Archive for the ‘social life’ Category
Sunday, March 9th, 2008
Premanisme Jalanan dalam Ritual Bali
Warning! Postingan ini adalah pendapat pribadi dan bisa menimbulkan kontroversi. Harap baca disclaimer dari blog ini dulu. Penulis tidak bertanggung jawab jika terjadi hipertensi, epilepsi, emosi, sakit hati, sedih hati, patah hati dll akibat membaca artikel ini.
Premanisme dalam ritual Bali? Apa pula itu? Bukan bermaksud melebih2kan atau membuat sesuatu menjadi kelihatan ekstrem namun fenomena yang saya alami dan amati ini rasanya cukup layak dimasukkan dalam dunia premanisme walaupun dibungkus dengan apik dalam balutan ritual dan budaya yang katanya adi luhung orang Bali. Anda2 yang tinggal di Bali tentu pernah atau bahkan sering mengalami bagaimana kalau orang Bali melakukan kegiatan ritual agama dan budaya khususnya yang mengambil tempat (secara seenaknya) di jalan2 raya kota maupun desa.
Jika balai banjar/pura tempat diadakannya upacara berada tepat disamping jalan raya maka dapat dipastikan jalan raya tersebut akan ditutup, paling tidak ditutup satu jalur. Bisa dipastikan akan ada kemacetan, belum lagi beberapa pengguna jalan raya yang kebingungan akibat pengalihan jalan yang masih asing bagi mereka. Walaupun ijin sudah dikantongi tetap saja itu namanya mengganggu kepentingan umum. Tapi kita orang Bali punya sebuah excuse yang cukup ampuh dan sombong, ini kan atas nama agama dan budaya. Jalan ini ada di daerah kekuasaan desa adat A jadi kami berhak memakai jalan ini.
Yang lebih parah adalah kegiatan2 upacara agama/adat yang dilakukan di jalan raya alias ada prosesi yang menempuh rute tertentu misalnya dari pura A menuju ke pantai. Bisa dipastikan mental premanisme akan merajalela. Jalan raya akan digunakan dua jalur dan pengguna lain tidak boleh menyalip, jika datang dari arah berlawanan maka pengendara lain harus menepi total dan berhenti. Pernahkah Anda terjebak dalam antrean panjang karena prosesi ritual di Bali? Yang saya tidak mengerti mengapa orang Bali yg sedang punya gawe itu seakan begitu bangga dan angkuh, seolah2 jalan2 raya tersebut adalah milik mereka sendiri. Ditambah pula dengan mengacung2kan umbul2 upacara ke arah pengendara lain sebagai tanda pada kita untuk berhenti. Harusnya mereka sopan dan mengambil jalan satu arah saja tidak merasa menjadi raja jalanan hanya karena tameng ritual agama dan budaya.Satu dua kali mungkin masih bisa ditoleransi, orang Bali punya ritual agama dan budaya ribuan kali dan setiap hari. Ini kan parah. Apa mau jadi preman jalanan tiap hari? Bagaimana misalnya kalau saat2 itu ada orang sakit yang ingin lewat? Atau ada orang yang mau melahirkan dan harus segera ke rumah sakit? Lalu apa bedanya budaya dan mafia? Ini beberapa tips jika misalnya suatu saat terjebak macet karena ritual orang Bali:
1. Jika dari arah yang sama, jangan2 sesekali menyalip walaupun keadaan memungkinkan kecuali jika ada tanda2/aba2 yang jelas dari salah satu ‘preman’ dalam kelompok itu, biasanya mereka ini pakai motor dengan membawa umbul2 upacara atau pakai mobil jeep terbuka. Jika nekat, siap2 kena tonjok atau kena damprat. Pelan2lah ikutin dari belakang, bila perlu berhenti saja di warung sambil minum kopi, tunggu sampai mereka lewat.
2. Jika dari arah berlawanan, pastikan berada di pinggir jalan sampai maksimal dan berhenti. Jangan terus jalan walau pelan, kecuali ada aba2 yang jelas. Jika pakai motor, lebih baik pakai helm cerebong sehingga aman. Jika pakai mobil, tutup kaca mobil rapat2 sehingga menghindari hal2 yg tidak diinginkan
3. Bila perlu pasang senyum saat berhenti dan mereka lewat tepat disamping kita. Kemungkinan besar mereka dalam ‘preman mode’ sehingga wajah dingin bisa diartikan ‘tidak terima’ oleh mereka.
Posted in social life | 43 Comments
Friday, February 29th, 2008
Pandang Mataku, KuCakcak Dirimu!
Terjemahan bebas dari cakcak dalam bahasa Bali berarti pukul, hantam, tinju, bunuh dan sejenisnya. Biasanya ungkapan yang lumrah adalah cakcak ndasne yang artinya pukul saja dia, hamtam saja dia atau bunuh saja dia. Lalu apa hubungannya memandang mata dengan cakcak men-cakcak ini? Saya hanya ingin sedikit menggambarkan sebuah fenomena sosial yang seringkali terjadi di Bali terutama di kalangan pemuda, dimana perkelahian antar pemuda seringkali hanya dipicu oleh masalah sepele yaitu saling pandang antara pihak yang satu dengan pihak yang lainnya. Tawuran antar pemuda ini bahkan mengarah kepada ‘perang terbuka’ antar banjar di Bali (semacam tawuran antar RT/RW). Lagi2 pemicunya cuman satu hal sepele, seorang pemuda merasa tersinggung karena telah dipandang oleh pemuda dari kelompok lain.
Lalu mengapa bisa terjadi perang massal hanya gara2 soal pandang memandang? What is the big deal tentang pandang memandang ini? Kenapa orang Bali (pemuda) sangat alergi jika dipandang oleh orang lain? Selama ini orang Bali selalu digembor2kan ramah tamah, suka menolong, frendly dan segudang sebutan positif lainnya, dimana semua itu hanya untuk kepentingan jargon2 pariwisata di Bali. Benarkah semua itu? Jawabannya bisa jadi nol besar karena dipandang sedikit saja kita orang Bali sudah alergi. Adakah sebenarnya alasan mendasar kenapa orang Bali begitu? Berikut ini beberapa pendapat saya:
1. Warisan feodalisme zaman kerajaan. Nilai2 zaman kerajaan masih sangat kental di Bali, dimana rakyat biasa tidak boleh memandang langsung ke sang raja. Tabu. Mungkin karena Bali adalah kerajaan terakhir yang ditundukkan penjajah, warisan nilai2 feodal ini masih melekat erat dan tanpa disadari telah masuk ke alam bawah sadar orang Bali. Kasarnya begini, hey I am the king and you’re just rakyat biasa. Iya, kita adalah seorang raja dalam kerajaan ego kita sendiri. Tentu sang raja akan murka ketika misalnya saat dijalan tiba2 ada rakyat jelata yang berani memandang
2. Sistem Kasta. Diakui atau tidak, sistem kasta di Bali memberikan pengaruh yang cukup besar dalam membentuk karakter orang Bali secara keseluruhan. Bagi sebagian besar orang Bali, kasta masih menjadi semacam pembenaran untuk memupuk rasa keakuan, merasa diri lebih tinggi dari kelompok lain.
3. Perasaan insecure. Jika dipikir2 sebenarnya orang Bali yang tersinggung dan marah2 ketika dipandang (lalu memprovokasi seluruh banjar) adalah semata2 karena disebabkan oleh perasaan insecure yang berkecamuk dalam dirinya sendiri. Adakah yang salah dalam diri saya? Kenapa saya dipandang? Perasaan ini lama2 menjadi perasaan dilecehkan, lalu berkembang menjadi perasaan terintimidasi. Ketika merasa sudah terintimidasi maka seseorang akan mencari jalan pelampiasan. Dan cakcak menjadi pilihan.
4. Pengaruh minuman keras. Yang ini menjadi faktor dominan. Sangat tidak disarankan untuk lewat atau bertegur sapa dengan sekumpulan pemuda2 Bali yang lagi pesta miras baik itu dipinggir jalan maupun ditempat2 hiburan umum. Sangat tidak dianjurkan untuk beradu pandang. Salah2 bisa kena cakcak tanpa sebab yang jelas. Secara pernah mengalami sendiri, lewat dijalan dimana beberapa pemuda Bali sedang pesta miras dipinggir jalan, langsung diteriakin disuruh mematikan lampu kendaraan. (Lah gimana mau mengemudi tanpa lampu dimalam hari?)
Adakah yang mempunyai pendapat lain? Silahkan dibagi disini
Posted in social life | 28 Comments
Tuesday, February 19th, 2008
Ironi Kartu Undangan Nikah (2-end)
“…kebahagiaan kami tidak terlukiskan jikalau Bapak/Ibu berkenan menghadiri pernikahan putra/putri kami :
Gede Tomblos, S.T., MA, Msc., M.Hum, MP3,MP4, JPEG, .zip
dengan Ni Luh Koncreng, S.E., MM, PhD, POP3, SMTP, kernel32,dll”
Pencantuman gelar akademis pada kartu undangan nikah sudah menjadi hal lumrah di Bali. Tidak perduli di desa atau di perkotaan, adalah ‘wajib’ hukumnya untuk mencantumkan gelar akademis tersebut. Kartu undangan tidak akan menjadi lengkap tanpa embel-embel gelar.
Posted in social life | 28 Comments
Monday, February 18th, 2008
Ironi Kartu Undangan Nikah (1)
“…turut mengundang, keluarga kedua mempelai…”
NB. Maaf tidak menerima kado!
———————————–
Begitulah kira2 tulisan yang sering saya baca di kartu2 undangan pernikahan di Bali akhir2 ini. Adakah yang aneh dari tulisan tersebut? Saya pribadi merasa kurang sreg dengan kalimat yang ada setelah NB itu. Secara belog (bodoh) menurut saya tujuan mengundang orang lain dalam upacara pernikahan adalah untuk berbagi kebahagiaan, berharap mereka ikut menyaksikan dan mendoakan semoga pernikahan tersebut berlangsung lancar baik secara sekala dan niskala. Jika memang yang diundang terpaksa membawa buah tangan, itu merupakan hak mutlak mereka terserah mau membawa apa (sewajarnya).
Posted in social life | 34 Comments
Tuesday, February 5th, 2008
Pegawai Negeri, Mimpi dan Gengsi yang Dibeli
Adakah keinginan Anda untuk menjadi seorang pegawai negeri sipil atau PNS? Pernahkah Anda mengikuti test penerimaan CPNS? Saya yakin kebanyakan dari kita pernah dan atau masih sedang bermimpi untuk suatu saat nanti bisa menjadi pegawai negeri. Ini dapat dilihat dari membludaknya peserta test CPNS di setiap lowongan yang ada, yang rata2 dibuka setahun sekali. Bahkan ada yang sampai beberapa kali mengikuti test CPNS namun masih saja belum beruntung untuk dapat lolos sebagai CPNS. Fenomena magnet pegawai negeri juga dapat dilihat dari pengorbanan yang luar biasa bagi sebagian orang2 yang rela menunggu sekian tahun (baca: masa pengabdian) dan berharap suatu saat bisa dipertimbangkan untuk diangkat menjadi pegawai negeri. Pada postingan ini kita batasi ulasannya pada pegawai negeri tingkat pelaksana semisal tenaga pendidik, pegawai negeri di kantor2/instansi pemerintahan, pegawai negeri di BUMN dan sejenisnya (dari golongan IIa - IIIa).
Posted in social life | 27 Comments
Friday, February 1st, 2008
‘Paid Bangkung’ No, ‘Paid Kijang’ Yes
Secara etimologi, ‘paid bangkung’ dalam bahasa Bali artinya diseret/ditarik oleh babi betina (bangkung). Istilah ‘paid bangkung’ merupakan suatu istilah informal dalam perkawinan di Bali yang merujuk pada satu fenomena dimana pihak laki2 (suami) ikut dengan keluarga pihak wanita (istri). Umumnya penyebutan ‘paid bangkung’ cenderung diasumsikan negatif karena seperti yang kita ketahui di Bali menganut sistem patrilineal, dimana pada umumnya dalam perkawinan di Bali pihak istrilah yang ikut dengan pihak suami.
Kenapa disebut ‘paid bangkung’ ? Kenapa disebut ‘diseret’? Bukankah pengertian ‘diseret’ cenderung ada unsur pemaksaan? Walaupun pada umumnya pihak istri yang ikut dengan suami, namun dalam tradisi perkawinan di Bali ada istilah ‘nyentana’, dimana pihak istrilah yang ‘berperan’ sebagai purusha atau sebagai pihak laki2. Berperan sebagai pihak laki2 maksudnya disini adalah dalam kaitannya dengan pelaksnaan upacara perkawinan itu sendiri. Umumnya perkawianan ‘nyentana’ ini dilaksanakan oleh keluarga yang tidak mempunyai keturuanan laki-laki. Si suami akan ikut dan tinggal di rumah sang istri dan secara langsung akan masuk dalam ‘kawitan’ pihak istri.
Posted in social life | 31 Comments
Sunday, January 27th, 2008
Ngaben ‘Nyeleneh’, Letupan Ego Manusia Bali
Secara umum, ‘Ngaben’ di Bali bisa dikatakan sebagai salah satu ritual agama dan juga ritual tradisi yang bermakna mengembalikan jasad manusia yang sudah meninggal ke asalnya yang disebut dengan Panca Maha Bhuta (lima unsur: tanah, air, api, angin dan ether). Jadi, ritual agama atau tradisi? Tidak murni agama dan juga tidak murni tradisi, dua-duanya kena. Ritual agama karena memang tercantum dalam kitab suci, ritual tradisi karena pada kenyataannya pelaksanaan upacara ngaben di Bali dipenuhi dengan bumbu tradisi di Bali, ada bade/wadah, ada singa/lembu, ada gender/wayang, ada tarian2 tertentu yang disakralkan dll. Dengan mengambil analogi upacara ngaben (kremasi) di India sebagai asal muasal agama Hindu, Ngaben di Bali tentunya sangat berbeda dengan ngaben di India. Makanya saya berasumsi bahwa Ngaben di Bali adalah perpaduan tradisi dan agama.
Posted in Nusa Penida, social life | 32 Comments
Friday, January 25th, 2008
Ada Diskriminasi Dibalik Tradisi
Satu moment yang bagi saya sangat menganggu adalah ketika orang-orang terdekat dan juga sanak famili mengajukan satu pertanyaan klasik “kapan buat anak laki2?”. Sebuah pertanyaan yang seakan-akan menjadi permintaan yang mengharuskan, juga sekaligus menjadi sebuah harapan bagi mereka yang benar-benar mesti diwujudkan, bagaimanapun caranya. Bisakah dengan mudah ‘memesan’ biar yang lahir adalah bayi laki-laki? Apakah adakah mesin cetak yang khusus untuk membuat anak laki-laki? Munculnya pertanyaan tersebut secara tidak langsung menyiratkan bahwa betapa pentingnya kehadiran anak laki-laki dalam sebuah keluarga Hindu di Bali. Ada ‘hukum alam’ di Bali bahwa sebuah keluarga belum lengkap secara sosio cultural tanpa adanya anak laki-laki. Adakah ini bisa disebut diskriminasi gender terselubung di Bali? Adakah ini merupakan diskriminasi gender berbungkus budaya adi luhung? Saya pribadi akan menjawab YA, paling tidak diskriminasi secara psikologi.
Posted in social life | 35 Comments
Wednesday, January 23rd, 2008
Selamat Hari Raya Galungan & Kuningan
*suksma Pak Eep kartunya
Posted in social life | 11 Comments
Sunday, January 20th, 2008
Stereotype Orang Indonesia versi Bule
Seorang teman blogger dari Jerman menulis artikel cukup menarik tentang stereotype orang2 dari 55 kebangsaan yang berbeda termasuk Indonesia. Dia pernah hidup nomaden di beberapa negara dari 55 negara yang ditulis tersebut dan sekarang tinggal menetap di Bali. Stereotype kebangsaan atau National Sterotype yang dia maksud adalah
“a system of culture-specific beliefs connected with the nationality of a person. This system includes beliefs concerning those properties of human beings that may vary across nations, such as appearance, language, food, habits, psychological traits, attitudes, values etc.”
Posted in Kabar-kabari, social life | 25 Comments
Saturday, January 19th, 2008
‘Kerauhan’, Sugesti dalam Balutan Religi
Di Bali, ‘kerauhan’ (trance) sudah menjadi bagian yang terpisahkan dalam kehidupan sehari2 khususnya yang berkaitan dengan upacara adat maupun upacara agama. Lalu apa sebenarnya ‘kerauhan’ itu? Bisakah dimatematiskan bahwa kerauhan sama dengan kesurupan? Di Wiki yang ada hanya definisi kesurupan (bukan kerauhan) yaitu sebuah fenomena dimana seseorang berada diluar kendali pikirannya karena kemasukan kekuatan gaib.
Dalam konteks masyarakat Bali, saya berpendapat bahwa kerauhan sebagian besar berkaitan erat dengan adat istiadat dan agama, yg saya asumsikan sbb: suatu keadaan dimana seseorang berada diluar kesadaran pikiran atau berada dalam keadaan setengah sadar yang dipicu oleh suatu sugesti yang berlebihan terhadap suatu object baik itu yang material (tempat2 suci, benda2 yang disakralkan dll) dan juga object spiritual (Tuhan, dewa2 dll).
Posted in social life | 16 Comments






Recent Comments