Archive for the ‘social life’ Category

Friday, July 31st, 2009

Berbagi Tak Pernah Rugi: Kunjungan ke Komang Mardika

Setelah sempat tertunda akhirnya kunjungan sosial ke rumah Komang Mardika dilaksananakan pada hari Minggu 19 Juli 2009. Kunjungan Devari’s Corner ini diwakili oleh  Eni dalam rangka penyerahan dana sosial dari Devari’s Corner dan didukung oleh sumbangan dari para pembaca yang budiman.

Rombongan kecil Devari’s Corner sempat kebingungan mencari alamat rumah Komang Mardika tapi berkat bantuan warga sekitar, lokasi rumah Komang Mardika, yang hanya bisa diakses lewat jalan kaki, bisa ditemukan juga. Menurut keterangan dari Eni, dirinya sempat ‘was-was’ juga karena merasa sebagai ‘orang asing’ yang tiba-tiba nongol ke rumah orang dan menyerahkan bantuan, apalagi ini pengalaman pertama langsung turun ke lapangan membawa dana sosial.

Eni menuturkan, ketika rombongan sampai di depan rumah, Komang Mardika dan keluarga tampak sedikit terkejut dan penuh tanda tanya melihat beberapa orang ‘tak diundang’ nongol di rumahnya. Namun dari raut wajah2 mereka tetap menunjukkan rasa welcome yang besar.

Setelah berbasa-basi dan memperkenalkan diri dan menyampaikan bahwa informasi ini didapat dari Balipost, rombongan akhirnya diterima dan dipersilahkan duduk. Enipun menyampaikan tujuan kunjungan tersebut  untuk membawa sumbangan sekedar untuk meringankan sedikit beban. Dengan penuh rasa haru Komang Mardikapun mengucapkan rasa terima kasih yang teramat sangat. “Tiang mengucapkan suksma yang sebesar2nya nggih, tiang dak punya apa-apa untuk membalas kebaikan bapak2 dan ibu2, mudah2an Tuhan membalasnya,” ujarnya terbata-bata.

Dengan tumor yang terus membesar, ruang gerak Komang Mardika menjadi sangat terbatas. Tumor tersebut hampir menutupi setengah dari wajahnya. Selain itu, Komang Mardika harus menanggung ibunya yang menderita lumpuh sejak 4 tahun terakhir. Dua saudaranya yang mengadu nasib ke Lombok belum bisa mensupport secara maksimal untuk biaya pengobatan.

Jumlah dana sosial yang diserahkan adalah sebesar 2,8 juta rupiah. Sumbangan dari rekan-rekan sungguh sangat berarti bagi keluarga Komang Mardika dan keluarganya. Walau mungkin tidak seberapa dibandingkan dengan biaya total pengobatan tapi sebuah niat tulus tidak bisa dihargai dengan nominal. Berbagi memang tak pernah rugi***. Terima kasih buat teman-teman semua yang telah menyisihkan sedikit dananya untuk menolong sesama.

Note: Pada September/Oktober 2009, Devari’s Corner juga merencanakan untuk mengadakan kunjungan sosial ke ke panti2 asuhan seputar Bali dimana kita bisa sumbangkan sembako, pakaian2 bekas layak pakai dan lain-lain. Silahkan yang ingin ikut berpartisipasi, nanti kita sama2 koordinir.

***Slogan ini ‘dipinjam’ dari Bali Blogger Community.

Posted in social life | 5 Comments

Wednesday, May 6th, 2009

‘Blogger Peduli’ untuk Komang Mardika

Komang Mardika adalah seorang penderita tumbuh daging di wajah. Kendala ekonomi membuat pengobatan terhadap penyakitnya tidak berjalan dengan maksimal. Devari’s Corner berencana untuk melakukan kunjungan kekeluargaan sekaligus memberikan bantuan dana yang mudah-mudahan bisa sedikit membantu. Kunjungan ini dijadwalkan pada akhir Mei 2009, langsung ke rumah Komang Mardika di Banjar Kawan, Selisihan, Klungkung. Bagi rekan-rekan yang berempati dan ingin ikut berkunjung, silahkan isi form komentar di bawah ini. Bagi yang ingin berdonasi silahkan hubungi saya via email di kadeksuardana(at)gmail.com untuk detail nomer rekening yang dituju.

Berikut kutipan informasi yang diambil dari Balipost:

Daging yang tumbuh di muka Komang Mardika sampai menutupi mata kirinya. Dengan kondisi wajah itu, ditambah daging tumbuh berukuran kecil yang ada di sekujur tubuhnya, tak banyak hal yang bisa dilakukan laki-laki itu. Kecuali menjadi montir alat elektronik di desanya.

Kemampuan memperbaiki barang elektronik, diperoleh bungsu dari tiga bersaudara pasangan Wayan Mandra dan Ni Komang Dati itu dari kursus singkat yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Bali pada masa Gubernur IB Mantra beberapa tahun lalu.

Mengeyam pendidikan hingga tamat Sekolah Dasar (SD), Mardika pasrah menerima kekurangan yang dideritanya. Untuk operasi juga tak memungkinkan, daging tumbuh yang sampai ke dadanya tak mungkin dioperasi. Karena sudah memengaruhi saraf dan tulang di kepalanya. Di samping dana yang sama sekali tak dimilikinya.

Saat masih kecil, daging itu hanya berupa benjolan kecil di atas pelipis matanya. Sempat dioperasi di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah. Tetapi kembali tumbuh, malah lebih besar. Dokter pun sempat mengirimnya ke rumah sakit di Surabaya. Tetapi belum berhasil menghilangkan daging tumbuh di wajahnya. Kini, bukan hanya dirinya yang dihidupi, Mardika juga harus mencari penghasilan untuk menghidupi ibunya (Dati) yang sejak tiga tahun lalu menderita lumpuh

Posted in social life | 6 Comments

Monday, February 23rd, 2009

Yuk, Mendirikan Avanza Club di Bali!

Akhir-akhir ini saya mempunyai sebuah mimpi untuk membentuk sebuah perkumpulan atau klub khusus pemilik dan pecinta mobil Toyota Avanza di Bali. Tidak dipungkiri lagi bahwa peminat jenis mobil MPV ini sangat banyak di Bali. Tentunya sangat menyenangkan mempunyai sebuah wadah bersama untuk sekedar ngumpul bareng bahkan mungkin jalan-jalan bersama.

Tujuan dasarnya tentu saja untuk wadah bersosialisasi untuk memperbanyak teman dan juga menjadi ajang tukar informasi dan sharing berbagai pengetahuan seputar mobil Avanza dan juga seputar dunia otomotif secara umum. Bagaimana proses teknisnya? Langkah awal barangkali jika ada yang tertarik dengan ide ini, silahkan urun rembug saran dan ide konstruktif lewat form komentar di bawah ini untuk menentukan teknis-teknis dan cikal bakal klub itu nantinya.

Agenda utama tentu saja kopi darat alias nogkrong bareng, wisata bareng dan mungkin melakukan agenda sosial. Yang gabung semua pemilik dan pencinta Avanza, no matter type dan warnanya apa, tentunya yang tinggal di Bali. Yuk, ketemuan bulan Juli 2009! Untuk gabung dan more info silahkan email ke kadeksuardana(at)gmail.com.

Posted in social life | 19 Comments

Thursday, November 27th, 2008

Manusia Palsu

Tidak ada manusia yang sempurna. Itu benar tetapi saya betul-betul anti-pati terhadap satu jenis manusia ini yaitu manusia palsu alias manusia tidak genuine. Manusia tidak genuine yang saya personally maksudkan adalah orang yang segala tingkah lakunya seperti wayang yang digerakkan oleh satu kamuflase untuk menutupi jati diri yang sebenarnya. Kata2 dan gerak-geriknya terasa palsu dan tidak dari hati keluarnya. Semuanya fake, palsu. Ketika kita ngobrol dengannya, terlihat sekali dengan jelas bagaimana palsunya orang ini, ramah memang tapi semua itu hanya dipermukaan. Basa-basinya menjadi kelewatan sehingga terkesan busuk. Bagi saya pribadi, ngobrol dengan manusia jenis ini merupakan suatu pelecehan intelektual terhadap diri sendiri. Dalam hati saya berkata, “Lu fikir aku ga nyadar bahwa lu tuh sebenarnya basa-basi aja padahal dibelakang you stab my back”

Sebagai mahluk sosial kita memang tidak bisa terlepas dari hukum alam untuk berinteraksi dengan manusia lainnya. Dalam perjalanan tersebut terkadang kita tidak bisa menghindar dari faktor like dan dislike, terlibat clash dan lain sebagainya. Selama ini saya sendiri berusaha menjadi orang yang to the point dan apa adanya. Dalam kehidupan sosial saya berusaha serealistis mungkin, tergantung kadar hubungan sosial terhadap orang tersebut. Jika akrab, gaya dan perilaku bicara sayapun beda dibandingkan jika dengan teman biasa saja, sekedar say hello dan sejenisnya. Nah jika dengan orang2 tertentu yang tidak ‘connect’ , entah itu karena clash masa lalu atau apa, saya lebih memilih untuk berinteraksi seminimal mungkin daripada harus menjadi manusia palsu. Selama masih ga nyambung saya lebih memilih untuk tidak berinteraksi. Biasanya ciri2 manusia fake ini antara lain:

1. Menyapa/greeting secara berlebihan, lebih dari common sense yang sewajarnya untuk kadar hubungan sosial tertentu

2. Bicara yang tidak sesuai dengan bahasa tubuh. Gerak-gerik kaku.

3. Nyari2 topik percakapan yang maksa

4. The most important thing adalah kepekaan kita untuk tahu secara otomatis begitu mulai ngobrol. Biasanya kita otomatis tahu kok, si manusia palsu ini aja yang kelewat badak mengira kita sebodoh itu.

Untuk manusia2 palsu, get off my face!

Posted in opini, social life | 20 Comments

Monday, May 19th, 2008

Menggugat Hukum Kasepekang (arsip)

Hati menjadi gundah, pikiran menjadi tergugah setelah membaca di harian lokal tentang terjadinya kasus ‘kasepekang’ di Tabanan. Pelanggarannya adalah karena seorang warga dianggap telah mencemarkan tempat suci/pura dengan cara menggantung sebuah kursi plastik sejajar/lebih tinggi dengan posisi pura itu. Entah ini kasus yang ke berapa kali terjadi di Bali, yang jelas bukan yang pertama kali. Penulis bukanlah ahli hukum adat bukan pula ahli hukum positif namun secara harfiah hukum ‘kasepekang’ berarti sebuah hukuman/sanksi adat yang diterima oleh seorang/kelompok anggota banjar yang dianggap melanggar norma norma yang berlaku di banjar/desa bersangkutan, dengan jalan orang/kelompok tersebut dikucilkan dari banjar/desa adat setempat, dilarang tinggal di wilayah tersebut, tidak boleh menggunakan fasilitas kuburan dan juga dilarang berkomunikasi atau bersosialisasi dengan anggota banjar lainnya. Hukuman ini jelas jelas tidak bersumber dari hukum positif (KUHP, UU dan lain-lain) yang berlaku di NKRI tapi berdasarkan awig awig/hukum adat yang berlaku di daerah bersangkutan.

Hukum “kasepekang” seakan menjadi sebuah fenomena dalam kehidupan masyarakat Bali yang kental dengan adat istiadat dan nafas Hindunya. Contoh lainnya adalah hukum kasepekang karena melahirkan anak kembar dengan jenis kelamin yang berbeda. Hukum adat ini sudah dihapuskan beberapa waktu lalu oleh pihak terkait (DPD, DPRD). Pertanyaannya sekarang adalah masihkah hukum adat kasepekang ini relevant diterapkan? Tidakkah hukum tersebut bertentangan dengan hukum positif? Apakah pelaksanaannya sudah murni dan tidak melenceng dari ajaran Agama Hindu?

Sungguh suatu hal yang tidak masuk akal rasanya jika pada penerapan hukum adat kesepekang di Tabanan, muncul sebuah syarat yang terlalu komersil, denda 200 juta rupiah jika ingin diterima kembali sebagai anggota masyarakat disana, juga ada denda 500 ribu rupiah bagi siapa saja warga banjar yang berkomunikasi dengan ‘terpidana’ ini. Darimanakah sumber hukum adat yang menyatakan denda 200 juta ini? Sungguh tidak murni. Seharusnya sebuah sanksi, apapun itu, bersifat mendidik dan meluruskan apa-apa yang telah dilanggar. Jika sampai dendanya ratusan juta, itu keterlaluan. Dimanakah unsur mendidiknya? Dimanakah unsur meluruskannya. KOk yang terjadi malah kesan dimanfaatkannya hukum adat ini sebagai ajang balas dendam dan memupuk rasa kebencian. Seharusnya semua didiskusikan dulu dengan Majelis Desa Pekraman, atau dengan pemda setempat, atau dengan PHDI. Jika tidak ada penyelesaian bisa juga ditempuh jalur hukum positif.

Gampangnya penerapan hukum ini sewaktu waktu bisa menjadi bumerang bagi masyarakat Bali dengan adat-istiadatnya yang bernafaskan Hindu. JIka begitu mudahnya menerapkan hukum kasepekang, bukan tidak mungkin akan berakibat menurunnya nilai nilai adat itu sendiri, yang sudah dianggap tidak lagi bersifat mengayomi. Masyarakat akan menjadi apriori. Banjar dengan hukum2 adat yang kaku seolah olah menjadi sebuah momok yang menakutkan. Banjar tidak lagi menjadi sebuah oraganisasi yang bermakna apa apa, dengan kata lain, menjadi warga dunia saja atau bahasa bulenya citizen of the world. Itulah sebabnya perlu tindakan dari pihak2 terkait dalam upaya meluruskan hukum hukum adat yang bersifat terlalu frontal. PHDI harus memberikan semacam guidance yang jelas tentang penerapan hal ini. Jangan sampai adat dijadikan sebuah excuse untuk melegalkan hukuman apa saja tanpa minghiraukan hukum positif dan hak asasi manusia.

Posted in opini, social life | 14 Comments

Thursday, May 15th, 2008

70 juta, Biaya Nikah Orang Bali

Setengah kaget saya kemarin ketika bercakap2 dengan teman2 di Karibia. Bagaimana tidak, mereka bilang biaya nikah temannya mencapai 70 juta. “Beh cang oraine nyiapang biaya minimal 60 juta nok jak rerama (saya disuruh nyiapin 60 juta oleh ortu) karena mau nikah nanti pas pulang ke Bali”, lanjutnya bercerita. Besar kecilnya biaya tersebut memang relatif dan berbeda2 untuk masing2 individu. Untuk ukuran saya yang ekonomi lemah begini, biaya nikah 60 jt - 70 jt itu rasanya lumayan menohok ekonomi keluarga alias masuk kategori mahal yang membabibuta.

Kenapa begitu mahalnya biaya nikah orang Bali? Rasanya lebih banyak disebabkan oleh faktor sosial yang non-esensial. Dalam melaksanakan upacara, di Bali ada istilah nista, madya dan utama (sederhana, sedang2 dan wah). Pilihannya terserah yang melaksanakan dan tergantung juga kemampuan finansial. Sederhana tidak apa2, yang penting secara sekala dan niskala sudah diterima dan sah. Sedang2 juga tidak apa2, apalagi wah, tentu boleh2 saja.

Yang menjadi ironi adalah sebagian orang Bali ‘memaksakan’ diri untuk melaksanakan yang wah. Ekonomi pas-pasan tidak menjadi halangan, ngutang dan jual hartapun terkadang ditempuh. Tanya kenapa, karena gengsi sosial. Jika hanya menyangkut esensi seperti biaya banten/offering dan biaya konsumsi sewajarnya, maka biaya nikah orang Bali rasanya akan normal2 saja. Tidak akan pusing dan malah bangkrut setelah upacara nikah selesai. Dari ngobrol2 tersebut, ada beberapa hal yang membuat biaya nikah orang Bali meroket: biaya pra-wedding termasuk biaya professional photo shooting, biaya kartu undangan super lux, biaya professional video shooting selama acara, biaya MC/event organizer, biaya sewa mobil super mewah/limosin/mercy saat lawatan ke rumah mempelai, biaya beli/sewa pakaian kebesaran seperti raja2 di Bali zaman dulu dan biaya2 sejenis yang sama sekali jauh dari esensi upacara itu sendiri.

Posted in social life | 33 Comments

Friday, May 2nd, 2008

Nunas Baos, Kebenaran Mutlak?

Dalam masyarakat Bali ada satu tradisi yang bernama nunas baos. Secara harfiah nunas baos berasal dari dua kata Bahasa Bali yaitu nunas yang berarti minta/memohon dan baos yang berarti suara (gaib). Jadi nunas baos kurang lebih artinya momohon suara gaib atau pawisik biasanya dari roh leluhur. Tradisi ini sudah lumrah dilakukan dalam masyarakat Bali dimana memang ada pemangku/balian (orang pintar) yang khusus melayani warga yang mau melakukan ritual nunas baos. Ritual ini secara harfiah bisa juga diartikan sebagai satu kegiatan untuk memohon petunjuk/bertanya kepada leluhur, roh leluhur kemudian meminjam badan kasar sang pemangku untuk memberikan wejangan atau petunjuk. Tentu saja sang pemangku tersebut dalam keadaan trance.

Ada beberapa hal yang menyebabkan orang Bali melakukan ritual nunas baos ini. Biasanya karena di timpa musibah. Jarang sekali (tidak ada?) orang Bali yang nunas baos karena sedang dapat rejeki misalnya. Mungkin sudah sifat dasar manusia yang kalau dalam keadaan senang, suka lupa dan acuh terhadap spiritual related things. Secara umum ada tiga penyebab mengapa orang Bali melakukan ritual nunas baos:

1. Kematian. Ini biasanya kematian yang tidak wajar semisal meninggalnya dianggap aneh karena tidak sakit juga masih usia produktif. Keluarga yang ditinggalkan ingin bertanya kepada leluhur hal2 misalnya sebab2 kenapa dia meninggal, apakah karena ada salah terhadap leluhur (jika benar, kejam amat ya leluhur main matiin aja), apakah ada kurang upacara, atau adakah orang lain yang meyebabkan kematiannya (santet) dll.

2. Sakit. Selain secara medis, orang Bali juga akan melakukan ritual nunas baos jika ada keluarga yang sakit keras dan obat2/tindakan medis tidak mampu berbuat banyak.

3. Kehilangan. Daripada lapor polisi, sebagian orang Bali lebih suka melakukan ritual nunas baos jika kehilangan sesuatu yang bernilai ekonomi besar semisal perhiasan, mobil ataupun benda2 pusakan warisan nenek moyang. Mereka akan bertanya kepada leluhur, kenapa hilang, siapa yang ambil, ada salah apa kami kok hilang dll.

Kronologi ritual itu biasanya sebagai berikut (sesuai pengalaman saya), pertama2 adalah persiapan banten (sesajen) yang terdiri dari canang selikur dan juga banten pejati. Sebelum berangkat ke rumah pemangku yang melayani ritual tersebut terlebih dahulu kita harus matur piuning (minta ijin/permakluman) kepada Ida Bhatara Hyang Guru (Tuhan) yang berstana di sanggah kita masing2 (pura kecil di rumah). Intinya bilang “Tuhan, saya mau pergi nih melakukan ritual, mohon direstui”.

Seringkali wejangan leluhur atau roh yang meninggal itu terlalu banyak untuk diingat sehingga kita perlu membawa tape recorder kecil, nantinya bisa diputar di rumah untuk didiskusikan dengan anggota keluarga yang lain. Pertanyaannya sekarang adalah seringkali hasil nunas baos berbeda antara tampat yang satu dengan yang lainnya, padahal yang ‘bicara’ adalah roh yang sama, prosesi yang sama dan juga sesajen yang sama. Hanya pemangkunya ya berbeda. Bagaimana menjelaskan ini? Akhirnya saya pribadi berkesimpulan bahwa nunas baos tidak bisa dijadikan kebenaran mutlak. Namanya juga nunas alias minta, bisa dikasi atau tidak. Berdoa dan mohon pencerahan dari Tuhan tetap yang utama.

Posted in opini, social life | 3 Comments

Tuesday, April 1st, 2008

Budaya Jual Warisan

Apakah Anda pernah menjual warisan? Sedang memikirkan untuk menjual warisan? Atau masih ragu2 menjual warisan? Atau tidak berani/malu2 menjual warisan? Atau sama sekali belum memikirkan warisan? Saya sendiri tidak termasuk dalam lima golongan diatas karena memang tidak mempunyai warisan. Seandainya punya, mungkin sudah termasuk ke dalam salah satu golongan tersebut. Budaya jual warisan sudah menjadi fenomena umum di kalangan masyarakat Bali, khususnya tanah warisan. Tidak jarang masalah jual tanah warisan ini menimbulkan konflik di dalam keluarga misalnya, perang saudara dll. Bahkan saya menemukan satu kasus dimana orangtuanya masih segar bugar menggarap tanah tersebut tapi sudah dipaksa oleh anak2nya untuk menandatangani surat penghibahan. Tragis.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi online, warisan adalah sesuatu yg diwariskan, spt harta, nama baik; harta pusaka, sedangkan pewaris adalah orang yg mewariskan dan penerima warisan yg sah berdasarkan hukum (agama, adat) disebut dengan waris sah. Ternyata selama ini saya sudah salah kaprah, pewaris dulunya saya artikan sebagai orang yang menerima warisan, ternyata artinya terbalik 180 derajat dan saya belum familiar dengan istilah waris sah. Jadi bagi yang terlibat dalam surat2 hibah warisan, istilah2 tersebut perlu dipahami sehingga tidak menimbulkan salah arti dikemudian hari.

Lalu salahkah jika menjual tanah warisan? Secara hukum positif dan hukum adat, tidak ada yang salah kalau menjual tanah warisan asal memang terbukti sebagai waris sah dari tanah tersebut. Saya pribadi (jika punya warisan), berdasarkan etika dan hati nurani, akan menjadikan jual tanah warisan sebagai pilihan terakhir. Lebih baik didayagunakan dulu daripada dijual. Sudah jelas2 tanah warisan adalah bukan hasil jerih payah kita walau secara administrasi menjadi pemilik sah tapi jika masih bisa berusaha, rasanya lebih baik nden malu (nanti dulu). Terlebih lagi jika proses jual tanah warisan itu membuat dua bersaudara misalnya, harus mengangkat pedang satu sama lain karena mempunyai persepsi yang berbeda dan merasa mendapat bagian yang lebih sedikit.

Ada berbagai motivasi yang melatarbelakangi orang untuk menjual tanah warisan, pada dasarnya untuk mengejar taraf hidup yang lebih baik entah itu diartikan secara mentah2 (kesenangan sesaat) ataupun bermakna dalam (ada tujuan jangka panjang). Berbagai motif itu antara lain :

1. Kesehatan. Yang termasuk kategori ini misalnya untuk biaya keluarga yang sakit keras yg memerlukan biaya banyak. Motif ini rupanya menjadi excuse yang paling bisa ‘diterima’ secara umum.

2. Paksaan pihak ketiga. Yang termasuk kategori ini misalnya karena tanah warisan tersebut ‘diminta’ oleh pemerintah untuk membangun fasilitas umum atau ‘diminta’ oleh desa adat untuk keperluan desa. Jadi terasa seperti tidak ada pilihan.

3. Usaha. Ada juga yg mempunyai motivasi menjual tanah warisan karena what so called membuka usaha sendiri alias bisnis. Tujuan yang mulia sebenarnya asal masih bisa tetap dalam tujuan semula dan modal dari jual tanah warisan itu harus tetap ‘dikondisikan’ sebagai modal panas sehingga kita menjadi terpacu seperti meminjam modal dari bank.

4. Pindah lokasi. Ini juga salah satu motif ekonomi, menjual tanah warisan untuk dibelikan tanah lagi di lokasi yang sekiranya lebih menjanjikan secara ekonomi.

5. Mengejar gaya hidup. Yang ini nampaknya paling parah, hanya semata2 untuk mengejar tujuan gaya hidup/kesenangan sesaat. Jual tanah warisan lalu mendirikan gedong tingkat 10, pintu rumah disulap menjadi kori agung, membeli mobil dan kesenangan2 lain khas orang2 yg hidup di negara2 dunia ketiga.

6. Biaya Sogok. Dalam hal ini sogok yang dimaksud adalah suap untuk mencari pekerjaan (PNS?), biaya suap untuk nyalon jadi kepala desa (desanya ‘basah’) dll.

Anda termasuk motivasi yang mana?

Posted in opini, social life | 47 Comments

Friday, March 14th, 2008

Virus ‘Sangut’ dalam Diri Manusia Bali

sangut_delem.jpg

Sangut adalah salah satu tokoh fiksi dalam dunia pewayangan di Bali. Nama Sangut menjadi berkibar karena sifatnya yang sering digunakan untuk menggambarkan orang Bali yang mempunyai tabiat opportunis, plin plan, suka mengadu domba, cari aman sendiri dan bahkan cenderung menfitnah dan merugikan orang lain. Bahasa Balinya mungkin ‘being happy on others grief’. Nyangut adalah istilah yang dipakai untuk menyebut orang Bali yang doyan mempraktekkan trik2 tokoh Sangut dalam kehidupan nyata sehari2 entah itu di lingkungan sosial (banjar) di Bali atau di tempat kerja bahkan jiwa Sangut sudah menyebar dan mewabah di luar negeri, tentunya pembawa virus Sangut ini adalah orang2 Bali sendiri.

Benar, jiwa Sangut ini mungkin tidak menjadi milik orang Bali saja. Orang2 dari daerah lainpun di Indonesia bahkan di dunia mempunyai sifat ini, tentunya dengan nama dan kemasan yang berbeda. Ada Sangut Jawa, Sangut Sumatra, Sangut Karibia, Sangut Amerika dan Sangut2 lainnya. Tetapi karena kebetulan saya orang Bali dan fenomena itu saya lihat pada lingkungan orang2 Bali, dan mungkin saja saya termasuk didalamnya, maka ‘manusia Bali’ pun saya masukkan sebagai bagian dari judul postingan kali ini. Tidak untuk menggeneralisasi tapi sebagai sarana untuk refleksi diri. “Sing keto Ngut?” (Bukankah begitu, Ngut?).

Tokoh Sangut sebenarnya termasuk lucu, paling tidak seperti apa yang digambarkan oleh dalang2 pada saat memainkannya. Tetapi ketika dimainkan dalam dunia nyata, Sangut-Sangut ini menjadi sangat tidak lucu dan cenderung provokatif dan destruktif. Sangut2 dalam dunia nyata menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya. Di tempat kerja misalnya. Seharusnya kondisi dan lingkungan kerja menjadi nyaman dan bisa menjadi ajang untuk mempererat tali persatuan orang2 Bali dirantauan tetapi karena virus Sangut sudah menyebar banyak terjadi ketimpangan2 sosial. Yang ada hanya saling sikut sesama orang Bali dan berlomba2 untuk menjilat kiri dan kanan. Kenapa orang Bali yang terkenal akan sifat kekeluargaan (menyame braya) bisa terjangkit virus Sangut (dilingkungan kerja)?

1. Lunturnya Spirit Bali. Namanya juga bekerja di negeri antah berantah yang jaraknya ribuan mil dan beda waktu 12 jam dengan Bali maka spirit2 kebalian dari orang2 Bali sudah luntur total. Tidak ada lagi jiwa menyama braya (semua saudara). Yang ada hanya dollar di kepala. Yang ada hanya UICG alias Urus Iban Ci Gen (mind your own business).

2. Jabatan/Posisi. Siapa yang tidak tergiur dengan jabatan dan posisi? Begitu juga dengan orang2 Bali. Segala cara akan dilakukan diluar koridor profesionalisme termasuk menjilat, menfitnah, menjelek2an rekan kerja sesama orang Bali dan termasuk sentimen pribadi.

3. Sifat Belog Ajum. Belog Ajum dalam bahasa Bali berarti bodoh dan suka dipuji. Ini mirip2 dengan ’sudah jatuh tertimpa tangga’ pula. Sudah bodoh, suka dipuji lagi. Entah itu pujian real atau sekedar untuk membesarkan kepalanya sebagai sekedar bagian dari basa basi khas orang Bali.

Sing keto Ngut Bia? (Bukankah begitu, Sangut Karibia?)


Posted in Karibia, social life | 31 Comments

Friday, February 29th, 2008

Pandang Mataku, KuCakcak Dirimu!

fist.jpg

Terjemahan bebas dari cakcak dalam bahasa Bali berarti pukul, hantam, tinju, bunuh dan sejenisnya. Biasanya ungkapan yang lumrah adalah cakcak ndasne yang artinya pukul saja dia, hamtam saja dia atau bunuh saja dia. Lalu apa hubungannya memandang mata dengan cakcak men-cakcak ini? Saya hanya ingin sedikit menggambarkan sebuah fenomena sosial yang seringkali terjadi di Bali terutama di kalangan pemuda, dimana perkelahian antar pemuda seringkali hanya dipicu oleh masalah sepele yaitu saling pandang antara pihak yang satu dengan pihak yang lainnya. Tawuran antar pemuda ini bahkan mengarah kepada ‘perang terbuka’ antar banjar di Bali (semacam tawuran antar RT/RW). Lagi2 pemicunya cuman satu hal sepele, seorang pemuda merasa tersinggung karena telah dipandang oleh pemuda dari kelompok lain.

Lalu mengapa bisa terjadi perang massal hanya gara2 soal pandang memandang? What is the big deal tentang pandang memandang ini? Kenapa orang Bali (pemuda) sangat alergi jika dipandang oleh orang lain? Selama ini orang Bali selalu digembor2kan ramah tamah, suka menolong, frendly dan segudang sebutan positif lainnya, dimana semua itu hanya untuk kepentingan jargon2 pariwisata di Bali. Benarkah semua itu? Jawabannya bisa jadi nol besar karena dipandang sedikit saja kita orang Bali sudah alergi. Adakah sebenarnya alasan mendasar kenapa orang Bali begitu? Berikut ini beberapa pendapat saya:

1. Warisan feodalisme zaman kerajaan. Nilai2 zaman kerajaan masih sangat kental di Bali, dimana rakyat biasa tidak boleh memandang langsung ke sang raja. Tabu. Mungkin karena Bali adalah kerajaan terakhir yang ditundukkan penjajah, warisan nilai2 feodal ini masih melekat erat dan tanpa disadari telah masuk ke alam bawah sadar orang Bali. Kasarnya begini, hey I am the king and you’re just rakyat biasa. Iya, kita adalah seorang raja dalam kerajaan ego kita sendiri. Tentu sang raja akan murka ketika misalnya saat dijalan tiba2 ada rakyat jelata yang berani memandang :)

2. Sistem Kasta. Diakui atau tidak, sistem kasta di Bali memberikan pengaruh yang cukup besar dalam membentuk karakter orang Bali secara keseluruhan. Bagi sebagian besar orang Bali, kasta masih menjadi semacam pembenaran untuk memupuk rasa keakuan, merasa diri lebih tinggi dari kelompok lain.

3. Perasaan insecure. Jika dipikir2 sebenarnya orang Bali yang tersinggung dan marah2 ketika dipandang (lalu memprovokasi seluruh banjar) adalah semata2 karena disebabkan oleh perasaan insecure yang berkecamuk dalam dirinya sendiri. Adakah yang salah dalam diri saya? Kenapa saya dipandang? Perasaan ini lama2 menjadi perasaan dilecehkan, lalu berkembang menjadi perasaan terintimidasi. Ketika merasa sudah terintimidasi maka seseorang akan mencari jalan pelampiasan. Dan cakcak menjadi pilihan.

4. Pengaruh minuman keras. Yang ini menjadi faktor dominan. Sangat tidak disarankan untuk lewat atau bertegur sapa dengan sekumpulan pemuda2 Bali yang lagi pesta miras baik itu dipinggir jalan maupun ditempat2 hiburan umum. Sangat tidak dianjurkan untuk beradu pandang. Salah2 bisa kena cakcak tanpa sebab yang jelas. Secara pernah mengalami sendiri, lewat dijalan dimana beberapa pemuda Bali sedang pesta miras dipinggir jalan, langsung diteriakin disuruh mematikan lampu kendaraan. (Lah gimana mau mengemudi tanpa lampu dimalam hari?)

Adakah yang mempunyai pendapat lain? Silahkan dibagi disini :)


Posted in social life | 28 Comments

Tuesday, February 19th, 2008

Ironi Kartu Undangan Nikah (2-end)

“…kebahagiaan kami tidak terlukiskan jikalau Bapak/Ibu berkenan menghadiri pernikahan putra/putri kami :

Gede Tomblos, S.T., MA, Msc., M.Hum, MP3,MP4, JPEG, .zip

dengan Ni Luh Koncreng, S.E., MM, PhD, POP3, SMTP, kernel32,dll”

Pencantuman gelar akademis pada kartu undangan nikah sudah menjadi hal lumrah di Bali. Tidak perduli di desa atau di perkotaan, adalah ‘wajib’ hukumnya untuk mencantumkan gelar akademis tersebut. Kartu undangan tidak akan menjadi lengkap tanpa embel-embel gelar.

(more…)

Posted in social life | 32 Comments

« Older Entries