Archive for the ‘Nusa Penida’ Category

Friday, October 17th, 2008

Stop Marginalisasi Nusa Penida

Sudah menjadi hal lumrah bahwa setiap menjelang pemilihan kepala daerah, praktik tebar pesona dan jual beli janji menjadi marak. Para calon akan berlomba2 mensosialisasikan visi dan misi mereka, tentunya dengan berbagai cara mulai dari kampanye terselubung, kunjungan sosial, bantuan dan sejenisnya. Pun dengan agenda pemilihan bupati Klungkung yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi. Para calon berlomba2 menarik simpati massa.

Bagi warga Nusa Penida, pemilihan kali ini terasa sedikit istimewa karena salah satu calon bupatinya adalah putra asli Nusa Penida yaitu Prof. Ketut Kinog yang merupakan seorang guru besar di Unud (teknologi dan pariwisata). Inilah kali pertama ada seorang calon bupati dari Nusa Penida. Munculnya calon dari Nusa Penida ini sangat berpengaruh pada peta dukungan suara di Nusa Penida. Dari beberapa berita yang saya baca di koran, warga Nusa Penida menaruh harapan yang begitu besar pada Prof. Kinog, yang kalau nanti terpilih, bisa membawa perubahan yang realistis terhadap Nusa Penida terutama terhadap beberapa sektor riil/infrastruktur yang sifatnya mendesak.

Dengan tidak bermaksud untuk mengagungkan fanatisme sempit kedaerahan, saya rasa wajar saja masyarakat Nusa Penida mengharap Prof. Kinog menang. Kenapa tidak? Selama ini Nusa Penida masih menjadi daerah marginal di Klungkung terutama dari segi pembangunan infrakstruktur. Siapa tahu Prof. Kinog, jika terpilih, dengan semangat membangun daerah sendiri akan mampu menghapus marginalisasi Nusa Penida. Masak sih tega membiarkan tanah kelahiran sendiri? Bes bes adane to!

Prof. Kinog, jika terpilih nanti tolong hentikan marginalisasi Nusa Penida. Tiga aspek mendesak menurut saya adalah masalah air, transportasi dan pemerataan sarana umum. Dari 56.000 penduduk Nusa Penida (2006), hanya 1% yang menikmati what so called air PDAM. Sebagian besar rakyat Nusa Penida masih kehausan, mengandalkan supply air minum dari cubang alias air tadah hujan. Jika cubang kering sebelum musim hujan tiba, wargapun susah payah berjalan 5 kilometer untuk mendapat air minum, itupun rasanya asin karena sumurnya dekat dengan pantai.

Transportasi masih menjadi kendala utama. Perekonomian Nusa Penida terhambat karena kendala transportasi. Harga2 di Nusa Penida meningkat berlipat2 dibanding dengan Bali daratan, lagi2 karena masalah transportasi. Maksimalkan kapal ferry dengan membangun dermaga penyanding di Klungkung daratan. Aspek yang ketiga adalah sarana pelayanan umum seperti sekolah, puskesmas dll. Sekolah2 SD yang hampir roboh  harus dibangun, untuk melahirkan Kinog2 lainnya di masa depan. Tiga faktor itu merupakan start yang hampir sempurna untuk memulai mengembangkan Nusa Penida, paling tidak menjadi sejajar dengan pembangunan2 di ‘negeri seberang’ sana.

Posted in Nusa Penida, opini | 10 Comments

Monday, May 5th, 2008

Kangen Bahasa Nusa Penida (plus terjemahan)

Trade ojan trade angin, sagete kele sete mraos nganggon basa Nosa. Babar tare karuan mebuku kenehle lemah nene. Leh japan sap kele nah, sorry malu ne pasti ajak he tare ngerti basa Nosa tapi dadilah kapah-kapah masih menekang basale pedihi ke bloglene.

Palitle sobah, mare kele engot ternyata kele sobe nagih sap engot basa Nosa. Yen graos lisan tare masalah anak memang kele hat pedante tare name sap basa Nosa kadung jape kele ngoyong. Hat SMAte kele sobe di Klungkung alias joh oling gomile aslite tapi tare mungkin sap ajak basa pedihi. Tapi terus terang ne, ne pertama kali sajan kele nganggo basa Nosa secara tertulis. Yuh masih babar nah ternyata.

Di Nosa ada 19 desa, masing2 desa to len masih raosne/logatne. Ane jani anggolene adalah basa Nosa logat desanle pedihi yaitu Suana, banjar P. Masing2 banjar len masih logatne, raosang yen ede melali ke Nosane besa besa mati amah logat ede. Lakun pade2 uling Nosa biasane ngerti. Patuh care di Bali, masing2 daerah len basa Baline lakun masih pade ngerti. Kale pedihi heran masih nah, Nosa to kan bagian Bali masih, ngode saget len sangot babar basane nah? Ngode saget ento nah?

Ada yang ngerti? Ini terjemahan bahasa Indonesianya:

Tidak ada hujan tidak ada angin, kok tiba2 saya ingin berbicara bahasa Nusa Penida. Pokoknya perasaan saya tidak menentu hari ini. Opps, biar tidak kelupaan, saya minta maaf dulu karena pasti banyak yang tidak mengerti bahasa ini tapi sekali2 bolehlah saya pake bahasa Nusa Penida di blog ini.

Oh damn, saya baru sadar bahwa saya sudah lupa2 ingat dengan bahasa ini, klo lisan sih ga masalah karena dari dulu saya selalu pake bahasa Nusa Penida dimanapun saya berada. Sejak SMA pertama kali jauh dari asal saya selalu pake bahasa Nusa (jika dg teman2 Nusa). Tapi terus terang ini pertama kali saya pake bahasa Nusa secara tertulis, ternyata susah juga (terasa kaku).

Di Nusa Penida ada 19 desa dan masing2 desa lain2 logat bahasanya. Yang saya pake sekarang adalah logat Desa Suana Banjar P. Masing2 banjar dalam satu desa juga lain logat bahasa Nusanya jadi klo anda main2 ke Nusa Penida, bisa2 pusing denger beberapa logat yang beda. Biasanya sesama orang Nusa Penida bisa mengerti satu sama lain walau logat beda. Sama kayak di Bali daratan, masing2 daerah logat bahasa Balinya beda tapi sama2 ngerti. Yang saya tidak ngerti, Nusa Penida itu kan Bali juga, orang Bali juga, kenapa ya bahasanya bisa jauh beda banget gitu?

Posted in Nusa Penida, Personal Stories | 69 Comments

Sunday, January 27th, 2008

Ngaben ‘Nyeleneh’, Letupan Ego Manusia Bali


Secara umum, ‘Ngaben’ di Bali bisa dikatakan sebagai salah satu ritual agama dan juga ritual tradisi yang bermakna mengembalikan jasad manusia yang sudah meninggal ke asalnya yang disebut dengan Panca Maha Bhuta (lima unsur: tanah, air, api, angin dan ether). Jadi, ritual agama atau tradisi? Tidak murni agama dan juga tidak murni tradisi, dua-duanya kena. Ritual agama karena memang tercantum dalam kitab suci, ritual tradisi karena pada kenyataannya pelaksanaan upacara ngaben di Bali dipenuhi dengan bumbu tradisi di Bali, ada bade/wadah, ada singa/lembu, ada gender/wayang, ada tarian2 tertentu yang disakralkan dll. Dengan mengambil analogi upacara ngaben (kremasi) di India sebagai asal muasal agama Hindu, Ngaben di Bali tentunya sangat berbeda dengan ngaben di India. Makanya saya berasumsi bahwa Ngaben di Bali adalah perpaduan tradisi dan agama.

(more…)

Posted in Nusa Penida, social life | 34 Comments

Saturday, January 12th, 2008

Sebuah Cita-cita Kecil

Banyak cara yang ternyata bisa kita lakukan untuk berpartisipasi dalam membantu kelangsungan pendidikan anak2 disekitar kita terutama yang kurang mampu. Terlepas dari seberapa besar dan berapa banyak, paling tidak cerita berikut ini adalah langkah nyata yang mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi bagi kita semua. Di mulai pada tahun 2004, saya bekerjasama dengan sebuah yayasan dari Belanda bercita-cita membantu anak2 Nusa Penida yang tidak mampu untuk melanjutkan sekolah ke SLTP. Visi utama sebenarnya adalah untuk menjadi motivasi bagi orang tua di Nusa Penida yang resistant untuk menyekolahkan anak mereka ke jenjang SLTP.

(more…)

Posted in Nusa Penida | 37 Comments

Sunday, January 6th, 2008

Satu Banjar Seratus ‘Setra’

Banjar adalah satuan terkecil dalam tatanan sosial masyarakat Bali (mirip RT/RW di Jawa). Sedangkan setra adalah areal kuburan dalam masyarakat adat Bali yang dipergunakan untuk sementara sebelum jasad orang yang meninggal di-aben (kremasi). Penggunaannya tidaklah sembarangan dan harus menganut pada aturan2 adat yang sangat ketat. Sama sekali berbeda dengan penggunaan tempat2 pemakaman umum di wilayah lain Indonesia. Setra erat kaitannya dengan banjar/desa adat (wilayah) yang bersangkutan. Seseorang yang berasal dari banjar/desa adat A misalnya tidak boleh memakai setra yang dimiliki oleh banjar/desa adat B. Jadi seberapapun jauhnya seseorang merantau, jika meninggal maka jasadnya harus dibawa pulang ke desa/banjar adat dimana dia berasal. Bahkan dalam kondisi luar biasa ego masyarakatnya, banjar/desa adat tertentu akan melarang warganya sendiri untuk memakai setra. Biasanya berlaku untuk warga2 yang divonis melanggar aturan adat.

(more…)

Posted in Nusa Penida | 15 Comments

Thursday, December 13th, 2007

30 hari di Sorga

Pak Kadek, begitulah biasa dia dipanggil. Murah senyum dan sangat low profile sekali. Pembawaannya yang cool dan santai dan suka bercanda menghilangkan kesan ’seram’ dari dirinya. Dia adalah salah satu penekun spiritual (dan pemangku) yang cukup disegani di jagad Nusa, menurut pandangan saya pribadi. Berikut ini sepenggal cerita dari beliau pada saat saya ngobrol2 ringan dengannya beberapa waktu lalu. Ceritanya berkisah ttg perjalanannya ke sorga (dan neraka) yang dilakukannya dalam rangka menuntaskan ’skripsi’nya di bidang spiritual.

Susah rasanya mencerna cerita ini dari segi nalar dan logika, tapi saya menyadari bahwa sesuatu yang tidak bisa saya cerna, bukan berarti tidak benar/exist. Tergantung pemahaman dan kemauan untuk membuka diri dan pikiran. Tentu pertanyaannya adalah bagaimana caranya ke sorga?. Yang jelas tidak ‘matah2′ langsung ke sorga. Pak Kadek menjelaskan dengan details cuman secara global yang bisa saya tangkap adalah dengan tingkat yoga khusus, menjalani berbagai puasa yg cukup kompleks sebelumnya dan dengan posisi semedi ‘Shawasana’ yaitu posisi terlentang seperti ’shawa’ (mayat).

(more…)

Posted in Nusa Penida | 16 Comments

Sunday, December 2nd, 2007

Ironi di Pulau Bersemi

Semenjak adanya sarana penyeberangan kapal ferry roro Nusa Penida - Padang Bai, perekonomian di pulau tersebut mulai menggeliat. Walaupun masih kurang maksimal (sekali per hari) tapi paling tidak ferry tersebut bisa menjadi tonggak akan adanya sarana transportasi yang representatif menuju Nusa Penida sehingga ke depannya bisa membuka isolasinya terhadap dunia luar.

Waktu mudik kemarin, ada beberapa catatan2 kecil yang saya rekam ttg geliat pulau yang dikenal dengan sebutan pulau gersang itu (versi koran lokal). Beberapa proyek besar sedang di bangun. Tampaknya proyek2 tersebut begitu prestisius sehingga Presiden SBYpun akan berkunjung pertengahan Desember 2007, bersama dengan para investor dari berbagai belahan dunia. Berarti itu menjadi kunjungan Presiden yang kedua setelah sebelumnya sempat berkunjung saat meresmikan dermaga dan pengoperasian ferry roro itu. Proyek yang paling menonjol adalah pengembangan pembangkit tenaga listrik tenaga bayu (angin) dan tenaga batubara. Saya sendiri sempat melihat sekilas PL tenaga bayu itu di daerah sebelum ke Pura Puncak Mundi (maaf, tidak tahu nama desanya). Dikabarkan, jika complete nanti, pembangkit itu bisa mensuplai listrik di Bali dan Lombok. Proyek mata air Peguyangan yang seakan tersendat beberapa tahun terakhir ini, juga dimulai lagi. Disamping itu, ada proyek pendirian tiga buah SPBU sekaligus di Nusa Penida yang berlokasi di Desa Batununggul, Desa Sental dan Toyapakeh.

Ada juga dampak2 negatif dari pesatnya pembangunan itu. Sebagian besar para pekerja proyek tersebut bukan orang lokal yang jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu. Mereka malah tidak pulang setelah proyek selesai malah membuat pemukiman2 darurat. Ini tentu bisa menimbulkan masalah kependudukan di kemudian hari. Disamping itu dari segi mental, penduduk setempat belum sepenuhnya siap. Budaya jual tanah warisan berkembang pesat apalagi harga tanah langsung meroket yang bisa mencapai Rp. 100 jt/are (pinggir jalan kecamatan). Parahnya lagi, di daerah dataran tinggi, ada yang menjual tanahnya bukan lagi dengan satuan are tapi bukit (1 bukit, 2 bukit etc). Lama2 orang lokal bisa menjadi orang asing di daerahnya sendiri. Banyaknya orang kaya baru juga bisa dilihat dari perubahan gaya hidup. Dulu, paling untung bisa lihat mobil kijang kotak plat merah milik pak camat, sekarang Avanza sudah bukan barang mewah lagi. Beberapa mobil mewahpun (vioz, Camri etc) bersliweran tak jelas, wong jalan ‘protokol’ nya cuman beberapa km kok :). Ironis memang, tapi mudah2an Nusa Penida tetap bersemi.


Posted in Nusa Penida | 10 Comments

Sunday, October 14th, 2007

Pura Penataran Agung Ped

Atmosfer Kekuatan (tabik pekulun) Ratu Gede Nusa

Piodalan di Pura Penataran Agung jatuh pada tiap2 Budha Cemeng Klawu (24 OCtober 2007). Piodalan kali ini terasa lebih istimewa karena juga berbarengan dengan dilaksanakannya untuk pertama kali Upacara Panca Wali Krama. Selain ‘disungsung’ oleh warga Nusa, umat dari seluruh pelosok Bali juga tangkil ke sana. Berikut ini petikan sekelumit sejarah Pura tersebut yang diambil dari Balipost (7/6/06)

Di sebuah desa, persisnya di Desa Ped, Sampalan, Nusa Penida, ada sebuah pura yang sangat terkenal di seluruh pelosok Bali. Pura Penataran Agung Ped nama tempat suci itu. Berada sekitar 50 meter sebelah selatan bibir pantai lautan Selat Nusa. Karena pengaruhnya yang sangat luas yakni seluruh pelosok Bali, Pura Penataran Agung Ped disepakati sebagai Pura Kahyangan Jagat. Pura ini selalu dipadati pemedek untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, kerahayuan, dan ketenangan. Hingga saat ini, pura ini sangat terkenal sebagai salah satu objek wisata spiritual yang paling diminati.

Pada awalnya, informasi tentang keberadaan Pura Pentaran Agung Ped sangat simpang-siur. Sumber-sumber informasi tentang sejarah pura itu sangat minim, sehingga menimbulkan perdebatan yang lama. Kelompok (Puri Klungkung, Puri Gelgel dan Mangku Rumodja — Mangku Lingsir) menyebutkan pura itu bernama Pura Pentaran Ped. Yang lainnya, khususnya para balian di Bali, menyebut Pura Dalem Ped.

Seorang penekun spiritual dan penulis buku asal Desa Satra, Klungkung, Dewa Ketut Soma dalam tulisannya tentang ”Selayang Pandang Pura Ped” beranggapan bahwa kedua sebutan dari dua versi yang berbeda itu benar adanya. Menurutnya, yang dimaksudkan adalah Pura Dalem Penataran Ped. Hanya, satu pihak menonjolkan penatarannya. Satu pihak lainnya lebih menonjolkan dalemnya.

Selain itu, beberapa petunjuk yang menyebutkan pura itu pada awalnya bernama Pura Dalem. Dalam buku ”Sejarah Nusa dan Sejarah Pura Dalem Ped” yang ditulis Drs. Wayan Putera Prata menyebutkan Pura Dalem Ped awalnya bernama Pura Dalem Nusa. Penggantian nama itu dilakukan tokoh Puri Klungkung pada zaman I Dewa Agung. Penggantian nama itu setelah Ida Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan pengikutnya secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa dengan maksud menyaksikan langsung kebenaran informasi atas keberadaan tiga tapel yang sakti di Pura Dalem Nusa.

Saking saktinya, tapel-tapel itu bahkan mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, baik yang diderita manusia maupun tumbuh-tumbuhan. Sebelumnya, Ida Pedanda Abiansemal juga sempat kehilangan tiga buah tapel. Ternyata, begitu menyaksikan tiga tapel yang ada di Pura Dalem Nusa itu adalah tiga tapel yang sempat menghilang dari kediamannya. Namun, Ida Pedanda tidak mengambil kembali tapel-tapel itu dengan catatan warga Nusa menjaga dengan baik dan secara terus-menerus melakukan upacara-upacara sebagaimana mestinya.

Kesaktian tiga tapel itu bukan saja masuk ke telinga Ida Pedanda, tetapi ke seluruh pelosok Bali. Termasuk, warga Subak Sampalan yang saat itu menghadapi serangan hama tanaman seperti tikus, walang sangit dan lainnya. Ketika mendengar kesaktian tiga tapel itu, seorang klian subak diutus untuk menyaksikan tapel tersebut di Pura Dalem Nusa. Sesampainya di sana, klian subak memohon anugerah agar Subak Sampalan terhindar dari berbagai penyakit yang menyerang tanaman mereka. Permohonan itu terkabul. Tak lama berselang, penyakit tanaman itu pergi jauh dari Subak Sampalan. Hingga akhirnya warga subak bisa menikmati hasil tanaman seperti padi, palawija dan lainnya.

Sesuai kaulnya, warga kemudian menggelar upacara mapeed. Langkah itu diikuti subak-subak lain di sekitar Sampalan. Kabar tentang pelaksanaan upacara mapeed itu terdengar hingga seluruh pelosok Nusa. Sejak saat itulah I Dewa Agung Klungkung mengganti nama Pura Dalem Nusa dengan Pura Dalem Peed (Ped).

Meski demikian, hal itu seolah-olah terbantahkan. Karena seorang tokoh masyarakat Desa Ped, Wayan Sukasta, secara tegas menyatakan bahwa nama sebenarnya dari pura tersebut adalah Pura Penataran Agung Ped. Terbukti dari kepercayaan warga-warga sekitar saat ini. Walaupun ada yang menyebutkan pura itu dengan sebutan Pura Dalem, yang dimaksud bukanlah Pura Dalem yang merupakan bagian dari Tri Kahyangan (Puseh, Dalem dan Bale Agung). Melainkan Dalem untuk sebutan Raja yang berkuasa di Nusa Penida pada zaman itu. ”Dalem atau Raja dimaksud adalah penguasa sakti Ratu Gede Nusa atau Ratu Gede Mecaling,” katanya.

Ada lima lokasi pura yang bersatu pada areal Pura Penataran Agung Ped. Pura Segara, sebagai tempat berstananya Batara Baruna, terletak pada bagian paling utara dekat dengan bibir pantai lautan Selat Nusa. Beberapa meter mengarah ke selatan ada Pura Taman dengan kolam mengitari pelinggih yang ada di dalamnya. Pura ini berfungsi sebagai tempat penyucian.
Mengarah ke baratnya lagi, ada Pura utama yakni Penataran Ratu Gede Mecaling sebagai simbol kesaktian penguasa Nusa pada zamannya. Di sebelah timurnya ada lagi pelebaan Ratu Mas. Terakhir di jaba tengah ada Bale Agung yang merupakan linggih Batara-batara pada waktu ngusaba.Masing-masing pura dilengkapi pelinggih, bale perantenan dan bangunan-bangunan lain sesuai fungsi pura masing-masing. Selain itu, di posisi jaba ada sebuah wantilan yang sudah berbentuk bangunan balai banjar model daerah Badung yang biasa dipergunakan untuk pertunjukan kesenian.

Seluruh bangunan yang ada di Pura Penataran Agung Ped sudah mengalami perbaikan atau pemugaran. Kecuali benda-benda yang dikeramatkan. Contohnya, dua arca yakni Arca Ratu Gede Mecaling yang ada di Pura Ratu Gede dan Arca Ratu Mas yang ada di Pelebaan Ratu Mas. Kedua arca itu tidak ada yang berani menyentuhnya. Begitu juga bangunan-bangunan keramat lainnya. Kalaupun ada upaya untuk memperbaiki, hal itu dilakukan dengan membuat bangunan serupa di sebelah bangunan yang dikeramatkan tersebut.

Adanya perbaikan-perbaikan yang secara terus-menerus itu, membuat hampir seluruh bangunan yang ada di Pura Penataran Agung Ped terbentuk dengan plesteran-plesteran permanen dari semen dan kapur. Termasuk asagan yang lazimnya terbuat dari bambu yang bersifat darurat, tetapi dibuat permanen dengan plesteran semen. Paling tidak, hal itu telah memunculkan kesan kaku bagi pura yang diempon 18 desa pakraman tersebut. Pengemponnya mulai Desa Kutampi ke barat. Adanya sejumlah bangunan-bangunan pura yang dikeramatkan, berdampak pada lingkungan pura. Atmosfer keramat diyakini sudah tercipta sejak awal keberadaan pura tersebut

Posted in Nusa Penida | 8 Comments

Thursday, October 11th, 2007

Sokik: Ilmu Hitam Terganas di Nusa Penida

Praktek ilmu hitam tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia, dari zaman bahula sampai zaman modern sekarang. Namanya beragam diberbagai belahan bumi ini, ada yang menyebutnya black magic, ilmu hitam, voodoo, santet, teluh dll. Pun di Bali, keberadaan ilmu hitam tersebut seakan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakatnya, di desa maupun di kota. Lalu apa sebenarnya ilmu hitam itu? Tidak ada definisi yang mutlak, yang berkembang dimasyarakat adalah bahwa ilmu hitam itu dicap aliran kiri (baca; negatif) dan mempunyai banyak cabang misalnya leak, cetik. Secara logika tidak bisa dijelaskan bagaimana ilmu ini bekerja, secara scientificpun susah dimengerti dan tidak ada variable2 ilmiah yang bisa menjelaskannya.

Di Nusa Penida, ada satu cabang ilmu hitam yang paling ditakuti yang dikenal dengan nama ‘Sokik’. Praktek ilmu hitam ini pada dasarnya menggunakan mantra2 tertentu untuk menurunkan kekuatan supernatural hitam yang bertujuan untuk menyakiti seseorang baik secara psikis maupun fisik. Sejauh ini sokik ini dianggap praktek ilmu hitam yang terganas di Nusa Penida. Apa sebenarnya Sokik itu? Ternyata ’sokik’ itu adalah sebuah kayu special yang jarang ditemukan. Katanya sih khusus diimpor dari Pulau Lombok dan Sumbawa. Lewat kayu khusus itulah dan terkadang ditambah sarana boneka, para Sokiker (orang yang menjalankan ilmu sokik) ini merapalkan mantra2 khusus. Ada juga yang dilakukan dengan jalan memasang ranjau secara gaib lewat perantara kayu sokik ini, artinya jika si korban melintasi tempat yang dipasangi ranjau sokik itu maka dapat dipastikan dia akan terkena.

Lalu apa akibatnya jika terkena sokik? Macam2 dari yang ringan2 sampai yang berat2 misalnya lumpuh sebagian, migren hebat bahkan ada yang sampai ada sendok dan garfu di perutnya, juga bisa menjadi bengong2, melamun yang berkepanjangan, paranoid hebat etc. Jika dibiarkan maka bisa mengakibatkan kematian. Umumnya sakit fisik yang ditimbulkannya akan mempunyai ciri2 yang sama persis dengan penyakit2 medis. Jadi pas dibawa ke dokter misalnya maka akan dikira sakit media biasa tapi sebenarnya ada kekuatan magis yang berperan.

Sejujurnya penulis rada2 skeptis tentang hal2 yang berbau magic2kan cuman suatu ketika penulis menyaksikan sendiri ada orang yang terkena sokik kelas menengah, pas diobati (secara gaib pula) maka keluarlah sebatang duri dari jari telunjuknya, kata yang ahli duri itu adalah akibat dari sokik. Keluarnya bukan karena diambil seperti kita ‘pacek dui’ melainkan ‘disedot’ dengan sebuah alat khusus yang ditempel di ujung jari. Sejak saat itu skeptisnya sedikit berkurang.

Cara menghindarinya? Berdoa dan rajin sembahyang adalah salah satu jawabannya. Mendekatkan diri pada Tuhan/Hyang Guru. Terkadang tindakan nyata perlu diambil juga jika terkena rudal sokik ini. Untuk yang kelas ringan, kata yang ahli, cukup ‘diremek’ saja dengan sarana nasi wong2an misalnya pakai ajaran Siwa Budha dan sejenisnya. Untuk yang kelas berat semacam lumpuh dan ada sendok/garfu di dalam perut, perlu perpaduan antara balian dan medis secara bersamaan. Agh, kerasnya bebatuan di Nusa Penida sama kerasnya dengan rudal hitamnya. Semoga ga kena ***ngacir***

Posted in Nusa Penida | 18 Comments

Thursday, September 27th, 2007

Introduction to Nusa Penida Language


Balinese language is the official language which is used at any formal situation in the Balinese society such as community meeting, wedding ceremony, priest speech at the temple etc. Generally Balinese language is divided into three categories; the high Balinese language (HB) which is used at the situation above, middle Balinese (MB) which is usually used in the daily life situation and the low Balinese language (LB) which is used among close friends and colleague.Example: the word I in Balinese language;
titiang (HB), rage/tiang (MB) and cang/icang (LB)

There are some dialects of Balinese language in Bali, usually based on the regency it spoken, so commonly there is Gianyar dialect, Bangli dialect, Tabanan dialect, Negara dialect and so on. However, no matter what dialect it is, basically it is the same both in term of grammar and syntax. They are just slight different in the tone/rhythm and pronunciation. Most importantly, Balinese people from different dialects still can understand each other.

What about Nusa Penida language (NPL)? There is something special here. Nusa Penida supposed to have Balinese language with Klungkung dialect but its language is totally different with Balinese language. It is not just different dialect it is completely different Balinese language. So people from other regency in Bali will not be able to understand this language.

 

Tiang/rage/cang of Balinese is kale in NPL
Ragane/cai/ci of Balinese is ede in NPL
irage (kita) of Balinese is ebe in NPLExample;
Tiang naar tipat tuni semeng (middle Balinese).
Kale ngesop tepat tonian semungante (NPL)
I ate tipat (rice cooked with coconut leaf) this morning (English)

The analysis is
tiang = kale, naar = ngesop, tipat = tepat, tuni =tonian, semeng = semungante

Example;
Dija ragane mare? (Middle Balinese)
Jape ede bahu? (NPL)
Where have you been? (English)The analysis is dija = jape, ragene= ede, mare= bahu

Example;
Ngiring sareng –sareng irage ngae cubang (MB)
Mahe barong barong ebe ngahe cobang (NPL)
Let us dig a well (English)

The analysis is ngiring = mahe, sareng2 = barong2, irage = ebe, ngae = ngahe, cubang = cobang

Most words in NPL especially noun and verb are derived from Balinese language with different phonology (sound).

Example;
oyah = uyah
cobang = cubang
nginem = ngenom
ujan = ojan
umah = omah
nginep = ngenop
tajen = tajon
tipat = tepat
sirah = serah
uban = oban
ubad = obad
pedidi = pedihi (didian cang kemu (pedihile kemo)
sambel = sambol
sube = sobe

There is also irregular word formation which is completely different from Balinese language, example

dija = jape
duur =boboan
jeg = babar (jeg irage adi peliange = babar ebe saget pelihange)
luh = lohuhe
etc.

Please note that NPL is not used at formal situation only in daily life among Nusa Penida society.

Posted in Nusa Penida | 6 Comments

Saturday, September 22nd, 2007

Fenomena "Dadong Miami" di Desa

Silaturahmi dengan keluarga besar dan tetangga seolah menjadi satu hal yang wajib dilakukan pada saat kita liburan ‘annual leave’ dari Parrot Cay. Apalagi di kampung, dimana kultur kekeluargaannya masih cukup kental. Seperti yang penulis alami sendiri, terkadang keluarga dan tetangga berdatangan ke rumah hanya untuk sekedar bercengkerama setelah kurang lebih setahun tidak bertemu. Ada yang guyon bertanya, “Berapa karungkah kamu bawa uang pulang?”, atau ada juga yang bertanya, “Apa disana ada saljunya?, bagaimanakah bentuk salju itu?” dan segudang pertanyaan lainnya.

Ada satu pertanyaan yang terkadang penulis kesulitan menjawabnya yaitu “Dimanakah kamu bekerja?”. Pertanyaan ini sering muncul dan penulis selalu saja kurang sreg dalam menjawabnya. Kalau kebetulan yang bertanya sedikit mengerti geografi dasar atau setidak-setidaknya sering nonton TV atau baca koran maka pertanyaan itu cukup dijawab dengan “Saya bekerja di Turks Caicos Island, Carribbean”. Tapi bagi orang di desa, bisa ditebak, mereka tidak mengerti sama sekali. Tapi memang wajar, begitulah kalau orang di pedesaan, jangankan mengenal Turks Caicos Island, mendengar Carribbean saja mereka menjadi bingung. Tak mau mengecewakan mereka, penulispun membeli sebuah globe seukuran bola volley, tapi sayang TCI tidak ada di globe itu. Mungkin perlu globe yang lebih besar.

Penulis tidak kehilangan akal, penjelasanpun ditambah dengan mengatakan bahwa Turks Caicos Island itu terletak di sebelah utara negara Jamaica atau disebelah selatan Miami, kurang lebih 12 jam naik bis. Kenapa pilih analoginya naik bis? Lagi lagi harap maklum, penulis berada di kampung halaman, kalau dibilang satu jam naik pesawat, tentu bagi mereka kurang jelas karena rata rata mereka tidak pernah naik pesawat. Tetap juga mereka lanjut bertanya, Jamaica itu dimana, Miami itu dimana? Akhirnya Amerika Serikatpun menjadi senjata pamungkas. Hebat benar Amerika ya, terkenal sampai ke pelosok negeri :).

Berbekal pengalaman tersebut, sejak saat itu tiap ada orang yang bertanya maka penulis selalu jawab; Miami, AS. Gampang dan bisa meredam pertanyaan selanjutnya ditambah lebih keren kedengarannya. Sejak itulah semua orang dikampung mengganggap penulis bekerja di Miami AS. Sampai sampai ibu penulis sendiri dipanggil dengan sebutan Dadong Miami (dadong artinya nenek, yang mengasuh cucunya/anak penulis dikampung).

Rupanya kejadian yang penulis alami tidak saja berlaku di desa, dikota sekelas Denpasarpun orang masih tidak tahu dimanakah itu TCI. Mendengarpun mereka tidak pernah. Saat penulis diwawancarai lewat email oleh seorang wartawan Sarad Bali tentang geliat aktivitas orang Bali di luar negeri, sudah ditekankan sedemikian rupa tentang TCI namun sulit bagi mereka untuk memahami dan akhirnya Miamipun dibawa-bawa saat tulisan itu terbit. Artikel lengkapnya bisa dibaca di http://www.saradbali.com/edisi73/nyamabraya.htm. TCI oh TCI, adakah yang punya pengalaman lain?


Posted in Nusa Penida | 2 Comments

« Older Entries