karena virus Sangut sudah menyebar banyak terjadi ketimpangan2 sosial. Yang ada hanya saling sikut sesama orang Bali dan berlomba2 untuk menjilat kiri dan kanan. Kenapa orang Bali yang terkenal akan sifat kekeluargaan (menyame braya) bisa terjangkit virus Sangut (dilingkungan kerja)?

1. Lunturnya Spirit Bali. Namanya juga bekerja di negeri antah berantah yang jaraknya ribuan mil dan beda waktu 12 jam dengan Bali maka spirit2 kebalian dari orang2 Bali sudah luntur total. Tidak ada lagi jiwa menyama braya (semua saudara). Yang ada hanya dollar di kepala. Yang ada hanya UICG alias Urus Iban Ci Gen (mind your own business).

2. Jabatan/Posisi. Siapa yang tidak tergiur dengan jabatan dan posisi? Begitu juga dengan orang2 Bali. Segala cara akan dilakukan diluar koridor profesionalisme termasuk menjilat, menfitnah, menjelek2an rekan kerja sesama orang Bali dan termasuk sentimen pribadi.

3. Sifat Belog Ajum. Belog Ajum dalam bahasa Bali berarti bodoh dan suka dipuji. Ini mirip2 dengan ’sudah jatuh tertimpa tangga’ pula. Sudah bodoh, suka dipuji lagi. Entah itu pujian real atau sekedar untuk membesarkan kepalanya sebagai sekedar bagian dari basa basi khas orang Bali.

Sing keto Ngut Bia? (Bukankah begitu, Sangut Karibia?)


Posted in Karibia, social life | 31 Comments

« Older Entries Newer Entries »