Archive for the ‘Personal Stories’ Category

Friday, May 16th, 2008

Blogger juga Manusia

mydevari1.jpg

Dear Devari
Hari ini rinduku membiru.
Kaki sang kala lumpuh, tak berdaya mempercepat waktu.
Tiga tahun tlah berlalu, sejak pertama kutinggalkan dirimu.
Tertawa engkau, menangis engkau. Sendiri. Tanpa belaian sang ortu.
Cepak pulang bapak, cepak pulang ibu, teriakmu pilu.
Dari DVD yang kuputar, sejak satu jam yang lalu.

Posted in Personal Stories | 22 Comments

Monday, May 5th, 2008

Kangen Bahasa Nusa Penida (plus terjemahan)

Trade ojan trade angin, sagete kele sete mraos nganggon basa Nosa. Babar tare karuan mebuku kenehle lemah nene. Leh japan sap kele nah, sorry malu ne pasti ajak he tare ngerti basa Nosa tapi dadilah kapah-kapah masih menekang basale pedihi ke bloglene.

Palitle sobah, mare kele engot ternyata kele sobe nagih sap engot basa Nosa. Yen graos lisan tare masalah anak memang kele hat pedante tare name sap basa Nosa kadung jape kele ngoyong. Hat SMAte kele sobe di Klungkung alias joh oling gomile aslite tapi tare mungkin sap ajak basa pedihi. Tapi terus terang ne, ne pertama kali sajan kele nganggo basa Nosa secara tertulis. Yuh masih babar nah ternyata.

Di Nosa ada 19 desa, masing2 desa to len masih raosne/logatne. Ane jani anggolene adalah basa Nosa logat desanle pedihi yaitu Suana, banjar P. Masing2 banjar len masih logatne, raosang yen ede melali ke Nosane besa besa mati amah logat ede. Lakun pade2 uling Nosa biasane ngerti. Patuh care di Bali, masing2 daerah len basa Baline lakun masih pade ngerti. Kale pedihi heran masih nah, Nosa to kan bagian Bali masih, ngode saget len sangot babar basane nah? Ngode saget ento nah?

Ada yang ngerti? Ini terjemahan bahasa Indonesianya:

Tidak ada hujan tidak ada angin, kok tiba2 saya ingin berbicara bahasa Nusa Penida. Pokoknya perasaan saya tidak menentu hari ini. Opps, biar tidak kelupaan, saya minta maaf dulu karena pasti banyak yang tidak mengerti bahasa ini tapi sekali2 bolehlah saya pake bahasa Nusa Penida di blog ini.

Oh damn, saya baru sadar bahwa saya sudah lupa2 ingat dengan bahasa ini, klo lisan sih ga masalah karena dari dulu saya selalu pake bahasa Nusa Penida dimanapun saya berada. Sejak SMA pertama kali jauh dari asal saya selalu pake bahasa Nusa (jika dg teman2 Nusa). Tapi terus terang ini pertama kali saya pake bahasa Nusa secara tertulis, ternyata susah juga (terasa kaku).

Di Nusa Penida ada 19 desa dan masing2 desa lain2 logat bahasanya. Yang saya pake sekarang adalah logat Desa Suana Banjar P. Masing2 banjar dalam satu desa juga lain logat bahasa Nusanya jadi klo anda main2 ke Nusa Penida, bisa2 pusing denger beberapa logat yang beda. Biasanya sesama orang Nusa Penida bisa mengerti satu sama lain walau logat beda. Sama kayak di Bali daratan, masing2 daerah logat bahasa Balinya beda tapi sama2 ngerti. Yang saya tidak ngerti, Nusa Penida itu kan Bali juga, orang Bali juga, kenapa ya bahasanya bisa jauh beda banget gitu?

Posted in Nusa Penida, Personal Stories | 69 Comments

Friday, May 2nd, 2008

Insiden SIM Indonesia di Karibia

Mau nyetir mobil di luar negeri? Sangat dianjurkan untuk memastikan terlebih dahulu dengan polisi setempat apakah SIM A Indonesia berlaku disana. Jika anda nekat maka siap-siap saja berurusan dengan polisi disana yang kayaknya sama sekali tidak bisa di sogok. Masing-masing negara mempunyai aturan yang berbeda-beda regarding bisa atau tidaknya SIM Indonesia digunakan di negara tersebut.

Selama di Karibia (Turks Caicos Island) saya tidak mengetahui bahwa sebenarnya SIM Indonesia hanya berlaku selama enam bulan, setelah itu kita harus nyari SIM lokal dengan biaya sebesar USD 150. Kabar burung yang saya dengar selama tiga tahun terakhir ini adalah bahwa SIM Indonesia berlaku terus selama SIM itu tidak mati tanggalnya makanya sayapun dulunya dengan PD selalu nyewa mobil pas jalan2 ke kota (downtown). Asyiknya lagi perusahaan rent carnya tidak tahu mana SIM C atau SIM A. Mungkin juga mereka tidak perduli as long as as dagangan mereka laku.

Sampai pada insiden beberapa waktu lalu saat berkendara bersama beberapa teman di kota. Beberapa polisi menghentikan mobil kami dan menanyakan surat2 dan tentu saja SIM. Sang teman yg kebetulan nyetir mengeluarkan SIM Indonesia dan dikatakan NO WAY. Mereka galak sekali karena mengetahui bahwa kami sudah beberapa tahun di sana tapi tidak mengetahui peraturan bahwa SIM Indonesia hanya berlaku enam bulan saja sejak kedatangan pertama. Lalu kamipun ditanya work permit dan bisa ditebak, tidak ada yang bawa alias memang selalu tersimpan di kamar. Mereka tambah marah dan siap2 untuk menyita mobil dan interogasi lebih lanjut. Believe me, berurusan dengan polisi di negeri orang jauh lebih mengerikan daripada di Indonesia. Akhirnya sebuah keajaiban kecil menolong kami, ketika kami tunjukkan ID Card tempat kami kerja, para polisi itu tiba2 cooling down dan berkata “Oh Parrot Cay hah, OK you free to go”.

Jika dipikir2 sebenarnya insiden itu tidak perlu terjadi jika saja kami:
1. Mengetahui dan memahami tanda2 lalu lintas di parkiran, mana keluar mana masuk, mana one way mana dua arah.
2. Mengemudi dengan ‘normal’ dan tidak bermental ‘kampungan’. Pada umumnya orang Indonesia itu akan keluar gayanya jika sudah bawa mobil: musik keras2 lalu buka jendela lagi, bikin ribut suasana parkiran.

Posted in Kabar-kabari, Karibia, Personal Stories | 1 Comment

Friday, May 2nd, 2008

Pecadang Kuang (lagi)

Dude, I’m going away on Friday morning for four days. Could you help me and cover the usual for me? What is your off day this week? Let me know if you can so we can do a handover.

Sebuah email datang dari Kepala Suku IT di resort tempat saya kerja. Iya, saya kembali menjadi pecadang kuang. Dalam Bahasa Bali itu artinya semacam ban serep yang kalau tidak diperlukan dicuekin tapi kalau saat diperlukan baru dibaik2in. Walau cuman empat hari tapi rasanya akan lama banget karena tanggung jawab yang sedemikian besar ditambah lagi belum menguasai betul2 seluk beluk networking, PABX system, Satellite TV system dan segela tetek bengek end-user support.

Saya memang susah kalau bilang tidak, makanya dibawa ke positif saja. Hitung2 belajar dan nyari pengalaman dan juga kesempatan untuk pasang gaya alias narsis. Walau pengetahuan IT masih hijau. Satu hal yang membuat saya PD adalah karena saya kerjanya volunteer jadi kalau tidak bisa pecahkan masalah tinggal bilang tunggu saja kepala ITnya.

Mohon maaf juga beberapa hari ke depan tidak bisa blogwalking karena sibuk pretending to be a geek :)

Posted in Karibia, Personal Stories | No Comments

Saturday, March 29th, 2008

Belajar Berjiwa Wiraswasta

Entah mengapa akhir2 ini saya punya pikiran merasa terkurung dalam sebuah doktrin berfikir yang tertanam selama bertahun2, yaitu cara berfikir yang selalu employed-oriented alias bekerja (pada orang lain) entah itu kantoran, hotel dan sejenisnya. Tidak pernah berfikir tentang self-employed/membuat usaha sendiri misalnya jualan sayur, jualan bakso, jadi tukang cukur dan sejenisnya yang bisa dikategorikan usaha sendiri. Sejak masa sekolah selalu berfikir kerja dimana, jadi apa, posisi apa dll. Ketika sudah bekerja pada perushaan A dengan gaji tinggi, lalu berfikir lagi untuk kerja di perusahaan B yang menawarkan lebih. Doktrin itulah yang sangat berperan pada diri saya sehingga mental babu (baca: mental pekerja, bukan mental pengusaha) tumbuh subur dalam pikiran saya.

“Saya jadi babu dan kaya, so mengapa mesti wiraswasta lagi?” Saya tidak mengatakan bahwa menjadi pekerja adalah tidak OK, sama sekali tidak. Ada satu kepuasan tersendiri jika punya usaha sendiri dan menciptakan lapangan kerja untuk orang lain. Tidak ada yang salah. Saya sendiri sampai saat ini adalah seorang pekerja yang bermental babu tulen. Harus diakui bahwa karena menjadi babulah saya bisa seperti sekarang, belum kaya sih tapi cukup makan dan minum, dan cukup yg lainnya. Saya hanya merasa bahwa mungkin sudah saatnya saya mulai berfikir untuk move forward dan menghentikan mental babu itu dan mulai belajar untuk berfikir mandiri dalam dunia kerja. Langkah nyatanya adalah pada 2007 dengan segala keterbatasan dan modal panas dan dengan jumlah hanya 70% dari seharusnya yang ada di business plan, saya merintis sebuah bengkel mobil di Denpasar. Hal itu benar2 menjadi titik tolak dalam merubah sedikit demi sedikit cara saya berfikir untuk mulai belajar berwiraswasta.

Secara sepintas, modal dan kesempatan terlihat menjadi faktor yang menentukan tapi nyatanya tidak. Saya punya banyak kolega yang sudah menjadi pekerja bertahun2 bahkan puluhan tahun, baik di dalam maupun luar negeri. Dari segi modal rasanya tidak menjadi masalah untuk memulai sebuah usaha sendiri skala kecil/menengah. Tapi karena mental babu yang masih begitu kuat dan tidak mau keluar dari comfort zone maka tidak ada pikiran sama sekali untuk memulainya. Yang ada hanyalah kesibukan yang terus menerus dan selalu dalam hunting mode untuk mencari di perusahaan/hotel mana bekerja. Alhasil, saya sangat sedikit mempunyai teman yang bisa diajak ngobrol dan berjiwa wiraswasta. Walaupun tidak bisa serta merta, paling tidak mempersiapkan diri setelah selesai bekerja di negeri orang. Mereka hanya sibuk mencari update2 berita hotel apa berdiri dimana, hotel apa ada lowongan dan service chargenya berapa dan sejenis2nya.

Walau tidak bisa sekarang, paling tidak pikiran sudah mulai terbuka ke arah sana. Jika terus termakan doktrin itu, lalu sampai kapan menjadi babu terus? Akankah sampai tua? Apa tidak bosan bekerja untuk orang lain terus? Ternyata belajar berjiwa wiraswasta tidak harus melulu yg muluk2 dan tinggi2. Berikut beberapa tips untuk memulainya:

1. Stop mental babu itu. Hal yang paling penting adalah pikiran kita. Kebanyakan dari kita sudah terbiasa selalu berfikir sesuai doktrin itu sehingga menutup mata untuk hal2 menyangkut wiraswasta. Jika pikiran sudah terbuka maka selanjutnya akan lebih mudah.

2. Konsep modal. Memang modal menjadi faktor utama dalam memulai sebuah usaha mandiri tapi tidak menjadi faktor penentu. Banyak cara untuk mensiasati faktor ini misalnya nabung sejak dini, pinjaman dll.

3. Jgn muluk2 dan tinggi2. Dalam memulai usaha sendiri, jgn langsung memikirkan hal2 yg gede dan muluk2 misalnya bagaimana menyaingi KFC, bagaimana menyaingi BCA dll. Mulailah dengan hal2 kecil dan biarkan pikiran kita membentuk sebuah konsep dulu dengan fondasi yang kuat ke arah bisnis.

4. Hobi dan jeli melihat peluang. Idealnya memulai sebuah usaha adalah sesuai dengan hobi sehingga dalam menjalaninyapun akan lebih enjoy. Jika senang makan, buatlah warung nasi yang punya ciri khas dan branding sendiri misalnya Warung Makan Bajak Laut. Jika senang fashion, buatlah usaha butik misalnya dengan sentuhan khas yg menbedakan dari usaha sejenis. Jika senang online, bikin warnet. Jika senang bakso, jadilah juragan bakso, buat beberapa rombong (sekitar 2 jtan perbuah) lalu cari pekerja orang Jawa (maaf orang Bali gengsinya gede, walau kantongnya kosong) yang mau dimodalin untuk jualan bakso.

5. Tanyakan pada diri sendiri. Akhirnya semua kembali berpulang pada diri sendiri. Tanyakan pada diri kita masing, apakah saya ini termasuk forever babu-oriented atau entrepreneur-oriented. Saya sendiri termasuk semi babu oriented :)

Posted in Personal Stories, business, opini | 63 Comments

Tuesday, March 11th, 2008

Hey Dear, Happy Birthday!

enibar.jpg

Memene, jeg selamat ulang tahun gen ya, maaf janji melali ke air terjun Niagara tidak terpenuhi (halah) , tapi klo ke air mancur Tirta Empul, itu pasti :)

Terima kasih atas pengertiannya selama aku tersesat di dunia blogging. Janji deh akan seimbang, dunia maya dan dunia nyata.

Nothing in this world could ever be as wonderful as the love you’ve given me.

Happy Birthday My Love!


Posted in Personal Stories | 28 Comments

Monday, January 7th, 2008

Wong Agung Turun Gunung



Berasal dari sebuah desa terpencil di lereng pegunungan Nusa Penida, naik pesawat dan traveling ke luar negeri rasanya sangat jauh dari impian saya. Kurang lebih 3 tahun lalu, mimpi itupun terwujud, jadi TKI di negeri orang. Beberapa kejadian kecil saat naik pesawat pertama kali dan saat di bandara internasional masih terekam di benak, yang terkadang membuat saya tersenyum jika mengenangnya. Ada keraguan, ada kepanikan dan ada juga yang memalukan.

(more…)

Posted in Personal Stories | 21 Comments

Wednesday, December 19th, 2007

‘Nyama Pat’ sebagai Pengawal Pribadi

Kehadiran pengawal pribadi bagi kalangan tertentu (artis, pejabat, pengusaha) sudah menjadi sebuah keharusan dimana fungsi utamanya adalah untuk proteksi diri terhadap potensi2 yang bisa membahayakan jiwa si empunya bodyguard tersebut. Kitapun sebenarnya punya pengawal pribadi. Baru2 ini saya ngobrol2 dengan yang ‘berkompeten’ dibidangnya, ternyata kita (Hindu - Bali) mempunyai bodyguard yang built-in dalam tubuh kita sendiri yang tentunya bisa kita mintai tolong untuk menjaga diri kita dan tidak perlu bayar, cukup nasi wong-wongan dua warna hitam dan putih. Nasi wong-wongan (mungkin disebut berbeda di daerah lain di Bali) adalah nasi putih biasa yg dikukus dan di bentuk seperti bentuk tubuh manusia. Tidak perlu setiap hari cukup di hari2 tertentu saja misalnya, kajeng kliwon, purnama dll. Logikanya semakin sering ‘dibayar’ semakin rajinlah si bodyguard tersebut.

(more…)

Posted in Personal Stories, social life | 19 Comments

Thursday, November 29th, 2007

Cerita2 Liburan


Rasanya tidak bisa dideskripsikan dengan kata2 senangnya hati begitu turun dari pesawat SQ Selasa malem 23/10/2007. Bahkan saat masih berada di Singapura hati sudah berbunga2 terasa sudah berada di Bali. Maklum saja sudah setahun tidak melihat si kecil. Saat petugas SQ bilang “Maaf Pak, luggagenya tidak bisa sampai ke Bali malam ini karena Qantasnya tadi agak telat”. Wah, no problem Mbak, yang penting kami bisa dapat seat flight jam 7 ini. Akhirnya saya dan istripun bukan berlari2 kecil lagi tapi bener2 lari kencang menuju gatenya karena sudah terlambat.

Sebelum keluar gate di Ngurah Rai, hati jadi berdebar2 membayangkan bagaimana reaksi si kecil, bagaimana wajahnya sekarang dll. Rindu harus tertahan beberapa menit karena sikecil ternyata tidak ikut menjemput (hari sudah malam). Saat tiba dirumah, saya dan istri langsung lari2 berlomba memeluk sikecil yang belum tidur tapi hik..hik..hik..sikecil malah ga mau dan nangis. Kami benar2 masih total stranger baginya. Sedihnya!. Setelah beberapa hari, akhirnya si kecil mau juga dengan kami. Itupun setelah memberikan beberapa tombokan yang berjubel, dari sepeda baru, boneka, mainan musik dll. Syukurnya, dia sudah mengerti konsep bapak dan ibu.

Tidak ada kegiatan istimewa selama mudik kali ini. Saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga baik itu di Nusa Penida (kampung saya), Kintamani (kampung istri) dan juga di Denpasar (rumah kami), juga sembahyang ke beberapa pura, ke kebun binatang dengan si kecil dll. Beberapa moment yang sempet terjepret.

 

Naik Harley-Vespason di Padang Bai, saat mau ke Nusa Penida

Nombok sikecil dengan es krim biar mau digendong, trip menuju Kintamani

Istri dan sikecil, berpose di depan jembatan Tukad Bakung di Sidan, Badung. Katanya sih jembatan tertinggi di Asia Tenggara, trip menuju ke Kintamani.

Sembahyang ke Pura Gelap Besakih, dingin dan berkabut tapi aneh kok pintunya digembok ya

Nelpon Jero Mangku dulu biar gembok dibuka, ga bisa kesambung :(

<Di Taman Safari yang baru, mahal sekali tiket masuknya 75 rebu/person. Harap berbekal air mineral karena mahalnya minta ampun.

Posted in Personal Stories | 6 Comments

Thursday, October 18th, 2007

‘Cuti’ Ngeb(e)log Dulu

Dear Teman2 pembaca dan bloggers,Berhubung penulis dapat liburan +/- sebulan maka penulispun akan pulang kampung alias mudiq ke Nusa Penida, Bali. Jadi kayaknya harus ‘cuti’ dulu dari dunia b(e)log-b(e)log’an karena di kampung tidak ada internet. Sekalian mau escape dulu dari ‘hirukpikuk’ dan rutinitas selama setaon ini dan mencoba bersatu kembali dengan alam ;). Untuk temen2 yang tergabung dalam milis Bali Blogger, jika ada kegiatan darat di awal2 November, bolehlah dikirim2 undangannya. Penulis eventually akan ada di Denpasar juga. Until we ‘meet’ again di December 2007.

 

Posted in Personal Stories | 6 Comments

Thursday, October 18th, 2007

Flying is the Safest Way of Transportation?

In couple days ahead, I supposed to have my completely, totally happiest day of the year. Yeah, I am going home to Bali, having annual leave after one year in service at PC. But now I am little bit nervous due to an email from a friend who flew home last Sunday. Her plane got a crash in London Heathrow airport. Quickly I surfed the net to know further about the details.

——————————-
BBC (10/16/07): Two aircraft collide at Heathrow

Two airliners have been involved in a collision while taxiing at Heathrow airport in west London.
One was a British Airways Boeing 747 departing for Singapore and the other was a Sri Lankan Airlines Airbus A340.
Heathrow’s operator, BAA, confirmed there had been an incident at around 2220 BST and that there were no reported injuries.
BA said there had been a “minor collision” involving flight BA011 and an investigation has started.
A BAA spokesman said: “Heathrow airport can confirm that two aircraft were involved in an incident earlier this evening on the ground.
“There are no reported injuries.”
………………………………………..

——————————————————-

Am I paranoia? Is flying the safest way of transportation? Do I have other choices? :). It will be a very long flight. From the Providenciales of Turks Caicos Island airport to London Heathrow is about 11 hours. Then London to Singapore is about 12-13 hours of flying. Singapore to Bali is 2+ hours. All those hours worth it when I arrive in Bali, meeting families and friends.

 

Posted in Personal Stories | 2 Comments

« Older Entries Newer Entries »