Archive for the ‘opini’ Category
Thursday, June 5th, 2008
4 Sebab Pengunjung Malas ke Blog Kita
Pernahkan Anda merasa malas lagi untuk berkunjung ke sebuah blog? Atau setidaknya merasa ‘terpaksa’ harus berkunjung balik sebagai sebuah bentuk balas budi karena telah dikunjungi dan dikomentari? Adalah wajar jika kita suatu saat akan terserang rasa malas untuk berkunjung ke sebuah blog karena blog mostly adalah sifatnya personal jadi terserah yang punya blog. Tetapi, satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah banyaknya pengunjung, banyaknya komentar dari pembaca merupakan satu faktor penting yang membuat sebuah blog menjadi eksis.
Saya tidak percaya 100% jika ada blogger yang bilang tidak perduli dengan pembaca/pengunjung, yang penting saya ngeblog dan menumpahkan ide. Dalam hati pastilah ada rasa ‘kesepian’ jika blognya tidak ada pengunjung. Jadi pengunjung blog sudah menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan. Sebisa mungkin pengunjung harus dibuat betah dan menjadi pengunjung setia (dan tidak sekedar terpaksa berkunjung balik). Beberapa tips berikut ini adalah sebab2 yang membuat pembaca biasanya menjadi malas, jadi mesti dihindari:
1. Postingan panjang. Postingan yang panjang sangat melelahkan bagi pembaca kecuali memang topik yang kita sajikan benar2 gres dan penting bagi banyak orang. Selain itu, postingan panjang cenderung menjadi tidak jelas arahnya, kontent utama menjadi kabur. Postingan panjang akan benar2 menjadi mimpi buruk jika ditambah dengan bentuk paragraph yang membengkak. Solusinya mungkin buat postingan yang bersambung.
2. Moderasi Komentar. Namanya juga blog jadi idealnya interaksi menjadi hal penting yang harus diperhatikan. Saat kita menulis komentar di blog seseorang, besar harapan kita agar komentar dan jejak kita bisa segera muncul. Jika dimoderasi, akan ada kekecewaan dan bilang (dalam hati), agh gaya sekali blogger ini pake moderasi2 segala. Kecuali blog anda sedang dilanda spam, moderasi tidak saya anjurkan.
3. Pelit Reply Komentar. Percaya atau tidak, hampir sebagian besar pembaca yang balik lagi ke blog kita, akan melihat dulu komentarnya yang ditulis kemaren. Apa dapat reply atau tidak dari owner blog tersebut. Pengalaman saya, jika komentar saya dijawab, ada perasaan senang dan merasa dihargai. Jadi ada semacam ikatan emosional antara pembaca dengan owner blog. Usahakan selalu membalas komentar yang masuk. Jika benar2 sibuk buat aja satu komentar untuk semua (hi all dst).
4. Penganut anti blogwalking. Jalan2 ke blog orang lain adalah salah satu bentuk sosialisasi sesama blogger. Tiap pembaca yang berkunjung (blogger) berharap kunjungan balik. There is no such free lunch dude. Tentunya akan menjengkelkan saat kita sudah berkunjung 3 kali misalnya, tapi yang dikunjungi tidak juga berkunjung balik ke blog kita. Lalu jika tidak ada yang special, kenapa kita harus balik berkunjung ke sana? Kecuali jika memang blog tersebut adalah termasuk blog seleb seperti Saylow misalnya
Posted in blogging, opini | 22 Comments
Tuesday, June 3rd, 2008
4 Jurus Ampuh Mengatasi Bosan Ngeblog
Tiap blogger pasti akan mengalami masa2 bosan ngeblog. Entah itu blogger ulung atau blogger pemula, suatu saat akan mengalami penyakit bosan ini. Beberapa gejala yang mungkin bisa dijadikan indikasi terserang penyakit bosan ngeblog adalah sebagai berikut:
1. sepertinya kehabisan ide. Kata ’sepertinya’ ditekankan disini dalam artian sebenarnya kita tidak kehabisan ide untuk tulisan blog tapi karena diserang rasa bosan ngeblog ini menyebabkan seolah2 kita kehabisan ide, sehingga mulailah berkurang ‘kepekaan’ otak kita untuk menangkap ide2 tersebut yang sebenarnya banyak bersliweran di otak.
2. berubahnya internet behavior. Saat masih semangat 45 untuk ngeblog maka pertama kali dibuka saat online adalah blog sendiri kemudian blog orang lain. Urutannya mungkin sebagai berikut: 1. buka blog sendiri, 2. buka blog orang lain, 3. Check email, 4. Login ke messenger, dst dst. Setelah terserang virus bosan ngeblog maka urutan diatas menjadi tidak jelas.
3. kurang perduli komentar. Saat virus bosn ngeblog ini sudah mencapai stadium 3 maka seorang blogger akan menjadi kurang perduli dengan komentar. Ada komentar atau tidak, kurang perduli. Balas komentar di blog sendiri juga sering diabaikan. Dulu setiap buka blog sendiri, yang pertama dilihat pastilah berapa koment yang masuk lalu satu persatu mulai membalasnya walau terkadang hanya sekedar ketik ‘hehehe’
Dan mungkin masih banyak lagi gejala2 seorang blogger yang kena virus bosan. Lalu apa ada obatnya jika terserang virus ini? Obat instant tidaklah ada, namun ada beberapa tips yang mungkin bisa sedikit mengurangi sehingga virus bosan ini bisa disingkirkan. Simak 4 jurus ampun mengatasi bosan ngeblog di bawah ini. Ingat, effect dari tips ini berbeda untuk masing2 blogger:
1. Jadikan bosan sebagai ide. Justru jadikan kebosanan itu sebagai bahan tulisan. Bila perlu bersambung. Misalnya kejadian2 yang dialami akhir2 ini yang menyebabkan menjadi bosan ngeblog.
2. Saatnya blogwalking. Jika merasa bosan dan mentok alias sepertinya tidak ada ide maka ini adalah saat yang tepat untuk blogwalking. Diakui atau tidak, blogwalking masih menjadi cara manual yang ampuh untuk membuat blog semakin dikenal
3. Blog2 baru. Saat blogwalking, usahakan juga untuk mengunjungi blog2 baru yang selama ini jarang atau sama sekali belum pernah dikunjungi. Ini sebagai sebuah bentuk refreshment. Misalnya, jika selama ini biasa keliling2 seputar blogs di Bali, mungkin sesekali singgah di Bandung, Jogja atau Surabaya.
4. Hiatus. Ini jurus pamungkas. Jika beberapa tips diatas tidak mempan maka sebaiknya hiatus saja alias break. Buat satu postingan sebagai pemberitahuan kepada pembaca bahwa anda akan break sementara waktu.
Posted in blogging, opini | 30 Comments
Wednesday, May 28th, 2008
5 Jenis Investasi Bajak Laut
Bekerja di luar negeri atau di kapal pesiar kurang lebih bisa diibaratkan sebagai sebuah pertapaan yang panjang. Setahun, dua tahun, lima tahun bahkan tidak jarang ada yang sampai sepuluh tahun. Pertapaan ini jelas bukan untuk memperdalam jurus2 ilmu silat akan tetapi sebuah pertapaan model kapitalis di zaman modern, tentunya dengan balutan bahasa2 halus yang berguna untuk membesarkan hati dan juga untuk menghibur diri semisal: demi masa depan yang lebih baik, untuk bekal di hari tua, demi masa depan anak2, pensiun dini dan sejenisnya. Semua itu bisa diseragamkan dengan satu bahasa yang sama yakni karena alasan ekonomi. Agar pertapaan berhasil, biasanya secara umum ada beberapa bentuk investasi yang dilakukan oleh para pemburu dollar di negeri orang ini:
1. Rumah/Tanah. Membeli tanah dan atau tanah sudah menjadi investasi favorit para pekerja di luar negeri. Kenapa favorite? Karena bentuk investasi ini paling mudah dan tidak memerlukan pemikiran bisnis yang ruwet (baca: managemen). Secara mereka berada jauh diluar negeri sehingga tentunya tidak bisa menangani langsung sehingga tanah/rumah menjadi pilihan gampang. Tinggal kumpulin uang, cari lokasi yang pas lalu beli. Di samping itu, harga tanah/rumah tidak akan turun alias selalu naik dari tahun ke tahun. Jadi kemungkinan rugi sangat sedikit kecuali rumah/tanahnya kena musibah/bencana alam
2. Rumah kos-kosan. Investasi dalam bentuk bisnis rumah kos-kosan juga lagi menjadi trend belakangan ini dikalangan teman2 pekerja di luar negeri. Investasi ini cukup menjanjikan mengingat arus urbanisasi di kota Denpasar terus meningkat dari tahun ke tahun. Lokasi2 yang startegis biasanya dekat kampus/sekolah dan juga dekat pusat2 ekonomi. Unfortunately, naiknya harga BBM baru2 ini cukup mencekik tenggorokan para peminat bisnis kos-kosan ini mengingat harga bahan bangunan meroket.
3. Kendaraan bermotor (personal atau untuk rental). Bentuk investasi yang tak kalah menariknya adalah bisnis beli mobil second untuk rental. Spesifikasi mobil bekas biasanya yang diatas tahun 2000 dan juga merek2 tertentu semisal Toyota Avanza, Toyota Kijang, Daihatzu Xenia dan sejenisnya. Rata2 income bersih untuk satu mobil adalah antara 3 jt - 5 jt rupiah per bulan.
4. Usaha Kecil/Menengah. Sebagian pemburu dollar di luar negeri juga melakukan bentuk investasi yang lebih serius. Dibilang serius karena memerlukan pemikiran extra untuk menjalankannya (business plan) semisal usaha warung makan, usaha bengkel, usaha warnet/wartel, usaha fotocopi dan lain sebagainya.
5. Deposito Dollar. Last but not least adalah investasi dalam bentuk investasi dollar. Bisnis ini cukup bikin jantung berdetak karena fluktuasinya yang dinamis tiap harinya. Biasanya selalu rajin mlototin internet untuk liat nilau nilai dollar. Bahkan terkadang mengharapkan ekonomi Indonesia anjlok sehingga nilai dollar menjadi meroket.
Ada ide investasi lain? Silahkan berbagi!
Posted in business, opini | 25 Comments
Monday, May 19th, 2008
Menggugat Hukum Kasepekang (arsip)
Hati menjadi gundah, pikiran menjadi tergugah setelah membaca di harian lokal tentang terjadinya kasus ‘kasepekang’ di Tabanan. Pelanggarannya adalah karena seorang warga dianggap telah mencemarkan tempat suci/pura dengan cara menggantung sebuah kursi plastik sejajar/lebih tinggi dengan posisi pura itu. Entah ini kasus yang ke berapa kali terjadi di Bali, yang jelas bukan yang pertama kali. Penulis bukanlah ahli hukum adat bukan pula ahli hukum positif namun secara harfiah hukum ‘kasepekang’ berarti sebuah hukuman/sanksi adat yang diterima oleh seorang/kelompok anggota banjar yang dianggap melanggar norma norma yang berlaku di banjar/desa bersangkutan, dengan jalan orang/kelompok tersebut dikucilkan dari banjar/desa adat setempat, dilarang tinggal di wilayah tersebut, tidak boleh menggunakan fasilitas kuburan dan juga dilarang berkomunikasi atau bersosialisasi dengan anggota banjar lainnya. Hukuman ini jelas jelas tidak bersumber dari hukum positif (KUHP, UU dan lain-lain) yang berlaku di NKRI tapi berdasarkan awig awig/hukum adat yang berlaku di daerah bersangkutan.
Hukum “kasepekang” seakan menjadi sebuah fenomena dalam kehidupan masyarakat Bali yang kental dengan adat istiadat dan nafas Hindunya. Contoh lainnya adalah hukum kasepekang karena melahirkan anak kembar dengan jenis kelamin yang berbeda. Hukum adat ini sudah dihapuskan beberapa waktu lalu oleh pihak terkait (DPD, DPRD). Pertanyaannya sekarang adalah masihkah hukum adat kasepekang ini relevant diterapkan? Tidakkah hukum tersebut bertentangan dengan hukum positif? Apakah pelaksanaannya sudah murni dan tidak melenceng dari ajaran Agama Hindu?
Sungguh suatu hal yang tidak masuk akal rasanya jika pada penerapan hukum adat kesepekang di Tabanan, muncul sebuah syarat yang terlalu komersil, denda 200 juta rupiah jika ingin diterima kembali sebagai anggota masyarakat disana, juga ada denda 500 ribu rupiah bagi siapa saja warga banjar yang berkomunikasi dengan ‘terpidana’ ini. Darimanakah sumber hukum adat yang menyatakan denda 200 juta ini? Sungguh tidak murni. Seharusnya sebuah sanksi, apapun itu, bersifat mendidik dan meluruskan apa-apa yang telah dilanggar. Jika sampai dendanya ratusan juta, itu keterlaluan. Dimanakah unsur mendidiknya? Dimanakah unsur meluruskannya. KOk yang terjadi malah kesan dimanfaatkannya hukum adat ini sebagai ajang balas dendam dan memupuk rasa kebencian. Seharusnya semua didiskusikan dulu dengan Majelis Desa Pekraman, atau dengan pemda setempat, atau dengan PHDI. Jika tidak ada penyelesaian bisa juga ditempuh jalur hukum positif.
Gampangnya penerapan hukum ini sewaktu waktu bisa menjadi bumerang bagi masyarakat Bali dengan adat-istiadatnya yang bernafaskan Hindu. JIka begitu mudahnya menerapkan hukum kasepekang, bukan tidak mungkin akan berakibat menurunnya nilai nilai adat itu sendiri, yang sudah dianggap tidak lagi bersifat mengayomi. Masyarakat akan menjadi apriori. Banjar dengan hukum2 adat yang kaku seolah olah menjadi sebuah momok yang menakutkan. Banjar tidak lagi menjadi sebuah oraganisasi yang bermakna apa apa, dengan kata lain, menjadi warga dunia saja atau bahasa bulenya citizen of the world. Itulah sebabnya perlu tindakan dari pihak2 terkait dalam upaya meluruskan hukum hukum adat yang bersifat terlalu frontal. PHDI harus memberikan semacam guidance yang jelas tentang penerapan hal ini. Jangan sampai adat dijadikan sebuah excuse untuk melegalkan hukuman apa saja tanpa minghiraukan hukum positif dan hak asasi manusia.
Posted in opini, social life | 17 Comments
Sunday, May 4th, 2008
5 Tips Memilih Tempat Hosting
Tanggal 30 April kemaren, dunia blogging saya terasa runtuh. Bagaimana tidak, tempat hosting blog saya ini mengalami down time seharian penuh. Dari email pemberitahuan yang saya terima, dijelaskan bahwa down time ini karena ada proses maintenance pada server di US yang mulai jam 6 a.m sampai dengan 10 p.m. Saya fikir itu mungkin maintenance reguler, things should be OK, saya mencoba menghibur diri walaupun agak kawatir juga karena ini kejadian yang kedua dalam sebulan. Selain target up yang jauh melewati dari jadwal yang ditentukan ternyata setelah up, semua setting dan data2 saya balik kembali ke settingan 11 April. Sedih, cemas dan marah campur jadi satu. Tak enak juga kepada pengunjung karena semua komentar mereka juga hilang tak berbekas.
Saya tidaklah terlalu mengerti ttg seluk beluk perhostingan sehingga kurang bisa memahami kenapa data2 saya bisa hilang. Walau sudah dijelaskan panjang lebar oleh tempat hostingnya namun saya masih sedih dan mangkel, terkadang menjadi paranoid terhadap tempat hosting. Pikiran saya simple saja, tempat hosting itu sama seperti bank, tempat saya menyimpang uang. Nah jika bank itu ada renovasi apa, masak uang saya ikut hilang? Satu pelajaran berharga dari musibah ini adalah ttg back up harian. Sebelum hostingnya down, back up saya hanya sampai 21 April saja, sedangkan tempat hosting malah lebih lambat, back up sampai 11 April saja. Ada beberapa tips dari saya jika hendak memilih tempat hosting:
1. Waspadai harga terlalu murah. Sebelum memutuskan memilih tempat hosting, sebaiknya bandingkan dulu dengan beberapa tempat hosting lainnya. Ini untuk mencari perbandingan harga2 hosting tersebut sehingga kita mempunyai sedikit gambaran ttg harga hosting yang masuk akal. Jika terlalu murah, perlu diwaspadai karena stabilitasnya diragukan. Tidak berarti harga mahal menjadi jaminan akan tetapi carilah harga yang ada di kisaran ‘normal’ dan pada umumnya.
2. Konsep Teman. Sebagian dari kita akan langsung percaya jika tempat hosting itu dipunyai oleh teman kita atau temannya teman kita. Ini belum tentu. Teman boleh teman tapi tidak akan menjamin sebuah profesionalisme, terumata jika terjadi bencana. Jadi rekomendasi teman sebaiknya hanya dijadikan acuan dan tidak menjadikannya ‘harga mati’ harus milih tempat hosting itu.
3. Terms of Service. Perhatikan baik2 terms of service dari sebuah tempat hosting karena biasanya ada beberapa pasal yang dijadikan ’senjata’saat musibah datang. Misalnya, tidak bertanggung jawab jika data hilang bla bla, tidak melayani back up bla bla. Saat kita mengadu, maka ini digunakan untuk melawan kita.
4. Daily back Up. Mungkin tidak ada tempat hosting yang sempurna. Things happen tapi jika memungkinkan carilah tempat hosting yang ada back up data kita secara reguler, jika bisa yang ada daily back up. Dalam kasus saya, jeda back upnya sampai 19 hari dari tgl 11 April sampai 30 April.
5. Reputasi Perusahaan. Yang bisa juga dijadikan acuan adalah reputasi tampat hosting itu. Perhatikan website resminya. Siapa2 saja kliennya. Bagaimana struktur organisasinya? Bagaimana profesionalismenya dan juga bagaimana kondisi customer servicenya, terutama jika kita masih newbie dan awam ttg hosting2an.
Akhirnya tetap saya tekankan bahwa back up sendiri menjadi sebuah keharusan.
Posted in blogging, opini | 23 Comments
Friday, May 2nd, 2008
Nunas Baos, Kebenaran Mutlak?
Dalam masyarakat Bali ada satu tradisi yang bernama nunas baos. Secara harfiah nunas baos berasal dari dua kata Bahasa Bali yaitu nunas yang berarti minta/memohon dan baos yang berarti suara (gaib). Jadi nunas baos kurang lebih artinya momohon suara gaib atau pawisik biasanya dari roh leluhur. Tradisi ini sudah lumrah dilakukan dalam masyarakat Bali dimana memang ada pemangku/balian (orang pintar) yang khusus melayani warga yang mau melakukan ritual nunas baos. Ritual ini secara harfiah bisa juga diartikan sebagai satu kegiatan untuk memohon petunjuk/bertanya kepada leluhur, roh leluhur kemudian meminjam badan kasar sang pemangku untuk memberikan wejangan atau petunjuk. Tentu saja sang pemangku tersebut dalam keadaan trance.
Ada beberapa hal yang menyebabkan orang Bali melakukan ritual nunas baos ini. Biasanya karena di timpa musibah. Jarang sekali (tidak ada?) orang Bali yang nunas baos karena sedang dapat rejeki misalnya. Mungkin sudah sifat dasar manusia yang kalau dalam keadaan senang, suka lupa dan acuh terhadap spiritual related things. Secara umum ada tiga penyebab mengapa orang Bali melakukan ritual nunas baos:
1. Kematian. Ini biasanya kematian yang tidak wajar semisal meninggalnya dianggap aneh karena tidak sakit juga masih usia produktif. Keluarga yang ditinggalkan ingin bertanya kepada leluhur hal2 misalnya sebab2 kenapa dia meninggal, apakah karena ada salah terhadap leluhur (jika benar, kejam amat ya leluhur main matiin aja), apakah ada kurang upacara, atau adakah orang lain yang meyebabkan kematiannya (santet) dll.
2. Sakit. Selain secara medis, orang Bali juga akan melakukan ritual nunas baos jika ada keluarga yang sakit keras dan obat2/tindakan medis tidak mampu berbuat banyak.
3. Kehilangan. Daripada lapor polisi, sebagian orang Bali lebih suka melakukan ritual nunas baos jika kehilangan sesuatu yang bernilai ekonomi besar semisal perhiasan, mobil ataupun benda2 pusakan warisan nenek moyang. Mereka akan bertanya kepada leluhur, kenapa hilang, siapa yang ambil, ada salah apa kami kok hilang dll.
Kronologi ritual itu biasanya sebagai berikut (sesuai pengalaman saya), pertama2 adalah persiapan banten (sesajen) yang terdiri dari canang selikur dan juga banten pejati. Sebelum berangkat ke rumah pemangku yang melayani ritual tersebut terlebih dahulu kita harus matur piuning (minta ijin/permakluman) kepada Ida Bhatara Hyang Guru (Tuhan) yang berstana di sanggah kita masing2 (pura kecil di rumah). Intinya bilang “Tuhan, saya mau pergi nih melakukan ritual, mohon direstui”.
Seringkali wejangan leluhur atau roh yang meninggal itu terlalu banyak untuk diingat sehingga kita perlu membawa tape recorder kecil, nantinya bisa diputar di rumah untuk didiskusikan dengan anggota keluarga yang lain. Pertanyaannya sekarang adalah seringkali hasil nunas baos berbeda antara tampat yang satu dengan yang lainnya, padahal yang ‘bicara’ adalah roh yang sama, prosesi yang sama dan juga sesajen yang sama. Hanya pemangkunya ya berbeda. Bagaimana menjelaskan ini? Akhirnya saya pribadi berkesimpulan bahwa nunas baos tidak bisa dijadikan kebenaran mutlak. Namanya juga nunas alias minta, bisa dikasi atau tidak. Berdoa dan mohon pencerahan dari Tuhan tetap yang utama.
Posted in opini, social life | 3 Comments
Wednesday, April 9th, 2008
Saya Blogger Penakut?
After two years of deliberation, the House of Representatives passed the Electronic Information and Transaction Law last month, which prohibits citizens from distributing slander in any electronic format. Perpetrators can get a maximum of six years in prison or a fine of Rp 1 billion (US$107,526)
Itulah kutipan headline news dari Jakarta Post (4//7/2008) yang saya kutip dari milis Bali Blogger Community. Rada kawatir juga membaca kutipan berita tersebut. Bagaimana tidak, enam tahun penjara atau denda satu milyar rupiah. Beberapa hari lalu saya dapat copian lengkap tentang UU-ITE dari Sakti di Semarang dan memang isinya banyak yang tidak saya mengerti. Takutnya nanti adalah adanya banyak celah yang dipakai menjerat karena kebanyakan pasal2 tersebut mengandung makna ambigu alias pasal2pasal karet (meminjam istilahnya Sakti), terutama yang berkaitan dengan definisi mencemarkan nama baik dan mengemukakan berita2 yang tidak benar. Lah bagaimana dengan opini pribadi? Berita yang benar menurut versi siapa?
Adanya UU-ITE honestly membuat rada keder juga, bukan2 apa wong saya bukan aktivist dunia maya kok, saya juga bukan cracker dan hacker. Tapi pas liat2 posting2 lama, ada juga posting2 ttg opini pribadi (mainly ttg Bali) yg siapa tahu bisa dikategorikan melanggar UU itu. Haruskah posting2 saya delete? Mungkin saatnya sekarang pilih2 tema yg sekiranya aman2 saja? Saya blogger penakut?
Dari pengalaman beberapa tahun lalu saat2 aktif sebagai ‘aktivist’ tingkat banjar, bahwa bagaimanapun kuatnya kita adu argumen, berapapun banyaknya kita berbekal UU yang kita tahu yang sekiranya bisa melindungi kita, seberapapun kerasnya kita berteriak2 unjuk rasa atas nama kebebasan berpendapat, saya JAMIN tetap tidak bisa mengalahkan sistem (baca: pemerintah). Dulu padahal kejadiannya cuman simpel saja. Saya menulis sesuatu ttg protes sosial pembangunan di tingkat desa (di BaliPost) dan bisa ditebak beberapa perangkat tingkat desa tidak terima dan malah melaporkan saya ke polisi. Alhasil sayapun pernah merasakan pengapnya ruang interogasi. Kenapa tidak memakai hak jawab saja dan menulis balik di media yang sama? Jadi pesan moralnya adalah know your limit, sistem versus kita? Ya jelas 1-0!
Posted in blogging, opini | 30 Comments
Monday, April 7th, 2008
Gaji Dollar, Mental Rupiah
Sekian lama menjadi bajak laut ada satu hal yang masih tidak berubah pada diri saya (belum?) yakni dalam hal pengelolaan uang. Hasil merompak tentu saja dalam bentuk US dollar yang jika dikonversikan ke mata uang rupiah nilainya akan jauh berbeda. Ternyata mental rupiah masih begitu kental melekat di otak. Akibatnya bisa ditebak, spending dollar dalam keseharian selalu saja dikait2kan dengan mata uang rupiah. Otak secara otomatis akan membandingkan, beli t-shirt misalnya seharga $ 70, langsung berfikir wah ini kalau di rumah 600 ribuan nih, bisa beli beras lima karung, misalnya.
Satu sisi, mental rupiah mungkin terkesan kurang gaul dan kurang mengglobal. Apalagi jika dikaitkan dengan pepatah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, jadi jika gajinya dollar mental spending harus dollar juga, begitu nasehat beberapa teman. Bahkan ada yang menyebutkan jika bermental rupiah di luar negeri bisa dipastikan orang itu adalah fans beratnya Tukul alias katro. Saya jadi teringat pengalaman beberapa tahun lalu saat pertama kali ke luar negeri dan singgah di Heathrow London dimana selama beberapa jam di bandara saya tidak ikhlas untuk membeli sebotol air mineral kecil seharga 6 pounds. Saya langsung berfikir kalau di Bali, uang sebesar itu bisa membeli 5 galon besar air mineral. Parah memang, tapi itulah pengalaman pertama kali yang syukurlah tidak terulang lagi.
Begitu negatifkah jika bermental rupiah di luar negeri? Kurang global sih mungkin iya tapi saya pribadi mencoba membawanya ke dampak positif saja, sekalian untuk nyaruang (menyembunyikan) mental wong ndesonya. Mental rupiah membuat saya:
1. Menghargai nilai uang. Dengan selalu berfikir rupiah saya lebih bisa menghargai nilai uang pada sebuah barang atau jasa. Sebuah CD musik misalnya seharga $ 26 rasanya terlalu tinggi nilai uang (dollar) yang harus dibayarkan dibandingkan dengan beli CD musik di Bali.
2. Belajar Hemat. Mental rupiah ternyata sangat ampuh untuk menjadi sebuah rem sehingga penggunaannyapun bisa dikontrol dan tidak kebablasan. Dengan membandingkan dan otomatis berfikir ke rupiah, mau tidak mau saya menjadi berfikir beberapa kali sebelum memutuskan membeli sebuah barang/jasa.
3. Tidak termakan pepatah. Di Bali ada sebuah pepatah yg bilang (kalau tidak salah) gede ombak gede angin yang artinya kurang lebih income lebih besar maka spendingpun otomatis lebih besar pula. Memang benar, jika tidak hati2 gaji dollar seringkali membuat orang lupa diri sehingga bisa keluar jalur dan tidak ingat tujuan bekerja jauh2 di negeri orang.
Yang mengkawatirkan adalah jika sampai terjadi sebaliknya, gaji rupiah tapi mental dollar. Agh!
Posted in Intermezzo, Karibia, opini | 27 Comments
Tuesday, April 1st, 2008
Budaya Jual Warisan
Apakah Anda pernah menjual warisan? Sedang memikirkan untuk menjual warisan? Atau masih ragu2 menjual warisan? Atau tidak berani/malu2 menjual warisan? Atau sama sekali belum memikirkan warisan? Saya sendiri tidak termasuk dalam lima golongan diatas karena memang tidak mempunyai warisan. Seandainya punya, mungkin sudah termasuk ke dalam salah satu golongan tersebut. Budaya jual warisan sudah menjadi fenomena umum di kalangan masyarakat Bali, khususnya tanah warisan. Tidak jarang masalah jual tanah warisan ini menimbulkan konflik di dalam keluarga misalnya, perang saudara dll. Bahkan saya menemukan satu kasus dimana orangtuanya masih segar bugar menggarap tanah tersebut tapi sudah dipaksa oleh anak2nya untuk menandatangani surat penghibahan. Tragis.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online, warisan adalah sesuatu yg diwariskan, spt harta, nama baik; harta pusaka, sedangkan pewaris adalah orang yg mewariskan dan penerima warisan yg sah berdasarkan hukum (agama, adat) disebut dengan waris sah. Ternyata selama ini saya sudah salah kaprah, pewaris dulunya saya artikan sebagai orang yang menerima warisan, ternyata artinya terbalik 180 derajat dan saya belum familiar dengan istilah waris sah. Jadi bagi yang terlibat dalam surat2 hibah warisan, istilah2 tersebut perlu dipahami sehingga tidak menimbulkan salah arti dikemudian hari.
Lalu salahkah jika menjual tanah warisan? Secara hukum positif dan hukum adat, tidak ada yang salah kalau menjual tanah warisan asal memang terbukti sebagai waris sah dari tanah tersebut. Saya pribadi (jika punya warisan), berdasarkan etika dan hati nurani, akan menjadikan jual tanah warisan sebagai pilihan terakhir. Lebih baik didayagunakan dulu daripada dijual. Sudah jelas2 tanah warisan adalah bukan hasil jerih payah kita walau secara administrasi menjadi pemilik sah tapi jika masih bisa berusaha, rasanya lebih baik nden malu (nanti dulu). Terlebih lagi jika proses jual tanah warisan itu membuat dua bersaudara misalnya, harus mengangkat pedang satu sama lain karena mempunyai persepsi yang berbeda dan merasa mendapat bagian yang lebih sedikit.
Ada berbagai motivasi yang melatarbelakangi orang untuk menjual tanah warisan, pada dasarnya untuk mengejar taraf hidup yang lebih baik entah itu diartikan secara mentah2 (kesenangan sesaat) ataupun bermakna dalam (ada tujuan jangka panjang). Berbagai motif itu antara lain :
1. Kesehatan. Yang termasuk kategori ini misalnya untuk biaya keluarga yang sakit keras yg memerlukan biaya banyak. Motif ini rupanya menjadi excuse yang paling bisa ‘diterima’ secara umum.
2. Paksaan pihak ketiga. Yang termasuk kategori ini misalnya karena tanah warisan tersebut ‘diminta’ oleh pemerintah untuk membangun fasilitas umum atau ‘diminta’ oleh desa adat untuk keperluan desa. Jadi terasa seperti tidak ada pilihan.
3. Usaha. Ada juga yg mempunyai motivasi menjual tanah warisan karena what so called membuka usaha sendiri alias bisnis. Tujuan yang mulia sebenarnya asal masih bisa tetap dalam tujuan semula dan modal dari jual tanah warisan itu harus tetap ‘dikondisikan’ sebagai modal panas sehingga kita menjadi terpacu seperti meminjam modal dari bank.
4. Pindah lokasi. Ini juga salah satu motif ekonomi, menjual tanah warisan untuk dibelikan tanah lagi di lokasi yang sekiranya lebih menjanjikan secara ekonomi.
5. Mengejar gaya hidup. Yang ini nampaknya paling parah, hanya semata2 untuk mengejar tujuan gaya hidup/kesenangan sesaat. Jual tanah warisan lalu mendirikan gedong tingkat 10, pintu rumah disulap menjadi kori agung, membeli mobil dan kesenangan2 lain khas orang2 yg hidup di negara2 dunia ketiga.
6. Biaya Sogok. Dalam hal ini sogok yang dimaksud adalah suap untuk mencari pekerjaan (PNS?), biaya suap untuk nyalon jadi kepala desa (desanya ‘basah’) dll.
Anda termasuk motivasi yang mana?
Posted in opini, social life | 47 Comments
Saturday, March 29th, 2008
Belajar Berjiwa Wiraswasta
Entah mengapa akhir2 ini saya punya pikiran merasa terkurung dalam sebuah doktrin berfikir yang tertanam selama bertahun2, yaitu cara berfikir yang selalu employed-oriented alias bekerja (pada orang lain) entah itu kantoran, hotel dan sejenisnya. Tidak pernah berfikir tentang self-employed/membuat usaha sendiri misalnya jualan sayur, jualan bakso, jadi tukang cukur dan sejenisnya yang bisa dikategorikan usaha sendiri. Sejak masa sekolah selalu berfikir kerja dimana, jadi apa, posisi apa dll. Ketika sudah bekerja pada perushaan A dengan gaji tinggi, lalu berfikir lagi untuk kerja di perusahaan B yang menawarkan lebih. Doktrin itulah yang sangat berperan pada diri saya sehingga mental babu (baca: mental pekerja, bukan mental pengusaha) tumbuh subur dalam pikiran saya.
“Saya jadi babu dan kaya, so mengapa mesti wiraswasta lagi?” Saya tidak mengatakan bahwa menjadi pekerja adalah tidak OK, sama sekali tidak. Ada satu kepuasan tersendiri jika punya usaha sendiri dan menciptakan lapangan kerja untuk orang lain. Tidak ada yang salah. Saya sendiri sampai saat ini adalah seorang pekerja yang bermental babu tulen. Harus diakui bahwa karena menjadi babulah saya bisa seperti sekarang, belum kaya sih tapi cukup makan dan minum, dan cukup yg lainnya. Saya hanya merasa bahwa mungkin sudah saatnya saya mulai berfikir untuk move forward dan menghentikan mental babu itu dan mulai belajar untuk berfikir mandiri dalam dunia kerja. Langkah nyatanya adalah pada 2007 dengan segala keterbatasan dan modal panas dan dengan jumlah hanya 70% dari seharusnya yang ada di business plan, saya merintis sebuah bengkel mobil di Denpasar. Hal itu benar2 menjadi titik tolak dalam merubah sedikit demi sedikit cara saya berfikir untuk mulai belajar berwiraswasta.
Secara sepintas, modal dan kesempatan terlihat menjadi faktor yang menentukan tapi nyatanya tidak. Saya punya banyak kolega yang sudah menjadi pekerja bertahun2 bahkan puluhan tahun, baik di dalam maupun luar negeri. Dari segi modal rasanya tidak menjadi masalah untuk memulai sebuah usaha sendiri skala kecil/menengah. Tapi karena mental babu yang masih begitu kuat dan tidak mau keluar dari comfort zone maka tidak ada pikiran sama sekali untuk memulainya. Yang ada hanyalah kesibukan yang terus menerus dan selalu dalam hunting mode untuk mencari di perusahaan/hotel mana bekerja. Alhasil, saya sangat sedikit mempunyai teman yang bisa diajak ngobrol dan berjiwa wiraswasta. Walaupun tidak bisa serta merta, paling tidak mempersiapkan diri setelah selesai bekerja di negeri orang. Mereka hanya sibuk mencari update2 berita hotel apa berdiri dimana, hotel apa ada lowongan dan service chargenya berapa dan sejenis2nya.
Walau tidak bisa sekarang, paling tidak pikiran sudah mulai terbuka ke arah sana. Jika terus termakan doktrin itu, lalu sampai kapan menjadi babu terus? Akankah sampai tua? Apa tidak bosan bekerja untuk orang lain terus? Ternyata belajar berjiwa wiraswasta tidak harus melulu yg muluk2 dan tinggi2. Berikut beberapa tips untuk memulainya:
1. Stop mental babu itu. Hal yang paling penting adalah pikiran kita. Kebanyakan dari kita sudah terbiasa selalu berfikir sesuai doktrin itu sehingga menutup mata untuk hal2 menyangkut wiraswasta. Jika pikiran sudah terbuka maka selanjutnya akan lebih mudah.
2. Konsep modal. Memang modal menjadi faktor utama dalam memulai sebuah usaha mandiri tapi tidak menjadi faktor penentu. Banyak cara untuk mensiasati faktor ini misalnya nabung sejak dini, pinjaman dll.
3. Jgn muluk2 dan tinggi2. Dalam memulai usaha sendiri, jgn langsung memikirkan hal2 yg gede dan muluk2 misalnya bagaimana menyaingi KFC, bagaimana menyaingi BCA dll. Mulailah dengan hal2 kecil dan biarkan pikiran kita membentuk sebuah konsep dulu dengan fondasi yang kuat ke arah bisnis.
4. Hobi dan jeli melihat peluang. Idealnya memulai sebuah usaha adalah sesuai dengan hobi sehingga dalam menjalaninyapun akan lebih enjoy. Jika senang makan, buatlah warung nasi yang punya ciri khas dan branding sendiri misalnya Warung Makan Bajak Laut. Jika senang fashion, buatlah usaha butik misalnya dengan sentuhan khas yg menbedakan dari usaha sejenis. Jika senang online, bikin warnet. Jika senang bakso, jadilah juragan bakso, buat beberapa rombong (sekitar 2 jtan perbuah) lalu cari pekerja orang Jawa (maaf orang Bali gengsinya gede, walau kantongnya kosong) yang mau dimodalin untuk jualan bakso.
5. Tanyakan pada diri sendiri. Akhirnya semua kembali berpulang pada diri sendiri. Tanyakan pada diri kita masing, apakah saya ini termasuk forever babu-oriented atau entrepreneur-oriented. Saya sendiri termasuk semi babu oriented
Posted in Personal Stories, business, opini | 63 Comments



New Comments