Archive for the ‘opini’ Category

Saturday, March 21st, 2009

Jangan Asal Add Friends di Facebook

Salah satu fitur di facebook yang terkadang bikin saya jengkel adalah fasilitas ‘add friends’. Hal ini terjadi ketika ada orang yang hobby alias sembarangan add friends ke saya. Dalam beberapa hari banyak sekali menumpuk pending add request dari orang-orang yang sama sekali tidak di kenal.

Sebagai salah satu pengguna jejaring sosial ini, saya inginnya menjadikan facebook sebagai tempat menjalin komunikasi dengan teman2 yang saya kenal terutama teman lama yang sebagian besar hampir putus komunikasi. Jadi bukan sekedar tempat menampung list ‘teman’ yang entah dari mana. Sekarang ini saya mempunyai lebih dari seratus ‘teman’ di facebook. The sad part is I barely know half of them. Saya merasa asing di facebook saya sendiri. Yang lebih menjengkelkan adalah ketika orang2 ini bandelnya minta ampun. Sudah di-ignore, besoknya kok add lagi. Sudah di-delete, besoknya di add lagi.

Jadi mungkin begini ya, just because we have ‘friends in common’, it does not mean that we are ‘friends’ so please ‘add friends’ responsibly!

Posted in facebook, opini | 19 Comments

Thursday, November 27th, 2008

Manusia Palsu

Tidak ada manusia yang sempurna. Itu benar tetapi saya betul-betul anti-pati terhadap satu jenis manusia ini yaitu manusia palsu alias manusia tidak genuine. Manusia tidak genuine yang saya personally maksudkan adalah orang yang segala tingkah lakunya seperti wayang yang digerakkan oleh satu kamuflase untuk menutupi jati diri yang sebenarnya. Kata2 dan gerak-geriknya terasa palsu dan tidak dari hati keluarnya. Semuanya fake, palsu. Ketika kita ngobrol dengannya, terlihat sekali dengan jelas bagaimana palsunya orang ini, ramah memang tapi semua itu hanya dipermukaan. Basa-basinya menjadi kelewatan sehingga terkesan busuk. Bagi saya pribadi, ngobrol dengan manusia jenis ini merupakan suatu pelecehan intelektual terhadap diri sendiri. Dalam hati saya berkata, “Lu fikir aku ga nyadar bahwa lu tuh sebenarnya basa-basi aja padahal dibelakang you stab my back”

Sebagai mahluk sosial kita memang tidak bisa terlepas dari hukum alam untuk berinteraksi dengan manusia lainnya. Dalam perjalanan tersebut terkadang kita tidak bisa menghindar dari faktor like dan dislike, terlibat clash dan lain sebagainya. Selama ini saya sendiri berusaha menjadi orang yang to the point dan apa adanya. Dalam kehidupan sosial saya berusaha serealistis mungkin, tergantung kadar hubungan sosial terhadap orang tersebut. Jika akrab, gaya dan perilaku bicara sayapun beda dibandingkan jika dengan teman biasa saja, sekedar say hello dan sejenisnya. Nah jika dengan orang2 tertentu yang tidak ‘connect’ , entah itu karena clash masa lalu atau apa, saya lebih memilih untuk berinteraksi seminimal mungkin daripada harus menjadi manusia palsu. Selama masih ga nyambung saya lebih memilih untuk tidak berinteraksi. Biasanya ciri2 manusia fake ini antara lain:

1. Menyapa/greeting secara berlebihan, lebih dari common sense yang sewajarnya untuk kadar hubungan sosial tertentu

2. Bicara yang tidak sesuai dengan bahasa tubuh. Gerak-gerik kaku.

3. Nyari2 topik percakapan yang maksa

4. The most important thing adalah kepekaan kita untuk tahu secara otomatis begitu mulai ngobrol. Biasanya kita otomatis tahu kok, si manusia palsu ini aja yang kelewat badak mengira kita sebodoh itu.

Untuk manusia2 palsu, get off my face!

Posted in opini, social life | 20 Comments

Sunday, November 9th, 2008

Tips Hidup di Pulau Pribadi

Hidup dan bekerja di sebuah pulau pribadi terkadang menjadi sebuah dilema. Satu sisi itu adalah merupakan sebuah pilihan hidup demi sesuap nasi dan segenggam berlian. Konsekuensinya adalah harus menjalani kehidupan yang kurang normal, jauh dari family dan harus survive di tengah hiruk pikuk dunia pulau pribadi. Namanya juga pulau pribadi maka ‘isolasi’ itu sudah pasti. Kita harus hidup, makan, bekerja, bereproduksi dll hanya dan hanya di seputaran pulau tersebut yang luasnya hanya beberapa hektar. Berikut ini beberapa tips yang biasanya saya lakukan untuk bisa survive, kadang berhasil dan seringkali tidak tapi layak dicoba siapa tahu cocok dengan anda. Sekedar catatan, tidak ada garansi these things will work on you.

1. Bikin satu stiker besar yang bertuliskan Today is a Beautiful Day lalu tempel di pintu kamar mandi. Jadi setiap bangun pagi akan lihat tulisan itu. Ucapkan dan resapi secara mendalam. It will make your day. Rasakan energi positif yang masuk ke otak pas membaca kata2 itu.

2.  Makan yang banyak (and damn, kok saya masih kurus2 juga ya). Nah dengan makan banyak anda tidak akan punya waktu untuk stress dll, akan tetapi akan sibuk memamah biak. Pernah lihat sapi memamah biak kan? Mereka benar2 santai dan easy, menikmati dan mengunyah makanan rumput itu.

3. Berteriaklah sekencang2nya. Tentunya jangan di tempat umum. Lakukan di kamar atau kamar mandi, tutupi dulu muka anda dengan bantal atau handuk (jangan pakai keset) lalu  berteriaklah ttg apa2 yang membuat anda jengkel. Dijamin, nanti tenggorokan anda akan serak-serak kering.

4. Musik, musik dan musik. Dengarkan musik kesukaan anda dan naikkan volume sekeras2nya asal pakai iPod/MP3 player jadi yang rusak hanya telinga anda dan tidak telinga orang lain

5. Pergi ke gym paling tidak dua/tiga kali seminggu. Ini yang paling susah memulai dan mempertahankan mood.

6. Pergi ke pantai dan berenang. Pas sunset atau sunrise. Dijamin banyak sandflies tapi it worth it kok

7. Habiskan waktu sebanyak2nya di Internet. Chatting, browsing, blogging whatever. Ini yang paling asik.

8. Adakalanya kita ingin memukul wajah seseorang. Maka pergilah ke kamar dan pukul saja bantal karena jika beneran mukul orang dijamin akan dipecat

9. Jika kesal dan mangkel terhadap seseorang pergilah ke kamar dan berdiri di depan cermin. Lalu bayangkan bayangan anda itu adalah orang yang membuat anda kesal. Selanjutnya naikkan tangan anda dan beri dia (bayangan anda) the F finger.

10. Get a life and stop reading this bullshits.

Posted in Karibia, opini | 18 Comments

Monday, October 27th, 2008

Jiwa Wiraswasta Keturunan Tionghoa

Tergelitik hati saya untuk menuliskan postingan ini gara-gara terlibat obrolan di balai banjar dengan rekan2 kerja di Karibia kemarin. Kenapa ya pada umumnya orang2 keturunan Tionghoa itu kaya2 semua? celetuk Wayan Capil (bukan nama sebenarnya). Iya loh saya rasanya belum pernah sekalipun melihat orang keturuan Tionghoa yang miskin, gak di Bali, Jakarta, Yogyakarta, semua ta’ liat sama. Mereka semua orang2 kaya dan punya toko2 itu, tukas Made Kerug, seakan menegaskan kebenaran sebuah fenomena hukum semesta yaitu keturunan Tionghoa pastilah kaum yang berpunya.

Pendapat2 diatas cukup masuk akal karena kenyataan berbicara bahwa perekonomian kita didominasi oleh orang2 keturunan Tionghoa. Tengoklah kota Denpasar misalnya, sebagian besar sektor2 usaha strategis dimiliki oleh orang keturunan Tionghoa. Kenapa? satu jawaban yang pasti adalah karena mereka mempunyai mental yang ulet dan jiwa wiraswasta yang mumpuni. Mungkin sudah saatnya kita meniru semangat2 wiraswasta dari mereka sehingga kita bisa paling tidak ikut berpartisipasi dalam hiruk-pikuk dunia usaha di dimana kita berada. Beberapa poin yang kira2 menjadi faktor sukses orang2 keturunan Tionghoa adalah:

1. Menanamkan jiwa wirausaha sedini mungkin. Orang2  keturunan Tionghoa biasanya selalu melibatkan anak2 mereka yang masih kecil untuk ikut nimbrung pada usaha yang mereka geluti. Mereka dilibatkan dan dikenalkan dengan dunia usaha sejak dini sehingga sejak kecil sudah tertanam jiwa wirausaha pada diri mereka. Kelak sudah besar, mereka menjadi lebih siap untuk membuka usaha baru atau melanjutkan usaha orang tua mereka.

2. Jeli dan tidak ada rumus gengsi gede2an. Pada umumnya orang2 keturunan Tionghoa sangat jeli dalam melihat peluang usaha. Mereka tidak segan2 untuk memulai usaha itu dari nol dan berusaha mengembangkannya. Mereka tidak gengsi jika harus bersusah payah dahulu untuk merintis usaha mereka.

3. Hemat dan perencanaan keuangan yang tepat.  Hemat tidak berarti semata2 pelit melainkan pengeluaran yang tepat sasaran. Orang2 keturunan Tionghoa sangat berhati2 dalam penggunaan uangnya. Semua detail pengeluaran/pemasukan dicatat secara seksama. Kalau kita biasanya selalu berfikir, agh bodo amat, besok ya besok yang penting sekarang happy dulu. Kita juga tidak terbiasa dengan hal2 semacam perencanaan keuangan alias financial planning.

4. Bisa membedakan antara asset dan liabilitas.  Mereka lihai dalam hal ini sedangkan kita pada umumnya tidak tahu dan tidak mau tahu. Asset adalah barang2  yang mendatangkan pemasukan sedangkan liabilitas adalah barang2 yang menguras pemasukan alias pengeluaran tok. Contohnya; seorang keturunan Tionghoa tidak akan terjebak dalam pembelian barang2 yang akan menguras pemasukan dengan uang panas misalnya mobil (liabilitas karena pasti akan keluar biaya untuk bensin, pajak dll) tetapi mereka akan menunggu sampai ada uang dingin yang cukup. Kita? Baru juga punya DP 30% dari harga mobil sudah berani melakukan pembelian.

Posted in opini | 21 Comments

Friday, October 17th, 2008

Stop Marginalisasi Nusa Penida

Sudah menjadi hal lumrah bahwa setiap menjelang pemilihan kepala daerah, praktik tebar pesona dan jual beli janji menjadi marak. Para calon akan berlomba2 mensosialisasikan visi dan misi mereka, tentunya dengan berbagai cara mulai dari kampanye terselubung, kunjungan sosial, bantuan dan sejenisnya. Pun dengan agenda pemilihan bupati Klungkung yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi. Para calon berlomba2 menarik simpati massa.

Bagi warga Nusa Penida, pemilihan kali ini terasa sedikit istimewa karena salah satu calon bupatinya adalah putra asli Nusa Penida yaitu Prof. Ketut Kinog yang merupakan seorang guru besar di Unud (teknologi dan pariwisata). Inilah kali pertama ada seorang calon bupati dari Nusa Penida. Munculnya calon dari Nusa Penida ini sangat berpengaruh pada peta dukungan suara di Nusa Penida. Dari beberapa berita yang saya baca di koran, warga Nusa Penida menaruh harapan yang begitu besar pada Prof. Kinog, yang kalau nanti terpilih, bisa membawa perubahan yang realistis terhadap Nusa Penida terutama terhadap beberapa sektor riil/infrastruktur yang sifatnya mendesak.

Dengan tidak bermaksud untuk mengagungkan fanatisme sempit kedaerahan, saya rasa wajar saja masyarakat Nusa Penida mengharap Prof. Kinog menang. Kenapa tidak? Selama ini Nusa Penida masih menjadi daerah marginal di Klungkung terutama dari segi pembangunan infrakstruktur. Siapa tahu Prof. Kinog, jika terpilih, dengan semangat membangun daerah sendiri akan mampu menghapus marginalisasi Nusa Penida. Masak sih tega membiarkan tanah kelahiran sendiri? Bes bes adane to!

Prof. Kinog, jika terpilih nanti tolong hentikan marginalisasi Nusa Penida. Tiga aspek mendesak menurut saya adalah masalah air, transportasi dan pemerataan sarana umum. Dari 56.000 penduduk Nusa Penida (2006), hanya 1% yang menikmati what so called air PDAM. Sebagian besar rakyat Nusa Penida masih kehausan, mengandalkan supply air minum dari cubang alias air tadah hujan. Jika cubang kering sebelum musim hujan tiba, wargapun susah payah berjalan 5 kilometer untuk mendapat air minum, itupun rasanya asin karena sumurnya dekat dengan pantai.

Transportasi masih menjadi kendala utama. Perekonomian Nusa Penida terhambat karena kendala transportasi. Harga2 di Nusa Penida meningkat berlipat2 dibanding dengan Bali daratan, lagi2 karena masalah transportasi. Maksimalkan kapal ferry dengan membangun dermaga penyanding di Klungkung daratan. Aspek yang ketiga adalah sarana pelayanan umum seperti sekolah, puskesmas dll. Sekolah2 SD yang hampir roboh  harus dibangun, untuk melahirkan Kinog2 lainnya di masa depan. Tiga faktor itu merupakan start yang hampir sempurna untuk memulai mengembangkan Nusa Penida, paling tidak menjadi sejajar dengan pembangunan2 di ‘negeri seberang’ sana.

Posted in Nusa Penida, opini | 10 Comments

Wednesday, October 8th, 2008

Terapi ala Sang Pemimpi

Bisa jadi hari ini menjadi hari yang bersejarah dalam hidup saya kaitannya dengan dunia sastra khususnya perubahan perspektif saya terhadap novel sebagai sebuah karya sastra. Ironi memang, latar belakang pendidikan di fakultas sastra tidak lantas otomatis menjadikan saya suka membaca karya fiksi khususnya novel. Malah antagonis sekali, saya menjadi seseorang yang sama sekali tidak ada minat sekalipun membaca novel. Entah mengapa, yang jelas saya tidak tertarik untuk tahu imaginasi2 orang lain yang dituangkan dalam novel fiksi. Saya sering heran sendiri kenapa orang sampai rela membaca novel fiksi yang tebalnya terkadang terlihat mengerikan.

sang-pemimpi.jpg

Sampai hari ini ketika secara tidak sengaja saya ‘berkenalan’ dengan sesuatu yang bernama novel. Gara2nya saluran TV kabel di apartemen mengalami kerusakan sehingga baca2 buku menjadi sebuah alternatif. Saya penasaran melihat istri yang membaca sebuah novel. Sang Pemimpi judulnya, sebuah novel karya Andrea Hirata. Novel keduanya yang merupakan rangkaian tetralogi Laskar Pelangi. Pertama lihat saya sudah apriori dan bergumam dalam hati, buang2 waktu saja. Pastilah penuh bualan2 imaginasi, fikir saya.

Ternyata novel tersebut sama sekali lain dari asumsi saya yang cenderung negatif. Sungguh luar biasa, saya yang sedari dulu sangat anti membaca novel, sekarang menjadi tertarik untuk membaca novel Sang Pemimpi. Bab demi bab (mosaic) saya baca dengan penuh antusias dan saya seakan larut dengan jalan cerita novel tersebut. Penyajian dan pilihan kata2nya menarik sekali. Terkadang saya tertawa terbahak2 dan terkadang menjadi sedih. Novel tersebut berkisah tentang perjalanan hidup (masa SMA) tiga orang sahabat (Ikal, Arai dan Jimbron) yang hidup di sebuah kampung miskin dalam mengejar impian mereka, sekolah ke Perancis dan menjelajah Eropa sampai Afrika.

Novel tersebut ternyata tidak berisi bualan2 imaginasi semata tetapi penuh inspirasi dan juga pesan moral tentang kehidupan, nilai2 sosial yang menggugah semangat dan juga satire2 terhadap pemimpin2 bangsa yang dibungkus dengan scene2 komedi yang apik. Kekuatan karakter ketiga tokoh sangat terasa sekali. Pada titik tertentu, membaca novel ini seakan membaca sebuah buku motivasi yang disajikan dengan sangat cerdas tanpa dipenuhi dengan bahasa2 tipikal buku pendorong motivasi. Ekstremnya so to speak, sehabis membaca novel ini, kepala saya kok menjadi ‘ringan’ seakan seperti mendapat sesuatu yang besar dari novel tersebut. Beberapa quote2 dari novel tersebut bisa membakar semangat dan menuntun kita ke arah tingkat ‘kesadaran’ yang lebih tinggi.

Pun novel ini ada sedikit kekurangan menurut saya. Di awal2 cerita, penggambaran tokoh2nya detail sekali. Tentang masa2 sulit yang dialami ketiga tokoh tersebut. Alur cerita bergerak lambat dan membuat saya menjadi ‘frustasi’ tentang what is next. Kontradiksinya adalah pada pertengahan cerita sampai akhir, alur cerita seakan dibuat begitu cepat. Pengarang terkesan cepat2 ingin mengakhiri cerita. Saat tokoh2 itu ke Jakarta, dapat kerja, bisa kuliah dan dapat beasiswa. Semuanya digambarkan begitu ‘lurus-lurus’ saja dan terburu2. Serba cepat, serba indah dan banyak faktor2 bermunculan yang semuanya mengarah ke satu hal yang sama: happy ending. Rasanya tidak seimbang dengan alur cerita pada bab2 awal. Terlepas dari alur yang tidak seimbang itu, novel Sang Pemimpi menjadi bahan bacaan yang penuh inspirasi, menggugah semangat dan gilanya lagi, novel itu bisa menjadi ‘terapi’ atas beberapa potongan2 kecil dalam perjalanan hidup saya.

Posted in novel, opini | 12 Comments

Monday, September 22nd, 2008

Saya Blogger Anjing

Di tengah hiruk pikuk dunia blogging, adakalanya saya termenung sesaat memikirkan eksistensi saya sebagai seorang blogger baik eksistensi secara pribadi maupun eksistensi sebagai bagian dari sebuah komunitas blogger di Bali (BBC). Di satu titik, terkadang saya bangga menjadi seorang blogger; penuh idealisme, membuat tulisan2 yang bermakna, menghibur dan juga opini2 pribadi tentang sosial kemasyarakatan. Walau harus diakui, luapan2 sampah di otak sering kali menghiasi halaman2 blog. Di satu titik, saya masih meragukan kadar blogger dalam diri saya. Memang blogger asal katanya dari blog dan akhiran -er, jadilah blogger yang sejatinya tidak lantas simply berarti orang yang punya/manage sebuah blog. Rasanya more than that. Ada tanggung jawab moral dan ‘komitment’. Sekali lagi ini masalah rasa. Selama ini saya merasa terkadang main teriak aja dalam membuat sebuah postingan. Tanpa ada data jelas dan akurat, yang penting bernada protes maka sayapun teriak dan menggonggong sekeras-kerasnya. Kali ini saya merasa seperti blogger anjing, menggongong seenaknya tanpa tahu apa dan dimana.

Dalam komunitas bloggerpun demikian. Saya bangga jadi bagian dari komunitas blogger, dengan dada membusung saya memasang logo/banner BBC di blog saya. Terus terang saya kurang memahami makna dibalik pemasangan banner BBC tersebut, tidak pernah memikirkan kewajiban moral dan sumbangsih apa yang nantinya dapat saya berikan bagi perkembangan BBC. Yang penting pasang banner, ikut milis (jadi pendengar aja), ikut kopdar (syukur2) maka tet tetet totet introducing Devari; member BBC. Ternyata oh ternyata, betapa masih keroposnya jiwa dan skill saya dalam berkomunitas. Saya belum paham benar bahwa benang merah sebuah komunitas adalah semangat kebersamaan dan persaudaraan yang dulunya dimulai dengan persamaan interest which is dunia blog. Maaf ya BBC. Jangankan bisa sumbangsih apa-apa; diam dan duduk manispun ternyata saya tidak bisa. Saya seperti seekor anjing, penuh kepura-puraan, bermuka dua, menggonggong tanpa tahu duduk soal dan yang paling parah adalah saya tidak akan segan2  menggigit dan memakan sesama, asal arogansi saya terpuaskan.

Posted in blogging, opini, satire | 26 Comments

Sunday, September 14th, 2008

Surat Pembaca Bali Post

Surat Pembaca saya ini dimuat di Bali Post tanggal 13 September 2008:

Saya pribadi selalu mempunyai sebuah mimpi buruk ketika menggunakan jasa penyeberangan boat jalur Padang Bai - Nusa Penida (atau sebaliknya) yaitu adanya beberapa penumpang yang dengan seenaknya merokok di atas boat. Sebagai warga Nusa Penida yang kebetulan mencari nafkah di luar Nusa Penida, saya cukup sering menggunakan jasa boat untuk pulang kampung. Dari tahun ke tahun, saya tidak melihat adanya perubahan perilaku para oknum penumpang-penumpang itu yang seenaknya merokok di atas boat yang sempit tersebut. Bahkan beberapa waktu terakhir ini saya melihat beberapa oknum awak boat ikut-ikutan merokok pada saat ngecek penumpang sebelum berangkat.

Rasanya orang paling goblokpun tahu, merokok di atas boat itu sangat mengganggu penumpang lain dan juga dapat membahayakan boat itu sendiri (kebakaran) karena tanki bahan bakar penuh dengan bensin dan ceceran-cecerannya di bagian belakang. Saya bukan anti perokok, hanya kebetulan saja bukan perokok. Kasian penumpang lain, juga kasian ibu-ibu dan anak-anak. Tidakkah para perokok di atas boat itu punya sedikit rasa kemanusiaan untuk tidak merokok selama di atas boat?

Saya mohon pada pihak berwenang di pelabuhan dan juga pihak pemilik dan awak boat untuk memberlakukan larangan merokok secara sungguh-sungguh. Boat META bisa dijadikan contoh. Suatu hari saya naik boat ini, sebelum berangkat para awak boatnya dengan disiplin memberitahukan kepada seluruh penumpang untuk tidak merokok. Salut untuk boat META, mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi bagi boat-boat lainnya.

Posted in opini | 9 Comments

Tuesday, June 24th, 2008

Emotional Bank Account

Dua hari ini saya mengikuti human resources development training di tempat bekerja. Sejujurnya, rada malas juga mengikuti motivational training karena pengalaman di Bali, training2 semacam itu biasanya membosankan dan membuat mata beratnya lima kilo. Tapi training kali ini membuat saya penasaran juga karena ini untuk pertama kali ikut dan juga dengan embel2 trainer internasional yang juga mantan penyiar stasiun TV abc. There must be something special about this person yang akan di-offer.

Ternyata metode2 trainingnya sangat membuat suasana menjadi hidup dan kocak habis. Waktu training dari jam 7 pagi sampai 3 sorepun tidak terasa. Satu hal yang menonjol saya rasakan adalah adanya atmosfir kebebasan dalam session training. Trainernya open minded habis dan selalu membuat suasana menjadi segar. Juga cara penyampaiannya yang penuh dengan kondisi horizontal, dalam artian dia memposisikan diri satu level dengan para peserta sehingga apa yang disampaikan mudah masuk. Tidak ada kesan vertical, apalagi menggurui dan sok tahu. Ada satu materi yang ingin saya bagi disini, yang mungkin bisa menjadi sumber inspirasi yaitu tentang emotional bank account. Katanya, kecerdasan emotional kita bisa diibaratkan sebagai sebuah rekening tabungan di bank. Ada sifat2 yang masuk kategori versi menabungnya/deposit (yang berarti rekening tabungan kecerdasan emosi kita bertambah) dan ada juga beberapa karakter yang bisa dimasukkan kategori withdrawal yang membuat tabungan kecerdasan emosi menjadi berkurang, bahkan habis jika kesalahan2 itu dilakukan terus menerus. Kedelepan faktor itu adalah sebagai berikut:

1. Deposit: always seek to understand first. Withdrawal: assume to understand. Yang manakah yang paling sering anda lakukan? deposit atau withrawal? Dalam interaksi sosial dengan sesama, biasanya kita cenderung selalu take for granted seseorang. Tidak benar2 memahami duduk masalah sebelum mengambil keputusan akan tetapi tinggal assume saja. Karena apa? Assume to understand lebih gampang dilakukan tidak memerlukan pertimbangan matang dan assume biasanya sering dipengaruhi oleh faktor feeling.

2. Deposit: Show kindness, respectful. Withdrawal: Show unkindness, disrespectful.

3. Deposit: Keeping promises. Withdrawal: Breaking promises. Hati2 mengucapkan ’saya berjanji..’. Tidak bisa memenuhi janji akan menguras tabungan kecerdasan kita yang nantinya bisa mengarah kepada hilangnya kepercayaan orang terhadap kita.

4. Deposit: Always Loyal to the absent. Withdrawal: bad mouth, gossiping. Katanya kita memang sudah ditakdirkan untuk selalu gampang membicarakan keburukan2 orang lain. Tapi ini seharusnya tidak menjadi justifikasi. Jangan suka menggosipkan orang apalagi memfitnah. Ada pepatah bagus untuk point 4 ini: Speak the truth or Nothing at All.

5. Deposit: Set Clear expectations. Withdrawal: unclear expectations. Dalam membangun sebuah relationship misalnya dalam lingkungan kerja atau rumah tangga, usahakan selalu men-set ekspektasi yang jelas akan output yang anda harapkan dari hubungan tersebut. Istilah Balinya mungkin saru gremeng aliass tidak jelas apa yang sebenarnya diharapkan dari relationship itu. Jika sudah dari awal tidak jelas, maka outcome yang dihasilkan juga tidak tepat persis seperti yang diharapkan. Tidak ada pedoman pasti yang mengarah pada goal yang ingin dicapai.

6. Deposit: apologize. Withdrawal: proud and arrogant. Sejauh mana keberanian anda untuk meminta maaf jika salah? Believe or not, sebagian besar dari kita masih mengalami kesulitan dalam mengakui kesalahan. Minta maaflah secara tulus tanpa mengharapakan orang itu juga minta maaf. Apalagi ada embel2 misalnya: maaf deh, kamu juga sih bla bla.

7. Deposit: Give feedback. Withdrawal: No Feedback. Dalam memberikan feedback usahakan selalu memakai I Messages dan bukan You Messages. I Message artinya kita menyampaikan feedback itu dalam mode concern dan feeling, karena kita care dan bukan You Message alias attack mode (yg bisa ditanggapi sebagai bentuk personal attack). Misalnya memberi feedback kepada rekan kerja yang membuat kesalahan, I Messages: My concern to you is that …., My perception to you …, My feeling etc. Sedangkan You Messages lebih bersifat menjudge seseorang: You are selfish, you are…, you are ….etc.

8. Deposit: Learn to forgive and forget. Withdrawal: let it hold ‘hostages’/seek revenge. Belajarlah memaafkan seseorang dan melupakan kesalahan itu. To forgive saja belum tentu artinya to forget. Bisa saja kita memaafkan tapi belum bisa melupakan alias masih mondar mandir di otak kita.

Dari delapan hal itu, lebih banyak yang manakah diri Anda, deposit atau withdrawal?

Posted in Karibia, opini | 17 Comments

Thursday, June 12th, 2008

Dangdut Musik Kampungan?

Beh nu gen kampungan selera musik ci nok padahal be di luar negeri? (Wah masih saja selera musikmu kampungan padahal sudah berada di luar negeri), seorang sahabat teman nyeletuk di yahoo messenger saya. Saat online memang sering saya pasang iTunes mode sehingga apapun yang dimainkan di iTunes otomatis terdisplay di status yahoo messenger. Celetukan yang bernada meledek itu terjadi saat saya lagi online dan sedang mendengarkan lagu2 Meggi Z di iTunes. Saya hanya bisa tersenyum dan bertanya-tanya, benarkah musik dangdut itu kampungan?

Masalah selera terhadap musik adalah universal dan relatif sifatnya. Selama tujuan mendengarkan musik itu tercapai (such as untuk kesenangan, having fun, sebagai pengiring aktivitas dll), lalu apakah dasarnya kita bisa menjudge suatu jenis musik itu kampungan? Kampungan dalam hal ini asosiasinya adalah ketinggalan zaman, tidak modern, tidak cool dan sejenisnya. Musik dangdut mungkin identik dengan di kampung, musiknya orang desa. Paling tidak begitulah kira2 stereotype umum di masyarakat kita. Di satu sisi, mungkin musik dangdut menjadi sangat norak dan tidak listener friendly, namun hal itu sama saja dengan jenis musik lainnya. Tidak ada satu jenis musik yang sempurna.

Beberapa musik dangdut memang saya sukai terutama dangdut klasik. So what? Lalu apakah saya kampungan? Jika kampungan maksudnya adalah berasal dari kampung, itu dengan bangga saya akui bahwa saya memang dari kampung. Jika kampungan maksudnya adalah ketingggalan zaman, tidak modern, tidak cool, norak dan sejenisnya, tunggu dulu! Tidak fair rasanya saya dibilang kampungan dengan asosiasi yang kedua ini, hanya gara2 saya menyukai musik dangdut. Parameternya tidak lengkap.

Untuk si tukang celetuk, rasanya saya tidak begitu ketinggalan zaman. Sekedar informasi, saya termasuk orang yang ‘rakus’ karena menyukai banyak sekali jenis musik, dari dangdut, pop, rock, blues, heavy metal, raggae, rap dan so on. Lalu apakah saya tiba2 menjadi menjadi orang yang cool jika hanya menyukai Sepultura misalnya? atau Metallica? atau GNR? atau Lolot? atau System of a Down? Saya juga punya dan sering mendengarkan musik mereka yang saya posisikan sama dengan musik dangdutnya Meggy Z. Tidak modern jika mendengarkan lagu dangdut? Definisi modern-nya apa dalam hal ini? Gadget? Teknologi? Limewire, iPod, iTunes, JBL sound systems, pengolah audio di Mac hingga Fender Electric Strato. Semua itu tidak asing lagi bagi saya. Saya malah meragukan ‘kemoderenan’ tukang celetuk ini.

Musik adalah universal! Jangan pernah memvonis suatu jenis musik.

Posted in Personal Stories, opini | 36 Comments

Saturday, June 7th, 2008

Pilih Mana, Full RSS Feed atau Summary?

btw, saya kurang suka dng blog yg ga pasang full feed pdhl enak baca dulu lewat reader, baru dibuka n komen bila dirasa tulisannya menarik buat saya.

Demikian komentar yang ditulis oleh Edy pada postingan saya terdahulu ttg kenapa pengunjung menjadi malas berkunjung lagi ke blog kita. Komentar ini menjadi menarrik karena sejauh ini masih terdapat perbedaan pandangan antara beberapa pihak, tentunya ada yang suka full dan ada yang suka summary.

Yang suka full bisa diwakili oleh komentar diatas dimana dikatakan bahwa lebih enak baca dulu di reader dan jika menarik baru lanjut ke blog dan memberi komentar. Bisa diasumsikan di sini bahwa faktor hemat waktu dan tidak repot2 datang ke blog menjadi pertimbangan utama. Sedangkan yang suka summary berargumentasi bahwa jika rss dipasang full maka akan mengurangi traffic langsung ke blog, pembaca bisa dengan mudah membaca lewat reader tanpa perlu langsung datang ke blog yang bersangkutan. Di samping itu rss full katanya tidak bersahabat dengan server alias menjadi berat. Benarkah demikian? Saya sendiri tidak paham. Mohon pencerahan dari teman2 yang berkompeten.

Saya secara pribadi akan sangat berterima kasih jika para blogger langganan saya memasang rss feednya secara full content. Karena apa? Banyak blogger termasuk saya sendiri tidak selalu bisa dalam tiap postingan untuk menggunakan judul dan beberapa kalimat pertama dari sebuah postingan sebagai sebuah ‘wakil’ yang bisa2 benar merepresentasikan isi postingan secara tepat. Biasanya judul dan satu atau dua kalimat pertama menjadi prioritas saya dalam membaca feed lalu kemudian melihat secara sepintas keseluruhan isi postingan, tidak secara detail melainkan gerakan cepat untuk men-judge dulu atau mencari point2 yg mungkin menarik untuk dibaca lebih lanjut.

Jika dipasang summary saja maka tentunya saya tidak bisa melakukan itu, dan jika judul kurang menarik maka akan lewat begitu saja. Yang kedua memang dari segi kenyamanan. Saat ini saya subscribe sekitar 126 rss feed, untungnya sebagian besar dari mereka memasang full content sehingga saya dengan mudah meloncat dari feed satu ke feed yang lainnya. Jika sangat menarik atau saya mempunyai hubungan emosional dengan blogger tersebut maka akan saya lanjutkan ke blognya untuk memberi komentar.

Dengan pasang full content mungkin ada kemungkinan akan kehilangan possible hit/traffic, akan tetapi kemungkinan postif lainnya akan nambah yaitu bertambahnya subscriber. Membaca postingan lewat reader terasa ringan dan asyik karena bisa semuanya dalam satu jendela. Bagaimana menurut pendapat Anda?

Posted in blogging, opini | 16 Comments

« Older Entries