Archive for the ‘Personal Stories’ Category

Tuesday, May 20th, 2008

Maaf Saya tak Punya Piyama

Pajamas is mandatory, demikian isi sebuah undangan pesta farewell di tempat saya bekerja. Sebuah kalimat yang menegaskan bahwa dress code dari pesta tersebut adalah piyama dan guess what, mandatory alias wajib hukumnya. Mungkin bagi sebagian besar orang ini kedengaran konyol, tapi begitu mengetahui dress codenya pajamas terus terang saya jadi bingung sendiri karena memang tidak mempunyai piyama alias ‘uniform’ resmi untuk tidur. Kebetulan yang punya party adalah salah satu manager bule yang baik hati dan suka menolong, jadi pengin sekali hadir pada pesta farewell itu. Satu sisi, saya tidak ingin membeli piyama hanya untuk dipakai pada pesta tersebut karena memang selama ini tidak mengenal budaya piyama dalam dunia tidur saya.

Ketika ngobrol2 dengan teman2 lokal Caribbean dan juga beberapa coworker dari Asia lainnya, mereka malah seriously tertawa ketika saya bilang maaf saya tak punya piyama. How the hell you go to sleep?, tanya mereka keheranan. Piyama memang sudah menjadi ‘pakain wajib’ untuk tidur bagi sebagian besar orang, namun saya pribadi dan kebanyakan teman2 dari Bali yang kerja di sini juga tidak mempunyai piyama. Manager saya langsung bahkan menggeneralisasi, apakah orang Bali semua tidak punya piyama? Untuk pakaian tidur, biasanya saya pakai celana pendek (color ijo) yang loose dan t-shirt ringan atau pakai sarung.

Pakai piyama atau tidak, itu adalah sebuah pilihan dan kebiasaan. Mungkin juga karena saya anak ini produk budaya katrok sehingga tidak mengenal budaya piyama sejak kecil. Dulu saya malah sering pakai celana jeans untuk tidur. Yang membuat sedikit sedih adalah kenapa yang bikin undangan pesta itu harus membuat dress code yang mandatory pajamas. Itu kan namanya diskriminasi fashion. Akhirnya sayapun tak jadi menghadiri party farewell tersebut, hanya gara2 sebuah budaya piyama sialan itu.

Posted in Karibia, Personal Stories | 17 Comments

Friday, May 16th, 2008

Blogger juga Manusia

mydevari1.jpg

Dear Devari
Hari ini rinduku membiru.
Kaki sang kala lumpuh, tak berdaya mempercepat waktu.
Tiga tahun tlah berlalu, sejak pertama kutinggalkan dirimu.
Tertawa engkau, menangis engkau. Sendiri. Tanpa belaian sang ortu.
Cepak pulang bapak, cepak pulang ibu, teriakmu pilu.
Dari DVD yang kuputar, sejak satu jam yang lalu.

Posted in Personal Stories | 22 Comments

Monday, May 5th, 2008

Kangen Bahasa Nusa Penida (plus terjemahan)

Trade ojan trade angin, sagete kele sete mraos nganggon basa Nosa. Babar tare karuan mebuku kenehle lemah nene. Leh japan sap kele nah, sorry malu ne pasti ajak he tare ngerti basa Nosa tapi dadilah kapah-kapah masih menekang basale pedihi ke bloglene.

Palitle sobah, mare kele engot ternyata kele sobe nagih sap engot basa Nosa. Yen graos lisan tare masalah anak memang kele hat pedante tare name sap basa Nosa kadung jape kele ngoyong. Hat SMAte kele sobe di Klungkung alias joh oling gomile aslite tapi tare mungkin sap ajak basa pedihi. Tapi terus terang ne, ne pertama kali sajan kele nganggo basa Nosa secara tertulis. Yuh masih babar nah ternyata.

Di Nosa ada 19 desa, masing2 desa to len masih raosne/logatne. Ane jani anggolene adalah basa Nosa logat desanle pedihi yaitu Suana, banjar P. Masing2 banjar len masih logatne, raosang yen ede melali ke Nosane besa besa mati amah logat ede. Lakun pade2 uling Nosa biasane ngerti. Patuh care di Bali, masing2 daerah len basa Baline lakun masih pade ngerti. Kale pedihi heran masih nah, Nosa to kan bagian Bali masih, ngode saget len sangot babar basane nah? Ngode saget ento nah?

Ada yang ngerti? Ini terjemahan bahasa Indonesianya:

Tidak ada hujan tidak ada angin, kok tiba2 saya ingin berbicara bahasa Nusa Penida. Pokoknya perasaan saya tidak menentu hari ini. Opps, biar tidak kelupaan, saya minta maaf dulu karena pasti banyak yang tidak mengerti bahasa ini tapi sekali2 bolehlah saya pake bahasa Nusa Penida di blog ini.

Oh damn, saya baru sadar bahwa saya sudah lupa2 ingat dengan bahasa ini, klo lisan sih ga masalah karena dari dulu saya selalu pake bahasa Nusa Penida dimanapun saya berada. Sejak SMA pertama kali jauh dari asal saya selalu pake bahasa Nusa (jika dg teman2 Nusa). Tapi terus terang ini pertama kali saya pake bahasa Nusa secara tertulis, ternyata susah juga (terasa kaku).

Di Nusa Penida ada 19 desa dan masing2 desa lain2 logat bahasanya. Yang saya pake sekarang adalah logat Desa Suana Banjar P. Masing2 banjar dalam satu desa juga lain logat bahasa Nusanya jadi klo anda main2 ke Nusa Penida, bisa2 pusing denger beberapa logat yang beda. Biasanya sesama orang Nusa Penida bisa mengerti satu sama lain walau logat beda. Sama kayak di Bali daratan, masing2 daerah logat bahasa Balinya beda tapi sama2 ngerti. Yang saya tidak ngerti, Nusa Penida itu kan Bali juga, orang Bali juga, kenapa ya bahasanya bisa jauh beda banget gitu?

Posted in Nusa Penida, Personal Stories | 70 Comments

Friday, May 2nd, 2008

Insiden SIM Indonesia di Karibia

Mau nyetir mobil di luar negeri? Sangat dianjurkan untuk memastikan terlebih dahulu dengan polisi setempat apakah SIM A Indonesia berlaku disana. Jika anda nekat maka siap-siap saja berurusan dengan polisi disana yang kayaknya sama sekali tidak bisa di sogok. Masing-masing negara mempunyai aturan yang berbeda-beda regarding bisa atau tidaknya SIM Indonesia digunakan di negara tersebut.

Selama di Karibia (Turks Caicos Island) saya tidak mengetahui bahwa sebenarnya SIM Indonesia hanya berlaku selama enam bulan, setelah itu kita harus nyari SIM lokal dengan biaya sebesar USD 150. Kabar burung yang saya dengar selama tiga tahun terakhir ini adalah bahwa SIM Indonesia berlaku terus selama SIM itu tidak mati tanggalnya makanya sayapun dulunya dengan PD selalu nyewa mobil pas jalan2 ke kota (downtown). Asyiknya lagi perusahaan rent carnya tidak tahu mana SIM C atau SIM A. Mungkin juga mereka tidak perduli as long as as dagangan mereka laku.

Sampai pada insiden beberapa waktu lalu saat berkendara bersama beberapa teman di kota. Beberapa polisi menghentikan mobil kami dan menanyakan surat2 dan tentu saja SIM. Sang teman yg kebetulan nyetir mengeluarkan SIM Indonesia dan dikatakan NO WAY. Mereka galak sekali karena mengetahui bahwa kami sudah beberapa tahun di sana tapi tidak mengetahui peraturan bahwa SIM Indonesia hanya berlaku enam bulan saja sejak kedatangan pertama. Lalu kamipun ditanya work permit dan bisa ditebak, tidak ada yang bawa alias memang selalu tersimpan di kamar. Mereka tambah marah dan siap2 untuk menyita mobil dan interogasi lebih lanjut. Believe me, berurusan dengan polisi di negeri orang jauh lebih mengerikan daripada di Indonesia. Akhirnya sebuah keajaiban kecil menolong kami, ketika kami tunjukkan ID Card tempat kami kerja, para polisi itu tiba2 cooling down dan berkata “Oh Parrot Cay hah, OK you free to go”.

Jika dipikir2 sebenarnya insiden itu tidak perlu terjadi jika saja kami:
1. Mengetahui dan memahami tanda2 lalu lintas di parkiran, mana keluar mana masuk, mana one way mana dua arah.
2. Mengemudi dengan ‘normal’ dan tidak bermental ‘kampungan’. Pada umumnya orang Indonesia itu akan keluar gayanya jika sudah bawa mobil: musik keras2 lalu buka jendela lagi, bikin ribut suasana parkiran.

Posted in Kabar-kabari, Karibia, Personal Stories | 1 Comment

Friday, May 2nd, 2008

Pecadang Kuang (lagi)

Dude, I’m going away on Friday morning for four days. Could you help me and cover the usual for me? What is your off day this week? Let me know if you can so we can do a handover.

Sebuah email datang dari Kepala Suku IT di resort tempat saya kerja. Iya, saya kembali menjadi pecadang kuang. Dalam Bahasa Bali itu artinya semacam ban serep yang kalau tidak diperlukan dicuekin tapi kalau saat diperlukan baru dibaik2in. Walau cuman empat hari tapi rasanya akan lama banget karena tanggung jawab yang sedemikian besar ditambah lagi belum menguasai betul2 seluk beluk networking, PABX system, Satellite TV system dan segela tetek bengek end-user support.

Saya memang susah kalau bilang tidak, makanya dibawa ke positif saja. Hitung2 belajar dan nyari pengalaman dan juga kesempatan untuk pasang gaya alias narsis. Walau pengetahuan IT masih hijau. Satu hal yang membuat saya PD adalah karena saya kerjanya volunteer jadi kalau tidak bisa pecahkan masalah tinggal bilang tunggu saja kepala ITnya.

Mohon maaf juga beberapa hari ke depan tidak bisa blogwalking karena sibuk pretending to be a geek :)

Posted in Karibia, Personal Stories | No Comments

« Older Entries Newer Entries »