Archive for the ‘Personal Stories’ Category
Wednesday, June 17th, 2009
Menjadi IT Assistant
Hari ini bisa jadi menjadi hari yang cukup bersejarah dalam dunia karir saya. Setelah kurang lebih empat tahun di ‘front house’, hari ini cita-cita untuk menjadi IT Assistant menjadi kenyataan. Akhirnya kesampaian juga mimpi untuk mengenal lebih jauh seluk beluk dunia IT khususnya di hotel/resort.
Sebenarnya ini bisa dibilang keajaiban kecil. Bagaimana tidak, beberapa minggu sebelumnya saya sudah mengajukan surat resignation dengan alasan ingin istirahat sejenak di Bali namun sebenarnya lebih disebabkan karena rasa jenuh yang teramat akut dengan pekerjaan lama. Suddenly sebuah keajaiban datang, sang IT manager tiba2 menawarkan posisi baru yang memang saya sukai yaitu IT.
Dengan latar belakang Sastra, pastinya saya akan bekerja extra keras untuk bisa menjadi seorang IT Assistant yang efektif. Good newsnya adalah saya enjoy very much dengan dunia baru ini sehingga jam kerja menjadi tidak terasa.
Terima kasih juga saya ucapkan for those who make this happen. Chris Lucken, Jeff Morgan, Sue Allison, Mary Forbes, Lilik Mulyadi, Eni istri tercinta atas supportnya, Monica dan semuanya. Thanks guys, I won’t let you down!
Posted in Karibia, Personal Stories | 13 Comments
Saturday, May 2nd, 2009
Pentingnya Asuransi Kesehatan
Kebanyakan dari kita kurang menyadari pentingnya untuk mempunyai asuransi kesehatan. Pun dengan saya. Selama ini termasuk acuh akan peranan dari asuransi kesehatan. Sewaktu masih di Bali, satu-satunya asuransi kesehatan yang saya kenal hanya ASKES dari Departemen Kesehatan. ASKES itu merupakan asuransi kesehatan ‘wajib’ bagi kalangan PNS dan keluarganya. Namun saya pesimis dengan asuransi tersebut karena begitu kita pakai berobat di rumah sakit/puskesmas, saya merasa dinomorduakan dalam hal pelayanan. Sejak itu tidak pernah pakai ASKES lagi. Saat kerja di Balipun saya acuh dan tidak pernah ngecek dengan perusahaan tempat kerja bagaimana status asuransi kesehatan bagi karyawan di company tersebut.
Thanks to resort tempat saya bekerja sekarang. Seluruh karyawannya dicover asuransi kesehatan termasuk dependent. Beberapa hari yang lalu saya mengantar istri ke dokter kandungan di Providenciales. Hampir 5 tahun di Karibia, inilah kali pertama saya ke dokter dan menjadi ngeh betapa pentingnya asuransi kesehatan. Dokter kandungan di Karibia mahalnya minta ampun. Mungkin karena saya masih dalam ‘rupiah mode’, biaya ke dokter terasa mencekik leher. Sekali berkunjung untuk konsultasi dan pemeriksaan USG saya mesti bayar $450an excluding obat. Dua kali ke dokter dompet jadi tekor $1000an. Bandingkan dengan di Bali. Sekali ke dokter untuk USG paling-paling bayar rp. 100.000an. Alat dan pelayanan medis yang didapat hampir sama kok, cuman bedanya yang periksa dokter bule. Untungnya istri saya di cover NEMcare, sebuah perusahaan asuransi kesehatan di Karibia. Untuk biaya ke dokter sampai melahirkan normal dicover sampai dengan $6000 max sedangkan kalau cesar dicover sampai dengan $10.000 max.
Posted in Karibia, Personal Stories, family | 6 Comments
Sunday, April 26th, 2009
Happy 5th Anniversary
Hari ini 26 April 2009 kami merayakan ulang tahun hari pernikahan. Tidak terasa sudah lima tahun lamanya saya dan istri tercinta menjalani bahtera rumah tangga. Banyak suka dan duka. Yang jelas kami bersyukur kepada Tuhan atas segala rahmat dan lindungan-Nya.
Happy 5th Anniversay to us!
Posted in Personal Stories, family | 12 Comments
Friday, November 14th, 2008
Renungan di Ultah ke-30
Hari ini 15 November 2008 waktu Indonesia, saya genap berusia 30 tahun. Seperti tahun2 sebelumnya, tidak ada perayaan khusus karena sayapun terkadang mengganggap biasa saja. Namun pada ultah ke 30 ini saya merasa ada satu perasaan yang berbeda. Tidak tahu sebabnya apa, yang jelas saya merasa usia 30 tahun adalah usia yang benar2 ’serius’. Usia dimana saya merasa tidak bisa ‘main2′ lagi.
Entahlah, apa saya sudah terkena syndrom umur karena sudah memasuki kepala tiga. Ada yang bilang, life begins at 30. Rumors ini tentu saja makin mempengaruhi kejiwaan seseorang yang memasuki usia 30 tahun. Alih2 merayakan euforia hari ulang tahun, saya malah larut dalam renungan tak bertepi. Kilas balik tentang kehidupan saya selama 30 tahun ini. Apa yang sudah saya lakukan? Apa yang sudah saya capai? Sudahkan saya menjadi dewasa dalam arti yang sesunguhnya? Kira2 saya hidup berapa tahun lagi ya berdasarkan rata2 usia hidup orang Indonesia? Kapan bisa kaya raya dan pensiun muda ya? Bagaimana kehidupan rohani saya? Sudahkah jadi anak yang baik? Sudahkah jadi suami, ayah dan sahabat yang baik? dan seterusnya. Berbagai macam pertanyaan seolah muncul silih berganti di kepala. Jawabannya masih ada di awang2. All I want to do adalah berbuat yang terbaik dalam peran saya saat ini.
Selamat ulang tahun untuk diri saya dan juga buat orang2 yang berulang tahun di hari yang sama!
Posted in Personal Stories | 21 Comments
Saturday, October 11th, 2008
Selamat buat Surya Dinata
Setelah kurang lebih 3 tahun 2 bulan berkutat di bangku kuliah, akhirnya hari ini Surya Dinata, keponakan sekaligus the best friend I ever had, lulus ujian skripsi di Teknik Mesin, Universitas Udayana dengan nilai A. Topik skripsinya sungguh menarik bagi saya dan mengandung potensi yang besar di kemudian hari. Analisis arak Bali sebagai pengganti bahan bakar bensin pada kendaraan bermotor, demikian topik skripsinya. Jadi benang merah penelitiannya adalah bagaimana teknik2nya biar etanol yang terkandung dalam arak Bali itu bisa menjadi bahan bakar. Seru juga andai itu bisa benar2 terwujud, jadi nanti tidak saja manusia yang punyah (mabuk) melainkan kendaraan bermotor juga hehe.
Saya turut bangga. Sekali lagi, selamat ya buat Surya Dinata alias agus ateng. Seperti yang kau bilang, terima kasih arak Baliku, perjuangan belum selesai. Selamat berjuang kawan, semoga kita semua ditunjukkan jalan oleh-Nya (semoga nilai dollar terus naik hehe), sehingga cita2mu melanjutkan S2 di tanah Jawa terwujud.
Posted in Personal Stories, family | 11 Comments
Friday, August 8th, 2008
Pulang Kampung ke Bali
Akhirnya hari yang ditunggu2 datang juga. Minggu ini 10 Agustus 2008, kami pulang kampung ke Bali dalam rangka annual leave. Jika tidak ada halangan, rencananya kami tiba di Bali Selasa malam 12 Agustus. Sebenarnya ini perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan tapi rasa senang pulang kampung seakan mengalahkan rasa lelah itu. Bayangin saja, dari Providenciales ke London naik angkot selama 10 jam lalu transit di sana beberapa jam kemudian naik angkot lagi ke Singapura selama 12 jam lebih dan akhirnya naik ojek ke Bali selama kurang lebih 2 jam.
Bali, I am coming! Postingan ini sekaligus pertanda saya break sejenak dari dunia blogging atau mungkin nanti hanya sesekali posting, maklum hanya punya dial up di rumah! Til we meet again kawan, juga see you around buat teman2 blogger di Bali, mudah-mudahan bisa ketemu darat nantinya!
Posted in Personal Stories | 30 Comments
Friday, July 25th, 2008
Dari dan Untuk Seorang Sahabat
Postingan ini merupakan sebuah tribute untuk seorang sahabat yang telah menuliskan sebuah catatan kecil sebagai berikut:
sendiri, ku termenung
terpaku dalam diam, dalam sepi.
sungguh ku tak mengerti, tak ku temui jawabnya.
sobat,
ku kehilanganmu, kini kau benar benar menjauh dariku, kau seakan hilang dari kehidupanku, tak ada lagi tegur sapamu, tak ada lagi perhatianmu, tak ada lagi candamu, yang semua itu membuatku nyaman. apa salahku padamu, sobat? hingga membuatmu benar benar tenggelam dalam jauh
sobat,
ku menyayangimu tulus, tak mau ku kehilanganmu, namun pabila menjadi sobatku itu tak membuatmu nyaman, dan kau merasa lebih bahagia tak bertemankan diriku lagi, ku akan mencoba menerimanya, meski terselip rasa sedih dan kehilangan,
rasa kehilangan yang menyelinap di kisi kisi hatiku, ada yang hilang dari hatiku
sobat,
bagaimanapun dirimu tetap sahabatku, teman terbaik yang pernah ku punya, teman terbaik yang pernah kumiliki, meski semuanya sesaat.
terima kasih sobat, untuk segala yang pernah kau berikan & kau lakukan untukku
doaku senantiasa menyertaimu, forever.
Jawaban:
Dear Sobat,
Untukmu, tidak ada kata sesaat. Kau tetap sahabatku;dulu, kini dan nanti, terlepas dari apa yang terjadi.Terima kasih untuk doamu, terima kasih untuk satu ruang maaf dihatimu, terima kasih untuk sayangmu. Yakinlah aku tetap disini, aku masih yang dulu, seperti yang kau kenal pertama kali.
Aku akan kembali, saat rapuhmu dan rapuhku sudah tidak ada lagi. Kuharap kau mengerti karena kepakan sayapku tak bisa jauh lagi!
Take care!
Posted in Personal Stories, the Axe-Effect | 14 Comments
Thursday, June 19th, 2008
In Bali We Call it Goak
Kemaren istri saya bercerita bagaimana dia mengalami blank bahasa Inggris ketika mengantar tamu di sekitar resort. Saya hanya tersenyum dan maklum mendengar ceritanya karena dulu juga saya pernah mengalami hal serupa dan bahkan menjadi bahan tertawaan di tempat praktek dokter itu. Kosakata bahasa Inggris memang sangat luas. Pendidikan formal bahasa Inggrispun terkadang tidak menjamin bahwa kita akan menjadi komunikator bahasa Inggris yang baik. Selain memang faktor bakat, ada kalanya memang kita tidak tahu sama sekali dan tidak pernah mencari padanan satu kata ke dalam bahasa Inggris.
Satu sore istri saya mengantar beberapa tamu dalam satu buggy (mobil golf) bersama seorang rekan kerja dari Philipina. Resort tempat kami ini berlokasi di sebuah pulau pribadi yang sebagian besar masih alami alias hutan bakau dan vegetasi2 kecil yang tidak tersentuh. Jadi berbagai macam gumatat-gumitit binatang kecil bisa ditemui semacam kadal, ular, burung2 dan lain2. Tibalah di suatu tempat di mana banyak terdapat burung gagak (goak: bahasa Bali) yang ributnya minta ampun. Seperti tipikal turis kebanyakan, mereka tentu saja bertanya burung apa itu namanya.
Istri saya gelagapan tidak bisa jawab karena memang tidak tahu bahasa Inggrisnya burung gagak. Keterlaluan memang, tapi begitulah, maklum hanya sempat kursus tiga bulan bahasa Inggris jadi mungkin tidak sampai belajarnya ttg burung gagak. Istri sayapun jawab, oh in Bali we call it Goak. Tamupun agak keheranan, what? what? sambil mereka bergantian bilang goak, goak and goak. Mereka bertanya lagi, why do you call it Goak? Istri sayapun jawab, karena bunyinya goak goak (sambil menirukan suara burung gagak di Bali). Mereka bertanya lagi, loh itu kan suaranya tidak goak goak tapi crocatcetcotcatcrocat (sambil mereka menirukan suara goak yang ada di tempat itu). Istri saya jadi bingung lalu bertanya kepada teman kerja yang dari Philipina yang juga bekerja sambilan untuk mengajar bahasa Inggris kepada staf2 yg bahasa Inggrisnya kurang. Dengan innocent diapun jawab, in Philipina we call it apa gitu (bahasa Philipina). Ternyata tidak tahu juga dia bahwa goak is crow.
Eniwe, kenapa ya suara goak di Karibia tidak sama dengan yang di Bali? Beda jauh suaranya. Yang di Bali secara umum goak itu suaranya berirama, goak goak..goak.something like that. Ada tonenya. Tapi di Karibia suara goaknya seperi burung becica (maaf apa ya bahasa Indonesianya). Aneh!
Posted in Karibia, Personal Stories | 15 Comments
Thursday, June 12th, 2008
Dangdut Musik Kampungan?
Beh nu gen kampungan selera musik ci nok padahal be di luar negeri? (Wah masih saja selera musikmu kampungan padahal sudah berada di luar negeri), seorang sahabat teman nyeletuk di yahoo messenger saya. Saat online memang sering saya pasang iTunes mode sehingga apapun yang dimainkan di iTunes otomatis terdisplay di status yahoo messenger. Celetukan yang bernada meledek itu terjadi saat saya lagi online dan sedang mendengarkan lagu2 Meggi Z di iTunes. Saya hanya bisa tersenyum dan bertanya-tanya, benarkah musik dangdut itu kampungan?
Masalah selera terhadap musik adalah universal dan relatif sifatnya. Selama tujuan mendengarkan musik itu tercapai (such as untuk kesenangan, having fun, sebagai pengiring aktivitas dll), lalu apakah dasarnya kita bisa menjudge suatu jenis musik itu kampungan? Kampungan dalam hal ini asosiasinya adalah ketinggalan zaman, tidak modern, tidak cool dan sejenisnya. Musik dangdut mungkin identik dengan di kampung, musiknya orang desa. Paling tidak begitulah kira2 stereotype umum di masyarakat kita. Di satu sisi, mungkin musik dangdut menjadi sangat norak dan tidak listener friendly, namun hal itu sama saja dengan jenis musik lainnya. Tidak ada satu jenis musik yang sempurna.
Beberapa musik dangdut memang saya sukai terutama dangdut klasik. So what? Lalu apakah saya kampungan? Jika kampungan maksudnya adalah berasal dari kampung, itu dengan bangga saya akui bahwa saya memang dari kampung. Jika kampungan maksudnya adalah ketingggalan zaman, tidak modern, tidak cool, norak dan sejenisnya, tunggu dulu! Tidak fair rasanya saya dibilang kampungan dengan asosiasi yang kedua ini, hanya gara2 saya menyukai musik dangdut. Parameternya tidak lengkap.
Untuk si tukang celetuk, rasanya saya tidak begitu ketinggalan zaman. Sekedar informasi, saya termasuk orang yang ‘rakus’ karena menyukai banyak sekali jenis musik, dari dangdut, pop, rock, blues, heavy metal, raggae, rap dan so on. Lalu apakah saya tiba2 menjadi menjadi orang yang cool jika hanya menyukai Sepultura misalnya? atau Metallica? atau GNR? atau Lolot? atau System of a Down? Saya juga punya dan sering mendengarkan musik mereka yang saya posisikan sama dengan musik dangdutnya Meggy Z. Tidak modern jika mendengarkan lagu dangdut? Definisi modern-nya apa dalam hal ini? Gadget? Teknologi? Limewire, iPod, iTunes, JBL sound systems, pengolah audio di Mac hingga Fender Electric Strato. Semua itu tidak asing lagi bagi saya. Saya malah meragukan ‘kemoderenan’ tukang celetuk ini.
Musik adalah universal! Jangan pernah memvonis suatu jenis musik.
Posted in Personal Stories, opini | 36 Comments
Sunday, June 8th, 2008
Antara Aku, Nasi Bungkus dan Bisnis Baru
Weekend kemarin benar2 penuh excitement sekaligus penuh kesibukan baru bagi saya. Beberapa waktu yang lalu atas hasutan balibuddy, saya iseng2 ikutan bisnis bikin postingan kategori ‘waktu senggang & bintang’ dan ternyata beberapa tawaran datang sekaligus. Order postingan tersebut datang baik dari proposal yang saya ajukan maupun tawaran langsung dari beberapa pengiklan. Saking tumben2nya, senangpun bukan kepalang sehinggga membuat postingannya dengan semangat 45.
Malam itu saya sampai begadang hingga jam 4 pagi, hanya ditemani nasi bungkus, mentimun, air mineral dan tentunya si Mac kesayangan. Suanana makin seru karena seorang teman juga sedang gila2nya ngoprek MacBook barunya. Jadilah kami berdua begadang semalam suntuk dengan keasyikan masing-masing. Saya sibuk berkhayal bikin postingan berbayar sementara teman saya itu sibuk ngoprek MacBook barunya.
Saya juga sempat chatting dengan si pakar lendir. Doi memang top dalam urusan bisnis khayal-mengkhayal ini. Sayapun tidak menyia2kan waktu untuk mengeruk ilmu sebanyak2nya. Jadilah chatting itu menjadi kursus singkat bagi saya dari dasar2nya hingga trik2 bid dan juga bagaimana pengaruh postingan2 berbayar terhadap blog kita dikaitkan dengan paman gugel.
Seandainya tawaran2 itu terus banjir setiap malam minggu, wah tentu saya tidak perlu jauh2 bekerja sampai ke Karibia. Cukup duduk dirumah, ngeblog dan mengkhayal bikin postingan dan dollar2 akan terus mengalir ke account paypal. Sekalian mohon maaf juga bagi para pengunjung dan juga subscriber, pastilah berkurang kenyamanannya dengan postingan2 waktu senggang saya. Semoga masih betah berkunjung ke Devari’s CoRner: the Pirate’s Blog.
Posted in Personal Stories, blogging, business | 21 Comments
Tuesday, May 20th, 2008
Maaf Saya tak Punya Piyama
Pajamas is mandatory, demikian isi sebuah undangan pesta farewell di tempat saya bekerja. Sebuah kalimat yang menegaskan bahwa dress code dari pesta tersebut adalah piyama dan guess what, mandatory alias wajib hukumnya. Mungkin bagi sebagian besar orang ini kedengaran konyol, tapi begitu mengetahui dress codenya pajamas terus terang saya jadi bingung sendiri karena memang tidak mempunyai piyama alias ‘uniform’ resmi untuk tidur. Kebetulan yang punya party adalah salah satu manager bule yang baik hati dan suka menolong, jadi pengin sekali hadir pada pesta farewell itu. Satu sisi, saya tidak ingin membeli piyama hanya untuk dipakai pada pesta tersebut karena memang selama ini tidak mengenal budaya piyama dalam dunia tidur saya.
Ketika ngobrol2 dengan teman2 lokal Caribbean dan juga beberapa coworker dari Asia lainnya, mereka malah seriously tertawa ketika saya bilang maaf saya tak punya piyama. How the hell you go to sleep?, tanya mereka keheranan. Piyama memang sudah menjadi ‘pakain wajib’ untuk tidur bagi sebagian besar orang, namun saya pribadi dan kebanyakan teman2 dari Bali yang kerja di sini juga tidak mempunyai piyama. Manager saya langsung bahkan menggeneralisasi, apakah orang Bali semua tidak punya piyama? Untuk pakaian tidur, biasanya saya pakai celana pendek (color ijo) yang loose dan t-shirt ringan atau pakai sarung.
Pakai piyama atau tidak, itu adalah sebuah pilihan dan kebiasaan. Mungkin juga karena saya anak ini produk budaya katrok sehingga tidak mengenal budaya piyama sejak kecil. Dulu saya malah sering pakai celana jeans untuk tidur. Yang membuat sedikit sedih adalah kenapa yang bikin undangan pesta itu harus membuat dress code yang mandatory pajamas. Itu kan namanya diskriminasi fashion. Akhirnya sayapun tak jadi menghadiri party farewell tersebut, hanya gara2 sebuah budaya piyama sialan itu.
Posted in Karibia, Personal Stories | 17 Comments



New Comments