Archive for the ‘social life’ Category
Monday, February 18th, 2008
Ironi Kartu Undangan Nikah (1)
“…turut mengundang, keluarga kedua mempelai…”
NB. Maaf tidak menerima kado!
———————————–
Begitulah kira2 tulisan yang sering saya baca di kartu2 undangan pernikahan di Bali akhir2 ini. Adakah yang aneh dari tulisan tersebut? Saya pribadi merasa kurang sreg dengan kalimat yang ada setelah NB itu. Secara belog (bodoh) menurut saya tujuan mengundang orang lain dalam upacara pernikahan adalah untuk berbagi kebahagiaan, berharap mereka ikut menyaksikan dan mendoakan semoga pernikahan tersebut berlangsung lancar baik secara sekala dan niskala. Jika memang yang diundang terpaksa membawa buah tangan, itu merupakan hak mutlak mereka terserah mau membawa apa (sewajarnya).
Posted in social life | 40 Comments
Tuesday, February 5th, 2008
Pegawai Negeri, Mimpi dan Gengsi yang Dibeli
Adakah keinginan Anda untuk menjadi seorang pegawai negeri sipil atau PNS? Pernahkah Anda mengikuti test penerimaan CPNS? Saya yakin kebanyakan dari kita pernah dan atau masih sedang bermimpi untuk suatu saat nanti bisa menjadi pegawai negeri. Ini dapat dilihat dari membludaknya peserta test CPNS di setiap lowongan yang ada, yang rata2 dibuka setahun sekali. Bahkan ada yang sampai beberapa kali mengikuti test CPNS namun masih saja belum beruntung untuk dapat lolos sebagai CPNS. Fenomena magnet pegawai negeri juga dapat dilihat dari pengorbanan yang luar biasa bagi sebagian orang2 yang rela menunggu sekian tahun (baca: masa pengabdian) dan berharap suatu saat bisa dipertimbangkan untuk diangkat menjadi pegawai negeri. Pada postingan ini kita batasi ulasannya pada pegawai negeri tingkat pelaksana semisal tenaga pendidik, pegawai negeri di kantor2/instansi pemerintahan, pegawai negeri di BUMN dan sejenisnya (dari golongan IIa - IIIa).
Posted in social life | 31 Comments
Friday, February 1st, 2008
‘Paid Bangkung’ No, ‘Paid Kijang’ Yes
Secara etimologi, ‘paid bangkung’ dalam bahasa Bali artinya diseret/ditarik oleh babi betina (bangkung). Istilah ‘paid bangkung’ merupakan suatu istilah informal dalam perkawinan di Bali yang merujuk pada satu fenomena dimana pihak laki2 (suami) ikut dengan keluarga pihak wanita (istri). Umumnya penyebutan ‘paid bangkung’ cenderung diasumsikan negatif karena seperti yang kita ketahui di Bali menganut sistem patrilineal, dimana pada umumnya dalam perkawinan di Bali pihak istrilah yang ikut dengan pihak suami.
Kenapa disebut ‘paid bangkung’ ? Kenapa disebut ‘diseret’? Bukankah pengertian ‘diseret’ cenderung ada unsur pemaksaan? Walaupun pada umumnya pihak istri yang ikut dengan suami, namun dalam tradisi perkawinan di Bali ada istilah ‘nyentana’, dimana pihak istrilah yang ‘berperan’ sebagai purusha atau sebagai pihak laki2. Berperan sebagai pihak laki2 maksudnya disini adalah dalam kaitannya dengan pelaksnaan upacara perkawinan itu sendiri. Umumnya perkawianan ‘nyentana’ ini dilaksanakan oleh keluarga yang tidak mempunyai keturuanan laki-laki. Si suami akan ikut dan tinggal di rumah sang istri dan secara langsung akan masuk dalam ‘kawitan’ pihak istri.
Posted in social life | 31 Comments
Sunday, January 27th, 2008
Ngaben ‘Nyeleneh’, Letupan Ego Manusia Bali
Secara umum, ‘Ngaben’ di Bali bisa dikatakan sebagai salah satu ritual agama dan juga ritual tradisi yang bermakna mengembalikan jasad manusia yang sudah meninggal ke asalnya yang disebut dengan Panca Maha Bhuta (lima unsur: tanah, air, api, angin dan ether). Jadi, ritual agama atau tradisi? Tidak murni agama dan juga tidak murni tradisi, dua-duanya kena. Ritual agama karena memang tercantum dalam kitab suci, ritual tradisi karena pada kenyataannya pelaksanaan upacara ngaben di Bali dipenuhi dengan bumbu tradisi di Bali, ada bade/wadah, ada singa/lembu, ada gender/wayang, ada tarian2 tertentu yang disakralkan dll. Dengan mengambil analogi upacara ngaben (kremasi) di India sebagai asal muasal agama Hindu, Ngaben di Bali tentunya sangat berbeda dengan ngaben di India. Makanya saya berasumsi bahwa Ngaben di Bali adalah perpaduan tradisi dan agama.
Posted in Nusa Penida, social life | 32 Comments
Friday, January 25th, 2008
Ada Diskriminasi Dibalik Tradisi
Satu moment yang bagi saya sangat menganggu adalah ketika orang-orang terdekat dan juga sanak famili mengajukan satu pertanyaan klasik “kapan buat anak laki2?”. Sebuah pertanyaan yang seakan-akan menjadi permintaan yang mengharuskan, juga sekaligus menjadi sebuah harapan bagi mereka yang benar-benar mesti diwujudkan, bagaimanapun caranya. Bisakah dengan mudah ‘memesan’ biar yang lahir adalah bayi laki-laki? Apakah adakah mesin cetak yang khusus untuk membuat anak laki-laki? Munculnya pertanyaan tersebut secara tidak langsung menyiratkan bahwa betapa pentingnya kehadiran anak laki-laki dalam sebuah keluarga Hindu di Bali. Ada ‘hukum alam’ di Bali bahwa sebuah keluarga belum lengkap secara sosio cultural tanpa adanya anak laki-laki. Adakah ini bisa disebut diskriminasi gender terselubung di Bali? Adakah ini merupakan diskriminasi gender berbungkus budaya adi luhung? Saya pribadi akan menjawab YA, paling tidak diskriminasi secara psikologi.
Posted in social life | 35 Comments
Wednesday, January 23rd, 2008
Selamat Hari Raya Galungan & Kuningan
*suksma Pak Eep kartunya
Posted in social life | 11 Comments
Sunday, January 20th, 2008
Stereotype Orang Indonesia versi Bule
Seorang teman blogger dari Jerman menulis artikel cukup menarik tentang stereotype orang2 dari 55 kebangsaan yang berbeda termasuk Indonesia. Dia pernah hidup nomaden di beberapa negara dari 55 negara yang ditulis tersebut dan sekarang tinggal menetap di Bali. Stereotype kebangsaan atau National Sterotype yang dia maksud adalah
“a system of culture-specific beliefs connected with the nationality of a person. This system includes beliefs concerning those properties of human beings that may vary across nations, such as appearance, language, food, habits, psychological traits, attitudes, values etc.”
Posted in Kabar-kabari, social life | 25 Comments
Saturday, January 19th, 2008
‘Kerauhan’, Sugesti dalam Balutan Religi
Di Bali, ‘kerauhan’ (trance) sudah menjadi bagian yang terpisahkan dalam kehidupan sehari2 khususnya yang berkaitan dengan upacara adat maupun upacara agama. Lalu apa sebenarnya ‘kerauhan’ itu? Bisakah dimatematiskan bahwa kerauhan sama dengan kesurupan? Di Wiki yang ada hanya definisi kesurupan (bukan kerauhan) yaitu sebuah fenomena dimana seseorang berada diluar kendali pikirannya karena kemasukan kekuatan gaib.
Dalam konteks masyarakat Bali, saya berpendapat bahwa kerauhan sebagian besar berkaitan erat dengan adat istiadat dan agama, yg saya asumsikan sbb: suatu keadaan dimana seseorang berada diluar kesadaran pikiran atau berada dalam keadaan setengah sadar yang dipicu oleh suatu sugesti yang berlebihan terhadap suatu object baik itu yang material (tempat2 suci, benda2 yang disakralkan dll) dan juga object spiritual (Tuhan, dewa2 dll).
Posted in social life | 19 Comments
Wednesday, January 9th, 2008
Hidup Merantau, Pilihan atau Paksaan?
Bagi sebagian besar orang yang kurang beruntung, merantau sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidupnya, termasuk saya. Ada yang merantau sejak anak2, remaja atau saat sudah dewasa bahkan ada yang harus hidup merantau saat umur sudah tua. Secara harfiah, merantau bisa diartikan sebagai kegiatan migrasi, pindah tempat tinggal dan hidup di daerah selain asal kelahirannya untuk bekerja, mencari pengalaman dan/atau untuk mencapai kesuksesan secara finansial dan sosial. Menurut Wiki, merantau adalah suatu aktivitas di mana seseorang pergi dari tempat asalnya ke daerah lain.
Posted in social life | 30 Comments
Wednesday, December 19th, 2007
‘Nyama Pat’ sebagai Pengawal Pribadi
Kehadiran pengawal pribadi bagi kalangan tertentu (artis, pejabat, pengusaha) sudah menjadi sebuah keharusan dimana fungsi utamanya adalah untuk proteksi diri terhadap potensi2 yang bisa membahayakan jiwa si empunya bodyguard tersebut. Kitapun sebenarnya punya pengawal pribadi. Baru2 ini saya ngobrol2 dengan yang ‘berkompeten’ dibidangnya, ternyata kita (Hindu - Bali) mempunyai bodyguard yang built-in dalam tubuh kita sendiri yang tentunya bisa kita mintai tolong untuk menjaga diri kita dan tidak perlu bayar, cukup nasi wong-wongan dua warna hitam dan putih. Nasi wong-wongan (mungkin disebut berbeda di daerah lain di Bali) adalah nasi putih biasa yg dikukus dan di bentuk seperti bentuk tubuh manusia. Tidak perlu setiap hari cukup di hari2 tertentu saja misalnya, kajeng kliwon, purnama dll. Logikanya semakin sering ‘dibayar’ semakin rajinlah si bodyguard tersebut.
Posted in Personal Stories, social life | 14 Comments




New Comments